Pertama, pahami dahulu tentang ini :
Mengapa saya
membidik judul ini? Seolah-olah seorang suami lebih banyak berbuat serong
dari pada seorang istri... Tunggu, mohon jangan berpikiran negatif dahulu. Memang
tindakan seperti ini bisa dilakukan siapa saja, jika ada niat dan kesempatan.
Nah, di sini saya adalah seorang istri, jadi akan lebih mudah memahami dan
berpikir dari sisi sebagai seorang istri yang tersakiti setelah diselingkuhi
suami.
Lalu kedua,
secara psikologis, jika seorang pria telah diselingkuhi oleh istrinya, pilihan
dia adalah 'pergi dan cari pengganti untuk mengobati luka hati'... Sedangkan
seorang wanita, lebih memilih untuk bertahan dan memperbaiki rumah tangga
mereka. Mengapa? Pria, lebih mengutamakan harga diri. Dia diselingkuhi, berarti
harga dirinya telah diinjak dan itu hal yang memalukan. Sementara wanita, lebih
memikirkan perasaan anak-anak. Lebih memikirkan posisi mereka, bukan dirinya.
Seperti pada
sebuah kisah pada buku NEW CATATAN HATI SEORANG ISTRI oleh ASMA NADIA, ada
ungkapan salah satu tokoh yang patut kita selami. Mengapa dia memilih bertahan
dan memaafkan sang suami? Jawabnya, “Ada
banyak hati yang harus aku jaga....”
Subhanalloh...
belajar memaafkan memang susah, tetapi di situlah pintu surga berada.
Jika Anda memilih jalan untuk
tetap mempertahankan rumah tangga bersama suami, hal yang utama adalah, lakukan
dengan sungguh-sungguh. Jangan setengah-setengah! Mubadir. Tidak akan
memperoleh suatu perbaikan. Mantapkan niat pada hati Anda, lalu buktikan!
Perjuangkan.
Saya sangat tahu, luka seperti
ini tidak mungkin bisa hilang begitu saja. Ini masalah hati, masalah
kepercayaan. Butuh berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk bisa lepas dari
kesedihan yang terus menerus mencabik hati. Mereka para pelaku perselingkuhan,
tidak bisa memahami perasaan ini. Dalam pikiran mereka seperti ini, “Ayolah, lupakan kesalahanku, jangan diingat
terus dan jangan judge aku selamanya. Toh aku sudah kembali kepadamu, meminta
maaf dan sedang belajar untuk berubah.”
Memang begitu jalan pikiran
mereka. Bagi saya itu tidak apa-apa, namun coba katakan pada pasangan, bahwa Anda pun juga sedang belajar memaafkan dan melupakan, hanya saja membutuhkan
waktu yang lebih lama. Tidak secepat meminta maaf, kembali kepada keluarga, dan
melupakan tindakan gila mereka. Ini trauma, sebuah pukulan pada psikologis.
Lalu, katakan juga, belajarlah untuk menerima trauma Anda, dan mintalah suami
agar mau mendukung penyembuhan Anda,
tanpa terus menjudge Anda juga.
Setelah itu, apa yang harus
dilakukan?
Saat suami telah mengerti akan
perasaan Anda, inilah waktunya Anda bertarung dengan diri sendiri. Di
situlah musuh terbesar yang sebenarnya. Bukan suami dan pasangan selingkuhnya.
Makin dekatkan diri Anda pada
Tuhan. Dialah penolong dari segalanya. Anda mungkin bisa bercerita pada semua
manusia yang Anda anggap teman, sahabat, atau apa pun, tetapi satu-satunya yang
bisa menenangkan hati Anda adalah doa kepada-Nya. Jika ingin menangis,
menangislah di bahu-Nya. Setelah itu, bangkit kembali.
Hapus pertanyaan “Mengapa?” “Kok
dia bisa tega, ya?” atau “Bagaimana bisa?” dari hati Anda. Jangan mencari sebuah
alasan, tetapi cobalah memahami. Jika yang Anda cari hanyalah alasan-alasan
bodoh yang menyakitkan, tentang mengapa suami bisa tega berselingkuh di
belakang Anda, yang didapat hanya hal-hal negatif. Bukan memperbaiki, tetapi malah menjerumuskan diri Anda sendiri ke dalam keterpurukan.
Hilangkan juga perasaan
menyalahkan diri sendiri, merasa kurang mampu melayani suami sehingga dia
berselingkuh. Ada beberapa pria yang menggunakan alasan 'karena kekurangan dan
kesalahan Anda-lah akhirnya mereka berselingkuh', jangan percaya. Saya
sungguh-sungguh! Itu hanya sebuah pembenaran mereka.
Ingat, selingkuh dilakukan
secara sadar! Mereka tahu mereka salah tetapi tetap memilih jalan itu. Mereka
sengaja melupakan Anda dan keluarga, berani mempertaruhkan kebahagiaan
pernikahan hanya karena sebuah kesenangan. Pikiran yang sering dipergunakan
adalah “Ah, tidak apa-apa, asal istri tidak tahu, dia tidak akan terluka.” Kalau
sudah seperti itu, apa masih Anda percaya kalau itu kesalahan Anda?
Jadi, buang ya pemikiran
menyalahkan diri sendiri. Anda sudah sangat terluka, jangan makin ditambah
dengan membuat diri Anda bersalah karena menjadi penyebab perselingkuhan suami.
Anda harus kuat menolak pembenaran itu. Tetapi, bukan berarti Anda merasa yang
paling benar. Dalam perjalanan penyembuhan, lakukan juga intropeksi diri. Buat
list tentang sifat-sifat buruk Anda, lalu lakukan perbaikan. Buat diri Anda
menjadi seorang istri yang lebih baik lagi perilakunya dalam melayani semua
kebutuhan suami. Perbanyak senyum, kurangi mengomel, buat dia semakin betah
dengan Anda. Sentuh hati kecilnya yang dulu sangat mencintai Anda. Saya
percaya, tidak ada hati yang tidak bisa ditaklukan dengan cinta dan kasih sayang! Di
sinilah poin terpentingnya Bunda ^^ Semangat ya....
Kemudian, pusatkan perhatian Anda pada hal-hal yang positif. Misalnya dengan mengikuti kegiatan-kegiatan
sosial di lingkungan Anda. Membantu orang lain bisa memperbaiki mood hati Anda
menjadi lebih baik. Atau bisa juga mulailah belajar menulis. Percaya atau
tidak, menulis itu memiliki kekuatan penyembuhan. Efek yang dihasilkan dari
aktifitas menulis mampu membuat seseorang menjadi lebih tenang dan lebih bisa
melepaskan.
Dalam beberapa waktu, ingatan-ingatan
yang menyakitkan, pasti akan menyeruak kembali. Bisa jadi saat itu terjadi Anda
akan kembali rapuh. Itu hal yang wajar. Seperti yang saya utarakan di atas,
bahwa trauma seperti ini tidak mungkin bisa 100% dilupakan begitu saja. Adakalanya
tiba-tiba teringat, lalu menangis. Emosi Anda jadi tidak terkontrol lagi.
Penyebabnya bisa karena hormon
(pada saat anda mengalami Pra Menstruasi
Sindrom) atau bisa juga karena sedang bertengkar dengan suami Anda.
Ujung-ujungnya pasti ungkit-ungkit hal ini lagi.
Tidak apa-apa jika hal itu
terjadi, hanya saja Anda harus pintar menghadapi perasaan Anda sendiri. Jangan
mau dikalahkan oleh emosi sesaat. Hadapi. Perangi. Tetapi bukan berarti
dipaksakan. Dipaksa harus lupa, harus lupa, harus lupa... tidak! bukan begitu
caranya.
Biarkan Anda menikmati
prosesnya. Coba bersahabat dengan trauma. Manage emosi Anda. Mungkin
saat pertama kali, rasa sakitnya bisa berhari-hari. Coba tekan pelan-pelan
menjadi hanya dua hari, lalu perpendek menjadi sehari, tiga jam, dua jam,
begitu seterusnya. Turunkan level amarah Anda. Pelan-pelan saja, biarkan waktu
yang menemani perjuangan Anda. Ingat, semakin Anda berusaha keras untuk
melupakan, Anda akan semakin merasa sakit!
Harus bisa! Ini hidup Anda.
Jangan mau dikalahkan oleh masa lalu.
Bikin sebuah
pernyataan pada diri sendiri, yang bisa membuat diri Anda kuat dan kembali bangkit ketika
sedang limbung. Anda bisa buat sendiri atau menculiknya dari para motivator
yang berserakan di akun-akun facebook, twitter, buku atau apa pun.
Misalnya seperti ini : “Oh iya
ya, buat apa aku harus iri dan cemburu pada wanita yang mengumbar aurot dan
bermesra-mesra dengan suamiku? Merekakan sedang berbuat dosa, lah buat apa aku
iri sama orang yang lagi berbuat dosa. Bodoh sekali, gak penting kan? Dari pada ikutan dosa hati, lebih baik banyakin ibadah.”
Yups! Kalau mau iri dan
cemburu, iri dan cemburulah pada yang sering berbuat amal, shodaqoh, dan
beribadah pada Tuhan. Bukan pada yang sedang berzina ... (ekstrim ya? tapi
semakin ekstrim bisa semakin meningkatkan kemampuan menguatkan hati, kalau saya
sih ^^ hehe..)
Banyakin beristighafar,
serahkan saja semua kepada Tuhan. Apa-apa yang tidak Anda ketahui, dan yang
ingin Anda ketahui (karena sedang curiga atau cemburu). Ikhlaskan saja. Carilah
ridho Tuhan Anda, karena Dia-lah yang akan menjamin kehidupan kita di akhirat
kelak, bukan manusia lain!
Fokuskan hidup Anda hanya pada
ibadah dan anak-anak. Fokus memperbaiki diri, lebih memperhatikan kebutuhan suami, melayani dengan ikhlas dan bersabarlah. Titik!
Nah, Bunda... apa pun jalan pilihan Anda, jangan mau
menyerah. Hidup itu bukan untuk saat ini saja, tetapi juga kehidupan di akhirat
kelak...
-A.M.120214-




