Rabu, 12 Februari 2014

MENGHADAPI TRAUMA SETELAH DISELINGKUHI SUAMI



  
Pertama, pahami dahulu tentang ini :

Mengapa saya membidik judul ini? Seolah-olah seorang suami lebih banyak berbuat serong dari pada seorang istri... Tunggu, mohon jangan berpikiran negatif dahulu. Memang tindakan seperti ini bisa dilakukan siapa saja, jika ada niat dan kesempatan. Nah, di sini saya adalah seorang istri, jadi akan lebih mudah memahami dan berpikir dari sisi sebagai seorang istri yang tersakiti setelah diselingkuhi suami.

Lalu kedua, secara psikologis, jika seorang pria telah diselingkuhi oleh istrinya, pilihan dia adalah 'pergi dan cari pengganti untuk mengobati luka hati'... Sedangkan seorang wanita, lebih memilih untuk bertahan dan memperbaiki rumah tangga mereka. Mengapa? Pria, lebih mengutamakan harga diri. Dia diselingkuhi, berarti harga dirinya telah diinjak dan itu hal yang memalukan. Sementara wanita, lebih memikirkan perasaan anak-anak. Lebih memikirkan posisi mereka, bukan dirinya.

Seperti pada sebuah kisah pada buku NEW CATATAN HATI SEORANG ISTRI oleh ASMA NADIA, ada ungkapan salah satu tokoh yang patut kita selami. Mengapa dia memilih bertahan dan memaafkan sang suami? Jawabnya,  “Ada banyak hati yang harus aku jaga....”

Subhanalloh... belajar memaafkan memang susah, tetapi di situlah pintu surga berada.

Jika Anda memilih jalan untuk tetap mempertahankan rumah tangga bersama suami, hal yang utama adalah, lakukan dengan sungguh-sungguh. Jangan setengah-setengah! Mubadir. Tidak akan memperoleh suatu perbaikan. Mantapkan niat pada hati Anda, lalu buktikan! Perjuangkan.

Saya sangat tahu, luka seperti ini tidak mungkin bisa hilang begitu saja. Ini masalah hati, masalah kepercayaan. Butuh berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk bisa lepas dari kesedihan yang terus menerus mencabik hati. Mereka para pelaku perselingkuhan, tidak bisa memahami perasaan ini. Dalam pikiran mereka seperti ini, “Ayolah, lupakan kesalahanku, jangan diingat terus dan jangan judge aku selamanya. Toh aku sudah kembali kepadamu, meminta maaf dan sedang belajar untuk berubah.”

Memang begitu jalan pikiran mereka. Bagi saya itu tidak apa-apa, namun coba katakan pada pasangan, bahwa Anda pun juga sedang belajar memaafkan dan melupakan, hanya saja membutuhkan waktu yang lebih lama. Tidak secepat meminta maaf, kembali kepada keluarga, dan melupakan tindakan gila mereka. Ini trauma, sebuah pukulan pada psikologis. Lalu, katakan juga, belajarlah untuk menerima trauma Anda, dan mintalah suami agar mau mendukung  penyembuhan Anda, tanpa terus menjudge Anda juga.

Setelah itu, apa yang harus dilakukan?

Saat suami telah mengerti akan perasaan Anda, inilah waktunya Anda bertarung dengan diri sendiri. Di situlah musuh terbesar yang sebenarnya. Bukan suami dan pasangan selingkuhnya.

Makin dekatkan diri Anda pada Tuhan. Dialah penolong dari segalanya. Anda mungkin bisa bercerita pada semua manusia yang Anda anggap teman, sahabat, atau apa pun, tetapi satu-satunya yang bisa menenangkan hati Anda adalah doa kepada-Nya. Jika ingin menangis, menangislah di bahu-Nya. Setelah itu, bangkit kembali.

Hapus pertanyaan “Mengapa?” “Kok dia bisa tega, ya?” atau “Bagaimana bisa?” dari hati Anda. Jangan mencari sebuah alasan, tetapi cobalah memahami. Jika yang Anda cari hanyalah alasan-alasan bodoh yang menyakitkan, tentang mengapa suami bisa tega berselingkuh di belakang Anda, yang didapat hanya hal-hal negatif. Bukan memperbaiki, tetapi malah menjerumuskan diri Anda sendiri ke dalam keterpurukan.

Hilangkan juga perasaan menyalahkan diri sendiri, merasa kurang mampu melayani suami sehingga dia berselingkuh. Ada beberapa pria yang menggunakan alasan 'karena kekurangan dan kesalahan Anda-lah akhirnya mereka berselingkuh', jangan percaya. Saya sungguh-sungguh! Itu hanya sebuah pembenaran mereka.

Ingat, selingkuh dilakukan secara sadar! Mereka tahu mereka salah tetapi tetap memilih jalan itu. Mereka sengaja melupakan Anda dan keluarga, berani mempertaruhkan kebahagiaan pernikahan hanya karena sebuah kesenangan. Pikiran yang sering dipergunakan adalah “Ah, tidak apa-apa, asal istri tidak tahu, dia tidak akan terluka.” Kalau sudah seperti itu, apa masih Anda percaya kalau itu kesalahan Anda?

Jadi, buang ya pemikiran menyalahkan diri sendiri. Anda sudah sangat terluka, jangan makin ditambah dengan membuat diri Anda bersalah karena menjadi penyebab perselingkuhan suami. Anda harus kuat menolak pembenaran itu. Tetapi, bukan berarti Anda merasa yang paling benar. Dalam perjalanan penyembuhan, lakukan juga intropeksi diri. Buat list tentang sifat-sifat buruk Anda, lalu lakukan perbaikan. Buat diri Anda menjadi seorang istri yang lebih baik lagi perilakunya dalam melayani semua kebutuhan suami. Perbanyak senyum, kurangi mengomel, buat dia semakin betah dengan Anda. Sentuh hati kecilnya yang dulu sangat mencintai Anda. Saya percaya, tidak ada hati yang tidak bisa ditaklukan dengan cinta dan kasih sayang! Di sinilah poin terpentingnya Bunda ^^ Semangat ya....

Kemudian, pusatkan perhatian Anda pada hal-hal yang positif. Misalnya dengan mengikuti kegiatan-kegiatan sosial di lingkungan Anda. Membantu orang lain bisa memperbaiki mood hati Anda menjadi lebih baik. Atau bisa juga mulailah belajar menulis. Percaya atau tidak, menulis itu memiliki kekuatan penyembuhan. Efek yang dihasilkan dari aktifitas menulis mampu membuat seseorang menjadi lebih tenang dan lebih bisa melepaskan.

Dalam beberapa waktu, ingatan-ingatan yang menyakitkan, pasti akan menyeruak kembali. Bisa jadi saat itu terjadi Anda akan kembali rapuh. Itu hal yang wajar. Seperti yang saya utarakan di atas, bahwa trauma seperti ini tidak mungkin bisa 100% dilupakan begitu saja. Adakalanya tiba-tiba teringat, lalu menangis. Emosi Anda jadi tidak terkontrol lagi.

Penyebabnya bisa karena hormon (pada saat anda mengalami Pra Menstruasi Sindrom) atau bisa juga karena sedang bertengkar dengan suami Anda. Ujung-ujungnya pasti ungkit-ungkit hal ini lagi.

Tidak apa-apa jika hal itu terjadi, hanya saja Anda harus pintar menghadapi perasaan Anda sendiri. Jangan mau dikalahkan oleh emosi sesaat. Hadapi. Perangi. Tetapi bukan berarti dipaksakan. Dipaksa harus lupa, harus lupa, harus lupa... tidak! bukan begitu caranya.

Biarkan Anda menikmati prosesnya. Coba bersahabat dengan trauma. Manage emosi Anda. Mungkin saat pertama kali, rasa sakitnya bisa berhari-hari. Coba tekan pelan-pelan menjadi hanya dua hari, lalu perpendek menjadi sehari, tiga jam, dua jam, begitu seterusnya. Turunkan level amarah Anda. Pelan-pelan saja, biarkan waktu yang menemani perjuangan Anda. Ingat, semakin Anda berusaha keras untuk melupakan, Anda akan semakin merasa sakit!

Harus bisa! Ini hidup Anda. Jangan mau dikalahkan oleh masa lalu.

Bikin sebuah pernyataan pada diri sendiri, yang bisa membuat diri Anda kuat dan kembali bangkit ketika sedang limbung. Anda bisa buat sendiri atau menculiknya dari para motivator yang berserakan di akun-akun facebook, twitter, buku atau apa pun.

Misalnya seperti ini : “Oh iya ya, buat apa aku harus iri dan cemburu pada wanita yang mengumbar aurot dan bermesra-mesra dengan suamiku? Merekakan sedang berbuat dosa, lah buat apa aku iri sama orang yang lagi berbuat dosa. Bodoh sekali, gak penting kan? Dari pada ikutan dosa hati, lebih baik banyakin ibadah.”

Yups! Kalau mau iri dan cemburu, iri dan cemburulah pada yang sering berbuat amal, shodaqoh, dan beribadah pada Tuhan. Bukan pada yang sedang berzina ... (ekstrim ya? tapi semakin ekstrim bisa semakin meningkatkan kemampuan menguatkan hati, kalau saya sih ^^ hehe..)

Banyakin beristighafar, serahkan saja semua kepada Tuhan. Apa-apa yang tidak Anda ketahui, dan yang ingin Anda ketahui (karena sedang curiga atau cemburu). Ikhlaskan saja. Carilah ridho Tuhan Anda, karena Dia-lah yang akan menjamin kehidupan kita di akhirat kelak, bukan manusia lain!

Fokuskan hidup Anda hanya pada ibadah dan anak-anak. Fokus memperbaiki diri, lebih memperhatikan kebutuhan suami, melayani dengan ikhlas dan bersabarlah. Titik!

Nah, Bunda... apa pun jalan pilihan Anda, jangan mau menyerah. Hidup itu bukan untuk saat ini saja, tetapi juga kehidupan di akhirat kelak...



-A.M.120214-

SAHABAT BERNAMA ALYA




Hari sudah hampir menapak pada senja saat kami tiba di rumah salah satu rekan kerja, sedikit lagi. Semua duduk di lantai. Menempelkan badan pada tembok yang dingin. Sebagian dari kami tertunduk karena haru, tidak bisa melihat kondisi tuan rumah. Sebagian matanya berkaca-kaca. Lebih tidak kuat lagi menahan kesedihan, termasuk aku, yang duduk di kursi sambil menggelus perut buncitku.

Nama wanita itu Alya. Hampir tigapuluh tahun usianya.

Hari ketika kami menjenguknya, kondisi Alya sudah sangat memprihatikan. Badannya mulai mengering, kurus sekali. Dengan cekung di sekitar mata, pipi yang menirus dan bahkan menjadi kempong. Lalu rambutpun mulai menipis, telah rontok berhelai-helai. Badannya lemah. Bahkan berjalanpun sudah tidak bisa.

Usia kandungannya sudah mencapai enam bulan, sama dengan kandunganku saat itu. Tetapi perut buncitnya kecil, tidak sebesar milikku. Sungguh membuat kami iba. Anak kedua yang tengah dikandung Alya, harus menderita dikarenakan penyakit yang diderita sang ibu.

Leukimia akut.

Dan apa kalian tahu apa vonis dokter yang menangani Alya? Wanita manis itu disudutkan pada dua pilihan yang teramat sulit. Mana yang akan dipilih, nyawa sang janin atau dirinya sendiri.

Subhanalloh. Mendengar cerita Alya yang diiringi seguknya membuat hati kami miris teriris. Beberapa mulai menitikan air mata. Bendungan itu sudah jebol karena tak kuasa menahan kesedihan.

“Aku nyesel, Mak. Kenapa dulu bisa kebobolan. Sudah kubilang pada suami sejak awal hamil, lebih baik digugurkan saja, aku belum siap mempunyai anak lagi. Hutang kami masih banyak,” Alya merintih sedih kembali, meneruskan curahan hatinya yang sedari tadi mampu mencabik-cabik kami, “seandainya saja dari dulu sudah digugurkan.” Suaranya pelan sekali. Hampir tidak terdengar.

Tetua kami di kantor yang dipanggil Emak menimpali suara Alya. Dia mengingatkan agar Alya tidak berkata buruk pada pemberian Tuhan.

“Gak boleh Lya, dosa kamu bilang seperti itu. Anak itu anugerah, dia rejeki buat kamu. Lebihlah bersabar menjalani cobaan ini, Lya.”

“Hutang kami menumpuk, Mak. Tiap tiga hari sekali aku harus transfusi darah, sekali habis dua kantong, dan itu tidak murah. Suamiku hanya seorang cleaning servis, Mak. Berapa banyak yang kami punya? Tidak ada!”

Aku terenyuh, tidak mampu berkata apa-apa. Bahkan untuk membayangkan saja sudah takut.

Cerita demi cerita masih terlontar dari mulut Alya yang mengering dan pecah. Bibir itu bergetar. Pun juga jari-jari tangganya yang mengeriput. Aliran kesedihan sudah banjir di sela-sela krah bajunya yang berwarna hijau mentah.

Lalu kami semakin tenggelam dalam perasaan yang bercampur aduk tak keruan, hingga senja dan suara adzan maghrib menegur pori-pori kami agar ingat bahwa hari sudah mulai gelap. Maka kunjungan hari itupun kami akhiri dengan berpamit kepada tuan rumah.

***

Tiga bulan kemudian, kelahiran anakku yang mendadak lebih cepat dari prediksi ilmu kedokteran, membuatku kehilangan kabar Alya. Padahal sebelumnya, kami selalu tidak lupa bertanya tentang keadaannya. Sebentar Alya masuk rumah sakit, sebentar pulang lagi.

Pernah suatu ketika saat usia kandungannya hampir menginjak delapan bulan, Alya terpaksa dirawat inap kembali selama tiga minggu. Kondisinya sangat kritis. Tetapi wanita berambut panjang itu sungguh mempunyai ketabahan serta kegigihan yang sangat besar. Keinginannya untuk tetap hidup dan melahirkan bayinya sangat kuat.

Mungkin benar, di awalnya dia hampir putus asa. Tetapi perjuangan suami yang tidak mau menyerah untuk menyelamatkan nyawa istri dan anaknya, membuat Alya tersentuh. Baik keluarga maupun sahabat, selalu berpesan agar Alya memiliki kemauan hidup yang kuat. Agar dia dan anaknya bisa selamat. Karena itulah, sedikit demi sedikit akhirnya Alya mau mengerti makna cobaan yang diberikan Tuhan padanya. Diapun memupuk kekuatan pada hatinya, dengan banyak-banyak berserah diri dan berdoa kepada Sang Pencipta.

Pertengahan September, dua minggu setelah gadis kecilku lahir, Alya melahirkan. Seorang teman kerja menelponku dengan suka citanya. Dia menangis. Aku juga. Sebuah tangisan yang bahagia.

Bayinya laki-laki. Bermata bening dan berhidung mancung seperti ibunya. Dia sehat. Pun demikian dengan Alya. Walaupun memang dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk penyembuhan, tetapi semua berjalan sesuai harapan. Tuhan mengabulkan doa-doa kami. 

Alhamdulillah. Terima kasih untuk segalanya Tuhanku. Engkaulah yang Maha Pemberi. Maha Segalanya. Ujianmu pada Alya mengetuk pintu hati kami.

Mungkin basi saat kita mendengar ungkapan “hidup adalah sebuah perjuangan”. Tetapi pernahkah kita kembali menengok, seberapa besarkah perjuangan kita pada hidup?

Alya yang lemah, suami Alya dengan keterbatasannya, lalu keluarga mereka itu jugalah yang telah membuktikan, bahwa hidup itu benar-benar butuh sebuah perjuangan. Dan kekuatan doa adalah kekuatan untuk menjalaninya. Tidak ada hal yang tidak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak, bahkan sebuah vonis manusia yang pintar sekalipun. Maka, memintalah padaNya, agar kita terselamatkan dan diberi kekuatan menjalani segala cobaan.




Jan 15, 2014
14:36

Kepada “ALYA”

BAIT DUA HATI




Hai, Pue, hujan semakin lebat. Detik-detik yang kulalui tanpamu begitu hening dan sayu. Apakah kau lupa akan janjimu sendiri? Tentang hujan dan secangkir cokelat hangat untuk berdua.

Di sini tidak ada kamu. Tidak ada kita. Hanya aku, terduduk di depan jendela rumah kita. Jauh mataku menerawang, menelan semua riak hujan dalam kegelapan.

Ah, Pue, aku merindukanmu. Kapan kau akan pulang?

***

Mue, aku sedang tersesat.. Masih layakkah aku kembali padamu, Sayang?

Lihatlah hujan yang berserakan di tanah itu, mereka begitu riang menertawaiku. Menatapku dengan sorot mata yang mencemooh.

“Kau lelaki murah!”

“Kau lelaki murah!”

Suara mereka terus menyiksaku, Mue.

Sakit.

Benarkah aku semurah itu? benarkah, Mue?

***

Dingin.

Gelap.

Sepi ...

Kapan kau akan kembali? Cokelat di cangkirmu telah dingin.

Ah, atau mungkin engkau tengah menanti redanya sang hujan? Agar bisa kembali pulang kepadaku, Pue?

Jangan limbung, Pue, hujan sederas apapun pasti akan mereda. Dan pelangi pasti muncul setelahnya, Sayang.

***

Aku malu.

Aku kotor karena dosa.

Aku khilaf.

Bahkan kata maaf pun takkan cukup mampu mengutarakan seberapa menyesalnya aku akan pilihan yang telah kulalui.

Kau takkan bisa mengerti, Mue.

Tak seorang pun bisa memahami perasaanku.

Bahkan diriku dibuat tak berdaya, ditelan oleh kegilaanku sendiri!

***

Tidak.

Telah kuketahui dari kebisuanmu, dari tatapan sendumu, juga pada puing-puing igauan mimpimu, Pue.

Aku paham, kau sedang terluka, menyimpan sebuah dosa pada hatimu.

Kau sakit, aku ikut merasakannya.

Kau menangis dalam hening, aku pun merasakannya.

Maka, Pue, pulanglah. Jangan takut.

Cintaku tak pernah luntur sedikit pun, walau kau telah membagi hatimu.

Pulanglah ... bagi dukamu padaku, bagi kesedihanmu padaku. Kan kupeluk semua lenguh sesakmu, dan meleburnya dalam batinku.




Feb 11, 2014
22:26

Senin, 03 Februari 2014

MERAH, BIRU, CINTA


"walaupun engkau rapuh sebagai manusia, menyimpan hati pada senja dan fajar di ujung pantai yang kau baur pada kenangan, kau simpan rapat terkunci pada ingatan, 
lalu memilih sembunyi pada diam
 
 tak mengapa,
aku bisa melalui semua air mata, karena itu adalah dirimu..
  karena bagiku, sebuah kesejatian cinta adalah mencintai semua hal yang ada pada hidupmu.."

(kepada - kenanganmu bersamanya)


 "jika kau menyerah pada jalan cinta yang kita lalui, maka aku hanyalah sebuah persinggahan semata, bukan cinta.. karena cinta adalah sebuah perjuangan, tidak akan pernah menyerah pada hal yang tidak bisa ditaklukan.."

(kepada - kita)

Sabtu, 01 Februari 2014

KEMUNING



  

Adalah dia, Kemuning, wanita berhati tangguh. Dalam usia yang hampir tigapuluh tiga, sudah mampu menaklukan musuh terkuatnya, aku, dirinya sendiri. Sempat tidak percaya bagaimana dia mampu menjegalku masuk ke dalam rongga hati yang terdalam, paling dasar dan paling gelap. Menguncinya rapat, tersenyum sebentar, lalu menghilang tanpa memandang ke belakang. Meninggalkan aku dalam perasaan kelam yang pernah kuciptakan sendiri, dahulu sekali, ketika aku masih mengagahi hatinya.

Sudah dua atau tiga bulan ini, dia membiarkanku kelaparan. Tidak sekalipun berbicara atau bahkan hanya sekedar menyapa hai. Padahal, sejak aku diciptakan oleh perasaan kalutnya, kami selalu bersama. Berjalan beriring-iring. Tak pernah dia meninggalkan aku dibelakang, melepas tangan, atau mengacuhkan perkataanku.

Lalu mengapa sekarang dia berkhianat?

Sudah lupakah siapa yang mengajarinya tentang hidup? Bahwa jangan pernah mempercayai seorang pun, hanya kita. Aku juga sering berkata padanya, jika hidup itu harus bisa membalas, jangan mau menjadi pihak yang lemah, begitu mudah diinjak dan disakiti. Tidak! Kita bukan wanita yang harus menjadi sandal bagi pria manapun.

Tetapi lihatlah kini? Dia diam padaku. Seolah aku ini sudah bukan bagian dari dirinya lagi. Benda asing. Sesuatu yang harus dibuang jauh-jauh dari kehidupannya. Baginya aku adalah hal buruk yang tak pantas bersemayam lagi di otak. Hei, padahal diriku ini nyata keberadaannya. Lupakah kau, Kemuning?

Ah, sebentar, kuhela nafas dahulu. Aku sudah terlalu lelah menunggunya datang menghampiri lalu menjulurkan tangannya kembali. Sama seperti dulu. Ingin menari bersama, dan meneriakan isi hati kami seru-seru dengan nada pedas.   

Oh ya, aku teringat. Terakhir kali kami bersama adalah malam itu, saat kepedihan luka lama menyeruak berhamburan, keluar dari pori-pori. Denting sepi, bulan durjana lalu anak embun yang mulai menampakan wajahnya. Mereka bertigalah yang menemani deru tangis Kemuning, yang sudah lama begitu dia rindukan.

Tangisannya memilu, menyayat hati. Berteriak, menangis, tertawa terbahak, kemudian menangis lagi kencang-kencang. Bulan bahkan malu untuk melihat Kemuning, tidak berdaya dilahap dendam amarah yang meluap-luap. Dalam remang cahaya dia menelungkupkan kaki, memeluk dengan kedua tangannya, sesegukan di dapur sendirian. Iya sendirian. Sebenarnya aku tahu lelaki itu, suami Kemuning, bisa mendengar teriakan dan tangisannnya, tetapi apa? Dia berpura-pura tuli. Hanya diam merebahkan tubuh di kamar.

Makhluk yang menyedihkan. Lelaki paling egois yang pernah kutemui!

Lalu apa kau tahu ke mana Kemuning setelah itu? Membenamkan dirinya dalam kamar mandi, dengan deru air kran yang deras, berkali-kali menyiram kepalanya dengan gayung sebesar panci air. “Byur! Byur! Byur!” Seperti sedang mengusir roh jahat dalam tubuhnya, sebuah ritual, sambil terus terisak. Kau tahu pukul berapa saat itu? Duabelas malam. Aku pikir saat itu dia sudah gila. Tetapi ternyata dugaanku salah.

Setelah malam itu, sekali pun dia tak pernah tertawa lagi padaku. Muncul sebuah kekuatan baru yang entah datang dari mana. Dan itu menakutkan. Dengannya Kemuning berhasil melawanku. Menindih semakin ke dalam. Terpuruk. Lalu beginilah akhirnya. Dia bebas, dari cekikan dendam dan kebencian yang telah bertahun-tahun menggerogoti pikirannya. Itulah aku, dendam dan amarah Kemuning pada suaminya sendiri.

Ah, ini tidak boleh seperti ini. Tak bisa dia terus-terusan mengacuhkan aku. Sungguh, harus segera bertindak sebelum kekuatannya semakin membesar. Maka, dengan sisa tenaga yang tersimpan, aku berusaha memanggilnya sekali lagi. Untuk yang terakhir kalinya, mungkin, tapi bisa saja juga tidak yang terakhir, kita lihat saja nanti.

“Kemuning.” Hening menggema.

“Hai, bisakah kau mendengarkan. Sebentar saja, berbicaralah padaku.”

Diam, masih tak ada jawaban. “Kemuning. Kemuning!” kali ini lebih keras.

“Apa?” akhirnya dia menyahut walaupun dengan perasaaan malas.

“Apakah kau benar sudah menyerah pada perjuanganmu selama ini? Menuntut hakmu untuk bahagia dari lelaki itu?”

Kemuning membisu sebentar, sambil terus merajut baju hangat untuk bayi perempuannya. “Tidak. Aku bukan orang yang mudah putus asa, kau tahu benar itu.”

“Lalu, mengapa sekarang kau melepaskan dirimu dari aku? Bukankah aku ini kekuatanmu untuk melawan keegoisannya.”

“Bukan, kau salah.”

“Apa maksudmu aku salah?” Hatiku meradang. Tersinggung benar aku akan perkataan Kemuning barusan.

“Kekuatanku bukan kamu, tetapi anak-anakku. Kau hanya sisi gelap yang mengaku menjadi penolong. Kau merusakku.”

Hah? Apa! Huh, geregetan aku. Dia malah menyungging senyum, bukti kalau benar-benar membenciku. “Jadi kau akan diam saja dengan perlakuan lelaki itu? Dia itu pembohong, banyak menyimpan rahasia di belakangmu, dia bajingan, maen perempuan. Kamu tahu benar itu! Bagaimana kau hanya bisa diam saja melihatnya menari kegirangan, meloncat-loncat, dan menganggapmu bodoh karena begitu pemaaf, begitu mudah dibohongi. Padahal sebenarnya kau tahu semua kebohongannya. Kau tahu itu!”

Kemuning terdiam.

“Aku tidak bisa terima, Kemuning. Kau itu sedang dilecehkan. Apa gunanya dia menikahimu jika hanya mampu menyiramimu dengan kebohongan saja? Bukan itu guna kamu menjadi pendamping hidupnya.”

Dia menghela nafas panjang. Sekarang menatap mataku dalam-dalam sambil berkata panjang. “Kau tahu, tidak ada gunanya menyimpan dendam dan kebencian dalam hati. Justru akan membuat kita bobrok saja, hati akan semakin membusuk. Tidak pantas aku memberi tangisku pada lelaki yang semaunya itu, biarlah sudah, dia bukan menjadi prioritas lagi dalam hidupku. Kau tahu apa yang terpenting sekarang? Anak-anakku, ibadahku, kebahagiaanku. Kan kukejar itu sampai malaikat maut datang. Bukan lagi kesetiaannya, bukan lagi kejujurannya. Percuma. Kita tidak akan bisa merubah sesuatu jika sesuatu itu sendiri tidak memiliki keinginan untuk berubah. Sama saja menyayat tangan kita dengan belati, menyakiti diri sendiri. Biarkan saja dia mau menumpuk dosa, itu hak dia menjalani hidupnya, mungkin memang hanya segitulah batas kemampuannya. Lebih baik rubah diri sendiri menjadi lebih baik lagi. Bukankah aku ini wanita yang tidak sempurna, belum mampu menjadi istri yang baik.”

Sekarang aku yang membisu.

“Aku lebih memilih berdoa pada Tuhan, agar hati lelaki itu dibuka, disentuh dengan tangan agungNya. Kau tahu kekuatan doa bukan?”

Benar, wanita ini semakin kuat. Dan aku menjadi lemah dihadapnya.

“Kau tidur saja di sana, renungkan perkataanku. Rubah dirimu menjadi hal yang baik jika kau masih mau bersamaku. Aku tidak mendendam, pun tidak marah dengan dirimu. Kau masih bagian dari jiwaku.”

Huh, apa katamu, merubah diriku. Dendam saja belum bisa terbalaskan, enak saja. Sudahlah, mungkin saat ini kau menang, dan aku akan kembali kaku di pojok gelap sana. Tetapi ingatlah Kemuning, bahwa aku masih ada, tersimpan di hatimu. Ya, walaupun aku terbenam semakin dalam, tetapi kelak, saat kau putus asa kembali, itulah saatnya kemenanganku akan berkibar.

Maka dengan bersungut-sungut aku kembali terdiam, malas berbicara kembali, sementara Kemuning melanjutkan rajutannya.




Des 19, 2013
9:19

TRUE LOVE ISN'T FOUND, IT'S BUILD





Pernikahan yang menjenuhkan. Pasangan berubah tidak seindah waktu pertama kali menapaki asmara. Dulu ada debar yang merindu menendang hati jika tak bertemu, debar itu juga mengigit raga hingga kaku saat berada di hadapannya. Dia masih cantik, masih tampan, masih berbau harum, ranum seperti buah mangga mengkal yang ingin segera dipetik dari pohonnya. Tawanya menyejukan, senyumnya memabukan, setiap kata yang terpahat dari bibirnya membuai kenyataan menjadi sebuah impian untuk bisa bersamanya selalu. Sungguh, rindu masa-masa yang bagaikan dongeng indah gadis-gadis kecil yang bermimpi bertemu pangeran dengan kuda putihnya.

Tetapi lihatlah kini para kekasih itu. Sang istri, badannya menggendut, bengkak karena telah melahirkan buah hati atas nama cinta, berdaster kumal, rambut teracak merayap kemana-mana. Kulit pun tak selicin dan halus seperti masa muda. Lebih sering mengomel, masalah sepele tentang mandi pun harus bertengkar dengan anak-anak, sungguh tidak membuat nyaman penghuni rumah. Aromanya pun, aroma dapur. Bau ikan, bau asap nasi yang mengepul, bau bumbu dapur yang menyengat, bercampur menjadi satu. Apa ini? Mengapa tidak ada lagi sosok wanita cantik berbau harum dengan keseksian kerlingan matanya dan kemolekan tubuhnya yang menggoda. Di mana dia?

Lalu lihatlah sang suami. Sosoknya berubah menjadi manusia yang menumpuk alasan-alasan untuk membuat hati ini jengkel dan marah. Malas, liburan hanya tidur, hanya tertarik dengan gedget di tangan, sibuk game ini game itu. Padahal rumput depan sudah setinggi lutut, sampah belakang juga butuh dirapikan, anak menangis pun tak dipedulikan, tetap sibuk pencet sana pencet sini, bbm sana bbm sini, sungguh, hati mana yang betah hidup dengannya. Apalagi saat berkerja, berangkat pagi pulang tengah malam, beralasan lembur atau menemani bos ke luar kota. Hampir tak ada waktu untuk bergelut mesra di peraduan cinta, berbicara di atas bantal sambil berpegangan tangan, bahkan jarang ada belaian atau pelukan saat hendak memejamkan mata. Tidak untuk istri, tidak untuk anak-anak. Hei, di mana pria lembut penuh kasih itu pergi? Lalu siapa yang ada saat ini?

Begitulah...

Dengan berjalannya waktu, semua pasti ada perubahan. Bisa saja masih ada yang mesra di usia pernikahan dua atau tiga tahun, tetapi bagaimana dengan yang delapan, sepuluh, belasan atau kepala duapuluhan? Jika dalam usia matang itu hubungan masih mesra, sungguh hal yang menakjubkan dan luar biasa. Tapi, uupss, bukan berarti mereka yang mesra dalam pernikahan yang lama itu karena tidak adanya masalah dalam berumah tangga. No, salah!

Pepatah barat mengatakan “true love isn’t without problems, it has many obstacles, true love is working”
Tidak mungkin tidak ada masalah, pasti ada, pasti! Hanya saja, cinta sejati itu adalah yang mampu bertahan.

Mengapa tulisan kali ini berjudul “TRUE LOVE ISN’T FOUND, IT’S BUILT” ?
Keadaan yang jenuh dengan seambrek kesebelan, jengkel dan bosan dengan pasangan, terkadang memaksa hati kita untuk tergoda sesuatu yang mungkin kita rindukan. Membuat kita mencari kebenaran cinta yang kita inginkan.

“aku telah menikah dengan seorang wanita yang hebat, tetapi rasanya aku belum menemukan cinta sejatiku.”

“suamiku baik, tetapi bikin aku bosan justru dengan kebaikannya. Aku menginginkan sesuatu yang berbeda yang bisa membuat jantungku melompat keluar.”

Hal sederhana seperti inilah yang terkadang membuat hati kecil kita melompat-lompat keluar dari jalurnya. Teguran pikiran jernih kadang diabaikan, saat suatu godaan muncul di kantor, tempat nongkrong, atau bahkan media sosial, facebook, path atau twitter. Bertemu kawan lama, bertemu mantan kekasih yang dulu berpisah bukan karena hal yang menyakitkan tanpa amarah, tetapi malah karena keadaan atau keluarga yang tidak merestui. Well, selalu ada pertanyaan “what if” yang muncul menemani debar baru yang dirindukan.

“bagaimana jika seandainya dulu aku menikah dengan dia, apakah akan lebih bahagia dari saat sekarang?”

Selalu berputar pada pertanyaan yang berandai-andai. Memang tampak indah, saat bertemu, berbicara, proses mendekati kembali, mengenang kisah lama, atau entah apa lagi itu, tetapi, jika benar-benar menikah, apa benar akan berbeda keadaan. Belum tentu jika pribadi kita sama dengan saat ini, menikah dengan siapa pun akan tetap sama saya rasa.

Saya pernah membaca sebuah kisah tentang seorang suami yang pergi meninggalkan istri dan anak-anaknya demi mengejar cinta lama yang membuat dia bergetar, membuat dia merasa muda kembali, tetapi apa yang terjadi di akhir kisah itu? Kesakitan. Hal yang menyakitkan untuk semuanya. Dia, sang istri dan juga sang kekasih. Ironis.

Bagi saya, dengan siapa kita menikah saat ini, itulah cinta sejati kita.

Ingatlah kembali bagaimana perjuangan saat akan menikah dahulu. Bagaimana debarannya. Bagaimana menggebu-nggebunya saat itu. Semua rela dilakukan demi impian pernikahan bukan? Lalu kenapa sekarang harus sibuk mencari-cari cinta lain jika saat menikah ada perasaan keyakinan bahwa wanita inilah atau pria inilah yang bisa membahagiakan aku.

“nak kamu yakin dengan pilihanmu ini?”

“iya mamak, iya bapak, hanya dengan bersama dialah aku bisa bahagia.”

Nah, itu! Ingatlah kata-kata itu.

Kalau sudah cinta, peliharalah. Bangun kemesraan, bangun kebersamaan. Cinta itu butuh diberi makan, butuh disiram dengan air agar bisa bertumbuh terus. Bisa beranak pinak. Bisa berbunga dan mengharum sepanjang masa. Ada angin, ada badai, lewat. Hujan atau terik matahari, encer luluh karena kekuatannya. Jika anda pribadi yang mudah tergoda, maka cobalah untuk berkata tidak. Jika anda mudah mengagumi sahabat lawan jenis anda yang cantik jelita sexi atau yang tampan mapan, cobalah menghindari kontak demi rumah tangga anda. Semua butuh pengorbanan dari kita bukan mala mengorbankan perasaan orang yang percaya dan mencintai kita.

Hei, bangun, jangan hanya meminta keindahan dari pasangan jika kita sendiri pun tidak mampu memberikan hal terbaik untuk dia. Jangan meminta istri tidak mengomel jika kita mencabut rumput saja malas, jangan meminta suami senang bearada di rumah jika kita tidak mampu menciptakan rumah yang nyaman untuknya berteduh.

Cinta sejati itu bukan diawali dengan meminta tetapi memberi,,
Cinta sejati bukan cinta pada pandangan pertama, but love at every sight,,
Cinta sejati itu tidak HARUS setia, tetapi MENCOBA selalu setia,,
Cinta sejati itu bertahan, memaafkan, belajar jujur, penerimaan, selalu memperbaiki, berani meminta maaf, jika genggaman terlepas akan kembali mencarinya untuk menggenggam kembali,,
Cinta sejati itu bukan untuk dicari, tetapi dibangun dari cinta yang sudah ada saat ini,,

Jangan bertanya pada mereka yang baru mabuk akan cinta, tetapi bertanyalah pada ibu bapak kita, mengapa mereka mampu bersama hingga saat ini? Maka dari merekalah kita akan menemukan kesejatian cinta.



Nov 18, 2013
11:50
terinspirasi buku Sakinah Bersamamu (AsmaNadia) dan sebuah pict sederhana di google

LELAKI dan PEREMPUAN KEMBANG WISMA



Bak kucing betina, kugeliatkan tubuh molek ini dihadapnya, menggoda jiwa kelelakian yang terbenam dalam bisu itu. Helai demi helai sang satin merah maroon kutanggalkan dari persinggahannya. Menelanjangi hasrat kewanitaanku di balik sinar bulan yang menyembul sempurna, dari himpitan sela lubang kayu jati jendela kamar.

Nihil. Lelaki itu tak sedikitpun tergiur dengan tarian nakalku. Hanya menatap seperti sedang memandang seonggok patung arca di candi-candi kota Yogyakarta. Hatiku meradang sakit terhina. Lihatlah, apa kurangnya? Cantik, montok, aku kembang di wisma ini. Banyak yang menginginkan. Tetapi kenapa dia?

“Tidakkah kau memiliki sedikit hasrat cinta padaku, mas?”

“Maaf, aku tidak mencintaimu Kayla.”

“Lalu mengapa setiap hari kau menghabiskan malam bersamaku? Padahal hatimu ada bersama istrimu.” Marah, kubalikan badan membelakanginya.

Mas Andre menarik tanganku perlahan, penuh kasih. Kurebakan tubuh dalam pelukannya. Hangat. Ya, walaupun aku masih menggenggam marah. “Entahlah mengapa kulakukan ini. Aku hanya ingin bersamamu, itu saja.” Diciumnya pipiku, mesra.

“Kau berhati batu.” Kumanyunkan bibir sepanjang-panjangnya. Iya, biar dia tahu kalau dia itu sudah menikam harga diriku. Masak, dibayar tiap malam hanya untuk menemaninya bercanda. 

“Biarlah, biarlah batu ini menikmati kebekuannya bersama perempuan yang penuh gejolak sepertimu.”

“Kau tahu, mas? Akan kuberikan nikmat dunia dalam genggamanmu jika kau mau memberi sedikit saja keranuman cinta di hatimu.”

Dia tertawa kecil, serta merta berbisik lembut di tengkukku, “Iya aku tahu itu,” dikecupnya perlahan, kemudian melanjut membuang kalimat yang selalu mampu meluruhkan kesebalanku atas perlakuannya, “sekarang, biarkan aku tertidur dalam pelukanmu Kayla, aku merindukan aroma tubuhmu.”

***

Pukul dua pagi dini hari. Anak embun mulai berani menampakan bulir bening di dedaunan. Pun begitu pula sang kabut yang perlahan turun menapak tanah.

Dalam hening menamati wajah istriku, Raysa, lelap ia bertapa malam. Guratan wajahnya masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Masih anggun dan cantik, bulu mata itu masih memanjang serta melentik. Ah, gadis pujaanku yang dulu penuh keceriaan itu berangsur-angsur menjadi kalem. Singa betina yang lincah dan garang itu sekarang menjadi singa keibuan yang pandai bergemulai.

Aku kehilangan sesuatu darinya.

Entah, aku ini bodoh atau naif. Mungkin juga rakus karena ego. Sebenarnya aku tidak mengakui perubahan pada Raysa, menolak keberadaan dirinya yang mulai memutuskan untuk berjilbab panjang, menata sikap dan lompatan kata dari bibir mungilnya, juga cara dia yang sempurna melayani suami hampir tanpa cela. 

Lihatlah Raysa kini. Sudah lupa aku bagaimana warna aura keceriaannya dulu. Sekarang menghitam, lebih banyak diam. Sedikit menatap, sesekali tersenyum. Iya, hanya tersenyum, tanpa ada tawa riang lagi. Sudah bosan rasanya berada di dekat Raysa. Tidak seharusnya berkerudung dan menjadi semakin dekat dengan Tuhan kami membuat dia kehilangan binar-binar cahaya di wajah ayu itu.

Ah, kumerindukan lekukan keceriaannya, hasrat dan emosinya yang meletup-letup tak beraturan itu juga. Aku ingin ia tetap lincah mengaum ganas di rumah ini. Tidak hanya sekedar tersenyum dengan mata yang terbinar lembut, bukan seperti itu kekasihku dulu.

Mungkin, karena itulah magnet Kayla berhasil menarik kerinduanku yang terpendam beberapa tahun ini. Dia lincah, seperti sebuah kemurnian dalam sekat bernoda, cerita dari bibir merahnya pun mampu menghilangkan penat. Benar-benar sebagai tiupan angin baru yang menyejukan kerongkongan jiwaku yang terkosongkan. Keberadaan Kayla, mampu membuai semangat kembali. Aku suka. 

“Mas sudah pulang?”

Sedikit terkejut melihat Raysa tiba-tiba membuka mata, “I, iya.” sahutku gagap.

“Makan dulu ya mas sebelum tidur. Aku sudah menyiapkan rempeyek udang kesukaan mas.” Buru-buru dia bangkit dan menggelung rambut ikalnya.

“Ah tidak, lebih baik cepat-cepat tidur dan memelukmu. Ayah sudah rindu sama bunda.”

Raysa tersenyum, senyum yang sama, lembut dan anggun. Iya selalu saja begitu. Bukan lagi senyum nakal yang memabukan. Tidak lagi melompat di atas tubuhku dan menindihnya lamat-lamat. Ah, aku benar-benar merindu hasratnya.

***

Sudah lima hari Mas Andre tidak menengokku di wisma. Aku kangen. Kami hanya berchat ria menekuk rindu melalui ponsel Blackberry kami.

“Maaf Kayla, Raysa menginginkanku di rumah. Matanya yang memohon itu tak bisa ditolak. Nanti, jika kerinduannya sudah kuredam, aku akan berganti meredam kerinduanmu di sana.”

“Aku cemburu, mas. Apa ini pantas?”

“Pantas, tentu saja pantas untukmu Kayla. Karena kau telah menambatkan jangkar di dermagaku.”


“Kalau begitu cepatlah datang.”

“Pasti Kayla, pasti.”

***



“Aku ingin menikahimu, Kayla.”

Aku terkesima, takjub menyertai gembira. “Ta, tapi kau bilang, kau tidak mencintaiku. Kenapa ingin kita menikah?” kata-kata tersekat di tenggorokan, melemah, “lagi pula, aku ini apa? Hanya perempuan lacur, sungguh tak pantas meneguk manis madu pernikahan, Mas”

Aneh, bukannya heran, Mas Andre mala tertawa mendengar kata-kataku. Mengapa?

“Kayla, Kayla. Kamu lucu.”

Eh, mala dicubit pipiku. “Auwh”

“Tidak ada yang namanya perempuan seperti kamu itu tidak boleh menikah. Jangan membuatku menjadi semakin gemas dengan pemikiranmu.”

“Benarkah?” aku melompat ke dada bidang Mas Andre. “Benar aku boleh menikah denganmu mas?” Malu rasanya, mungkin sekarang pipi ini meranum merah muda.

Mas Andre memeluk, “Begitu dong, itu baru Kaylaku.”

“Nah, katakan, kenapa kau ingin menikahiku, mas?”

“Tanggung jawab. Sebagai rasa terima kasih pada kesetiaanmu menemani malamku.”

Tanggung jawab? Rasa terima kasih?.. ah, masih saja tidak ada alasan cinta. Tak tahukah Mas Andre, aku mencintaimu benar. Hanya kaulah lelaki yang begitu hormat pada perempuan bermandikan dosa ini.

***

Pukul duabelas malam. Suara hening menemani kebisuan kami dalam menit-menit yang berlalu. Raut wajah Raysa tak bergeming, tak terkejut, pun tak ada rasa marah di sudut-sudutnya. Mengapa? Mengapa bisa seperti itu?

Bagaimana dia bisa menekan emosi sebesar ini? Ataukah jangan-jangan dia memang sudah tidak mencintai aku? Mana kecemburuannya yang berapi-api seperti beberapa tahun lalu? Yang bahkan lebih hebat dari letupan Krakatau. Mana kemampuan histerisnya yang melolong bak serigala siap bertarung? Ah, aku menjadi geram dibuatnya. Siapa wanita ini, benar istrikukah dia?

“Apa Mas benar mencintai perempuan itu?” Akhirnya keluar juga kalimat darinya.

“Iya, aku sangat mencintainya.” Jawabku sedikit ketus. Aku ingin kemarahannya mencuat, itu jauh lebih baik.

Tapi harapanku nol kosong, Raysa tetap tegar. Seperti memiliki stok sabar dan ikhlas super besar di hatinya. “Apa aku boleh bertemu dengannya, Mas? Besok, bawalah perempuan terkasih itu ke rumah kita. Alhamdulillah, aku bersyukur bisa berbagi tugas melayani Mas Andre dengan perempuan lain. Setidaknya sedikit beban bisa terlepas di pundak ini, Mas.”

Hah? Bibirku terperangah mendengarnya. Dia menyetujuinya? Raysa menyetujui keinginanku untuk menikah dengan Kayla si perempuan kembang wisma dan malah mengucap syukur?

Hati ini tergetar hebat. Aku merinding.

Subhanalloh, sungguh wanita ini berhati emas. Di saat wanita lain akan menangis meraung atau mencaci suaminya yang ingin menikah lagi, ia malah mengucap rasa syukur kepada Tuhannya. Dia masih tersenyum begitu lembut dan anggun seperti biasanya. Bahkan binar kejora di matanya tidak redup sama sekali. Kekuatan apa ini? Inikah hasil pendekatannya kepada Sang Pencipta? Inikah yang dinamakan kekuatan iman? Sebuah penerimaan?

Aku terhanyut dalam selangkangan ego diri selama ini, pun juga terbutakan kulit luar keduniawian. Astaghfirulloh, apa yang sudah kulakukan pada Raysa. Aku bodoh, bodoh. Padahal rasa cinta tak luntur sama sekali di hati, tetapi dengan tega malah mencabik hatinya yang indah.

Ya Alloh, maafkan kekhilafan ini. Tidak seharusnya saat seperti ini malah berlari pada perempuan lain yang lebih mampu memuaskan batinku. Bukankah sebagai suami, aku ini imam di keluarga? Selayaknyalah menuntun apa yang kuimami, mengarahkan apa yang salah menjadi benar, bukan makin menjauhinya.

Beristighfarlah Andre, mohonlah ampun pada Tuhanmu.

“Mas, Mas kenapa?” Raysa menghampiriku yang tengah tertunduk lemas dengan kedua tangan menopang kepala. Berat. Penat-penat di kepala bercampur rasa bersalah menekan dalam. Ia mengerti benar perasaan ini, tahu kalau aku tengah menahan tangis pilu penyesalan. Dia pun memelukku.

“Tenanglah, Mas. Kita wudhu saja lalu sholat malam ya? Sudah lama Mas tidak menjadi imam dalam sujudku padaNya.”

Ah, Kaylaku sayang, aku kalah telak dengan ketulusan istriku. Maaf.

***

Hari ini, Mamy wisma menggeleng tajam kepadaku. “Sori Ndre, Kayla sudah tidak ingin menemuimu lagi. Hanya surat ini yang dititipkan padaku.” Secarik kertas berwarna tosca disodorkan padaku.

“Benarkah dia meminta seperti itu, Mam?”

Mamy mengangguk. Sudah cukup, mungkin beginilah akhir petualangan ini. Aku pun beranjak pergi dengan menggenggam rapat lembaran hati dari Kayla.

“Mas Andre, maafkan Kaylamu. Aku tidak bisa menerima tawaran pernikahan darimu, tanpa cinta, semua hanya semu. Tidak nyata. Tidak juga akan tercium wanginya melati pernikahan kelak. Terima kasih sudah memberikan sedikit malam pada perempuan lacurmu ini. Terima kasih sudah menyiramkan kelembutan untuk cinta di hatiku. Akan ku simpan, Mas. Semuanya. Jadi, ijinkan aku mengucap, aku akan baik-baik saja di wisma ini.

Aku menangis. Lelaki dengan tumpukan ego yang hampir berkarat ini, menangis sesenggukan di dalam mobil hitamnya.

“Kayla, kau salah. Sebenarnya aku mencintaimu sayang.”




Des 3, 2013
9:15