Dapurku tak pernah tertawa. Rumput-rumput tumbuh di dalam rahimnya, dan pohon pepaya, dan benih cabai yang menangis karena daun-daunnya digunduli tikus-tikus, dan sepeda usang yang tak lagi berlari mengantarkan kaki-kaki ayahku pulang, dan baju-baju basah yang meneteskan air mata, dan seekor kucing bermata muram, merindukan anaknya yang hilang dua bulan setelah dilahirkan, dan api yang berlompat-lompatan memaki-maki tubuhnya yang terlalu panas, dan uap air, dan mesin cuci yang membisu, dan dinding bambu tua yang roboh, bata-bata berlumut, saluran air yang mulutnya disumpali kebijakan-kebijakan omong kosong pemerintah, dan tanah-tanah berkhianat, kayu-kayu mati tanpa ada yang menggiringnya ke pemakaman, dan dedaunan rambat yang jasadnya kering di pojokan, dan tumpukan sampah yang merenung.
Aku terlalu riang ketika dapur menemaniku mencuci piring-piring kotor di sudut kakinya. Kujejalkan suara suamiku di tubuh dapur, dan bola matanya yang liar, dan desah-desahnya yang menggetarkan, dan derap kakinya yang tergopoh-gopoh, dan aroma tubuhnya yang berbau sabun mandi murahan, dan jantungnya, dan hatinya yang khianat, dan kepalanya. Anak-anakku tenggelam dalam bak cuci piring, aku menertawainya. Sekumpulan lalat berdengung, menukik, membuang anak-anak mereka di perut ikan yang belum aku cuci.
Makan bola matanya, duri-durinya, sirip punggungnya, ekor buntungnya, tapi jangan makan daging-dagingnya!
Dapurku tidak pernah tertawa. Dan ketika malam singgah, dapurku mati, gelap. Tak ada kunang-kunang, tak ada neon, tak ada cahaya Tuhan di sisinya. Dia hanya duduk di atas kepalanya sendiri sambil menyeduh kopi dan menyenggamai bulan hingga pagi.
Sidoarjo, 2016
