Jumat, 09 Oktober 2015

BAPAK ADA DI MANA, BU?


Ini sudah sebulan lebih anak-ibu itu berlomba-lomba untuk diam. Semua berawal dari hari itu, ketika sinar matahari yang terik memanggang atap rumah hingga membuat penghuninya gerah. Wanita bernama Shinta itu tengah disibukkan oleh kain-kainnya, lalu tiba-tiba anak gadisnya yang baru pulang sekolah, berteriak dengan penuh kemarahan.

“Semua gara-gara Ibu!” Rahma membanting ranselnya ke atas kursi kayu yang hampir melapuk. “Mengapa dulu Ibu tak bisa memperjuangkan hak-hak Ibu sendiri? Mengapa? Setidaknya, berjuanglah untuk anakmu! Aku pun membutuhkan sebuah keluarga yang lengkap, sama seperti teman-temanku, Bu!”

Kalimat-kalimat anaknya menerobosi hati Shinta. Mencabik lalu membuatnya tercerai-berai.

“Rahma sudah bosan, Bu. Dihina melulu. Sakit rasanya jadi anak yang tak berbapak! Tak jelas asal-usulnya!”

Hati Shinta semakin hancur. Pelan-pelan, mata wanita empat puluh lima tahun itu meleleh.

Sebenarnya, Rahma tak bermaksud menyakiti perasaan ibunya. Namun kekuatan hati remajanya sudah tak mampu lagi menahan rasa malu dan kebencian, setiap kali ada yang mengoloknya. Entah itu di sekolah. Entah itu suara-suara yang menukik dari tetangga-tetangga dekat rumah.

 

“Jangan-jangan kamu ini anak haram ya, Rah?”

“Bapakmu lari dengan wanita lain, dan ibumu hanya diam saja membiarkan mereka pergi!”

“Rah, apa benar kau ini anak tak berbapak? Ibu melarangku untuk berteman denganmu. Katanya, dia takut ikut dijauhi oleh tetangga.”

 

Ah, selalu saja seperti itu. rahma sering kehilangan teman. Dijauhi, dihina, dipojokkan. Entah apa lagi sebutan yang pantas bagi perlakuan orang-orang itu padanya. Sakit yang menyayat. Bahkan dia ingin menghilang diculik oleh senja atau pun tenggelam ke perut bumi. Sudah cukup dia menahan hinaan. Hingga akhirnya, hati gadis belia itu meradang teramat merah, lalu menumpahkan pada ibunya.

Rahma tak pernah tahu, sejak kapan bapaknya pergi meninggalkan rumah. Ibunya tak pernah mau bercerita, walaupun setiap kali Rahma merayu. Yang Rahma tahu hanya selembar foto yang memberinya sekelumit kisah. Foto seorang lelaki bermata tegas yang tengah menggendong seorang balita cantik berambut ikal bergelombang. Kata ibunya, itu fotonya bersama lelaki yang selama ini dia cari. Bapaknya.

“Maafkan Ibu, Rah,” desis Shinta.

“Di mana Bapak, Bu?”

Shinta menggeleng. Hanya suara-suara seguk yang keluar dari setiap desahannya. Rahma tahu, ibunya jauh lebih sakit dari dirinya. Namun usia mudanya menepik perasaan iba itu. Satu yang ingin dia tuntaskan hari ini. Kebenaran. Baginya, dia sudah bukan lagi anak-anak. Sudah layaknya dia tahu tentang kisah masa lalu yang disimpan rapat oleh ibunya.

“Mengapa Bapak meninggalkan kita, Bu?” tanya Rahma kembali. Kali ini nadanya lebih tegas.

“Kau benar, Rah. Jika saja Ibu bisa berjuang mempertahankan hak-hak kita ....”

Shinta diam sejenak. Ia mencoba menarik napasnya dalam-dalam, sebelum melanjutkan kalimatnya. Shinta berusaha tegar kembali.

“Tetapi, seandainya waktu itu diulang kembali dan memberi Ibu untuk memilih sekali lagi, Ibu akan tetap mengijinkan Bapak pergi.”

Brak!

Rahma menggebrak meja di hadapannya. Mukanya merah madam. Amarah gadis tujuh belas tahun itu terbakar hingga di ubun-ubun. Dengan langkah membara, Rahma pergi meninggalkan ibunya, masuk ke dalam kamar sambil membanting pintu.

 

***

 

Senja lenyap ditelan kegelapan ketika suara pintu rumah Shinta diketuk oleh seseorang. Ia bangkit dari lantai. Meletakkan baju pesanan yang tengah ia payet, lalu melangkah mendekati daun pintu. Sesaat setelah jari-jemarinya menyentuh gagang pintu, lalu membukanya perlahan, mata Shinta terbelalak. Seorang wanita sebaya dirinya dan seorang pemuda yang lebih tua dari anaknya sudah berdiri di sana, sambil melempar senyum yang hangat.

“Aku menjemputmu, Shin,” ujar wanita berbaju merah menyala itu. Sekejab, degub jantung Shinta bertalu-talu. Sebulir air mata pun menetes haru.

Rahma melihat ibunya memeluk tubuh wanita yang baru pertama kali dilihatnya itu. Sebuah pertanyaan menukik. Siapakah sebenarnya tamu yang misterius itu? Mengapa ibunya begitu terharu melihat mereka datang?

Namun, sebelum semua pertanyaan Rahma terjawab—setidaknya oleh ibunya, kesadaran gadis itu tiba-tiba sudah mengajaknya berada di dalam mobil Audy berwarna hitam yang sedang melaju menembus kegelapan.

“Kau sungguh wanita yang kuat, Shin. Aku begitu malu pada diriku sendiri,” ujar wanita itu.

“Semua sudah berlalu, Mbak. Aku hanya sedang menepati janjiku pada kalian.”

“Enam belas tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk melalui semua hinaan yang kulontarkan padamu dulu, Shin. Kau pun masih penuh kata maaf.”

“Mbak ....”

“Tidak, Shin, akulah yang egois. Tak seharusnya aku dulu emngikat Mas Bram hanya untuk diriku sendiri. Padahal aku tahu, ada Rahma di antara kalian.”

Mendengar percakapan antara ibunya dan wanita itu di belakang mobil, membuat hati Rahma berkebat-kebit. Gadis itu semakin penasaran.

Tiga jam berlalu. Kini mobil itu berhenti di depan seuah rumah yang teramat besar. Rahma terperangah. Melihat itu, Shinta merengkuh bahu Rahma.

“Di dalam sana, ada bapakmu, Rah. Kau sudah sangat merindukannya, bukan?”

Dada Rahma berdegup semakin kencang. Dia menelan ludahnya dalam-dalam.

 

***

 

Rahma terduduk lemas di atas bangku semen di taman rumah besar itu. Hatinya tengah diselimuti kegalauan. Dia baru saja berlari kencang meninggalkan kamar milik bapaknya, di mana lelaki yang sangat dirindukannya itu terbaring lemah di atas ranjang.

Tak lama kemudian, Shinta datang menghampiri Rahma.

“Kau kenapa, Rah?”

“Entahlah, Bu. Aku hanya ....”

“Kau kecewa?”

Rahma mengangguk.

“Mengapa harus ketika Bapak seperti ini, lalu aku dipertemukan kembali dengannya? Padahal, banyak hal yang ingin kutanyakan padanya, Bu.”

Shinta meraih jemari Rahma. Mengelusnya penuh rasa sayang.

“Ibu dan Bapak bertemu pertama kali di Halte Bus. Selalu saja di sana, di tempat yang sama. Seolah ada waktu tersendiri yang diciptakan untuk kami berdua. Kala itu Bapak seorang mahasiswa di salah satu universitas di Surabaya, sedangkan ibu pekerja di baprik garmen. Setelah berkenalan, Bapak sering mangajak Ibu berkencan, akhirnya kami pun menjalin kasih. Itu masa-masa terindah kami, Rah. Hingga akhirnya, hari itu datang ....”

Shinta mengembus napasnya sepenggal. Kemudian ia melanjutkan ceritanya kembali.

“Bapak berpamit pulang kembali ke kampung halaman. Dia berjanji akan kembali ke Surabaya dan menjemput Ibu.”

“Lalu ..., Bapak kembali?”

“Iya, dua tahun kemudian bapakmu kembali dan menepati janjinya. Kami pun menikah dan hidup bahagia.”

“Aku senang mendengar Bapak menepati janjinya pada Ibu, tapi ....”

“Suatu malam, Bapak menerima telepon. Dua hari setelahnya, dia menjadi pemurung. Setiap kali Ibu tanya, Bapak bilang tak ada apa-apa. Ibu jadi semakin khawatir. Hingga akhirnya ....”

 

***

 

Enam belas tahun yang lalu ...

 

“Mengapa tak kau tinggalkan saja aku dalam sebuah harapan, Mas? Daripada kau kembali datang, tapi membunuhku pelan-pelan seperti ini.” Air mata Shinta terus beruraian. Ia tak lagi mampu memandang lelaki yang sangat dicintainya itu.

“Shin, bukan maksudku menyakitimu. Aku kembali karena kau benar-benar mencintaimu.”

“Karena cinta? Benarkah karena cinta? Aku tak habis pikir kau mampu menyakiti hati dua wanita yang sangat mencintaimu, Mas. Harusnya kau malu!”

“Aku tak berdaya, Shin. Pernikahanku dengannya itu karena paksaan. Ada sebuah tanggung jawab yang harus aku tuntaskan. Aku tak pernah mencintainya, Shin. Tak pernah!

“Tapi dia pasti sangat mencintaimu, Mas! Harusnya kau bisa menjaga hati istrimu. Jangan hanya karena aku, kau rela menjadi lelaki hina seperti ini.”

Suaminya semakin mendekat ke punggung Shinta. Dia berusaha merengkuh bahu wanita itu, namun Shinta menolaknya.

“Shin, maafkan aku,” desisnya.

“Maaf. Entahlah, Mas. Apa aku bisa memaafkanmu?”

Hening. Keduanya diam terpaku. Hanya ada isak tangis, yang terus mengalir bagaikan sungai yang tak kunjung kering.

Dua bulan kemudian, istri pertama Bram datang, hendak menjemput suaminya itu pulang kembali.

“Pokoknya aku ingin Mas Bram kembali padaku. Aku stri sah. Aku jauh lebih berhak atas dirinya!” Nada yang ketus. Wajah wanita itu dingin.

“Tri, Shanti sudah paham tentang hal itu. jangan makin kau pojokkan. Akulah yang salah. Aku tak pernah mengatakan padanya kalau aku sudah menikah denganmu,” ujar Bram.

“Tapi aku marah, Mas. Gara-gara dia kau berani menelantarkan aku dan anakmu!” teriak Tri kembali. Wajahnya memerah. Matanya melotot tajam.

“Iya, Tri. Iya,” jawab Bram.

“Mbak, maaf jika aku membuatmu terluka. Aku sungguh-sungguh tak kalau Mas Bram sudah ....”

“Alesan!” jawab Tri ketus. Bibirnya melengos.

“Tri!” Bram berusaha mengingatkan istri pertamanya itu.

“Kau benar, Mbak. Tempat Mas Bram memang seharusnya ada bersamamu. Kuijinkan dia kembali. Aku janji, selamanya tak akan menganggu atau pun menuntut hakku sebagai istri pada Mas Bram. Asal Mbak dan Mas Bram pun berjanji, tak akan menganggu aku dan anakku. Biarlah kita hidup sendiri-sendiri.”

“Shinta ....”

“Tidak, Mas. Inilah pilihanku. Lebih baik begini, dari pada aku disebut sebagai perebut suami wanita lain. Jika Rahma besar nanti, aku tak mau dia dipanggil anak kotor.”

Siang mulai luntur. Kepercayaan dan cinta yang terinjak-injak di hati ketiganya, kini mulai diam. Keputusan sudah diambil. Lelakinya pergi, dan ia akan menjalani hidupnya dalam kesendirian.

 

***

 

Rahma tak tahu lagi harus mengatakan apa pada ibunya. Kisah tentang ketegaran yang ibunya ceritakan sungguh membuatnya malu kini. Dia menyesal telah berani berkata kasar. Padahal, satu-satunya yang dipikirkan oleh wanita yang telah melahirkannya itu adalah dirinya. Iya. Hanya demi nama baik anaknya.

“Maafkan Rahma, Bu,” ucap Rahma di sela-sela isak tangisnya.

“Tak ada yang perlu dimaafkan, Rah. Tak ada yang salah. Sekarang, temui bapakmu. Dia pasti sangat merindukanmu.”

Rahma mengangguk. segera dia menghapus air matanya, kemudian berjalan memasuki rumah bapaknya. Shinta mengulum senyum. Memandangi punggung anaknya, hingga menghilang dari balik pintu rumah suaminya.

 

 

 

Sidoarjo—2014

 

Kamis, 08 Oktober 2015

SISAKAN SEDIKIT UNTUKKU (Ketika Mereka Membebaskan Diri)



Buku terbitan LovRinz Publishing kali ini memiliki konsep membebaskan diri dalam menulis. Di mana beberapa penulisnya sampai mabuk dalam rahim-rahim aksara yang bahkan membuat mereka terkejut dengan hasil tulisannya sendiri. Katakanlah seperti seorang Yannah Akhras yang dikenal dengan cerpen-cerpen religinya yang manis, dan Asih Wardhani yang lebih menyukai menulis cerpen-cerpen inspiratif, tiba-tiba harus dihadapkan dengan rasa kebencian manusia dan darah.

Di sinilah peran kreativitas penulis dituntut lebih besar daripada biasanya. Mereka harus menciptakan sebuah dunia yang mungkin belum pernah terpikirkan sebelumnya.

Bayangkan saja, bagaimana jika suatu hari sang Malam tiba-tiba memutuskan untuk melipat dirinya sendiri karena merasa bosan dengan manusia yang egois dan angkuh? Bagaimana jika kamu berada di antara sekumpulan mayat yang pikuk, mengeluarkan suara-suara bising yang bahkan membuat mimpimu menjadi lebih mengerikan? Bagaimana jika ingatan-ingatanmu melarikan diri dan kau terpaksa berlari untuk mencari mereka? Apa yang akan kamu lakukan jika di hadapanmu muncul seorang lelaki yang mengunyah otaknya sendiri hanya karena sebab yang tidak masuk akal? Lalu, bagaimana jika kau menemukan sebuah sumur di rahim ibumu?

Jawaban-jawaban itu akan kamu temukan dalam buku ini. Buku yang akan mengantarkanmu pada dunia yang lahir dari ‘kegilaan’ penulisnya. Dunia tentang Lelaki dan Perahu Wajah, Nasibmu di Secangkir Kopiku, Di Jalan Pulang tak Ada Jalan, Bapakku (bukan) Seekor Anjing, Yang Terpasung, Lelaki dalam Cangkang, dan masih banyak lagi.

Miliki segera buku ini. Dan tenggelamlah di dunia yang menakjubkan!

 


Sebatang ranting melarat-larat di atas kepalaku, mengeluarkan tahi-tahi kepanikan. Tubuhku seketika berubah hitam, malam tak lagi singgah. Mobil-mobil congkak berhamburan, malas berteduh di tubuhku lagi. Tubuhku kosong, tubuhku penuh batu-batu gundul. Tanah-tanah retak. Lesap. Hujan tertawa, tapi angin meratapi tubuhku. Aku terperangkap di antara kicauan burung berkepala merah. Menangis. Tubuhku pecah berkeping-keping, dilebur matahari.

“Aku sudah sangat lelah untuk menjadi jalan raya.” (KISAH SEDIH TENTANG TUBUHKU—Ajeng Maharani)

 

Dua purnama bertamu. Aku sudah berkali-kali mencoba memotong rantai yang mengikat jantungku dan merengek pada malam agar mengizinkanku pulang dan menyusu pada ayahku yang lemah lembut. Namun lelaki yang menyimpan malam dalam kamarku selalu saja bisa menggigit ujung lidahku. Isakku bahkan tak sempat mengetuk pintu nuraninya. (PURNAMA-PURNAMA DAN AKU—Rina Rinz)

 

Jalan-jalan yang kutapaki begitu sesak. Napasnya tersengal-sengal. Terhimpit gedung-gedung bertingkat, aspal-aspal pekat melekat dan di atasnya tumbuh mobil-mobil yang bermunculan dari kepala botak. Udara segar lari kocar-kacir mendengar deru mobil yang mengeluarkan gumpalan hitam. Dengan sempoyongan aku terus mencari ingatanku. Tak peduli dengan detak jantung yang semakin sekarat. Aku lupa, ke mana ingatan itu berlari? (ANTARA AKU, KAU, DAN INGATAN YANG MELARIKAN DIRI—Gus Jun)

 

 

Sidoarjo—081015

 


  • Harga buku Rp. 54.900,-
  • Silakan menghubungi FB Penerbit LovRinz  


Minggu, 04 Oktober 2015

ANIMUS



 

Ketika manusia limbung ditikam kebencian,

ke manakah mereka akan mencari?

 

 

Danau Sinabu, danau legenda yang membuat Guntur terseok-seok mencari keberadaannya demi sang kekasih, Cuwa, yang jiwanya digerogoti oleh dendam dan kebencian. Sebuah danau yang menyimpan masa lalu gelap tentang kemurkaan seorang gadis belia. Danau yang dilupakan. Mampukah Guntur menemukan danau itu dan mengembalikan jiwa Cuwa yang terkungkung?

Sementara itu jauh dari tanah kelahirannya, seorang wanita tengah menunggu sebuah janji dari Guntur. Akankah Guntur kembali padanya?

 

Sejatinya manusia tidak cukup hanya memiliki hati. Karena terkadang, hati manusia pun bisa terluka, tersayat lalu berdarah.

ANIMUS, novel bergenre thriller yang berisi empat kisah manusia yang terbelenggu oleh ketidakadilan dan kebencian. Jiwa-jiwa tersesat yang butuh untuk diselamatkan. Mampukah mereka keluar dari kegelapan hati mereka sendiri, atau justru akan semakin tenggelam pada dendam yang mematikan rasa?

 

“Aku sudah sering membaca novel-novel terbitan mayor, dan ANIMUS adalah novel indie yang kualitasnya setara dengan mayor label.” (Ida Fitri—penulis cerpen media)

 

TESTIMONI PEMBACA ANIMUS

 

 

Eva Sholiha

“Wah, ANIMUS! Novel bagus, alurnya asik plus twist ending yang ngagetin. Double TOP!”

 

Mawar Dani

“Wiihh, gemees deh. Kenapa nggak dari awal punya ANIMUS. Diksinya ituloh, keren, luar biasa rangkaian aksaranya!”

 

Luthika Ahmad

“Suamiku nggak suka baca, tapi saat baca ANIMUS, dia bilang, “Neng kapan bisa nulis sekeren ini?” Ceritanya gak kalah dengan horor Jepang, feelnya dapet!”

 

Siti Chafidhoh

“ANIMUS By Ajeng Maharani ... Membacanya seperti tidak ingin ada jeda. Maunya baca, baca, dan baca sampai habis. Setiap katanya seperti menyihir mataku untuk enggan berpaling. Poko'e keren bingits ...”

 

Lila Sulis

“Saya suka ANIMUS. Dari awal baca, sudah buat penasaran, gaya penulisan yang loncat-loncat membuatku berpikir. Ternyata, sampai ending, benar-benar, Woww! Wah, pengen buat novel kayak Mbak Ajeng. Mantap!”

 

Naura Yani

“ANIMUS karya Ajeng Maharani ... Aku pengagum novel, dan sudah banyak novel yang aku baca. Genre apapun itu. Tapi Animus yang paling berkesan looh ... Waaahh buku terkeren yang pernah aku baca. Ceritanya menarik, bahasanya yang lugas. Konfliknya bikin jantung deg deg plas.. Dan endingnya mbaakkkk... Aku gak terimooo. Cuwa kok jahat bangett ... hiks.”

 

Jayadi Oemar Bakrie

“ANIMUS Seven Days – Ajeng Maharani. Novel yang ditulis hanya dengan tempo waktu satu bulan? Waow!”

 

ITA (identitas minta dirahasiakan, bukan nama sebenarnya)

“Novel yang aku suka adalah ANIMUS. Di situ aku dapat banyak pelajaran tentang diri yang dikuasai kebencian. Karena sampai detik ini kebencian itu masih membelenguku. Pas baca Animus, aku sadar gak ada gunanya hidup dengan kebencian. Soalnya hampir mirip Cuwa juga kisahnya.  Hikmah dari novel ini: jika kita terus menyimpan rasa benci, gak akan membuat semuanya lebih baik.”

 

Rima Miftachul Hidayah

“ANIMUS keren. Buku itu sebagai pembuktian bahwa menulis novel dlm sebulan, itu bisa. Dan kalo ga salah itu program awal terbentuk LRF. Ceritanya menarik dan saya tuntas membacanya.”

 

Endang Suprapti Soegino

“Aku suka sama ANIMUS, alasannya : diksinya bagus, bikin deg deg ser bacanya, penasaran pengen terus baca, biasanya aku gak terlalu suka baca novel, lebih seneng yang based true story, tp baca novel Animus rasanya kaya aku baca Assalamualaikum Beijing ...”



Triya Zuniati Damaidihati

“Saat membaca Animus, aku merasa berada di dunia legenda. Alur cerita yang disajikan beraneka ragam, seperti makan nasi goreng. Ada rasa pedas, manis, asin semua jadi satu. Hem, sedaap.”

 

 

PERNAH ADA KISAH DI RANJANG ITU


Sejak pertama kali dia melihat ranjang kayu jati itu, dia telah terpesona dengan ukiran-ukirannya yang cantik. Sepasang burung merak yang tengah menelungkupkan ekornya di tengah-tengah kuncup teratai. Tanpa pikir panjang, lelaki itu pun membelinya dengan harga tinggi dari tangan sang pengukir. Dia berharap, ini adalah hadiah terindah untuk istri barunya yang akan dinikahinya seminggu lagi.
 

Gadis itu masih belia, enam belas tahun. Bagaikan menarik paksa buah mangga muda dari pohonnya yang merindang, untuk dimakan mentah-mentah. Padahal lelaki itu telah memiliki dua istri yang masih berkulit licin dan ayu-ayu. Namun, jiwa kelelakiannya masih saja berliur tatkala melihat gadis itu melenggok gemulai melewatinya pada pagi dua bulan lalu.
 

“Siapa gadis cantik itu, Wak?”
 

“Ooh, ia Seruni. Anak Kasiman, pekerja di kebun kopi Abang.”
 

“Elok nian gadis itu. Kenalkan aku pada bapaknya, Wak!”
 

“Gampang, Bang, bisa diatur!”
 

Maka, dengan berbagai bujuk rayu kekuasaannya dan kekayaannya, lelaki itu meminang (secara paksa) si Seruni. Bapak gadis itu hanya bisa pasrah. Walaupun anaknya bersujud memohon agar dia mau menolak pinangan lelaki tua kaya raya itu, dia tetap bergeming dalam kebisuan lukanya.
 

Hari-hari Seruni jadi buram. Ia bahkan tak ingin lagi membuka matanya tatkala terpejam dalam mimpi. Ia ingin selamanya tertidur, agar tak merasakan pedihnya menikah dengan lelaki yang tak ia cintai.
 

“Kita lari saja, Ni. Bagaimana?” ajak kawan prianya.
 

“Tidak, Uda. Bagaimana nanti dengan bapakku?”
 

“Kau benar, Ni. Dia pasti akan kena petaka!”
 

Wajah nan murung. Hati yang berkecai. Lalu hari itu pun tiba. Iring-iringan mewah yang belum pernah ada di desanya, datang menjemput. Mereka, perempuan-perempuan jejadian itu mendandani Seruni bak ratu. Memakaikannya baju mewah yang belum pernah dilihat oleh mata-mata gadis pendengki di desanya. Kemudian, ia didudukan di atas tandu yang dipanggul empat lelaki kekar. Tandu yang megah, dengan rumbai-rumbai pelangi. Ia diarak hingga menuju rumah lelaki tuanya. Rumah paling besar, milik juragan kebun kopi yang terkenal penggila wanita.
 

Peta pernikahan yang meriah. Tawa-tawa menjemuhkan dari para juragan, pejabat desa, tuan tanah beserta wanita-wanita mereka, membuat Seruni muak. Wajah-wajah menyedihkan. Memakai paksa topeng tertawa, padahal hati mereka saling merintih kedengkian.
 

Malam melata, terjebak pada kepekatan. Keheningan pingsan di antara sisa-sisa pesta. Ketakutan mulai menjamah hati Seruni, saat kewajibannya sebagai seorang istri mulai dituntut sang suami.
 

Pintu kamar terbuka. Seruni meringkuk di atas ranjang baru berukir merak dan teratai. Jantung gadis itu meruak kegetiran. Ditatapnya langkah gontai seorang lelaki yang tengah mabuk, memasuki kamar pengantin. Bau yang busuk menusuk. Membuat Seruni makin ketakutan, menekuk kedua kakinya, duduk di sudut ranjang.
 

Suaminya terkekeh. Rona birahi mencuat. Tangan-tangan keriputnya meraih kancing baju Seruni. Satu persatu, dibuka. Gadis itu hanya bisa diam. Mengatupkan kedua matanya, karena tak ingin melihat wajah beringas yang haus darah perawan.
 

“Jangan takut, Sayang.”
 

Raut yang mencekik. Jiwa yang ketakutan. Keduanya tiba-tiba dikejutkan oleh suara daun pintu yang diadu dengan dinding. Seruni yang setengah telanjang, membuka kedua matanya lebar-lebar. Seorang wanita kalap, menggenggam pisau yang menyeringai tajam. Secepat kilat yang menyambar tanah lapang, wanita itu melesat beringas. Menghujam dada suami Seruni.
 

Wanita yang tengah hangus dada itu menatap tajam ke arah Seruni. Matanya membuntang. Seruni gemetaran. Tanpa memberi jeda, dia pun menusuk sang pengantin wanita. Berkali-kali. Hingga tubuh mungil itu menggelepar, mengejan lalu diam.
 

Malam semerah darah. Kebencian istri pertama menorehkan kisah pedih pada ranjang berukir merak dan teratai. Kini, tak ada yang mau menggunakan ranjang kayu jati itu lagi. Karena, ketika langit muncul tanpa cahaya bulan dan warna awan sepekat darah yang hitam, ada suara tangis yang memilu. Samar-samar, bayangan gadis dengan dada penuh lubang duduk di sudut ranjang.   
 
 
 
Sidoarjo, September 2014

MENGAPA SAYA MENULIS?


Pertanyaan ini sudah sering saya dengar. Mengapa saya menulis, dan mengapa saya ingin jadi penulis?


Sebenarnya jika ditanya demikian, saya ingin sekali bercerita tentang banyak hal, tentang bagaimana saya mengawali di hampir tiga tahun lalu. Tapi saat ini, saya akan membicarakan sedikit dari banyak hal itu.
 

Setelah saya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan—sebuah supermarket terbesar di Indonesia yang sudah saya geluti selama 10 tahun lebih—karena melahirkan anak ketiga, saya merasa seperti kehilangan sesuatu. Saya bukan tipe wanita yang bisa diam dan duduk manis tanpa menghasilkan. Memang sih, tidak diam atau duduk manis begitu saja karena pada kenyataannya tugas sebagai ibu rumah tangga membuat waktu-waktu yang saya miliki serasa ingin lebih banyak lagi—beranak-pinak—tidak hanya 24 jam sehari. Justru dengan keadaan seperti itu saya butuh ditenangkan. Butuh memiliki satu dunia yang bisa membuat saya membuang segala isi kepala saya dari segala hal yang berputar-putar. Akhirnya saya pun memutuskan kembali menulis—suatu hal yang sudah lama saya tinggalkan semenjak lulus sekolah menengah atas.
 

Saya sedikit banyak memulainya dengan membuat blog dan bergabung dengan grup-grup kepenulisan di sosial media. Saya belajar kembali teknik dasar bagaimana menulis yang benar, banyak membaca dan mempelajari bacaan-bacaan saya. Dari situlah benih-benih semangat itu mulai muncul. Saya akui mereka semuanya masih telanjang, masih murni. Dan tugas sayalah untuk membentuk benih-benih itu tumbuh, bercabang, dan berbungga, hingga bisa menghasilkan benih-benih baru, lalu membentuk sebuah hutan yang lindap dalam jiwa saya.
 

Ya, saya ingin itu ....
 

Motivasi paling mendasar yang membuat saya terus belajar, adalah saya ingin membuktikan bahwa seorang ibu rumah tangga pun bisa berkarya. Bisa mengekspresikan siapa dirinya. Pada kenyataannya, banyak yang menganggap bahwa (pekerjaan) sebagai ibu rumah tangga itu tidak memiliki manfaat hanya karena ia tidak menghasilkan uang, padahal ibu adalah poin penting dalam sebuah rumah tangga. Beberapa perempuan terkadang ada yang terintimidasi dan terdoktrin dengan pandangan semacam ini, hingga beberapa itu menjadi kecil hati dan pasrah ketika ketidakadilan menjamah mereka.
 

Karena itulah saya tidak ingin hal itu terjadi pada saya. Saya bukan wanita yang bisa menyerah begitu saja tanpa berjuang, dan menulislah tempat saya berjuang, tempat saya membuktikan diri bahwa saya bisa. Saya mampu dan memiliki manfaat. Saya bisa bermanfaat untuk orang-orang yang saya sayangi.
 

Saya tidak pernah mengatakan banyak hal pada suami saya selain, “Izinkan saya menulis.” Dan syukur alhamdulillah suami saya bukan tipe lelaki pengekang. Dia justru memberikan kebebasan pada saya dan berprinsip, selama saya bisa menjaga diri dan tahu akan tugas utama saya sebagai ibu dan istri, mengapa tidak? Yaa, walaupun kalimat itu tidak pecah secara langsung dari bibirnya, tapi sikapnya membuat saya paham.
 

Hal lain yang memotivasi saya berjalan di jalan ini adalah, saya juga ingin membuktikan bahwa menulis itu bukanlah sebuah bakat. Menulis tidak tergantung pada status sosial kita, apa pendidikan kita, atau siapa kita. Bagi saya, selama kita masih mau untuk terus belajar dan memiliki tekad yang kuat, kita bisa melakukannya. Saya hanya lulusan sekolah menengah atas, tapi saya yakin saya bisa melakukan hal yang sama, seperti mereka yang berpendidikan di atas saya. Saya yakin itu. Saya pun ingin memotivasi sahabat-sahabat saya yang beberapanya kurang percaya diri dalam kegiatan menulisnya hanya karena memiliki kesamaan dengan saya—latar belakang dan status. Saya ingin mereka juga bisa dan terus bersemangat dalam sesuatu yang dicintainya—menulis.
 

Selain itu, banyak hal yang bisa saya pelajari dari menulis dan membaca. Hal-hal yang selama ini tidak saya ketahui. Saya belajar memahami karakter, dan semakin peka terhadap apapun yang melintas di hadapan saya. Kemudian, saya ingin membagi hal-hal itu pada pembaca saya dengan cara-cara saya bercerita.
 

Yap. Itulah saya. Lalu, bagaimana dengan kamu. Mengapa kamu menulis?



Sidoarjo, 051015

Selasa, 08 September 2015

BALADA DARTO DAN GADIS BERMATA BIRU MUDA - AKU AKAN DATANG MENEMUIMU


BALADA DARTO DAN GADIS BERMATA BIRU MUDA

 

 

Sumbuk menepi, fajar belum bermuka

Terdengar suara tangis di ujung utara

Darto muda mengendap langkah, memasang mata

Terlihatlah orok cantik berselimut nila

 

Gadis cantik kini telah remaja

Rambut gelombang mata biru muda

Dalam hening ia sering bertanya,

“Ibu di mana, Ayah?”

Membuat Darto renta mengaranglah sebuah balada

 

Hei, anakku, dengarlah kisah cinta ayahmu

Ibumu adalah lautan cantik yang menawan

Menggoda ayah menambatkan diri pada karangkarang ungu

 

Hei, anakku, ayah mabuk bukan kepalang

Menikahinya hingga tak pernah henti besenggama

Hidup bersamanya layaknya hadir dalam sebuah surga

 

Hei, anakku, kelahiranmu adalah berkah

Ia berkata, lautan tak bisa hidup bersama manusia

Maka menangislah ayah di punggungnya yang basah

 

Hei, anakku, ayah pulang membawa cinta

Mendidiknya hingga cantik jelita

Berbudi luhur dan berhati dewa

 

Gadis mata biru riang tak terkira

Mendekap Darto penuh suka cita

Pelan ia berbisik, pada cuping yang sudah menua

“Ayah, aku tahu engkau bohong, tapi kisahmu begitu indah.”

 

 

-A.M.170315-





AKU AKAN DATANG MENEMUIMU

 

 

Tak ada senja di tempatku, ujarmu

Hanya kegelapan

 

Tak ada suara di tubuhku, ujarmu

Hanya kesunyian

 

Tak ada kebahagiaan di duniaku, ujarmu

Hanya kebusukan tentang kematian

 

Tak apa, jawabku

Aku ingin kegelapan yang paling pekat

Aku mencintai kesunyian yang paling hening

Aku mencumbui kebusukan layaknya kematian

 

Aku akan datang, jawabku

Di tubuhmu

Di mulutmu yang kokoh

Di dekapmu yang hangat

Di matamu yang penuh siksa tentang dosaku

 

Bukankah, tak ada cinta melebihi kesejatian sang mati?

 

Aku akan datang menemui

Sebentar lagi

Setelah kuhilangkan napasku

 


-A.M.170315-

Rabu, 02 September 2015

IBU SIAPA DI UJUNG GANG ITU?


Oleh : Ajeng Maharani


Ibu siapa di ujung gang itu?
yang berceloteh tentang kelangkangnya yang dikoyak waktu
Ibu siapa di ujung gang itu?
yang memaki bendera merah-putih di pos ronda kampungku
Ibu siapa di ujung gang itu?
yang meludahi tanah lalu mendongak langit dalam bisu
Ibu siapa di ujung gang itu?
yang memakan bangkaibangkai kelabang tanpa malu
yang tertawa tercungap-cungap dalam suara-suara pilu
yang meniduri malam dengan begitu jantan tanpa tabu
yang penuh binal menyumpahi lelaki berkopiah hitam di pigura rumahmu


Hei, Ibu siapa di ujung gang itu!
yang pahanya dilelehkan besi panas berwajah arit dan palu
yang berteriak, “Mana Tuhanmu?! Mana Tuhanku?! Mana kelelakianmu?”
lalu sekonyong-konyong menangis dan berkata rindu zaman dulu
berjalan tertatih-tatih melintasi kepala gundul batu-batu
berkelamin dengan tembang genjer-genjer, lantang tanpa takut atau ragu

Hei, Kawanku ....
tahukah kau
Ibu siapa di ujung gang itu?


Sidoarjo, 010915