Kamis, 20 Maret 2014

APAKAH AKU CANTIK?





Ayu membenamkan sengguknya pada bantal. Tangisnya belum mereda sejak sore tadi. Mengapa?

Pertanyaannya selalu sama.

Seorang sahabat bercuap penuh kekhawatiran kepadanya, “mengapa kau tetap nekat berjilbab walaupun suamimu tidak menyetujuinya? Berhati-hatilah, ketika suami belum siap menerima perubahanmu, bisa jadi dia akan mencari wanita lain yang bisa memuaskan pandangannya.”

Lalu seorang sahabat lagi mengiyakan, “iya, Yu. Sudah banyak temanku yang diselingkuhi suaminya karena berjilbab. Alasannya, sudah tidak cantik lagi, sudah tak bisa dipamerkan ke rekan-rekannya. Di rumah tertutup, di luar tertutup, lalu apa yang bisa dinikmati?!”

Perasaannya menghambur. Melompat-lompat ingin berteriak. Tekad hijabnya hampir pudar tergerus keraguan dan ketakutan. Apa benar suaminya akan kehilangan cinta hanya karena sang istri mulai berjilbab?

Beberapa hari yang lalu, di suatu sore yang belum menampilkan sang senja, Ayu dengan binar cerahnya mematut di depan cermin. Dua jilbab baru yang dibeli dari pasar dicoba. Lama dia mengutak-atik kain panjang itu. Setelah dirasa puas sesuai dengan hatinya, Ayu melangkah mendekati sang suami.

“Pa, apa aku cantik?” tanya Ayu sambil tersenyum.

Suami diam sejenak. Hanya memandang tanpa sebuah ekspresi sama sekali.

“Tidak.” jawabnya datar.

Ayu tersentak. Hatinya langsung layu. Sungguh bukan sebuah jawaban yang ingin didengar dari mulut suaminya.

“Kenapa?”

“Ya karena Papa tidak suka wanita berjilbab. Mama tahu tentang hal itu bukan?” suami menjawab dengan ketus.

Alis Ayu mengendur. Rasanya seperti tercabik beribu-ribu kuku tajam harimau terbuas di dunia ini. Sakit. Hatinya bernanah sudah. Mati.

Semangat Ayu dalam naungan hijab sedang dipertanyakan lagi. Sudah benarkah langkahnya memilih berjilbab walaupun suami tidak suka?  

Dalam keheningan dukanya, Ayu mendecap doa kepada sang Maha Kuasa, “ya Allah, kumohon, berikanlah petunjuk-Mu untuk hamba yang hina ini.”

***

Pada malam yang lindap, Ayu bersetubuh dengan sajadahnya. Menekuk sujud, mencari sebuah ketenangan dari tangan Tuhan. Bekas aliran air mata sudah mengering. Tertumpah semua pada doa.

“Ayu, apa kamu sudah lupa apa tujuan saat berniat menjilbabkan hati dan auratmu?”

Suara hati Ayu menggugah kekalutannya. Perlahan ia teringat kembali akan kalimat-kalimat sang da’i pada sebuah pengajian.

“Jilbab itu hukumnya wajib bagi muslimah, sama kuatnya dengan hukum sholat lima waktu. Ibadah kalian tidak akan sempurna tanpa jilbab, tidak akan diterima oleh Allah. Masya’alloh. Apa sampeyan tahu bahwa dosa-dosa kaum wanita yang tidak berjilbab itu akan menyeret bapakmu, suamimu, saudara lelaki serta anak lelakimu kelak ke dalam api neraka! Naudzubillah..”

Deg! Hati Ayu tergetar kembali.

“Iya, selama ini aku telah meremehkan kewajibanku kepada Sang Ilahi. Ketika cinta kepada-Nya telah memanggil, apakah aku masih tetap bersikukuh pada sesuatu yang bahkan tidak abadi? Bukankah dengan jilbab telahku buktikan betapa besar rasa cinta kepada suami, menutup pandangan lelaki lain kepada diriku? Pun juga menyelamatkan orang-orang yang kukasihi dari jilatan api neraka? Lalu, apa lagi yang membuat ragu? Apa yang kutakutkan? Bukankah Allah masih menggenggam tangan kotorku ini?.. Astaghfirullohal’adzhim.. Sungguh berdosa aku telah meragukan panggilan-Nya hanya karena takut kehilangan cinta dari seorang manusia.”

Ayu pun menangis. Sujudnya semakin menekuk ke dalam, memohon segala ampunan kepada Sang Maha Pencipta. Kemudian anak-anak embun yang bergelantungan di ketiak-ketiak ranting dan dedaunan, turut mengharu biru. Berdecap syukur kepada Sang Illah, karena seorang lagi manusia telah kembali pada kodratnya sebagai hamba Allah. Semoga anak-anak gadis itu, lalu para istri itu pula, segera menyadari makna hijab yang sebenarnya.

Aamiin, Ya Robbal’alaamiin....




 Nda, 210314 

JODOH UNTUK ABYL



 
“Pokoknya Abyl harus segera dinikahkan, Pa!” Mama ketus. Bahkan teramat ketus bagi Papaku yang berperangai pendiam.

“Halah Mama ini keburu amat sih.” Papa menjawab santai sambil mata tetap tertuju pada buku kerjanya. Otak Papa masih bercengkrama dengan angka-angka puluhan juta rupiah, sudah tdak ada ruang untuk memasukan keinginan sang istri di sana.

Mama cemberut. Bibirnya manyun hampir sepanjang tali sepatu Nike warna hitam bersemu ungu milikku. Cocok. Aku menyungging senyum melihat rajuk Mama.

“Abyl itu gadis matang, Pa. Sudah ranum, sudah waktunya dicarikan jodoh. Mama sudah rindu menimang cucu.”

“Iya deh, terserah Mama.”

Bagus! Mata Mama berbinar cerah. Berkelip-kelip bak lampu disko mini di rumah Helen, pacarku. Pasti dia sudah menyiapkan rencana besar buat jodoh Abyl si gadis manja itu. Hmm, ya ya, apa peduliku. Abyl memang kesayangan Mama sejak kehadirannya di rumah ini. Putus hubungan. Kalian benar mampu menarik kecemburuanku.

 ***

Pulang sekolah, kutemukan Mama asik di ruang tengah, sambil membolak balik lembaran foto. Apa lagi itu? Pasti tentang Abyl lagi.

“Apaan itu, Mam?” tanyaku sekenanya.

Ditanya begitu, Mama malah tersenyum bahagia. Sekali lagi, ba-ha-gi-a. Ah, tahu begini aku tidak bertanya padanya.

“Ini foto calon suami Abyl,” Mama nyengir lebar, menunjukan deretan gigi yang tidak lengkap di sisi kanan. Nah, benarkan dugaanku. “lihatlah, mereka ini bibit bobot bebetnya sudah teruji. Ganteng, berkelas dan gagah. Mereka keluarga kaya raya.”

Fyuuhh, iyalah. Anak kesayangan. “Lalu mana sekarang Abyl, Mam?”

“Tidur di kamarnya.”

Gadis pemalas benar kau Abyl. Di sini Mama sibuk pilih-pilih pasanganmu, eh kamunya malah keasikan molor. Apa kamu tidak punya pilihan sendiri? Inikan tentang masa depanmu, Byl. Eh, tapi, apa makhluk seperti dia itu juga punya rasa cinta ya? Bisanya makan tidur saja begitu, apa juga memikirkan masa depan ya? Entahlah, pusing amat mikirin Abyl.

***

Malam sudah menunjukan pukul delapan lebih, baru saja aku kembali dari menjemput Helen. Hari ini Mama akan mengadakan pertunangan Abyl dengan calonnya. Entah siapa namanya pun aku tidak paham benar. Belum pernah kami bertemu apalagi berkenalan.

“Roy, ajak Helen juga ya, kita adakan makan-makan sederhana buat pertunangan Abyl besok malam. Ingat, jangan lupa, sudah kusebar undangan ke tetangga kanan kiri sebagai saksi.” Kata Mama kemaren sore.

Sederhana apanya? Tetangga kanan kiri yang mana?

Bukankah itu tenda sebesar rumah berwarna biru dengan bunga hidup di sana sini? Lalu yang di situ, apakah aku tidak salah lihat? Deretan mobil dari berbagai sisi arah tetangga, ya utara, selatan, timur, bahkan barat pun ikut nampang rapi. Mama..Mama.. ya beginilah kalau seorang wanita kaya sedang terobsesi dengan derajatnya.

Aku menggeleng. Helen tertawa renyah.

***

Acara bubar. Hancur total. Dokter mengatakan kalau Abyl sedang hamil muda. Dua bulan usianya. Pantas saja, itulah alasannya mengapa akhir-akhir ini gadis manja itu lebih banyak bermalas-malasan.

Mama malu, menangis meraung. Sesenggukan dalam pelukan Papa. Katanya dia shock. Sudah tidak punya muka lagi di hadapan keluarga calon suami Abyl.

Sudah kesepakatan mereka, sebelum pertunangan dilanjutkan, Abyl harus diperiksa dokter keluarga dahulu. Begitulah adat kaum yang menjunjung tinggi nominasi bibit, bebet dan bobot. Harus bersertifikat jelas.

“Mama tidak rela, Pa. Mama tidak rela.” Katanya dalam tangis yang berhasil membuat gema di ruang keluarga kami.

Aku dan Helen saling memandang geli. Pun demikian dengan Papa, senyum-senyum sendiri.

“Sebenarnya Papa sudah tahu kalau Abyl itu sudah punya gandengan. Tiap malam dia dan kekasihnya itu memadu kasih di bawah pohon kamboja kita. Mama aja yang tidak tahu.”

“Mengapa dibiarkan sih, Pa? Kekasihnya itukan kucing kampung. Abyl keturunan asli kucing persia tercantik dari juara tahun lalu. Kok Papa tidak bilang sama Mama.”

“Ah, Mama ini, seperti tidak pernah muda saja.” sahut Papa. Kontan membuat aku dan Helen semakin tertawa lebar melihat cerita lucu di keluarga kecil dengan Mama yang sok-sokan punya kucing ningrat ini.

Lalu Abyl?

Tentu saja malam ini memadu kasih lagi dengan si kucing kampung di bawah pohon kamboja. Dia mah, mana peduli dengan embel-embel ningrat di jidatnya. Sekali cinta ya cinta. Tidak ada urusan dengan manusia yang sibuk mempertahankan gelar seperti majikannya. Ya ya ya, manusia itu lucu bukan? Terlalu memuja kayanya, keningratan, apa lagi gelar. Toh bukan itu yang dibawa mati nanti.

Ah, Mama ini, seperti tidak pernah belajar agama saja.





Des 15, 2013
7:15

SUAMIKU PENJUAL TAHU

  

Januari 2010

Aku ingat hari itu Selasa dini hari pukul 03.15, lelaki yang baru saja terbangun dari lelapnya itu mengecup keningku perlahan. Aku masih malas untuk terbangun, tapi tidak bagi dia. Dia sudah mandi, rambutnya basah menyegarkan. Wajahnya tetap tampak cerah walaupun aku tahu dia cukup kelelahan untuk bangun di pagi buta. Sungguh bukan hal yang biasa baginya, tetapi dia tidak mengeluh sedikit pun.

“Panda berangkat ya hunz.” ucapnya.

Aku menganggukan kepalaku sambil tersenyum, “Ati-ati ya, Nda” balasku.

Kemudian dia berpaling, dan dalam kantukku, aku menatap punggungnya hingga menghilang dari balik pintu kamar tidurku.

***

Panasnya matahari sudah memuncak. Saat itu pukul 11.45, dan aku baru saja menata alamariku saat motor Yamaha Jupiter warna merah merapat di teras depan rumah. Suamiku pulang. Wajahnya lusuh menghitam dengan keringat yang berlomba-lomba memenuhi permukaannya.

“Sepi, hunz.” katanya dengan tetap berusaha tersenyum.

Aku membalasnya, “Gak apa-apa. Makan dulu yuk.”

“Iya, Panda juga udah lapar sekali. Masak apa?”

“Sayur asem ikan pindang, kesukaan Panda”

“Yes, mantap”

Sambil bercakap kami bersama memasukan ember biru berukuran sedang ke dalam dapur. Baru kemudian makan baersama. Sedikit-sedikit kami bercanda. Dia bercerita tentang situasi pasar hari itu. Bercerita tentang penjual sandal yang paling suka menggoda ibu-ibu muda dengan rayuannya agar mau melirik dagangannya. Tentang penjual buah yang suka bercanda jorok. Juga tentang Bu Wanda yang hari itu dagangan kuenya sedang laris manis.

Sedangkan aku, aku menceritakan kelucuan anak-anak kami. Tentang Arvin yang sudah pintar berhitung dalam bahasa Inggris. Lalu tentang Chesna yang saat itu baru bisa tengkurap. Hari-hari yang biasa, tetapi mampu mengibarkan bendera ketenangan yang menyejukan hati.

Setelah makan siang, tugas mengganti air di bak biru adalah tugas kami kemudian. Awalnya tahu-tahu kecil itu dipindah ke bak lain, air lama dibuang, baknya dicuci, diberi air yang PDAM yang baru, kemudian tahu-tahunya dimasukan kembali. Sore nanti tahu-tahu ini akan dikembalikan ke Pak Wahid, si juragan tahu yang membantu suamiku mendapat pekerjaan ini. Iya, syukur alhamdulillah jika bukan karena Pak Wahid mungkin suami tercinta akan jauh lebih lama menganggur sejak dikeluarkan dari perusahaan lama, tiga bulan lalu. 

“Bunda, Panda akan berjualan tahu di pasar,” begitu suatu hari dia tiba-tiba berucap niat seminggu yang lalu, “sudah cukup Panda menyusahkan Bunda bekerja sendiri mencukupi nafkah sejak Panda diPHK. Panda akan ambil kerjaan ini sambil tetap mencari-cari pekerjaan lain yang lebih baik lagi.”

Hari itu matanya terbinar-binar. Dia menemukan hal baru. Benar-benar baru. Selama ini pekerjaan yang digelutinya dengan hati selama empat tahun di sebuah perusahaan retail ternama, bisa dibilang enak. Ruangan berAC, kerja dengan wajah yang segar, tubuh yang wangi, rambut yang selalu rapi dan bergumul pun dengan hal-hal yang bersih. Sedangkan saat ini? Berbalik seratus delapanpuluh derajat. Semuanya berbeda. Pasar, cuaca yang bisa berubah dari panas yang terik lalu menjadi hujan dan becek, bertemu emak-emak yang suka menawar dengan gaya cerewet yang amburadul, pendapatan yang tidak pasti, juga kecemasan jika barang dagangan yang mudah menjadi basi jika tak laku itu bertumpuk menjadi beban.

Banyak hal yang dia pelajari dari pekerjaan barunya. Perjuangan. Kekuatan untuk tidak mau menyerah. Tanggung jawab. Sungguh, aku kagum dengan kegigihannya. Sosok itu berubah menjadi jauh lebih indah dari sebelumnya. Beneran! Aku semakin jatuh cinta padanya.

Dia, lelaki yang saat jatuh bisa bangkit kembali. Dia lelaki yang kuat. Karenanya, aku pun harus bisa kuat agar pantas mendampinginya.



Nov 16, 2013
22:16
( tertulis untuk mengenang perjuangan kami di masa sulit, agar teringat, bahwa inilah bagian kekuatan yang masih menyatukan kami di saat salah satu dari kami khilaf )

COBAAN DI TAHUN KETIGA

 

Oktober 2009
( maka lihatlah, akan kutelanjangi diriku pada kisah kali ini )

Kisah ini diawali pada hari itu sekitar pukul sepuluh pagi. Seseorang mendaratkan motornya di depan rumah kontrakan yang telah setahun kami tempati. Aneh, siapa ya jam segini ada yang bertamu, begitu batinku. Namun belum sempat aku membuka pintu depan, seseorang itu sudah masuk duluan. Ternyata suamiku.

“Loh, kok Panda pulang jam segini?” kubertanya padanya, namun tanpa jawaban, hanya terdiam dengan wajah yang entah bisa kugambarkan seperti apa keadaannya saat itu. Kata letih, lesu, dan kekecewaan yang terdalam pun belum pantas untuk mewakilinya.

Suami yang telah kunikahi sejak tiga tahun yang lalu itu, menatapku dalam, sebentar kemudian bulir-bulir air tergenang lalu tumpah dari matanya. “Panda dipecat,” Sekejab aku terkejut, tetapi segera kutepis keterkejutanku dan memeluk sosok yang biasanya kokoh itu sekarang menjadi rapuh di hadapanku. “maafkan Panda ya, Bunda. Panda tidak bisa mempertahankan nama baik Panda.” ...dan begitulah, kesedihan dan juga kemarahan dari kekasihku tertumpah di dalam pelukan pagi itu.

Sudah empat tahun suamiku mengabdi sebagai karyawan di salah satu minimarket terbesar di Indonesia, kami menyebutnya si biru. Hingga akhirnya di tahun ketiga karirnya menanjak menjadi kepala toko di salah satu cabang dekat dengan rumah mertuaku. Hampir dua bulan yang lalu sebuah cobaan sedang mengusik posisi tertinggi di toko itu. Entah ini konspirasi dari siapa dan oleh tangan yang mana, kami tidak tahu. Yang kami tahu tiba-tiba salah satu kasirnya melaporkan tindakan percobaan pemerkosaan yang dilakukan suamiku pada dirinya. Subhanalloh, benar-benar tuduhan yang menguras kesabaran kami yang masih sangat terbatas kala itu.

Suamiku marah, tentu saja, aku pun juga marah. Kutahu benar siapa lelaki yang kunikahi itu, kami sudah bersama sejak sembilan tahun sebelum kami menikah tiga tahun lalu. Genap dua belas tahun, apa itu belum cukup untuk mengetahui luar dalam manusia seperti apa dia. Yang pasti lelaki itu bukan lelaki sembarangan yang mampu berbuat tindakan bodoh seperti percobaan pemerkosaan yang dituduhkan itu. Hello, apa kalian tidak salah membuat suatu fitnah keji pada dia?

Menyewa seorang pengacara pun kami tempuh untuk menghadapi ancaman pelaporan kepolisian dan menjurus ke arah persidangan dari pihak lawan. Kami tidak takut, karena kami tidak bersalah. Tetapi ancaman hanya sebuah ancaman belaka, hampir sebulan pihak perusahaan tidak melaporkan tuduhannya ke kepolisian, padahal kami sudah menunggu dengan suka cita, karena kami punya bukti kuat. Persidangan pun dilakukan hanya di kantor pusat yang bertempat di daerah Gedangan – Sidoarjo. Itupun suami tidak diperbolehkan membawa sang pengacara dengan alasan ini adalah persidangan intern perusahaan, belum memasuki rana hukum, jadi buat apa pengacara hadir. Begitulah alasan bos-bos besar itu, dan tahu tidak? Sidang itu tanpa kehadiran pihak pelapor! Alasannya sedang trauma bertemu dengan suamiku. Apa pula ini?

Hari ketiga dalam persidangan perusahaan sepihak itu, tiba-tiba suami dipaksa menandatangani surat pengunduran diri. Bagus! Inilah tujuan awal fitnah ini. Menjatuhkan.

Yap, maka begitulah, orang kecil bisa apa di hadapan tangan yang berkuasa. “Kalo kamu tidak mau menandatangani surat pengunduran diri, kami tetap akan mengeluarkan kamu, dan pasti dengan embel-embel dikeluarkan dengan tidak hormat” begitu ancaman mereka. Ironis. Kenyataan yang harus rela ditelan oleh semua karyawan biasa seperti kami.

“Tidak apa-apa,” semakin kueratkan dekapanku pada suami, “rejeki tidak hanya ada di sana. Dan percayalah, ini pasti hal terbaik bagi kita, suatu saat pasti akan diganti dengan yang lebih baik.”

***

Sudah seminggu lebih berlalu. Kemarahan masih meraja di hati kami, terutama pada suamiku. Gelap. Hati kami gelap. Sakit ini adalah kelemahan kami sebagai manusia. Hei, itu manusiawi bukan.

Suami kehilangan pekerjaan karena fitnah keji yang tidak dilakukannya. Dampaknya besar. Keuangan tentu saja iya, apalagi saat itu anak kedua kami masih bayi, masih butuh susu. Tapi bukan itu saja. Trauma, kehilangan rasa percaya diri, dijauhi teman-teman dekat yang menjadi tidak percaya lagi dengan suami, memandangnya menjadi rendah. Mereka menjauh perlahan, berkata “Gak nyangkah ya Pak Agung itu seperti itu, memang dia itu bla bla bla...” Benar-benar dunia terbalik amburadul memusuhi kami.

Kalian tahu apa? Di sini ada dendam. Kekuatan sabar kami masih sekecil biji jagung. Bahkan jagung yang ditumbuk kasar untuk makan anak-anak ayam. Banyak tawaran gila berdatangan dari kenalan yang tiba-tiba sudah pandai menjadi setan dalam sekejap. Dan sisi busuk kami mengiyakan.

“Bayarin orang, murah. Buat kasir itu menyesal karena telah membuatmu jadi begini.”

“Suruh orang buat memperkosa dia, buat filmnya, biar kamu puas dia tersiksa.”

“Atau mau main santet? Aku kenal orang yang biasa bermain halus seperti ini.”

...

Niat tergenggam rapi. Setan berhasil menjadi guru panutan.

Hingga suatu malam, saat semua tertidur lelap di kamar persegi yang tidak terlalu besar itu, tiba-tiba aku terbangun. Ada perasaan sakit yang mendalam, tetapi bukan karena menyimpan dendam ataupun kemarahan. Namun lebih mengarah pada penyesalan. Ada sesuatu yang menepuk hangat hatiku. Kutatap wajah Chesna yang tertidur di sampingku. Dia masih kecil. Masih butuh keberadaan kedua orang tuanya. Astaghfirullohal’adzim. Siapa aku ini? Seperti manusia yang tidak berTuhan saja.

Aku menangis. Tuhan telah menegurku, mengingatkan aku. Astaghfirullohal’adzim...terus saja aku beristighfar untuk memohon ampunan. Iya, aku harus mengingatkan suamiku juga, benar-benar harus menghentikan kebencian ini. Masih ada Dia yang Maha Segalanya.

“Ya Alloh, bantu aku mencairkan amarahnya juga.”

***

Dan benarlah Tuhan itu Maha Adil. Berbulan-bulan kemudian, kasir yang menfitnah itu hamil di luar nikah dengan seorang satpam. Ternyata perempuan itu memang nakal dan sering berganti-ganti pasangan. Sekarang mereka tahu, siapa yang benar-benar berhati tidak baik. Satu persatu rekan kerja yang masa kerjanya di atas empat tahun dibuang, dibuat agar segera keluar dari perusahaan. Oh, iya, jadi begitu rupanya. Dan teman-teman yang dulu menjauh kembali mendekat. Mereka banyak mengeluhkan perusahaan yang makin tidak kompeten itu. Sudah banyak yang keluar dan mencari pekerjaan yang jauh lebih baik. Dan Panda pun akhirnya mendapatkan pekerjaan pengganti, bahkan masih tetap hingga hari aku mengetik kisah ini di laptop putih kami. Semuanya berbuah kebaikan. Alhamdulillah...

Maka di kisah inilah kami banyak belajar tentang kesabaran, kebersamaan, kepercayaan, dan kerja keras. Bahwa Tuhan masih ada bersama kita. Jangan pernah lupakan itu!


Nov 16,2013
23:07
( tertulis untuk mengenang perjuangan kami di masa sulit, agar teringat, bahwa inilah bagian kekuatan yang masih menyatukan kami di saat salah satu dari kami khilaf )

PERJUANGAN UNTUK SEBUAH MIMPI


 
Memiliki sebuah cita-cita, sebuah impian, berarti saya harus bekerja ekstra keras untuk mewujudkannya. Apa?

Saya ingin menerbitkan sebuah buku! Saya ingin mereka membaca karya saya dan mengenal saya melalui pemikiran yang berbeda...

Awalnya, ini terdengar hebat. Simple! Tapi dalam dua bulan penggarapan buku kumpulan cerpen ini, energi saya benar-benar terkuras habis!

WAOOW...

Hei, bagaimana tidak? Saya ini seorang ibu rumah tangga dengan tiga anak yang masih kecil dan lincah. Dengan seabrek kegiatan yang bahkan untuk kata berhenti pun tidak diperbolehkan untuk singgah.. hei..

Bangun tidur sudah berkutat di dapur menyiapkan makanan dan keperluan untuk si sulung dan si tengah yang telah memasuki jenjang pendidikan Taman Kanak-kanak, juga keperluan suami yang mau berangkat kerja. Setelah dua badai itu berlalu, datanglah si bungsu yang gak pernah lepas dari saya. Mencuci, nyapu, ngepel, dan kegiatan rumah lainnya kadang harus dikerjakan sambil menggendong. Hiks..hiks..hiks..

Belum lagi jemput sekolah, setrika, sore mandiin anak-anak, kembali memasak dan bersih-bersih rumah (sekali lagi dan lagi). Malam nemenin anak-anak belajar, menyiapkan kebutuhan suami pulang kerja, lalu belum lagi melaksanakan tugas sejati istri. Hiks..hiks..hikss.. sebenarnya jika hanya dituliskan hanya perlu beberapa paragraf seperti ini, namun pada kenyataannya, sehari itu penuh dengan kata “ribet”.

Ups! Tapi apa dengan demikian saya menyerah?

TIDAK! Takkan pernah saya menyerah dengan mimpi saya.. Tugas sebagai ibu rumah tangga itu memang sangat berat, namun bukan alasan untuk saya menyerah mewujudkan mimpi.

Justru di sinilah tantangannya, saya harus bisa menciptakan karya terbaik dalam keadaan terjepit seperti itu. Iya, saya bilang terjepit, karena saat-saat menulis yang saya lakukan adalah di sela-sela melaksakan pekerjaan rumah.

Setelah kedua buah hatiku berangkat sekolah, lepi kesayangan langsung saya buka. Ketik, ketik dan ketik lagi. Bahkan bisa mengetik sambil menggendong! Hahaha.. Siang dan sore pun sama, di sela-sela waktu saya harus menulis. Harus! Baru kemudian, tengah malam, saat semua sudah terlelap dan suami tercinta sudah tidak memerlukan pelayanan saya (ciee..) baru minta ijin untuk menulis. Nah, saat inilah titik fokus benar-benar saya pergunakan dengan baik.

Alhamdulillah, bercinta dengan badai itu sungguh nikmat. Mungkin bisa dibilang ini sebuah beban bagi saya, tapi saya benar-benar menikmatinya.

Tidak ada excuse untuk tidak melanjutkan apa yang sudah saya impikan. Ini sebuah perjuangan, sebuah perlawanan, dan pembuktian bahwa saya bisa menaklukkan kekurangan saya. Sebelum saya hilang dan berhenti bernafas.
 

Sabtu, 15 Maret 2014

CATATAN HATI VA (Chapter : Percakapan Dengan Lelakiku)



  
Aku teringat benar malam itu, di saat kelam yang anggun tertidur di antara kami berdua, yang tengah saling mereguk hangatnya pelukan cinta.

“Pa, sebagai seorang istri aku ingin bertanya sesuatu padamu.”

“Apa?”

“Mengapa lelaki begitu mudahnya berkata mesra dengan wanita-wanita yang bukan istrinya?”

“Itu naluri lelaki, Ma.”

“Naluri? Berarti kalian membuat itu sebagai hal yang biasa?”

“Begitulah..”

“Apakah ketika itu kalian benar-benar sedang serius dengan kata-kata kalian kepada mereka? Wanita-wanita itu..”

“Tidak.”

“Mengapa?”

“Karena wanita yang mudah sekali dirayu oleh suami wanita lain, adalah wanita yang murah, Ma. Dan lelaki tidak akan pernah mau serius dengan mereka. Hanya sebagai kesenangan saja. Bisa dibilang pemicu adrenalin.”

“Benarkah? Lalu, mengapa kalian memberika kebahagiaan kepada mereka jika kalian tidak serius dengan ucapan-ucapan rayu itu?”

“Karena kami mempunyai niatan terselubung pada mereka. semakin mereka mudah ditaklukan hanya dengan kata-kata, ajakan makan malam, kencan, atau hal-hal lain, semakin kami ingin mendapatkan lebih dari mereka...”

“Hal yang lebih...”

“Ma, tidak mungkin lelaki itu mau menikahi wanita-wanita macam itu. Pada kenyataannya, wanita yang kami cari sebagai pendamping adalah mereka yang berhati tangguh, tegar, penyabar dan mampu menghadapi kekanak-kanakan kami. Bisa memahami kami, dan tetap berada di sisi kami pada saat kami terluka dan jatuh. Tidak hanya yang menginginkan keindahan saja, tetapi juga bisa menerima kekurangan dan keburukan kami. Wanita seperti itulah yang kami butuhkan...”

“Apa kau menikahiku juga karena itu?”

“Tentu saja, Ma. Bagi lelaki, istri adalah tempat mereka bermanja. Mungkin benar kami memang nakal, namun kami sangat, sangat, mencintai istri-istri kami.”

“Apakah kalian tidak takut jika istri-istri kalian tahu tentang hubungan kalian dengan wanita-wanita itu? Mungkin mereka masih bisa memaafkan dan menerima kalian kembali, tetapi, bukankah kami para istri juga memiliki batas kesabaran. Jika titik itu telah berada pada kata jenuh dan lelah, lalu pergi meninggalkan kalian, bagaimana dengan rumah tangga kalian kelak? Tidak takut semuanya hancur..”

“Entahlah... Terkadang hal-hal seperti itu tidak pernah bisa mempengaruhi kami pada saat kami tergoda dengan kesenangan.”

“Pa, laki-laki itu seperti anak kecil ya. Maunya hanya ingin senang dan istri-istri mereka diwajibkan bertindak seperti seorang ibu yang akan selalu memeluk dan memaafkan kesalahan anaknya.”

“Mungkin, bisa jadi seperti itu, tetapi itulah kenyataan kami...”



Nda, 160314
10:28  

CATATAN HATI VA (Chapter : 160314)



  
Mengapa aku harus sedih sementara mereka sedang bersenang-senang? Bisa jadi saat ini mereka menertawakan kebodohanku, pun bisa juga tertawa tentang kesetiaanku. Tetapi satu hal yang kuyakini, bahwa aku pasti lebih baik dari mereka yang asyik bermain permainan ‘sembunyi-sembunyi’.. Maka, hei diriku sendiri, berbuatlah kebaikan dan buatlah engkau bersinar padanya..”

Sekali lagi bunyi Blackberry-ku berkumandang merdu. Sebuah pesan sudah nangkring di dalamnya. Ah, itu dari sahabatku Eva.

Kalimat-kalimat itu membuatku terenyuh. Ah Va, bagaimana kau bisa sekuat itu. Jikalau badai yang sedang menghancurkan hatimu itu datang kepadaku, belum tentu aku bisa menghadapinya seperti dirimu saat ini.

“Kau benar Va. Jangan hanya karena manusia-manusia yang tengah membenarkan kebesaran egonya itu sebagai sebuah itikad baik, lalu kau terpuruk dalam kesedihan. Justru kaulah yang akan merugi..”

Kubalas pesan dari Eva. Dalam beberapa menit, wanita tigapuluh satu tahun itu masih tak membalas. Kubenamkan diriku kembali kepada laptop putih, mengetik kisah demi kisah tentang mimpi-mimpi si gadis kecilku, Nayla.

“Bep bep!”

“Walaupun aku terkadang belum mampu menghadapinya, Ran?”

“Iya, walaupun kamu saat ini tengah dicabik rasa sakit. Itu artinya kamu masih memiliki hati, Va. Dan mereka yang mampu menyakitimu, mereka yang tertawa gembira karena dusta, mereka itu tak mempunyai hati...”

“Va, kuatkanlah hatimu. Kau kini sudah menjadi seorang ibu..”

“Iya, mereka masih membutuhkan tawa dan kasih sayangku, Ran. Itu saja yang aku ingat..”

“Dan, Va. Berjuanglah untuk masa depanmu, buatlah dia menyesal kelak, karena telah menyia-nyiakan kehadiranmu di sisinya. Aku tahu kamu bisa, Va. Bukankah dahulu, engkau yang mengajarkan aku seperti itu..”

Eva mengirim sebuah emoticon tersenyum dan memeluk. Aku senang, kubalas dengan ciuman hangat.

Ah, Va. Jangan habiskan waktumu yang berharga hanya demi sesuatu yang menggelikan. Biarkan dia yang tengah mengejar renjananya. Biarkan dia bermain dengan permainannya bak seorang anak kecil. Cukup tunjukan kecantikan hatimu di hadapnya, tunjukan betapa hebatnya engkau bisa menerima semua kebusukannya yang membuncah itu.

Kelak, dia akan tahu, kaulah yang benar-benar terbaik dari wanita-wanitanya yang lain...





Nda, kepada Va