Kamis, 29 Januari 2015

ZACKYAH






Mata gadis yang telah menungguku itu mengerjab dua kali saat tangan ini terulur di hadapannya. Ia memandangku dalam-dalam. Mungkin tengah ada puluhan pertanyaan di kepalanya yang tertutup kerudung jingga sepanjang pergelangan tangannya itu.

“Maaf,” ujarnya sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada dan menunduk. Ah, iya, aku lupa jika ajaran agamanya tidak memperbolehkan seorang lelaki dan perempuan yang bukan muhrim saling bersentuhan.

Sebuah pertemuan yang biasa. Setelah itu, selama lima hari berturut-turut ia selalu bersamaku, sebagai asisten dokter hewan di tempatku berkerja. Ia sedang belajar di sini.

Tak ada banyak hal yang terlontar dari bibir mungilnya yang polos itu, selain pertanyaan-pertanyaan seputar pekerjaan. Ia hanya tersenyum, mengedipkan mata berkali-kali sambil melempar pandangannya jauh entah ke mana. Senyumnya sangat indah. Senyum terhangat yang belum pernah kutemui sebelumnya.

Kini, pesonanya itu tiba-tiba bersepai saat kutemui dirinya berada di sebuah bar malam tempat tongkrongan favoritku. Malam ini, ia begitu panas. Rambut gelombang yang tergerai memanjang sebatas pinggang, baju ketat merah marun yang hanya menutupi hingga sebatas paha, lalu bibir polos yang layaknya milik balita itu kini tersapu warna merah menyala. Ia benar-benar tampak beda! Kemolekan yang selalu ditutupinya dalam gamis panjang itu kini diumbar, bebas.

Ah, benarkah itu ia? Selama ini, ia terlihat sebagai seorang muslimah yang taat. Tak pernah lalai menjalankan ibadahnya. Bahkan di waktu luang, kulihat ia sering membaca sebuah buku kecil, yang mereka sebut itu Al-Qur’an. Ketika kutanya mengapa ia masih saja sempat membaca kitab sucinya, ia menjawab dengan mata yang berbinar-binar, “Aku merindukan-Nya, setiap menit!” Dan saat itu, aku menjadi kagum padanya.

Tapi malam ini ... Ah, entahlah.

Tanpa berani mendekat, aku hanya mengamatinya dari tempat dudukku. Ia masih bergumul dengan lelakinya. Memeluk-meluk, mencium-cium. Tertawa lepas sambil terus menegak minumannya. Ia benar-benar menjadi gadis yang berbeda, bagaikan api dan air! Panas dan menyejukan ....

Keesokan harinya, wajah anggun itu kembali. Ia masih tetap sama, seperti lima hari lalu yang penuh kedamaian. Bulir-bulir rona wajahnya begitu bercahaya. Membuatku menjadi sangat penasaran, apakah yang tengah ia sembunyikan di dalam hatinya itu? Benarkah ia seorang gadis muslim yang mempesonakan mata, lalu berubah menjadi binal di kala malam? Entahlah. Kuputuskan untuk berbicara dengannya jika aku mampu menemuinya kembali nanti malam. Iya ..., tak mungkin sekarang. Karena saat ini, sosok alimnya itu seakan memiliki sebuah tembok kokoh yang takkan bisa kupanjat.

***

“Zacky? Ka-kamu Zackyah, bukan?”

Seperti biasa, mata itu mengerjab. Namun kali ini sebuah kerlingan nakal mengikuti. Ia tersenyum, lalu tertawa keras hingga sebulir air mata menyembul di sudut penglihatannya. Aku tak mengerti kenapa, apakah mungkin ia tengah menertawakan dirinya sendiri yang telah kepergok olehku?

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku sambil berteriak. Suara dentum musik sangat menyabotase telinga kami berdua saat ini.

“Bersenang-senang!”

“Mana kekasihmu? Yang kemarin malam?” Kali ini kudekatkan bibir ke telinganya, agar ia bisa mendengar lebih jelas. Ah, aroma parfumnya mendebarkan jantung.

“Lelaki?”

Ia tertawa, lagi.

“Tak ada lelaki. Hanya mereka yang mau menyewaku! Aku butuh uang, Kawan!”

Aku terdiam. Ia merengkuh bahuku, matanya melirik nakal.

“Apa kau mau?”

“Apa?”

“Bersamaku, malam ini?” ujarnya, berbisik lembut di cupingku.

Degam riuh yang menggema di sekeliling kami tiba-tiba raib. Entah apa yang kurasakan saat ini. Senang ataukah sedih? Waktu begitu cepat merengkuh kami. Tanpa tersadari, aku sudah larut dalam pelukannya.

***

Ia diam. Wajahnya biasa-biasa saja. Seolah tak pernah terjadi sesuatu antara kami malam itu. Entahlah, aku hampir gila karenanya. Sosok malamnya yang menggairahkan, lalu sosok alimnya yang anggun seperti sekarang. Yang manakah ia sebenarnya?

Pagi tadi, ketika kami bersitatap, ia tersenyum lembut penuh arti. Apakah itu kode? Atau apa? Ia tak berbicara sedikit pun. Seperti biasanya, hanya seputar pekerjaan kami. Ah, Zacky, aku makin penasaran dengan dirimu.

***

“Ada apa?”

Zackyah merengkuh daguku, membuat mata ini bertemu dengan matanya yang indah.

“Ada apa? Kok ngelamun?” tanyanya kembali.

Ah, apakah harus kutanyakan perihal dirinya kala pagi? Hmm, tidak ... lebih baik jangan. Aku tak ingin ia nanti tersinggung lalu pergi. Aku terlanjur nyaman dengannya tiap malam, seperti ini.

“Ng-nggak ada apa-apa, kok.”

“Keluar, yuk. Kita lanjut yang lainnya.”

Kuanggukan kepala. Malam ini, akan menjadi malam yang benar-benar panjang untuk kami berdua. Iya, aku tak peduli lagi tentang siapa dirinya ....

***

Tengah malam, dari hotel kami langsung memutuskan pulang. Kuantarkan Zackyah. Rumah itu tak terlalu besar. Halamannya luas, tak ada pagar yang membatasi. Layaknya rumah-rumah pedesaan yang memanjang ke arah belakang. Di halaman yang kami lalui, pepohonan mangga tumbuh subur di kedua sisi, lalu beberapa melati dan anggrek ikut mewarnai pesona taman yang luas itu. Sejenak, tercium aroma harum bunga yang tertiup angin.

Ia masih merangkulku erat. Tertawa dan bercanda. Suaranya yang nyaring seakan membelah hening yang tengah pingsan malam ini. Sesampainya di depan tangga teras, kami saling memandang sejenak. Ia tersenyum, cantik sekali. Sungguh, kebahagiaan yang luar biasa bisa bersamanya malam ini.

Lalu tiba-tiba, sebuah suara memekik dari arah pintu masuk.

“Astaghfirullohal’adzim!”

Kulemparkan jala mata ke arah datangnya suara. Ia ada di sana, berdiri dalam balutan gamis panjang bunga-bunga dan kerudung hijau polos yang menutupi dada. Wajahnya masih sama, anggun dan bercahaya. Lebih cantik dari gadis yang tengah kupeluk saat ini.

“Za-Zackyah?” ujarku penuh keterkejutan. Dan suara tawa kecil yang nakal, terdengar dari gadis di sampingku.



-A.M.010115-

 

ANTARA NATASHA, MAWAR HITAM DAN KACAMATA





Pada kelas online LRF yang dibimbing oleh penulis Pringadi Abdi Surya, kami diberi tugas untuk membaca sebuah e-book kumpulan cerpen. Jujur, saya belum membaca seluruh cerpen yang ada di dalam e-book Kumpulan Cerpen Koran Tempo Minggu 2014 itu. Saya hanya memilah, satu persatu. Jika di awal pembuka saya tertarik dan merasa nyaman membaca, maka akan saya teruskan hingga ke ending.

Dari beberapa cerpen yang akhirnya ‘mampu’ terbaca oleh mata saya, Mawar Hitam karya Candra Malik adalah yang paling memikat. Bahasa yang disuguhkan penulis terasa beda dari yang lain. Kata-kata yang ia rangkum sangat segar tanpa harus meninggalkan keindahannya. Selain itu, daya pikat cerpen ini juga ada pada kejutan-kejutan kecil di beberapa narasi dan dialognya, yang membuat saya merasa betah membaca hingga ending. Saya bilang ini keren!

Selain Mawar Hitam, cerpen bertajuk Natasha pun memikat saya. Bahasanya sederhana, mengalir, dan twist ending yang ‘konyol’ membuat saya menyungging senyum setelah selesai membaca. Mengapa saya bilang ‘konyol’? Karena karakter Ayah Justino yang sok suci itu ternyata adalah seorang pecundang! Itulah mengapa saya tersenyum, karena banyak tipe manusia macam itu ada di sekitar kita. Benar-benar ada!

Cerpen Kacamata pun tak kalah menariknya dengan dua cerpen di atas bagi saya. Idenya unik. Model cerpen seperti inilah yang saya suka. Menampilkan sisi pandang lain dari sebuah obyek lalu mengangkatnya menjadi sebuah cerita yang memikat. Seperti cerpen Seseorang dengan Agenda di Tubuh (Pringadi Abdi Surya) dan Huruf Terakhir (Benny Arnas), cerpen-cerpen macam ini selalu bisa membekas di hati saya.

Saya akan merasa jenuh dan sakit mata ketika membaca cerpen yang berbahasa ‘njlimet’, menceritakan hal-hal yang tak mampu saya pahami, membosankan atau menggunakan bahasa tingkat tinggi. Contohnya seperti cerpen Kejadian-kejadian Pada Layar karya Ardy Kresna Crenata, Partikel-partikel Tuhan karya Leopold A. Surya Indrawan, dan Neraka Kembar Rajab karya Triyanto Triwikromo. Mungkin sebagian orang menganggap cerpen-cerpen tersebut menakjubkan dengan ide dan pesan yang diselipkan, namun tidak bagi saya.

Apa yang bisa saya garisbawahi sebagai bahan pembelajaran setelah membaca cerpen-cerpen tersebut?

Satu hal, dan ini sangat penting untuk catatan saya sebagai penulis pemula, bahwa pembaca lebih menyukai suguhan cerita yang bisa mereka pahami. Pembaca tidak butuh bahasa-bahasa yang tinggi dalam sebuah bacaan (kecuali jika pembaca itu memang berasal dari kalangan kalangan tertentu dan latar belakang berbeda dengan saya yang biasa-biasa saja ini). Pembaca menginginkan dirinya bisa masuk ke dalam cerita, menghayati dan mencerna apa ynag disampaikan. Kenikmatan pembaca adalah yang utama, maka ketika cerpen itu tidak bisa dipahami, mereka cenderung meninggalkannya.

Hal ini selaras dengan makna, apakah tujuan kita menulis? Menyampaikan sebuah cerita, bukan? Nah, bagaimana jika cerita yang kita sampaikan itu tidak tersampaikan dengan baik pada pembaca kita

Tiga kata, kita telah gagal.

Sidoarjo, 220114
Ajeng Maharani

PENANTIAN NUA ULU





(1)

KETIKA mereka dipisahkan, air mata anak lelaki itu meleleh deras. Sambil digendong oleh bapaknya, dia terus menangis dengan mengangkat telunjuknya ke arah pepohonan merbau yang tinggi menjulang. Bapaknya tetap berjalan dalam diam. Tak memedulikan jeritan sang anak, yang terbang melindap, menerobosi dedaunan.  
Kala itu, sebongkah musim basah mengambang. Hujan mengguyur hutan pagi tadi. Dalam pandangan yang tak nyata, sesosok gadis kecil menatap kepergian keduanya semakin menjauh. Mengintip dengan kegelisahan, di balik dedaunan yang basah kuyup.
Waktu terus berjalan. Gadis itu kini telah tumbuh menjadi remaja. Setiap hari berdiri di tengah belantara, sambil melambungkan doa pada roh-roh nenek moyang, agar kelak dipertemukan kembali dengan sahabatnya, Sahune.

***

Angin berseru-seru padanya di antara tanah-tanah basah yang baru terguyur hujan semalam. Degup jantung gadis berkulit cokelat kehitaman dengan rambut ikal nan kasar itu mengencang. Denyutnya berlarian.
“Dia telah datang, Nua Ulu. Dia telah datang!”
“Benarkah? Benarkah pemudaku telah kembali dari kota?”
Desir angin mengangguk. Nua Ulu mengembangkan senyum. Tanpa banyak bertanya lagi, gadis itu melesat. Meninggalkan deru angin yang tengah tertawa ringkih, melihat rona merah di pipi Nua Ulu.

-oOo-

Sahune ada di sana. Duduk di tengah-tengah gerombolan orang-orang dusun yang sebagian masih telanjang dada.
“Kau telah kembali, Sahune. Kau semakin gagah dengan baju kotamu,” gumam Nua Ulu. Matanya berkesip takjum. Memandang sosok pemuda yang telah lama ia rindukan, kini sudah nampak di depan matanya.
“Benarkah itu dia, Nua Ulu?” tanya seekor burung boano yang bertengger di reranting.
Nua Ulu mengangguk. Wajahnya berseri-seri.
“Iya, itu Sahune. Dia telah kembali.”
“Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang? Kau tak ingin menemuinya?”
“Ti-tidak ... Tidak, Boano, aku masih gemetaran. Aku malu.”
Gadis itu berjongkok. Menyembunyikan tubuhnya di balik pohon. Denyut nadinya masih terus merenyut kencang. Kenangan-kenangan bersama Sahune melintas di benaknya. Waktu itu mereka masih kecil, empat tahun. Mereka sering berburu kelinci di hutan. Atau memanah burung untuk santapan siang.
Setelah perpisahannya dengan Sahune hari itu, Nua Ulu hanya menanti dengan menebar harapannya. Roh-roh hutan, burung-burung boano, dan angin yang bertiup riang, sering ia ajak bercerita tentang kisahnya bersama Sahune. Mereka suka menggoda Nua Ulu saat ia tiba-tiba saja berwajah layu karena merindu. Atau ketika sedang menangis pilu di sela-sela ketiak malam.
Lima belas tahun bukanlah waktu yang sebentar. Tinggal di dalam hutan, menanti Sahune kembali untuk menepati janjinya.
“Nua Ulu, kelak, saat kita dewasa, aku akan menikah denganmu!” ujar Sahune suatu waktu.
“Percaya diri sekali kau. Apa mas kawin yang akan kau berikan padaku, Sahune?”
“Lihatlah kelak. Aku akan memenggal kepala manusia, untuk membuktikan kejantananku pada keluargamu!” Sahune berkata sambil berkacak pinggang dan mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. Sombong.
Nua Ulu tersenyum malu.
“Hei, sedang apa kau di sini?”
Gadis manis itu terperanjat. Jantungnya hampir saja gugur. Tiba-tiba ia melihat Sahune sudah berdiri di sampingnya.

“A-aku ...,” Nua Ulu tergagap. Bibirnya digigit. Kelu.
“Tunggu sebentar. Siapa namamu? Sepertinya, wajahmu tak asing bagiku.”
Ia menelan ludah. Matanya berkesap-kesip. Debarannya makin mengencang. Apa benar Sahune mengingat dirinya?
“Na-namaku ..., Nua Ulu.”
“Hmm ....” Sahune berusaha keras menyibak ingatannya. “Rasanya aku sudah lupa dengan nama itu.”
Nua Ulu melenguh kekecewaan. Keduanya sejenak terdiam.
Langit mulai menghitam. Awan-awan mendung bertebaran. Tiupan angin basah mulai menjamah tubuh Sahune. Gigil.
“Sebentar lagi hujan. Pulanglah. Kau tinggal di mana?”
“Hutan.”
“Hutan?”
Nua Ulu mengangguk.
“Memangnya, ada pemukiman lagi di dalam sana?”
Nua Ulu menggeleng. Sahune mengernyitkan dahi.
“Oke. Baiklah. Kalau kau punya waktu, datanglah kemari lagi besok. Aku membuka sekolah gratis di dusun ini. Ajak juga anak-anak dari dusunmu, kita bisa belajar bersama di sini.”
Mata gadis itu berbinar. Ia mengangguk dengan riang.
Rintik hujan mulai berjatuhan. Sahune berlari pergi dari hadapan Nua Ulu. Gadis itu mengulum senyum. Bisik-bisik burung boano yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka tak ia hiraukan. Kemudian, dengan langkah riang nan ringan, gadis hitam itu pun berjalan pulang.




(2)

Kegelapan menggantung. Sahune bermandi peluh. Sebuah mimpi membuat tidurnya tak nyenyak.
“Sahune! Sahune! Aku di sini ... Temukan aku!”
Sahune terperanjat. Napasnya terkapah-kapah. Keringatnya merembes dari liang-liang pori, membasahi kaosnya yang berwarna biru gelap.
Paginya, Sahune berpamit kepada Kepala Suku, untuk memasuki belantara. Ada sesuatu yang ingin dia temui di dalamnya. Sang Kepala Suku mengernyitkan kedua alisnya, heran. Mencoba ingin menebak apa yang ingin dicari oleh pemuda yang masih mengalirkan darah sebangsanya itu.
Waktu Sahune kecil, bapaknya sering bercerita tentang kehidupan kota. Bapaknya adalah anak ketua suku di Dusun Bonara. Beliau tak pernah mau untuk meneruskan kedudukan bapaknya. Cita-citanya hanya satu. Ingin pergi ke kota, mengumpulkan ilmu dari peradaban, untuk dibawa pulang ke dusun.
Maka pergilah kedua orang tua Sahune ke kota, dengan membawanya. Tahun-tahun yang berat. Bapaknya meninggal di musim hujan ke sepuluh, ketika kota sudah menjadi rumah baru bagi Sahune. Sebelum lelaki tersayang itu menutup mata, dia meninggalkan pesan teruntuk anak lelaki satu-satunya.
“Sahune, lanjutkan harapan Bapak. Saat kau lulus kelak, kembalilah ke tanah asal kita dilahirkan, bantu kerabat kita agar tak jadi suku yang bodoh dan tertinggal.”
Di antara isakan tangisnya, Sahune mengangguk.
Kini, ketika usianya sudah dua puluh dua tahun, Sahune pun akhirnya pulang ke tanah kelahiran. Guna melanjutkan apa yang pernah dicita-citakan oleh bapaknya. Itu pun berarti, sebuah takdir yang telah dinantikan oleh Nua Ulu akhirnya tiba pula.

-oOo-

Matahari masih setengah malu-malu ketika Sahune meninggalkan jejaknya pada tanah Dusun Bonara. Bukan hal yang mudah bagi dirinya untuk kembali menelusuri hutan yang sudah tak mengenalnya lagi.
Dulu, Sahune bisa mengerti bahasa angin, dedaunan berisik yang suka memperbincangkan kebusukkan manusia kota yang tega menelanjangi hutan, atau tangisan hujan yang mengabarkan kematian dari surga. Dia juga mampu mencium aroma keringat dan ketakutan dari binatang-binatang buruannya. Mengejar tanpa takut dengan cakar, paruh atau pun erangan dari mereka. Namun saat ini, Sahune merasa berada di dunia yang tak dia kenal. Asing dan gelap.
“Kau mencari siapa?”
Suara seorang gadis menepuk pendengarannya dari arah belakang. Sahune berpaling. Dilihatnya gadis kemarin senja. Pemuda itu sedikit terkejut.
“Ba-bagaimana bisa ..., ka-kau ada ....”
“Hutan ini rumahku. Kau lupa?”
Sahune mengangguk.
“Jadi, kau sedang mencari siapa?”
“Kau?”
“Aku? Mengapa?”
Pemuda itu agak ragu. Dia canggung hendak bertanya tentang mimpinya semalam.
“Hmm, apa benar kita tak pernah bertemu sebelumnya?”
Mata Nua Ulu memicing. Hanya sebentar. Kemudian ia melenguh.
“Ah, sudahlah. Kau benar-benar telah melupakan aku.”
Gadis itu membalikkan badannya, hendak berlalu dari hadapan Sahune. Kekecewaan membuatnya pasrah.
“Kau dilupakan?” desis angin berbisik di cuping Nua Ulu. Mata gadis itu mulai mengembun. Setitik air berayun-ayun.
“Tunggu!”
Sahune meraih lengan Nua Ulu. Jantung pemuda itu tiba-tiba berdenyut lebih kencang. Hampir pecah. Bayangan-bayangan berkelebat. Sosok gadis kecil yang berlarian di hadapannya. Belantara yang semakin pekat. Teriakan yang memekik. Lalu gadis kecil itu raib!
Sekumpulan manusia berkulit hitam dengan panah dan tombak yang terhunus menjajaki hutan yang menangis.
“Nua Ulu! Nua Ulu!”
Dia ikut berteriak. Isak yang menyayat. Ketakutan, pun kerinduan yang teramat pada pemilik nama Nua Ulu. Kemudian pekik itu pun terdengar lantang. Sekonyong-konyong dari rimbunan lalang, muncullah sesosok pria menggendong jasad seorang gadis tanpa kepala, dengan dada terbelah. Jantungnya sudah tak ada.
Sahune menangis. Nua Ulu tersenyum getir namun lembut. Sosoknya perlahan mulai samar lalu menghilang bersamaan sebuah bisikan lembut untuk Sahune, “Aku sangat merindukanmu, Sahune. Terima kasih kau sudah mengingatku lagi ....”



-END-



Rabu, 28 Januari 2015

KOPI SENJA di BUMI DAMPIT





Anak juragan Jurik, si Jamila, memang cantik. Dia baik, mampu membaur pada siapa saja. Tidak terkecuali pada para pekerja di perkebunan kopi milik bapaknya.

Jamila sering datang ke gazebo tua di perkebunan kopi, sambil membawa jatah makan siang. Setiap kali dia tiba, para pekerja yang penuh dengan peluh keringat itu, berlomba menghambur ke arahnya.

Sama seperti hari ini, semua sudah mengelilingi Jamila. Ramai mengajaknya bercanda bersama. Namun, tidak semua pekerja seberani mereka.

Seorang pemuda tujuhbelas tahun, Junet namanya, duduk menjauh. Santai dia melahap makan siang yang dibungkus daun pisang. Damai sekali. Namun di dalam hati terkecil Junet, sebenarnya dia ingin bisa seperti kawan-kawan, bercanda dengan si Jamila. Tetapi tidak. Junet muda, hanya bisa diam menjauh, sambil sesekali menatap pujaannya lamat-lamat diantara sela tubuh kawannya.

***

“Junet.”

Suara seorang gadis membuyarkan lamunan Junet seketika itu juga. Dia mendongak ke arah suara. Oh, Tuhan! Itu adalah Jamila, gadis pujaannya.

“Junet kok ada di sini?”

Junet menjawab gagap, “I, iya. Ee, anu, ini memang kegiatan rutinku di hari libur.”

“Ah, Junet ini jangan terlalu kaku sama Jamila. Kita inikan seumuran. Anggap saja kita adalah teman baik.” Jamila tersenyum, manis sekali. Membuat sebuah debaran kecil berani menyentuh jantung Junet.

Junet menelan ludah. Belum sempat dia menjawab kalimat Jamila, gadis cantik nan molek itu sudah duduk di sampingnya. Dekat sekali. Bahkan teramat dekat, hingga siku mereka saling bersentuhan.

“Sebenarnya tujuanku datang di tebing ini, adalah itu.” Junet mengangkat telunjuknya. Menunjuk pada awan-awan keemasan yang berpendar di ujung bumi. Indah. Itulah senja di tanah Dampit, senja di perkebunan kopi.

“Iya, itu benar-benar indah sekali, Jun.”

Junet menuang air termos panas mengepul ke dalam sebuah cangkir yang telah terisi kopi hitam dan gula. Meraih sebuah sendok teh, lalu mengaduk kopinya perlahan. Jamila mengamati sendok itu menari-nari dalam cangkir. Dihitungnya, tepat tigapuluh adukan kemudian berhenti.

“Maaf, aku tidak membawa cangkir lebih. Kukira hari ini tidak akan ada tamu yang datang secara tiba-tiba. Jadi..”

“Ah, tidak apa-apa, Jun. Ini saja kita minum berdua. Ohya, mengapa harus tigapuluh adukan? Apakah dengan begitu kenikmatan kopi akan lebih terasa nikmat bagimu?”

“Tidak.”

“Lalu?”

Junet membenamkan hatinya sejenak pada hening. Tatapan matanya mulai melindap. Keharuanpun semakin menyebar pada saraf-saraf otaknya.

Senja yang tinggal sepenggal, kini mulai terperangkap di antara Junet dan Jamila. Menunggu sebuah jawab dari sebuah tanya. Mengapa harus tigapuluh adukan?

“Bapakku dulu sering mengajakku kemari. Duduk di padang ilalang, menyeduh kopi dengan tigapuluh adukan. Tidak kurang ataupun lebih. Kamu tahu mengapa Bapakku mengajakku kemari, Mila?”

Jamila menggeleng, “tidak.”

Junet menghela nafas sepenggal.

“Ini tempat di mana Bapak dan kekasihnya berpisah dahulu. Wanita itu pergi dalam luka. Meninggalkan perih di hati Bapak.”

“Lalu, mengapa mereka berpisah jika saling mencintai?”

“Kekasih Bapak dinikahkan secara paksa dengan lelaki pilihan orang tuanya. Maklum, Mila. Bapakku orang miskin, sedangkan wanita itu anak orang kaya. Keberuntungan cinta tidak akan berpihak pada perbedaan status sosial.”

“Karena itukah kau menghindariku selama ini, Jun? Karena status sosial kita.”

Junet terkejut, bagaimana Jamila bisa tahu tentang hal itu? Dia diam sejenak, sebelum akhirnya melanjutkan cerita pilunya. “Mila, pernikahan Bapakku sangat bahagia. Emakku itu istri yang sangat pengertian. Dia tahu hati Bapak tidak sepenuhnya ada pada pernikahan mereka. Selama ini, Emaklah yang menemani Bapak duduk di sini. Membiarkan suami tercintanya mengenang sang kekasih dalam semak-semak senja. Aku tahu itu sangat menyakitkan hati Emak, tetapi dia itu wanita yang sabar dan tangguh. Benar-benar tulus mencintai apapun masa lalu suaminya.”

“Kau belum menjawab pertanyaanku.”

“Mila, Emakku meninggal dalam pelukanku. Memberikan dua pesan  terakhir. Satu, jangan pernah bermain cinta dengan anak gadis orang kaya, lalu kedua, temani Bapak melewati kerinduannya di tebing ini.”

Jamila terhenyak. Ternyata itulah alasan Junet menjauh darinya. Padahal sebenarnya, Jamila mengharapkan sapaan Junet setiap hari. Pemuda itu membuatnya penasaran, membuatnya semakin merindu. Jamila sadar telah jatuh hati.

Tentang kebiasaannya di tebing ini, tentang senja, juga tentang kopi tigapuluh adukan, Jamila sebenarnya sudah tahu itu semua.

“Karena itu, Mila. Begitu Bapak meninggal, kini kenangan itu akulah yang bertanggung jawab melanjutkannya. Kenangan tentang kekasih yang sangat dicintai Bapak, tentang cinta Emak yang tak terbatas, juga tentang penyesalan bahwa aku telah jatuh hati pada dirimu. Aku tak ingin mengulang sebuah luka yang sama seperti Bapak dan Emak, Mila. Tidak.”

“Tapi, bukankah masih ada kemungkinan? Kita bisa..”

“Sstt. Lihatlah senja itu, Mila. Dia sangat cantik bukan?”

Jamila diam terpaksa. Junet tersenyum dengan binar mata yang berkaca-kaca. Kemudian lambat laun, matahari yang telah uzur itupun, tenggelam ditelan bumi Dampit. Menyisakan perih pada dua muda mudi di ujung tebing padang ilalang.



 -A.M.10.14-






CINTA SANG GADIS PENARI




“Apa yang akan kau tarikan untuk kali ini, Rimbi?” 

Yoga mematri kedua bola penglihatannya ke arahku. Wajahnya sayu—laksana bulan pucat yang saat ini tengah mengintip kami di rerimbun malam.

Aku tak kuasa merengkuh kesakitannya. Bahkan jiwaku pun tengah tersayat belati pilu. Ketidakberdayaan ..., dan juga ketidakadilan ....

“Kau lihat bulan gendut yang tak sempurna itu, Ga?” Aku tengadah—menatap sang penguasa langit malam. Temaramnya kuning pucat. Tidak seceria hari-hari biasa. Entah, apa mungkin dia juga tengah berduka ... “Kau sadar tidak? Sepertinya bulan juga tengah bersedih untuk kita,” lanjutku.

“Apa yang akan kau tarikan malam ini, Rimbi?” Yoga mempertanyakan kembali perihal yang sama. Rautnya masih sayu. Tidak tampak secuil gairah pada matanya.

Seperti biasa, di pantai inilah kami berada. Di saat kami tengah jenuh dengan dunia kerja dan seabrek tanggung jawab sebagai manusia, kami lari kemari—Pantai Balekambang. Dan setiap malam, sebuah tarianku pasti akan menemani Yoga menatap bulan lamat-lamat.

“Cinta, Ga ..., aku akan menarikan tarian cintaku kepadamu.”

Yoga mencibir. Aku mahfum. Sedikit pun tidak kuperdulikan dirinya yang tengah terbuai rasa kecewa. Jemari tanganku mulai melenggok mengayun semilir bayu—yang menjamah bulir-bulir lesu kami. Kaki-kaki telanjangku menyeret pasir pantai, menekuknya pada kuda-kuda tari. Lalu mataku memejam. Menikmati suara debur ombak yang bersetubuh dengan kegelapan.

Aku menari ....

Lihatlah Ga, ini cintaku. Sebuah rasa yang terbuncah dari jiwa wanita penari. Dengarlah Ga, ini alunan nadaku. Berdenting indah seperti suara hati yang selalu memekikkan namamu. Kau dengar Ga? Sukmaku berseru, “aku mencintaimu ..., aku mencintaimu ....” Itulah rasaku untukmu ...

Sambil bersenandung tentang cinta, aku terus mengayun dan mendekap malam. Meyapa bulan, bintang dan air laut, dalam sebuah tarian.

Tiba-tiba Yoga berdiri dan memelukku. Merengkuh tubuh yang telah haus akan kasih sayang ini dengan begitu kuatnya. “Aku mencintaimu, Rimbi. Aku tak mau jika harus berpisah denganmu!” pekiknya.

Kurasakan lelaki itu begitu rapuh. Membenamkan seguknya—yang semakin menggila—di atas bahuku. Tubuhnya bergetar. Degup jantung yang kurasakan di lenganku begitu hebat berdetak cepat.

Iya, lelakiku tengah mencaci dirinya sendiri, yang tidak mampu memperjuangkan cintanya pada wanita penari yang kotor ini ....

***

“Kau mau menikahi wanita penari itu? Kowe wes gila yo, Le? Dia itu tidak pantas menjadi bagian keluarga kita. Bibit, bebet, bobotnya juga rendah. Mau diletakkan kemana martabat keluarga kita nanti, Ga?”

Kudengar samar-samar suara ibu Yoga memekik di ruang keluarga. Hati ini rasanya tersayat sembilu. Suda kuduga jika keluarga Yoga—yang berbau ningrat—tidak akan menerima keberadaan wanita penari panggung sebagai menantunya.

Rumah Yoga memang indah dan besar. Ornamen-ornamen khas Jawa Tengah berserakan menghiasi isi ruang tamu tempatku dan bapak Yoga duduk berhadap-hadapan. Bau kayu cendana bercampur aroma kembang sedap malam mencekik penciumanku. Belum lagi bertambah aroma rokok kelobot yang tengah dihisap bapak Yoga.

Rasanya aku mau muntah!

Kowe lahir tanggal berapa, Nduk? Wetonmu opo?” tanya bapak Yoga tiba-tiba.

Sejenak aku terkejut. Namun akhirnya aku tahu maksud dari pertanyaannya. Dengan berusaha melembutkan nada suara, aku menjawab pertanyaan bapak, “saya Rabu Kliwon, Pak.”

Bapak Yoga memicingkan matanya ke arahku—sepersekian detik saja. Lalu dengan sigap tangannya meraih buku tua—dengan sampul yang hampir rusak dimakan uzur—di hadapannya. Buku itu sudah kulihat sejak bapak menemaniku di sini. Seolah sengaja disiapkan untuk menghadapi kedatanganku, meminta restu untuk menikahi anak kebanggaannya.

Bibir bapak berdecap-decap. Jari jemarinya digerakan, seolah sedang menghitung sesuatu. Aroma kelobot—rokok tradisional dari pembungkus jagung yang diraciknya sendiri—masih menusuk hidung. Kepalaku semakin terasa pening.

Lebu katiup angin ....” lelaki tua itu berdesis pelan. Wajahnya yang sejak tadi menekuri sang buku, kini menatap tajam ke arahku. Mata uzurnya membulat, mengamati diriku dari kepala hingga kaki.

“Bagaimana hasilnya, Pak?” sekonyong-konyong ibu Yoga datang dari samping dan segera mengambil tempat duduk dekat bapak. Wajahnya terlihat cemas.

“Kau tidak bisa menikah dengan anakku, Nduk. Nasib kalian buruk.” Bapak menunjuk ke arahku, “kau bisa membawa sial pada keluarga kami nantinya ....”

“Bapak!” Yoga menyelah kalimat bapaknya.

“Hei, Yoga! Ini sudah dihitung sama Bapakmu. Jumlah weton kalian jatuhnya pada lebu katiup angin ini loh, kamu mau hubungan kalian diteruskan dan membawa keluargamu berantakan?!”

“Bukan hanya penjumlahannya saja, Ga. Perhitungan weton kalian masing-masing pun tidak bagus. Sisa angka enam dan sembilan. Sengsara, akan hidup susah nantinya. Rejekimu kering, gak akan ada penghasilan yang mengalir. Kalian akan ....”

“Akh! Bapak dan Ibu sama saja. Masa’ jaman sekarang masih saja percaya hal bodoh seperti itu!” Yoga mulai marah.

Adu mulut antara anak dan orang tuanya itu berputar-putar di kepalaku. Telingaku sakit. Namun hati dan cintaku jauh lebih tersakiti saat ini.

Aku ingat sesuatu tentang perhitungan weton yang dilakukan sebelum diputuskannya sebuah pernikahan dalam adat Jawa. Sandang, pangan, papan, loro, pati. Mereka selalu memperhatikan kelima kata itu. Menghitung tanggal lahir kami, lalu memutuskan layak atau tidaknya kami menikah.

Ah, rasa pening ini semakin menyeruak. Genangan air mata yang sejak tadi berayun-ayun, akhirnya meleleh juga. Aku ingin berteriak dan memaki. Ingin lari lalu menghilang ditelan bumi. Aku sudah hampir lelah, menjalani hubungan asmara dengan lelaki ningrat yang sangat kucintai itu ....

***

Sang bulan kini telah disembunyikan awan malam. Pantai Balekambang makin terasa hampa tanpa sosoknya. Sama seperti diriku, yang tengah sepi karena kehilangan nafas—raib, dicolong aturan adat sang bapak.

“Kita kawin lari saja, Rimbi ....”

“Kau bisa membunuh kedua orang tuamu, Ga. Kau anak lelaki satu-satunya. Jangan korbankan harapan keluargamu hanya demi wanita rendah seperti aku.”

Jari Yoga diletakkan di bibirku, “sstt ..., jangan pernah lagi menyebut dirimu rendah, Rimbi.”

Mata kami saling berpandangan. Kulihat jala penglihatan Yoga tengah menangkap bayanganku. Seolah tidak ingin melepaskan raga yang hampir putus asa ini.

Kurebahkan kepalaku di pangkuan Yoga. “Aku lelah, Ga. Ijinkan aku tertidur sebentar ya,” kataku melirih. Yoga tersenyum menyambutku. Membelai rambut ikal ini dan berkata dengan lembut, “aku mencintaimu, Rimbi.”

“Aku tahu, Ga. Aku sangat tahu akan hal itu ....”

Kupejamkan mata, sambil menikmati belaian kasih Yoga. Kutaburkan doa di hati, memohon kepada Tuhan agar ketika aku membuka mata nanti, rasa cinta kepada Yoga ini akan hilang. Takkan tersisa sedikit saja. Hingga akhirnya, aku tidak merasa sesakit ini lagi ....

***

Kulihat wajah kekasihku—Arimbi—tertidur pulas di pangkuan. Temaram cahaya bulan yang remang-remang menjelajahi keayuannya. Sekilas bayangan dosa kurasakan. Seharusnya sejak pertemuan pertama kami setahun lalu, aku tidak menjeratnya masuk ke dalam kehidupanku. Karena pada akhirnya cinta ini tidak mungkin disatukan.

Sudah jelas aku mengerti jika bapakku adalah manusia kolot. Sedangkan ibu hanyalah wanita yang membingungkan soal derajat di mata manusia. Bahkan sejak pertama kali nafasku menjejakkan kakinya di bumi ini, bapak sudah menenamkan warisan kekolotannya di otakku.

“Kita ini hidup di tanah Jawa, Ga. Jadi yang kita junjung juga adat yang terun temurun dari leluhur kita,” kata bapak suatu masa. Aku ingat betul hari itu, kami tengah bercengrama di rumah eyang di Jombang.

“Mencari bojo itu mudah, tetapi mencari jodoh itu yang susah. Butuh perhitungan yang cermat.” Sejenak bapak menyedot kelobot kegemarannya bulat-bulat, menghembusnya pelan, lalu berkata kembali, “salah perhitungan sediit saja, sudah bubar semuanya. Kamu kudu ingat dan belajar ilmu Kaweruh Jendra Hayuningrat. Bukan apa-apa, tetapi demi kebaikan hidup keluarga kita ....”

Saat itu aku tidak begitu memperhatikan obrolan bapak. Kuanggap sesuatu yang tidak penting. Tetapi aku baru tahu sekarang, ternyata bapak sangat serius dengan ilmu kejawen-nya.

Ah, aku tidak habis pikir. Haruskah aku melepaskan cinta Arimbi hanya karena hal konyol itu? Entahlah, aku juga sama lelahnya dengan kekasihku ....

***

Fajar telah menetas. Dari balik surih laut dia mengintipku dan Arimbi yang baru terbangun dari lelap semalam. Kulihat Arimbi mengucak matanya. Menggoyangnya beberapa kali, baru kemudian melempar bola matanya ke arahku.

Dia tersenyum.

“Ini akan berakhir bukan? Setelah ini cinta kita telah usai ...,” katanya.

Aku hanya diam.

“Ga, kita harus ikhlas. Ini bukan jalan kita lagi.” Arimbi mengapit kedua telapak tangannya di pipiku. “Ayo, Ga! Hidup bukan hanya untuk menyesali apa yang telah terjadi dan apa yang akan kita hadapi nanti. Kamu harus kuat!”

Setelah berkata demikian, Arimbi berdiri lalu berjalan menjauh dari tenda biru kami. Sebentar dia membalikkan badan sambil melambaikan tangan ke arahku.

“Ga!” serunya, “ayo kita berenang! Mandi air laut!”

Kulihat dia sudah kembali ceria. Wajahnya berbinar-binar diterpa matahari pagi. Namun, aku tahu benar, hatinya yang telah hancur itu akan terus menangis dalam keheningannya sendiri.

Iya, selamat tinggal wanita penariku. Dengan ini semua akan berakhir. Doaku hanya satu. Semoga kelak, Tuhan akan memberimu cinta, yang jauh lebih bisa mempertahankan kekuatannya daripada cinta kita ....