Jumat, 12 Desember 2014

PEREMPUAN PERINDU BENIH part 6 (sebuah mininovel)




Kerinduan yang Pekat



"Aku hidup, tapi mati ... Alia."




Seharusnya kami bahagia setelah hari itu. Bisa menikmati dua hari di kota terindah di Yogya. Hanya berdua. Seperti mimpi yang selama ini kami dekap.

Namun kenyataannya tidak.

Setelah kejadian di kamar hotel, Alia jadi pendiam. Sepanjang perjalanan pulang, ia membisu. Aku hampir dibuatnya gila. Perasaan bersalah menghujam. Setiap kata yang ia keluarkan hanya sepatah-dua patah. Bahkan hingga kami perpisah di bawah pohon akasia, ia hanya berkata, “Terima kasih.” dengan mata menatapku yang hanya sesaat, sebelum ia melangkahkan kakinya keluar mobil. Tanpa pikir panjang, kurengkuh lengannya.

“Tunggu,” kataku pelan, “maaf ....”

Dia tersenyum, lalu menggeleng perlahan.

“Tidak, Ndu. Kegilaan yang telah kita lakukan malam itu karena memang kitalah yang menginginkannya. Jangan mengucap maaf padaku.”

“Ta-tapi, Lia, kita ....”

“Sstt ... Kita masih tetap menjadi kita setelah malam itu.”

Itulah kata-kata terakhir dari Alia. Setelah itu tak sedikit pun kutemui sosoknya. Tidak di bawah pohon akasia yang sebesar pelukan dua manusia dewasa di tepi Jalan Diponegoro. Tidak di Cafe Orenz Blue. Juga tidak di semua sudut-sudut kota Surabaya. Bahkan, semua pesanku tak dibalas satu pun. Facebook miliknya juga sudah non-aktif.

Alia benar-benar raib. Bumi seakan-akan telah menelan tubuhnya, sengaja menjauhkan dari diriku yang tak becus menjaga hati seorang perempuan ini.

***

Kepulanganku dari Yogya kembali disambut dengan pelukan erat dari Rany. Bahkan teramat erat! Dia bagaikan akar-akar rotan yang kokoh melilitku. Mendekap seolah tak ingin kehilangan. Sebuah lelehan jatuh dari pelupuk matanya. Haru. Kemudian dia berdesis, “Selamat pulang, Sayangku. Selamat datang kembali.”

Sekali lagi, aku dibuatnya bertanya-tanya akan sikap anehnya itu.

Setelah dekapan erat yang tak kuketahui artinya itu, sikap Rany berubah. Lambat laun, sinar keceriaan muncul di wajahnya. Senyumnya kembali mematahari hati. Membuat sukmaku lunglai. Kemolekannya, kesabarannya, kepatuhannya, sekarang ... senyumnya.

Petualangan ini berakhir sudah. Kegilaanku pupus. Namun tak sekali pun aku ingin menghilangkan kerinduan pada Alia. Tak ingin.

Ah, perempuanku ... katakan, di manakah dirimu sekarang? Ijinkan aku melihatmu mengatakan, bahwa kau baik-baik saja. Katakan ....




~ 0 ~





Kejutan yang Mencekik



"Ia ada di sana, tepat di depanku ...."




“Ayah!”

Jenna melambai sambil berseru ke arahku. Dia masih asyik mengayuh sepedanya dengan riang, mengelilingi Taman Bungkul yang tengah ramai dikunjungi Minggu sore ini. Aku duduk di salah satu bangku semen yang hampir rompal sisi kirinya.  Sementara Rany menikmati semangkok bakso bersama kedua putraku di warung langganannya.

Keceriaan yang lumrah. Tapi hatiku tetap kesepian.

Empat tahun sudah berlalu. Rumah tangga yang kami bangun masih berdiri kokoh atas kesabaran Rany yang gigih. Aku bangga padanya. Sangat. Entah apa yang bisa kubalaskan untuk hati yang sekokoh karang itu. Aku hanya lelaki egois, bukan? Seharusnya, aku tak layak mendapatkan ‘maaf’ darinya.

Ah, Rany ....

“Ayah!”

Teriakan Jenna kembali terdengar. Kusungging senyum ke arahnya, sambil melambai pelan. Senja mulai memerah. Aku memilih beranjak dari tempat ini dan berjalan menuju arah gadis kecilku yang di sana.

Langkahku melambat. Lamat-lamat, jala mata ini menangkap sosok perempuan berkerudung kuning yang tengah berdiri, tepat sekitar sepuluh meter di depanku. Di sela-sela kerumunan orang-orang itu, kulihat ia tertawa lebar. Binar wajahnya sangat bahagia.

Renyut dadaku mulai berkelojotan. Tangan-tanganku bergetar. Wajah itu ... kini tampak lebih dewasa dan anggun dengan jilbab panjang yang menutupi dada hingga pergelangan tangannya. Cantik!

“A-Alia ...?”

Kuangkat kaki, hendak menghampiri perempuan itu. Ia kekasih yang kurindukan. Kekasih yang menempati bilik-bilik kenangan. Namun, seketika kakiku terasa kaku. Berat. Seolah bumi melesakkannya ke dalam. Mataku membelalang, bulat dan melebar. Aku limbung. Jantungku berhenti berdetak!

Mata ini melihatnya, sangat jelas sekali.

Alia menghampiri seorang gadis kecil yang cantik. Ia mengangkatnya, menggendong penuh kasih, lalu berlalu menjauh. Hilang. Mereka berdua ... tak terkejar lagi.

Segalanya lesap. Semuanya tiba-tiba menghilang. Kenanganku, sukmaku, dan juga penyesalan itu. Urat-urat kecil yang menjalar di seluruh tubuh ini lunglai. Wajah gadis kecil itu, adalah wajah Jenna! Itu wajahku!

Ta-tapi ... ba-bagaimana bisa?!



~ 0 ~

 (bersambung)

Kamis, 11 Desember 2014

PEREMPUAN PERINDU BENIH part 5 (sebuah mininovel)



Renjana



"Darahku berdesir. Renjana itu datang, dan aku tak mampu menahannya ...."



Saat aku sedang mengaduk campuran madu dengan air hangat di cangkir coklat kesayanganku—pemberian dari Alia, Rany bergumam sendiri di hadapan laptop yang sedang menyala. Jemarinya didiamkan sesaat.

“Mengapa lelaki selalu mencari perempuan lain yang memiliki kelebihan yang tak dimiliki oleh istrinya?”

Hening. Adukanku terhenti, memilih mengalah untuk berputar.

“Lalu ... mengapa lelaki tak pernah merasa bersalah kepada istrinya, setiap kali ia ber-chat mesra dengan perempuan lain? Seolah itu hal biasa yang nggak pantas buat diributkan.”

Aku menelan ludah. Kalimat-kalimat yang dia racaukan itu seakan melecuti rongga hati ini. Kulirik diri Rany. Kini, ujung-ujung jari itu sudah asyik lagi menari di atas tuts. Tatapnya yang mendarat di layar laptop tampak dingin. Gurat-gurat menakutkan yang menyembul di mata itu hampir setajam lidahnya. Dua-tiga menit korneaku masih melekat pada wajah Rany.

“Ada apa?” tanyanya tiba-tiba. Tubuhku tergeragap. Mencoba mengalihkan gemetarku dengan mengaduk kembali sendok putih di cangkir coklat tadi.

“Ada yang salah dengan ucapanku?”

Diam. Tak kujawab pertanyaan Rany. Aku yakin benar, istriku itu sedang mencoba menjebak dengan kalimatnya. Dia pandai sekali bermain olah kata jika hatinya sudah benar-benar sakit. Juga, ketika dia telah menemukan bukti kenakalanku.

Tapi ... bukti apa lagi yang sudah dia temukan, ya? Tanya batinku, mencoba berpikir namun tak juga kutemukan jawabannya. Kulirik lagi wajah Rany. Aku menelan ludah sekali.

“A-Ayah Sabtu-Minggu besok ada kerjaan di Yogya,” kataku memecah canggung, namun Rany tetap bergeming dengan wajahnya yang dingin.

Ah, sudahlah.

Hari yang ditentukan pun tiba. Ketika aku berpamit, Rany memeluk tubuh ini begitu erat. Kurasakan debaran dadanya melantam. Matanya berkaca-kaca.

“Ada apa?” tanyaku. Dia hanya menggeleng, sambil terus membenamkan kepalanya di pelukanku.

Aneh. Tapi setelah itu, tak kupikirkan lagi tentang dirinya. Hatiku terlanjur berbunga-bunga membayangkan perjalanan bersama Alia.

***

Sabtu, pukul sepuluh malam. Hotel Laras Hati, Malioboro – Yogyakarta


“Aahh ... leganya sudah bisa berbaring di atas kasur!”

Aku terduduk di sebuah kursi rotan, memandang Alia keluar dari kamar mandi, lalu merebahkan tubuhnya di atas pembaringan. Ia menggeliat sebentar. Kualihkan kornea ini menatap jendela kamar. Sebuah rokok yang baru saja menyala, kuhisap dalam-dalam. Di luar, gerimis menyapa dedaunan. Bau harumnya menggeliat, menyapa cuping hidung yang baru saja menghisap asap rokok.

“Kau tak mandi?” tanya Alia.

“Nanti saja.”

Kulirik perempuan itu. Rambut panjangnya tergerai basah, terurai lemah begitu saja di atas seprei hijau bermotif abstrak. Aroma tubuhnya yang wangi, bercampur dengan kepulan asap yang kuhembuskan.

Ruangan kamar hotel ini tak terlalu besar. Hanya ada sebuah ranjang berukuran single, sebuah televisi, dua buah kursi rotan berwarna cokelat gelap, meja rias yang biasa, dan sebuah lemari berukuran kecil. Kami tak sengaja memilih yang sekecil ini. Setiap weekend, hotel yang terletak di Jalan Malioboro selalu saja penuh. Banyak pelancong yang singgah untuk menikmati kota indah ini. Kamar ini adalah yang terakhir.

Walaupun murah, Hotel Laras Hati tidak terkesan murahan. Tempatnya bersih, pelayanannya ramah. Membuat kami merasa nyaman. Kamar-kamarnya berderet membentuk persegi empat. Mengelilingi sebuah taman yang rindang. Bau harum suasana di luar kamar membuatku kembali rileks. Setelah perjalanan jauh kami dari Surabaya, tubuh terasa kaku. Ditambah kedua kaki yang di lelahkan oleh penjelajahan mengelilingi Jalan Malioboro.

“Bagaimana keadaanmu?”

Alia diam sejenak. Kedua kakinya tengah mengamit sebuah guling.

“Lumayan. Sekarang hatiku mulai tenang.”

Kusungging sebuah senyum.

“Syukurlah.”

“Terima kasih. Aku memang butuh liburan untuk melupakannya.”

Kami terdiam. Mataku masih menyapu dedaunan basah di taman depan kamar, melalui jendela kecil ini. Rokok di tangan sudah separuh jalan. Pikiranku teringat kembali pada tangisan Alia beberapa hari lalu, ketika ia mengatakan tentang keadaannya yang menyedihkan.

Itu adalah malam yang menyakitkan bagiku.

Haah ... Untuk beberapa saat, hening menguasai kamar kami. Kulihat Alia bangkit. Ia berjalan dengan gemulai, menghampiriku. Lekuk-lekuk tubuhnya terlihat jelas ketika lampu meja berwarna putih itu menjamahnya dari belakang. Aku menelan ludah. Gaun kembang bakung yang membuatnya lebih cantik Minggu malam lalu itu sekarang menjadikannya wanita terseksi di mataku.

“Apa yang kau lihat?” tanyanya. Badannya membungkuk. Mengintipkan matanya dekat pada jendela. Tubuh kami bersentuhan tanpa sengaja. Aku sungguh dibuatnya gugup. Debaranku berlarian tak tentu arah. Melaju bagaikan deru kereta api yang menebas udara.

Di saat aku tengah diserang ketidakberdayaanku sebagai lelaki, wajah Alia kulihat teramat biasa dengan keadaan ini. Polos.

“Ti-tidak ada,” jawabku terbata, “ha-hanya tanaman.”

“Apa bagusnya lihat tanaman.”

Senyum Alia menyungging nakal. Matanya masih mengintip.
Lama kami bertahan dalam posisi seperti ini. Lalu tiba-tiba, Alia berdesis pelan, “Aku ini benar-benar pendosa, ya, Phoe?”

Aku terhenyak.

“Aku hanya berharap, suatu saat nanti aku bisa melahirkan anak dari rahimku sendiri. Itu saja ... apa aku salah memiliki keinginan seperti itu? Apa pendosa ini tak pantas menjadi seorang ibu?”

Hatiku melarat-larat. Tetesan air mata Alia sudah berjatuhan di bahuku. Kemudian, semuanya terjadi begitu cepat.

Awalnya, kubenamkan puntung rokok di asbak kayu yang berukir daun-daun tak jelas. Lalu kutarik lengan Alia dengan lembut. Melesatkan tubuh hangatnya di pangkuanku. Jari-jemari yang tengah dilekati bau tembakau ini menyeka air matanya. Ia masih terisak. Bahkan lebih sesak lagi. Kedua mata kami bertemu. Miliknya jauh lebih redup dari biasanya. Kemudian, bibirku menyentuh lembut bibirnya yang telah basah oleh air mata.

Gelap semakin memekat. Lenguh-lenguh dosa itu terbuncah. Desahan demi desahan menyatu. Renjana kami melesat, membumbung menguasai kamar. Malam itu, kunikmati tubuh perempuanku, hingga dua kali.




~ 0 ~

Minggu, 07 Desember 2014

PEREMPUAN PERINDU BENIH part 4 (sebuah mininovel)






Never Ending Story



"Kau tak pernah tahu, bagaimana aku selalu membunuh rindu ini dan berpura-pura agar bisa bernapas dalam duniaku ...."



Mobil hitam ini kuhentikan di parkiran Taman Bungkul. Kaca samping mobil terbuka lebar, aku masih terduduk di kursi sopir dengan tangan kanan mengamit rokok. Ini sudah batang yang ketiga.

Keceriaan malam Jum’at di sini terlihat sedikit menenangkan. Nadiku bertalu-talu. Pikiran ini mulai kacau semenjak pulang dari Cafe Orenz Blue. Kalimat-kalimat yang dilontarkan Alia, juga wajahnya yang melusuh di atas meja coklat itu. Sungguh, aku benar-benar ingin memeluk dirinya kembali.

Ah, lelaki ini ternyata masih menjadi seorang suami yang bodoh. Bahkan teramat bodoh, Ran.

“Aku merindukanmu, Ndu. Setiap menit kulalui begitu berat selama dua tahun ini. Menyiksaku dalam diam. Berpura-pura tertawa di hadapan Sony, padahal aku tengah memikirkan lelaki lain.”

Saat itu, aku tercengang. Kicau sendu dari bibir Alia membuatku sedikit melonjak kegirangan, namun juga sedih. Karena segalanya kini telah berubah. Ada janji yang harus kutepati pada Rany.

“Kenangan itu ..., iya. Seandainya saja tak ada kenangan di Pantai Papuma itu, sudah pasti aku lebih mudah untuk melupakanmu, Ndu. Tapi ... Ah, mengapa kau begitu kejam. Memberiku sebuah kenangan lalu pergi menghilang.” Alia menangis. Kali ini derai air matanya lebih deras membanjiri pipi.

“Jauh di lubuk hatiku pun, tengah terbuka sebuah kawah yang kesepian. Menanti seseorang datang, untuk menutupnya kembali,” lanjut Alia.

Malam yang kami lalui semakin berat. Hati kami berlabuh pada ketidakberdayaan, sekali lagi. Lalu, lirik kenangan kami dari Christina Perri mengalun lembut di udara. Membuat jiwaku limbung. Bisa jadi, jiwanya juga. Jatuh, pada kisah masa lalu.

Heart beats fast
Colors and promises
How to be brave
How can I love when I,m afraid to fall
But watching you stand alone
All of my doubt suddenly goes away somehow

One step closer

I have died everyday waiting for you
Darling don’t be afraid I have love you
For a thousand years
I’ii love you for a thousand more

....

Ah, jiwaku kesakitan. Apakah kau juga, Lia?

Kuhisap rokokku dalam-dalam. Sebuah tanya melintas di pikiran, akankah kubuka kembali hubungan yang telah berakhir ini?

Wajah Rany terbayang. Tangisan-tangisan di setiap malam yang dia lalui. Mata bengkaknya juga. Hatinya yang penyabar. Juga ketegarannya. Akankah kulibas semua itu, dengan ketidaksetiaan lagi?

Ujung rokokku sudah semakin memendek. Puntung itu kubuang jauh, jatuh ke semak-semak basah. Kulirik jam tangan, pukul sebelas malam. Aku kirimkan sebuah e-mail pada perempuan yang menguasai segala pikiranku itu

“Bila hari kelima tiba, aku adalah milikmu, Phie, tak lebih dari itu. Kisah kita bisa berjalan kembali, tapi kali ini, kau adalah sahabatku, aku sahabatmu. Aku adalah seorang yang asing bagimu, kau pun akan menjadi orang asing bagiku. Jika kau bisa menerima kedudukan terbaik yang bisa kutawarkan padamu ini, datanglah, ke tempat yang sama.”

Ah, ini sebenarnya hanyalah akal-akalanku saja. Keegoisanku. Berkata demikian, walau sebenarnya pun aku menginginkannya kembali. Tapi, inilah yang terbaik. Bagiku. Iya, hanya bagiku saja yang masih congkak dengan keinginan sendiri.

Lalu di hari Jum’at minggu berikutnya, aku mendatangi tempat itu lagi. Alia sudah menantiku. Dengan dandanan funky seperti biasanya. Kaos oblong hitam dengan gambar tengkorak besar di dadanya, dipadu jeans belel yang sobek sedikit di bagian lutut. Begitulah sosok Alia. Perempuan energik yang selalu kurindukan.

***

“Kau masih ingat dengan film tentang kita, Phoe?”

Kuangkat alis. Bibir yang menghitam karena rokok ini sedang menempel di mulut sedotan putih. Kutelan seteguk cokelat dingin di dalam gelas.

“Film kita?” Aku mencoba menarik kembali ingatan.

Binar mata Alia berkesap-kesip. Alisnya ditarik berkali-kali.

“Hayo apaa ...?”

“Ah! Aku ingat.”

Kusungging senyum.

“Apa?”

“One Day, bukan?”

Ia mengangguk mantap. Itu memang film tentang kami. Setidaknya, itulah yang kami rasakan. Dibintangi oleh Anne Hathaway dan Jim Strungess. Kisah drama romantis yang mengisahkan dua manusia dewasa yang sudah saling terikat oleh suatu hubungan, tapi mempunyai satu janji yang sakral bagi mereka. Setiap tahun, di tanggal yang sama, mereka akan menyempatkan waktu untuk menghabiskan hari. Hanya berdua.

Alia dulu pernah berkata saat kami sedang berada di Pantai Papuma, “Setiap tahun, di tanggal yang sama dengan hari ini, kita akan kemari lagi. Berdua.”

Aku menyetujuinya, walaupun akhirnya keinginan itu tak terlaksana.

“Tiba-tiba aku ingin berperan kembali seperti Emma dan Dexter. Kita berdua, Phoe dan Phie. Menikmati satu hari, di tempat yang sama. Meninggalkan dunia nyata kita.”

“Itu bagaikan mimpi, Phie. Sudah tak mungkin lagi.”

“Mengapa?”

Kuangkat kedua bahu.

Ia pun terdiam.

Ini sudah bulan keenam sejak perjumpaan kami kembali di Royal Plaza. Sejak itu, setiap hari Jum’at malam kami bertemu di sini. Tempat yang sama.

“Sudah kukatakan, kita hanya sahabat. Aku tak ingin melukai Rany lagi.”

“Iya, aku tahu. Maaf. Tapi ..., aku benar-benar ingin pergi lagi berdua denganmu.”

Aku tahu Alia. Hati kecilku pun sebenarnya ingin merengkuhmu kembali. Menikmati dunia kita berdua, di balik cermin masa lalu. Tapi, kau pun harus tahu. Sebuah sekat yang tebal itu sudah kubangun secara paksa di antara kita. Setiap detiknya, aku berusaha keras agar sekat itu tak retak sedikit pun, Alia ....




~ 0 ~






Retak



"Aku mendengarnya, suara retakan di dalam hatiku ...."



Keluar dari kamar mandi, aku menemukan Rany sudah berdiri mematung di depan lemari es. Wajahnya beku. Benar-benar kaku. Seperti sedang mati. Pucat pasi. Di atas lemari pendingin itu, ponselku menyala.

Tunggu. Apakah Rany membukanya? Ah tak mungkin. Sekarang ponsel itu sudah kuberi pasword agar privasi dan rahasia terjaga.

“Bunda kenapa?”

“Hah? Oh, e ... Tidak ada apa-apa.”

“Kok sepertinya ada yang sedang dipikirkan.”

“Ah, tidak kok.”

Setelah berkata demikian, istriku berlalu menghindar. Dia memasuki dapur. Aku merasa sedikit aneh dengan tingkahnya hari ini. Namun, pikiran itu segera kutepis.

Selesai mengganti pakaian kerja, sarapan dan mengenakan sepatu, aku berpamit pada Rany. Kulirik matanya. Masih tersimpan sebuah keanehan di sana. Dia sedang canggung sekali.

“Bunda jangan banyak pikiran, nanti sakit, loh,” kataku merayu, sambil mengecup keningnya. Dia tak menjawab. Hanya menyungging senyum yang dipaksa. “Ayah berangkat kerja dulu, ya,” lanjutku, kemudian berjalan meninggalkan teras rumah, menghampiri mobil, lalu menghilang di bawah sinar mentari.

***

Sabtu pagi ini Alia berkata ingin diantar ke klinik untuk chekup. Aku berpamit pada Rany hari libur terpaksa harus lembur karena pekerjaan yang menumpuk. Malam Jum’at dua minggu lalu, ia mengatakan tentang kondisinya yang tak mungkin bisa melahirkan anak. Saat itu pikiranku kalut. Iba. Kekasihku menganggap ini adalah hukuman atas dosanya pada Rany.

Entahlah.

Pukul sembilan tepat, aku sudah menunggu Alia di bawah pohon akasia, tempat biasa kami bertemu jika hendak keluar bersama. Namun, ketika kutanyakan tempat mana yang akan ia tuju, perempuan itu malah tersenyum.

“Aku bohong.”

“Bohong? Maksudmu ....”

“Iya, Phoe. Aku bohong tentang klinik itu. Aku hanya ingin bertemu denganmu.”

Senyuman Alia terus mengembang dari bibirnya. Mirip seperti bulan yang tengah menyabit. Bulan kesayangannya.

“Ayo kita lari lagi, Phoe. Culik aku!” Matanya membeliak. Berbinar-binar seperti seekor kucing yang meminta makan pada majikannya.

“Kamu gila apa?!”

Aku memekik. Wajah Alia kini ditekuk kecewa.

“Aku harus bilang apa sama Rany. Lagipula, ini tanpa persiapan, bukan?”

“Jadii ...,” Alia sumringah kembali, “jika ada persiapan, kamu mau? Please ... Please ...,” rengeknya.

“Phie, aku kan sudah pernah bilang, kita tak bisa kembali lebih dekat lagi seperti dua tahun lalu. Aku tak mau.”

“Phoee ....”

“Phiee, please, ngertiin posisiku juga dong.”

Bibir Alia mengkerut. Ia membuang mukanya. Perasaanku jadi serba salah. Akhirnya, dengan terpaksa aku pun menganggukkan kepala. Tak mampu lagi menolak permintaannya. Wajah Alia berubah. Ia tertawa kecil. Bersiul pelan. Siulan itu aku tahu benar. Itu soundtrack film kami, One Day.

Kemudian dalam gumamnya ia mendesah, “Aku hanya ingin lupa, pada kenyataan yang harus kuterima, Phoe.”

Aku mafhum. Kenyataan itu memang berat baginya. Kemudian, kudengar suara retakan panjang di dalam hati. Sekat yang kubangun dengan susah payah itu pun perlahan mulai terbuka, lalu bersepai menjadi puing-puing yang dilesapkan oleh kerlingan goda perempuan di hadapanku ini.

***

Ketika aku membuka mata di hari Minggu pagi ini, tak kutemukan sosok Rany di rumah. Dapur, kamar anak-anak, ruang tamu, kamar mandi bahkan teras sekali pun, tak ada yang menyimpan bayangannya. Aku langsung kalut, ketika mendapati hanya ada anak-anak yang sedang asyik bermain robot dan boneka kesayangan mereka di halaman.

“Raka, di mana Bunda?” tanyaku pada putra pertama.

“Bunda jalan-jalan.”

“Jalan-jalan?”

Aku langsung menengok garasi. Sepeda motorku sudah tak ada di tempatnya. Apakah Rany pergi jauh? Dia tak pamit? Tak pernah dia seperti ini.

Tanpa berpikir lebih panjang lagi, aku berjalan menghampiri ponsel. Kutekan nomor telepon Rany. Lama aku menunggu, namun bunyi dering itu tak diangkat juga olehnya.

Perasaanku semakin kalut. Rasanya seperti sedang diaduk-aduk. Ini sudah pukul sepuluh. Ke manakah perginya istriku itu? Memang semua pekerjaan rumah sudah diselesaikannya. Namun, ketika aku membuka mata lalu tubuh mungilnya itu tiba-tiba menghilang seperti ini, ada sebuah rasa kehilangan. Besar sekali.

Menit-menit kulalui hanya dengan mondar-mandir mengelilingi rumah. Cemas. Baru ketika kudengar suara sepeda motor mendarat di halaman rumah, lalu bayangan itu menapakkan kakinya ke lantai, aku langsung menghambur ke arahnya.

Wajah masai itu menatapku. Jilbabnya kotor. Sebuah noda kopi melekat di sana. Aku terheran-heran dengan keadaan Rany sepulang kepergiannya. Kurasakan, ada sesuatu di sudut mata Rany yang sepertinya tengah dia sembunyikan dari suaminya ini. Apakah itu? Aku bertanya-tanya sendiri. Ini adalah kebiasaan istriku, jika dia menyimpan suatu perasaan yang membuatnya kalut, pasti akan mengeluarkan jurus bisu. Diam, tanpa sepatah kata sampai dia sendiri mampu menghadapi rasanya sendiri.

“Bunda dari mana?” Kulirik jam dinding, hari sudah siang. Pukul setengah dua belas.

“Tidak ke mana-mana. Hanya ingin membuat perasaan jadi santai saja kok, Yah. Bunda jalan-jalan sebentar tadi,” sahutnya melemah. Tanpa memandangku kembali, Rany memasuki rumah. Langkahnya gontai. Melihat itu, perasaanku semakin dicabik-cabik rasa penasaran.

“Bunda kenapa, sih, kok lemes gitu?”

“Tidak ada apa-apa. Bunda capek, mau tidur dulu.” Rany memasuki kamar. Melepas jilbab, lalu langsung rebah di atas pembaringan. Aku berusaha mengalah dengan rasa keingintahuan. Membiarkan istri tercintaku itu tertidur, sambil menenggelamkan perasaan yang sedang dia pikirkan.

***

Sore menetas. Kulihat Sang Senja perlahan menanggalkan warna kesumbanya, kemudian lari bersembunyi di balik kegelapan. Setengah hari ini, aku hanya menikmati wajah istriku yang masih ditekuk dalam kebisuannya. Tak ada satu kata pun tentang apa yang sedang dia lumat di alam pikirannya. Beberapa menit lalu, kulihat cahaya matanya berkaca-kaca. Namun segera dia musnahkan dan menggantinya dengan embusan lenguh yang berat.

Aku bosan.

Ini hari libur. Seharusnya kami berdua sedang asyik bercengkrama mesra seperti biasanya. Namun, bahkan aura rumah membuatku malas untuk berada di sini. Anak-anak juga sangat ribut. Entah mengapa, seolah mereka bertiga sedang mendukung suasana hati bundanya. Suram.

“Kau ada waktu malam ini, Phie?”

Kukirim sebuah pesan singkat di e-mail Alia. Jiwaku butuh ditenangkan.

“Kenapa?”

“Nonton, yuk.”

“Tapi hari ini Sony pulang.”

Aku melenguh berat.

“Ya, sudahlah.”

Hening. Tak ada balasan lagi dari Alia. Saat ketika kedua kakiku hendak melangkah meninggalkan pelataran rumah, bunyi pesan masuk itu terdengar renyah. Wajahku berubah segar. Alia menjawab ajakanku.

“Baiklah, kita ketemuan di tempat biasa, ya.”

Dengan langkah ringan dan sebuah siulan di bibir, aku beranjak menuju kamar mandi. Setelah semua persiapan selesai, aku berpamit pada Rany.

“Bunda, Ayah pergi ke rumah Dito, ya. Ada urusan sebentar.”

Dia menatapku ragu. Berkesip sekali-dua kali, lalu menganggukkan kepala dengan berat. Sudahlah, batinku. Aku pun terkadang lelah menghadapi sikap diamnya yang menjemuhkan itu. Setidaknya, ada Alia yang bisa membuatku kembali tersenyum.

***

Malam ini kekasihku terlihat lebih cantik dari hari biasanya. Bukan lagi kaos oblong hitam dan jeans kumal. Dia mengenakan terusan bermotif bunga bakung putih sepanjang lutut yang dipadu dengan sebuah rompi biru muda. Rambut ikalnya digerai. Wangi. Sampo yang ia pakai beraroma citrus yang dipadu dengan sentuhan mint.

“Kau bilang apa sama Sony tadi?” tanyaku memecah debaran dada. Sejak pertama kujumpai Alia, degup jantung ini tak mau berhenti. Ia sangat cantik.

“Sony ingin mengajakku ke rumah orang tuanya, tapi kubilang aku sedang gak enak badan, mau tidur saja. Jadi dia berangkat sendiri tadi.”

Kulirik wajah Alia. Rona pipinya memerah. Entah karena kedinginan atau karena ia pun tengah merasakan bahwa ini adalah sebuah kencan.

“Lah, kalau dia pulang lalu tak menjumpai dirimu di rumah, bagaimana?”

“Tenang saja. Dia bilang menginap kok. Kalau sudah di rumah sana, tak pernah hanya sebentar saja. Maklum, Anak Mama.” Alia tertawa kecil. Kusungging senyum. Tak kusangkah, perempuanku sangat lihai mengelabui suaminya sendiri.

“Kita batalkan nontonnya, ya?”

“Loh?” Alia sedikit terkejut. Alisnya dirapatkan. Kubalas ia dengan sebuah senyuman. “Lah, aku terlanjur dandan cantik, kok dibatalin, sih?”

“Tidak, Phie. Bukannya dibatalin. Kita jalan-jalan ke Malang saja, yuk? Menikmati udara malam di sana. Bagaimana?”

Senyum Alia kemudian mengembang. Matanya berbinar-binar. Jiwa pemberontaknya lebih menyukai berada di tempat-tempat yang memiliki pesona alam dari pada melakukan hal-hal yang monoton seperti nonton bioskop.

Malam durjana. Kegelapan semakin pekat ketika mobil hitam yang kukendarai menebas jalanan tol menuju arah Malang. Menit-menit yang kami lalui dihabiskan oleh canda tawa. Cerita yang keluar dari bibir tipis Alia tak pernah membuatku bosan. Jiwa-jiwaku terpuaskan sudah, sejak pertama kali melihat wajah ayu yang menggairahkan itu. Dahagaku basah. Ah, jika saja istriku bisa menyajikan tawa seceria Alia. Mungkin, aku takkan selalu merindukan sebuah jiwa yang tengah duduk di sampingku ini.

“Apakah, tawaran untuk menculikmu itu masih berlaku?”

Pertanyaanku sepertinya membuat Alia tak percaya dengan apa yang didengarnya. Ia terperangah.

“Kapan kau bisa kuculik?” tanyaku sekali lagi. Kali ini sebuah senyum hangat kubuang di hadapannya.

Alia berkaca-kaca.

“Nanti jika kita berdua melarikan diri lagi, kenakanlah baju ini. K-kau ..., tampak cantik memakainya.”




~ 0 ~
(bersambung)

Sabtu, 06 Desember 2014

PEREMPUAN PERINDU BENIH part 3 (sebuah mininovel)





After the Affair



"Aku takkan kalah, Sayang. Takkan pernah!"



Dua tahun telah berlalu, namun perjalanan itu tak mudah kami, aku dan Rany, lalui. Perjuanganku untuk meraih kembali kepercayaan dan cinta Rany masih berjalan, bahkan hingga kini. Tak mengapa. Bagiku, trauma yang sudah kugores di hatinya jauh lebih membutuhkan kesabaran yang besar ketimbang kesabaran yang kubutuhkan.

Istri yang dua tahun lebih tua dariku itu pernah berkata di suatu malam, “Biarkan aku mengobati lukaku sendiri. Ayah takkan mampu membantunya. Tapi jangan khawatirkan perasaanku. Kau pasti sudah tahu, bukan, bahwa aku ini wanita yang berhati kuat? Jadi aku pasti akan belajar sesuatu dari peristiwa ini.”

Saat dia berkata demikian, aku yakin jika suatu saat Rany pasti memaafkan aku. Sama seperti yang telah lalu-lalu. Hanya saja, kali ini dia membutuhkan waktu yang lebih lama.

Suatu hari, Rany pernah hampir menjadi gila karena traumanya. Tiba-tiba saja dia menjerit. Menangis meraung-raung. Tak seperti biasanya yang hanya terisak dan menahannya agar tak membuncah sekeras itu. Aku ingat, malam itu jam dinding merah yang menempel di dinding kamar tidurku sedang menunjukkan angka satu. Kudatangi Rany, yang kala itu tengah terduduk di kursi dapur, tanpa satu pun penerangan. Dia menatapku, menggelengkan kepalanya. Seolah berkata, ‘Jangan mendekat, aku hanya ingin sendiri.’ Maka dengan hati yang tersayat, kutinggalkan wanitaku terkapar dalam luka, sendirian.

Di dalam kamar tidur, aku hanya berani mendengarkan saja. Tangisan, teriakan yang tertahan, juga suara benda yang membentur dinding. Aku yakin,\ itu suara kepalan Rany yang diadu dengan tembok.

Air mata ini pun mengalir. Menemani kesedihan Rany.

Setengah jam berlalu. Mendadak semua menjadi hening kala itu. Tak kudengar lagi isakan Rany. Sudah puaskah dia menangis? Hatiku bertanya-tanya. Penasaran. Lalu langkah melindap itu kudengar. Tak lama, suara kran air kamar mandi yang menyala menghampiri cupingku. Diiringi oleh bunyi air yang jatuh mendarat di ubin dengan keras.

“Byur!”

“Byur!!”

Rany tengah membenamkan dirinya di sana. Membasahi tubuhnya, bertubi-tubi dengan air yang dia gayung dari bak mandi.

Ah, istriku. Kau begitu ingin melunturkan kenangan pahit di otakmu itu, bukan? Seandainya aku bisa membantumu ..., sedikit saja. Aku ingin bisa. Gumamku malam itu.

Keesokan harinya, wajah sembap Rany karena banyak menangis semalam, tampak lebih segar dari biasanya. Seolah semua kebencian dan amarah itu terbuang. Hanyut dibawa lari oleh air, masuk ke dalam selokan.

“Ayah,” katanya pagi itu, “hari ini mau dimasakkin apa? Tempe penyet?” Senyumnya merekah. Haru. Mataku mengembun. Segera kupeluk wanita itu, menciumi kening dan pipinya. Hari itu aku sadar, hati istriku seluas hamparan langit. Dan dia benar-benar pemaaf. Seorang wanita yang berjiwa sekuat karang.

Iya, Rany adalah batu karang yang selalu mampu bertahan di deburan ombak laut yang selalu memimpikan bersanding dengan matahari. Laut itu adalah aku, dan matahari yang ceria dan berpendar indah itu adalah Alia.

***

Walau aku hidup dalam penyesalan dan merasa gagal menjadi seorang lelaki sejati, namun hatiku masih menyimpan rapat kerinduan tentang Alia. Egois? Iya ..., memang seperti itulah kami para lelaki. Dua tahun kulewati dengan kebohongan semacam itu. Aku selalu berusaha agar Rany tak mengetahui perasaan ini. Namun terkadang, aku merasa dia pasti tahu jika suaminya masih menyimpan sosok kekasihnya, bahkan di setiap napas yang diembuskan.

Dari sikap Rany, aku tahu dia belajar tabah dan ikhlas dengan kenyataan yang sedang dihadapinya. Aku yakin, dia pun ingin memahami perasaanku. Itulah yang membuat aku semakin mencintainya.

Tentang Alia, aku hanya mengawasi kehidupannya melalui status yang ia umbar di Facebook. Jika rasa rindu akan senyumnya yang indah itu datang mengusik, aku buka kembali akun Facebook yang sudah lama tak aktif. Menatapnya di sana. Melihatnya tersenyum melewati hari-hari yang berat. Ia pasti baik-baik saja. Aku yakin, suaminya pun mulai memaafkannya. Sepertinya begitu. Atau mungkin suaminya masih tak tahu hubungan kami? Entahlah.

Alia pernah menulis, “Terima kasih buat pelajaran atas kesalahan itu. Sekarang aku tahu, lelakiku jauh lebih baik ketimbang lelakinya yang murahan dan pembohong. Dan dia, wanita bodoh yang masih mau menerima lelaki macam itu!”

Aku terenyuh. Benarkah memaafkan kesalahanku adalah suatu kebodohan? Bukan! Bagiku, Rany justru wanita yang hebat. Kebodohan itu milikku, yang telah menyia-nyiakan wanita seperti dirinya.

Ah, sudahlah. Di sini memang aku yang bersalah. Karena telah melukai perasaan dua wanita yang kucintai. Asalkan, selama Alia baik-baik saja di sana, aku bisa bernapas lega. Dia benar-benar menepati janjinya.

Bahagia, walaupun kami sudah tak bersama lagi ....

***

“Bisakah seorang lelaki itu berkata jujur, Yah?”

Tiba-tiba Rany mengucapkan pertanyaan yang membuat kami berdua merasa canggung. Iya, bisakah lelaki sepertiku ini berkata jujur?

“Tergantung, Bunda. Kadang ada yang tak bisa kami ungkapkan. Bukan karena kami ingin mendustai wanita yang kami cintai. Namun lebih ingin menjaga perasaannya.”

“Termasuk ketika kalian sedang jatuh hati pada perempuan lain?” Pertanyaan keduanya menusuk. Hampir sama sakitnya seperti ketika tatapan itu seakan-akan ingin merobek mataku.

“Iya,” jawabku pasrah.

Detik-detik bunyi jarum jam menguasai senyap di sekeliling kami berdua. Malam ini, Rany tengah duduk di sofa biru. Beberapa menit lalu, dia tengah asyik membaca sebuah buku. Sebuah tulisan putih besar terpampang di sampulnya, ‘After The Affair’. Dia pernah berkata, buku itu sudah banyak mempengaruhi pemikirannya. Itulah salah satu penyebab mengapa Rany bisa menjadi sekuat karang dalam menghadapi traumanya.

Ironis. Bagaimana bisa sebuah buku mampu merubah pikiran orang lain? Aku benar-benar tak habis pikir.

“Lalu, jika kalian para lelaki benar-benar mencintai perempuan lain dan menyembunyikannya dari kami, apakah itu sudah pasti bisa dikatakan, kalian ingin bersamanya dan tak ingin kami, para istri ini mengetahuinya?”

Hatiku semakin patah. Retakannya membesar. Aku enggan menjawab. Seolah pertanyaan itu sedang menghakimi kelakuanku.

“Ayah, Bunda sedang tak ingin menghakimi. Bunda hanya ingin tahu dari sisi pemikiran lelaki, itu saja.” Rany terkekeh. Benar katanya, tak ada rasa marah sedikit pun di pancaran bola matan cokelat tua itu.

Mulutku bergumam pelan. Rany membalasnya dengan kerlingan nakal.

“Ayah, Bunda takkan mau kalah dengan masa lalu.” Nadanya mantap. Seolah dia ingin menunjukkan padaku bahwa dia telah benar-benar melupakan kebenciannya. Kulempar senyum padanya. Setidaknya, aku senang Rany telah berhasil mengalahkan traumanya sendiri.

“Jadii ..., apa Ayah sekarang mau membuka hati Ayah tentang cinta dua tahun lalu?”
Rasanya, kepalaku dijedot dengan halus oleh kata-kata yang baru saja dia ucapkan. Tak kusangka, wanitaku yang ini sudah semakin pandai memainkan perasaan suaminya. Aku garuk-garuk kepala. Belajar dari mana dia? Batinku.




~ 0 ~





Sua




"Selamat tinggal, kawah yang kesepian ...."



“Iya, Ayah lagi jalan-jalan di Royal Plaza. Mau beliin baju buat anak-anak. Bunda mau nitip apa? Terangbulan keju? Oke, Sayang, love you.”

Setelah menutup percakapan dengan Rany, aku pun bergegas menaiki tangga eskalator menuju salah satu stan pakaian anak-anak. Pelan-pelan, mata ini memilah satu-persatu baju yang dijual. Sedikit bergumam, sedikit menggeleng, sedikkit lagi bimbang memilih. Seharusnya, ini pekerjaan wanita. Tetapi entah mengapa, hari ini setelah pulang kerja, hatiku seolah membujuk tubuh ini untuk datang kemari.

Waktu terus berjalan lambat seiring kegalauanku memilih warna baju. Lalu tiba-tiba, jala mataku menangkap sosok perempuan berambut ikal dengan tubuh sintal yang selalu kurindukan. Iya ... Ia Alia. Perempuan itu berdiri di ujung kanan, sedang menggendong seorang gadis kecil berusia tiga tahun, Zie. Aku mengenal gadis cilik itu. Zie adalah anak tetangganya yang suka sekali ia ajak ke mana-mana. Alia sangat menyayangi Zie, seperti anaknya sendiri. Beberapa kali ketika kami bertemu, dulu, Alia pernah sekali-dua kali mengajaknya.

Aku langsung bergeming. Tubuh ini tiba-tiba kaku. Mataku menyapu sekeliling Alia, mencoba menemukan sosok suaminya, Sony. Namun tak kujumpai lelaki jangkung itu. Sepertinya, Alia tengah berdua saja dengan Zie. Haruskah aku menghampirinya lalu berkata, “Hai, apa kabar?” Atau cukup diam di sini saja sambil terus memuaskan kerinduanku dengan menatapnya tanpa berkesip sedikit pun? Atau ..., aku segera pergi menghindar agar dia tak melihatku juga?

Akh! Otak rasanya mau meledak. Jika sudah meledak, pasti akan berhamburan ke lantai dan ada tulisan kata ‘malu’ tercecer di mana-mana.

Di saat kegundahan itulah tiba-tiba Alia membalikkan badannya. Mata kami bertemu. Dan tanpa sadar, aku memalingkan muka, mencuri langkah menghindar. Pergi dari hadapannya.

Benar kata Alia. Aku lelaki pengecut, yang bisanya hanya lari ....

Setelah sampai rumah, debar jantungku masih belum bisa terhentikan. Ada rasa sesal mengusik diam-diam. Sedikit sih. Tapi, ya sudahlah.

“Loh, mana bajunya anak-anak? Katanya tadi beli,” Rany menghambur di hadapanku, menyambut dengan wajah yang sedikit heran. “Nah, terangbulannya juga ..., kok gak ada sih, Yah?”

Aduh. Saking terburunya, aku lupa membelikan makanan kesukaan Rany. Baju-baju itu juga, sudah tak sempat lagi terbeli. Bodoh.

“A-anu, tadi kelupaan kalau kartu debit Ayah tertinggal di dompet satunya,” kilahku sambil segera menghindari Rany dan masuk ke dalam kamar tidur. Tak ingin aku mendengar lagi pertanyaan lain dari bibir Rany yang sangat lihai mempertanyakan sisi lemah kebohonganku. Dia seperti detektif! Selalu tahu mana saat aku berkilah atau berkata jujur.

Setelah berganti pakaian, aku menghampiri Rany kembali. Mengecup keningnya dan mencoba basa-basi.

“Masak apa?”

“Sayur asam.”

“Wah, enak. Bunda sudah makan malam.”

Rany menggeleng.

“Memang mau nungguin Ayah. Pingin makan malam bareng.”

“Makan yuk.”

Rany mengangguk. Kuikuti langkahnya menuju arah dapur. Obrolan kami terasa hambar. Hatiku tak bisa dibohongi, masih tetap saja memikirkan sosok Alia.

Debaran, kerinduan, lalu ... cinta itu hadir kembali.

***

“Ayah tidak tidur?” Rany menghampiriku yang tengah duduk di teras depan. Blackberry kesayangan tergenggam di tangan. Rindu masih menelisik hati setelah perjumpaan di Royal Plaza tadi. Aku ingin menjumpai kekasihku kembali. Setidaknya, melihat senyum tercantiknya di akun itu.

“Belum ngantuk. Sebentar lagi,” sahutku, sambil berusaha menyembunyikan ponsel.

“Ya sudah, Bunda kelonin Jenna dulu, ya?”

Aku mengangguk.

Setelah Rany menghilang dari balik pintu depan, aku kembali membuka ponsel. Wajah manisnya menggiurkan. Alia selalu tampak ceria. Itulah yang membuatku betah untuk selalu berada di sisinya. Ia perempuan yang energik. Binar wajahnya menggiurkan. Tak seperti Rany yang dewasa dan lembut. Alia lebih berapi-api. Lebih menggairahkan.

“Kau masih saja pengecut seperti dua tahun lalu, Phoe. Apa kau lupa dengan satu kata yang seharusnya kau ucapkan padaku?”

Dadaku sakit. Aku tahu maksud status Alia itu. Tahu sekali.

***

Penampakan Cafe Orenz Blue masih seremang dulu. Sejak perpisahanku dengan Alia, sudah sangat jarang cafe ini kudatangi. Ini satu-satunya tempat yang penuh kenangan akan dirinya di kota ini. Hatiku ciut setiap kali melewati cafe kecil ini. Aku tak ingin kenangan menyeruak, membuatku terkatung-katung oleh sosoknya.

Namun, malam ini tidak. Aku datang kembali. Dengan membawa segenggam harap, semoga aku bisa menemukannya di sini. Aliaku tercinta. Seperti katanya, ada sebuah kata yang seharusnya kuucapkan padanya.

Kata ‘maaf’.

I Gave you the space so you could breathe
I kept my distance so you would be free
And hope that you find the missing piece
To bring you back to me

Why don't you remember?
Don't you remember?
The reason you loved me before
Baby, please remember me once more

When will I see you again?

....


Bait-bait lagu ‘Don’t You Remember’ yang dilantunkan Adele menyambut. Mataku pelan-pelan menelusuri seisi cafe. Di sudut, tepat di samping pohon pinang, aku melihatnya, perempuanku. Dengan langkah mantap namun lutut yang bergetar karena gugup, aku menghampirinya.

Alia menatap tajam. Dingin. Kuletakkan tubuh, duduk di hadapannya.

“K-kau sendirian?” tanyaku dengan sedikit bergetar.

“Aku selalu menunggumu di sini, beberapa hari ini.”

“Hari ini kau tak sia-sia, bukan?”

Dia memalingkan mukanya. Sebentar saja, lalu menanarkan kembali pandangannya ke arahku.

“Tumben kau berani menghadapiku?”

Kini, ganti aku yang terdiam mendengar Alia berucap seperti itu.

“Gimana kabar istrimu? Kok sekarang jauh lebih diam, tak menghina aku lagi?”

“Please, jangan bawa-bawa Rany, Lia.”

“Cih! Aku yang tersakiti sama omongannya.”

“Kau juga menyakitinya, karena kita!”

Ia bungkam.

“Maaf.”

Kulihat wajah Alia sudah tak menegang lagi. Dia menghela napas. Seorang gadis pramusaji menghampiri meja, meletakkan segelas besar hot chocolate milkshake pesananku. Setelah gadis itu berlalu, Alia berujar kembali.

“Padahal hanya berkata maaf saja, tapi kau membuatnya seakan-akan itu susah. Ini sudah berapa tahun, baru kau berani?”

“Kau tak tahu apa yang kurasakan selama ini.”

“Kau yang tak tahu apa yang telah kulewati selama kau menghilang dan menelantarkanku begitu saja! Lalu celoteh istrimu itu juga. Seakan-akan, aku ini benar-benar murahan!”

Mata Alia berkaca-kaca. Aku tak mampu lagi memandangnya. Iya, aku terlalu takut untuk ikut tenggelam dalam kesedihannya itu. Walaupun, sudah muncul sedikit di hatiku.

“Aku tahu, aku ini pendosa. Tapi, bukan hak dia menghakimiku dengan mengatakan seperti itu.”

Detik ini, mata itu benar-benar mengalirkan permata beningnya.

“Dia jauh lebih terluka, Lia. Rany bahkan memakan lukanya sedikit demi sedikit. Hingga dia sendiri dikenyangkannya, baru bisa tertawa lepas. Kau jangan terus-terusan mencela Rany. Kita yang berdosa padanya.”

“Kau sangat mencintainya, bukan? Bahkan lebih.”

“Tentu saja. Karena hanya dialah yang masih mau menerima kebusukanku. Entah jika istriku bukan Rany, pasti aku sudah menduda sekarang.”

Perempuan yang kurindu itu menyungging senyum sinis.

“Cih! Sudahlah. Walaupun aku mengeluh tentang dia, kau pasti akan membelanya juga. Hentikan saja percakapan mengenai dia.”

Ya kau benar, Lia. Aku akan selalu bangga dengan istriku. Tapi ..., hati kecilku pun sebenarnya iba melihat dirimu. Jika bukan karena diriku, kalian takkan mengalami luka seberat ini. Akulah yang lebih pantas disalahkan atas semua kejadian lalu. Akulah laki-laki itu!

“Apa kau bahagia?”

Ah, pertanyaan terkonyol yang pernah aku ujar.

“Tentu saja aku bahagia, Ndu. Kau bisa bahagia dengan Rany, mengapa aku tidak bisa bahagia dengan Sony? Dia lelaki baik, pemaaf dan sangat mencintaiku. Tentu saja, aku BA-HA-GI-A!” Alia menjawab pertanyaanku dengan ketus.

“Bukan, maksudku ..., bagaimana hati kecilmu, Lia? Tak adakah sebuah kawah besar di sana, yang masih merindukan sesuatu?”

“Apa?”

“Penyelesaian, mungkin.”

“Apa yang perlu diselesaikan?”

“Kita.”

Kekasihku kembali diam. Ia hanya menatap dalam-dalam. Keheningan merajai kami kini. Diiringi suara deru beberapa mobil yang melalui Cafe Orenz Blue.




~ 0 ~
(bersambung)

PEREMPUAN PERINDU BENIH part 2 (sebuah mininovel)





Dusta Yang Terdedah


"Aku tak mengenalnya. Ia datang begitu saja, lalu meluluhlantakkan kebahagiaan di rumahku."



Kedua kakinya kudekap erat. Aku bersujud tanpa melihat wajah yang sudah pasti tengah terbakar amarah itu. Setiap kalimat yang dia keluarkan dari bibirnya terdengar mengigil. Aku mafhum sekali. Mulut ini tak henti mengiba, memohon limpahan maaf padanya, namun dia bergeming. Hingga akhirnya bibir itu mendekap kebisuan, yang mencekik leherku.

***

Semua berawal ketika suatu pagi aku dikejutkan oleh sosok perempuan yang bertamu ke rumah, Alia. Langit seakan runtuh menimpa kepalaku. Entah apa yang ada di pikiran perempuan itu. Sudah pernah kubilang dengan jelas, bahwa jangan bersinggungan dengan rumah tanggaku. Tetapi tanpa memberi kabar terlebih dahulu, ia berani datang bersama suaminya, sambil membawa buah tangan untuk anak ketigaku yang baru lahir sebulan lalu.

“Siapa dia?” tanya Rany penuh keheranan. Dengan gugup kukatakan kalau Alia adalah teman sekolah kami dulu.

“Benarkah? Aku tak ingat punya teman bernama Alia.”

“D-dia adik kelas kita. Bunda pasti sudah lupa, dia juga pernah ikut PMR, tapi hanya sebentar.”

Walau dengan wajah yang masih terlihat bingung, Rany hanya mengangguk pasrah. Sejalan dengan itu, di antara debaran hati yang tak menentu, kulihat wajah Rany yang terus saja menyimpan rasa keanehan. Seolah ada yang terbesit di benaknya. Aku pun menjadi takut, bagaimana jika wanita cerdas itu mampu mengendus wajah Alia yang bersemu merah tatkala berbicara? Bagaimana jika wanita itu pun mampu membaca rona kekhawatiran di setiap sudut lakuku?

Ah, aku ingin menghilang saja. Segera!

Apa yang kutakutkan itu akhirnya terjadi juga. Malam ini, aku dikejutkan oleh tangisan yang lamat-lamat terdengar hingga ke alam mimpi. Mataku terbuka, mencoba membangun kembali kesadaran dari lelap, lalu bangkit dari ranjang dan mengikuti arah tangisannya.

Rany ada di sana. Terduduk di sudut ruang kamar yang tak kami pakai. Kulihat layar televisi masih menyala, namun tanpa suara. Lalu mata ini menangkap sebuah benda di atas meja jahit yang sudah lama tak terpakai. Blackberry-ku menyala.

Kuraih ponsel hitam kesayangan itu. Seketika mata sayu ini terbelalak lebar. Sebuah chat pribadi antara aku dan Alia terpampang. Kini aku tahu, mengapa istri tercintaku itu melambungkan isakan tangis yang begitu menyesakkan. Rinai matanya terus berurai deras. Hatiku rasanya ngilu, ikut tertusuk kesedihan yang dia buncah tengah malam ini.

Kudekati Rany. Dia berdiri, mencoba menghindar. Tubuhnya menggigil, bisa jadi karena amarahnya padaku. Tanpa pikir panjang aku pun bersujud, menciumi kaki-kakinya yang terletak aroma wangi surga dari ketiga anakku itu.

“Aku minta, ceraikan aku!” Rany berucap dengan tegas namun tetap dengan nada yang gemetaran, membuat hatiku semakin hancur berkeping.

***

Berhari-hari Rany membisu, tak sekali pun dia mau kusentuh. Matanya bengkak. Setiap saat dia bisa tiba-tiba saja menangis atau sekedar menahan sengguk. Hati kecil ini jadi semakin kacau balau. Duniaku, kebahagiaanku, semuanya raib. Seolah tumpuan yang selama ini aku pijak, rapuh. Membuatku jatuh tenggelam di dalam lautan penyesalan, tanpa tahu kapan akan kembali ke darat.

“Dia sudah tahu hubungan kita?” Sebuah pesan singkat dari Alia kubaca.

“Iya.”

“Lalu bagaimana, apa kau baik-baik saja?”

Aku diam. Tak kubalas pesan berikutnya.

“Phoe, katakan padanya, tak ada apa-apa antara kita. Tak terjadi apa-apa.”

Aku masih diam.

“Phoe?”

....

“Phoe!”

Aku diam.

***

“Bawa perempuanmu kemari. Suruh suaminya juga ikut! Jika tidak, aku akan benar-benar meminta cerai darimu. Titik!”

Suara Rany menggema di setiap sudut hati. Dia benar-benar marah kali ini. Aku sudah tak tahu musti berbicara apalagi di hadapannya. Semua salahku, berkelit dengan cara apa pun aku sudah jatuh tersungkur. Takkan lagi didengarkan.

Akhirnya, kuhubungi lagi Alia. Kali ini lewat chat di e-mail, karena nomor teleponnya sudah dihapus oleh Rany.

“Rany memintamu dan Sony ke rumah.”

“Buat apa?! Mengapa harus pakai Sony?”

“Dia ingin bicara.”

“Tidak mau!”

“You must!”

“I would not!”

“Berarti, kau ingin aku kehilangan istriku?”

Alia tak membalas. Pembicaraan itu pun berakhir.

Hampir seminggu sejak percakapanku dengan Alia terputus. Tak ada lagi kabar darinya, sementara Rany masih membungkam. Siang ini ponselku sudah berdering berkali-kali, namun tak kuhiraukan. Aku yakin nomor tak dikenal itu adalah milik Alia, yang telah kuhapal empat digit terakhirnya. Hatiku ragu, haruskah kujawab panggilan itu? Bukankah aku sudah berjanji pada Rany agar tak lagi berhubungan dengan Alia?

Entahlah. Pikiranku semakin berat. Tugas kantor hari ini masih menumpuk. Ditambah dengan ancaman cerai dari Rany, yang sepertinya akan benar-benar terjadi jika aku masih tak mampu menghilangkan sosok Alia di kehidupanku. Haruskah, kami benar-benar berpisah setelah tujuh tahun lebih pernikahan ini, hanya demi seorang perempuan seperti Alia? Hanya demi kenangan konyol yang kukejar beberapa minggu lalu? Ahk!

Sebuah deringan memecah kembali. Bising. Otakku hampir gila dibuatnya. Akhirnya kuputuskan juga untuk menjawab panggilan itu.

“Kau pengecut, ya, Ndu!” Nada Alia marah. Ia bahkan tak lagi menyebutku dengan nama kesayangannya.

“Maksudmu?”

“Kau ngomong apa sama istrimu? Hah! Lihat dia, memaki-maki aku sebagai perempuan murahan di akunnya!”

Memaki Alia? Benarkah? Ohya, aku lupa. Setelah kejadian itu, aku menonaktifkan akun Facebook. Jadi sudah tak mungkin lagi aku bisa tahu, hal-hal apa saja yang tengah mereka berdua ributkan di sana. Tetapi aku yakin, wanita-wanita yang sedang sakit hati seperti Alia dan Rany, pasti mengumbar kemarahannya di media sosial. Mereka berdua pasti sedang perang status saat ini.

“Aku tak mengatakan apa-apa. Dia yang membaca semua chat kita. Semuanya, Alia. Kau tahu, kan, apa maksudnya itu. Semuanya!”

“Cih!”

Setelah mengumpat kemarahannya, Alia menutup telepon. Kuhela napas. Karena rasa penasaran, aku pun mengaktifkan kembali akunku.

Nama itu kucari. Rany Puspasari, istriku. Aku membacanya, melahap satu demi satu status yang dia tulis di wall-nya. Kemudian aku beralih mencari nama kekasihku, Alia Hanna. Pelan-pelan aku menjelajah kalimat-kalimatnya. Lalu ..., perasaan itu mencuat. Sedih, malu, dan sedikit rasa marah.

Ah, wanita-wanitaku ....

***

Sesampainya di rumah, pukul sembilan malam, aku langsung menghampiri Rany yang sudah terpejam di ranjang kami. Kutatap wajahnya. Sisa-sisa air mata yang mengering terlihat sangat jelas. Ini sudah seminggu sejak dia menemukan ketidaksetiaanku.

Trauma yang tengah dia kecap itu begitu menyakitkan, aku tahu sekali perasaannya. Baru kali ini Rany sangat terpukul dengan kenakalanku. Walaupun sudah sering aku berhubungan dengan perempuan lain, Rany masih bisa memaafkan. Dia tahu, saat itu aku hanya main-main. Tapi tidak untuk kali ini. Hati sudah ikut terpaut di dalamnya.

Ah, lelaki macam apa aku ini. Sungguh, aku telah gagal menjadi pelindung hati istriku sendiri. Bahkan aku berani meninggalkannya seorang diri dan bersenang-senang dengan Alia, tatkala dia baru saja seminggu melahirkan bayi kami. Jika sudah begitu, akulah yang lebih pantas disebut jalang. Bukan Alia. Seharusnya kata murahan itu untukku. Karena, jika seandainya lelaki ini mampu menahan nafsunya sendiri, sudah barang tentu Alia takkan berani lebih mendekat di kehidupan pribadiku.

Benar begitu, bukan ... Rany? Ah, tanpa senyummu, jiwa ini lelah, Sayang.

Kuembus lenguh sejenak, lalu merebahkan tubuh di samping wanita yang baru sebulan lalu melahirkan anak ketiga kami itu. Memeluk punggungnya yang sedang membelakangi. Rambut panjangnya kuelus lembut. Tak terasa, air mata meleleh. Sesuatu yang haram kulakukan, namun kali ini benar-benar tak kuasa untuk membendungnya.

“Maaf,” desisku.

“Maaf untuk apa?”

Aku terkejut. Tiba-tiba saja Rany yang kukira tengah lelap itu bersuara.

“Bunda belum tidur?” tanyaku. Rany membalikkan badannya. Dia menatapku. Lindap.

“Ayah meminta maaf untuk apa? Bunda tanya.”

Malu, aku yakin wajah ini pasti tengah  memerah.

“Karena selama ini Ayah selalu menyakiti hati Bunda. Ayah tak pernah memberikan kebahagiaan pada Bunda. Bisanya hanya membuat Bunda nangis.”

“Bunda masih belum mengerti, mengapa Ayah suka mempermainkan perasaan Bunda. Selalu saja ber-SMS mesra dengan perempuan lain. Mengapa?”

Mulutku tertutup rapat. Tatapan mata ini kulempar pada dinding di belakang tubuh Rany. “Jujur, Yah. Bunda ingin tahu, di mana letak kekeliruan kita selama ini. Apakah Ayah sudah bosan dengan Bunda?” tanya Rany kembali.

Dengan wajah melusuh, akhirnya aku menjawab pertanyaannya, “Mungkin ..., bisa dibilang itu naluri lelaki. Iya, Ayah tahu itu salah, tapi Ayah tak bisa menghilangkan kesenangan konyol ini. Ayah bodoh dan murahan, bukan? Selalu menyia-nyiakan Bunda. Padahal, selama ini Bunda selalu memaafkan kenakalan Ayah.”

Istriku melempar napasnya keras-keras. Dia pasti merasa jengkel dengan jawabanku.

“Lalu, bagaimana dengan perempuan itu? Mengapa dia marah-marah ketika aku mengatainya murahan? Bukankah itu kenyataannya. Dia bersuami, tetapi masih saja mau dibawa pergi oleh suami orang lain. Sebutan apalagi yang pantas buat dia selain murahan?”

“Bunda, sudahlah. Aku pun sudah sangat menyakiti hatinya.”

Mata istriku melotot tajam. Ah, aku baru saja salah memilih kalimat. Maksudku, agar dia mau menghentikan status-status konyol yang terus menyerang Alia, kemudian Alia membalasnya dengan lebih konyol lagi. Hal yang menggelikan seperti itu, takkan pernah ada habisnya jika salah satu dari mereka tak ada yang mengalah dan berusaha berdamai dengan kesakitannya sendiri. Tapi, wanita takkan mau disuruh diam, bukan? Walaupun itu pada akunnya sendiri.

“Oh, jadi begitu. Ya, sudahlah.”

Rany kembali membelakangiku. Dia marah.

“Bunda ....”

“Aku bilang sudah. Setidaknya, biarkan Bunda sendiri agar bisa menjernihkan hati. Bunda sudah lelah. Capek makan hati terus!”

“Maaf, ya, Bun ....”

Rany terdiam. Aku tahu saat ini dia pasti sedang membenamkan seguknya di sela-sela bantal.

***

Alia berteriak-teriak tak keruan di akunnya. Jiwanya benar-benar tengah terluka. Aku membaca status-statusnya siang ini, sambil menelan ludah. Iba. Rasa bersalahku padanya menjadi semakin besar.

‘Kau pengecut, Ndu. Pengecut! Menghilang begitu saja setelah apa yang terjadi!’

‘Seharusnya, jangan kau yang menghilang. Aku-lah yang lebih dahulu menghilang. Agar aku tak seluka ini, Ndu.’

Ah, iya ..., aku sudah sangat melukainya. Melecuti hati kekasihku dengan begitu angkuh.

‘Aku bukan murahan! Kau tahu itu, Ndu. Kau tahu itu! Bungkam mulut wanitamu, sekarang juga!’

Alia ..., jika saja aku mampu hadir di sana dan memelukmu. Meminta maaf atas semua luka yang kuberikan padamu. Ah, iya ... Hanya maaf, kata itu yang aku punya untuk kalian berdua.




~ 0 ~
(bersambung)

Jumat, 05 Desember 2014

PEREMPUAN PERINDU BENIH part 1 (sebuah mini novel)




Perempuan Yang Kusebut Ia Kekasih 



"Ini pasti sebuah hukuman dari Tuhan, karena aku seorang yang jalang."



Malam ini, ketika bulan merah pucat tengah bersinar, kulihat perempuan kesayanganku duduk bersanding dengan kesedihan. Wajahnya layu. Lenguh napasnya sepenggal demi sepenggal. Meninggalkan aroma kopi vanila latte yang membaur dengan udara di wajahnya. Beberapa detik lalu, mata itu terlihat hampir meleleh.

Kemudian, hatiku terenyuh.

“Ada apa, Phie?” tanyaku dengan menyebut nama kesayangan untuknya.

Perempuanku tetap bergeming. Bibirnya masih terbungkam rapat. Ia hanya menatap dalam diam. Berkedip sebentar, lalu melempar kembali pupil matanya ke arah sudut-sudut cafe.

“Phie ...?”

“Phoe,” ia berdesis. Tangan kirinya tetap setia menopang dagu. Korneanya masih sasar, melahap tiap jengkal suasana di sekelilingnya. Seorang pramusaji pria baru saja melewati tempat duduk kami. Kulihat perempuanku berkedip sekali. “Apa kau percaya dengan karma?” tanyanya kemudian.

“Kok kamu tiba-tiba ngomong seperti itu sih, Phie?”

Ia tak menjawab.

Hening.

Pramusaji pria itu kembali melintas. Kali ini tangannya membawa nampan bulat berwarna hitam, penuh dengan cangkir kopi yang sudah kosong. Sejenak, mataku beradu dengan mata pemuda itu. Dia melemparkan senyum. Ramah.

Cafe Orenz Blue tempatku melepas rindu bersama perempuan yang sedang duduk di hadapanku itu, selalu ramai pengunjung. Di sini nyaman. Teramat malah. Kami bisa melihat lalu lalang kendaraan yang menerobosi kegelapan dengan jelas. Lampu-lampu mobil dan motor itu bagaikan kunang-kunang raksasa yang melesat. Indah.

Di pojok dekat pohon pinang setinggi bahuku inilah tempat kami memeluk kebersamaan. Selalu di sini. Bersembunyi dari pandangan pengunjung lain yang mungkin mengenali salah satu dari kami. Ini adalah pertemuan terlarang, tak mungkin bagi kami menunjukkan diri terang-terangan.

Dua tahun lalu, aku bertemu kembali dengannya melalui salah satu sosial media. Facebook. Sebuah perjumpaan tanpa unsur kesengajaan. Lagu lama, bukan? Namun memang seperti itulah takdir kami. Setelah lebih dari dua belas tahun berpisah, kisah masa kanak-kanak itu pun tersambung kembali. Hingga saat ini.

Aku, dan juga dirinya, tak pernah menginginkan semua ini terjadi. Bukan kehendak kami. Bukan. Namun lebih karena ketidakberdayaan yang tak mampu melawan hati kecil. Logikaku, logikanya, melebur. Raib diterbangkan oleh benih-benih cinta yang kembali tersemai.

Salahkah? Iya, karena sebenarnya, aku dan dirinya, sudah berkeluarga.

Tetapi kami hanyalah manusia biasa, yang begitu angkuh menghalalkan sebuah kesalahan. Pembenaran kami berkacak pinggang dengan sombong, lalu dengan bangga menerobosi hati nurani masing-masing.

“Aku sudah sangat bersalah sama istrimu, Phoe, dan inilah balasanku.” Kali ini, matanya benar-benar meleleh. Kuraih jemarinya. Meremas dengan lembut.

“Phie, kamu itu ngomong apaan sih? Jangan bikin aku takut, dong.”

Ia tersenyum. Di balik luka yang masih belum kuketahui apa itu, ia masih saja tersenyum. Aku mencintainya karena ia perempuan yang lincah, ceria, dan penuh semangat. Namun kali ini, iya ..., baru kali ini kulihat sisi kelemahannya.

“A-aku ....”

“Apa?”

Isaknya makin deras. Berurai-urai membasahi semua rona wajahnya.

“Selamanya, a-aku ... Aku takkan mempunyai anak dari rahimku sendiri, Phoe.”

Terhenyak. Malam itu, aku merasakan sebuah tombak mencabik-cabik jiwa kelelakianku.

***

“Apa kau baik-baik saja, Phie?”

“Mana mungkin aku bisa baik-baik saja.”

“Setidaknya, setelah kau bercerita padaku, apakah kau sudah lebih baikan?”

“Apa itu merubah sesuatu?”

“Tidak.”

Kuhentikan ketikan jari di atas tombol Blackberry. Bodohnya aku. Sudah tentu ia takkan bisa baik-baik saja dengan keadaan yang mengerikan bagi semua kaum hawa itu.

“Apa kau mau mendengarkan sesuatu? Sebuah lagu, mungkin.”

“Kau belum tidur, Phoe? Bagaimana dengan istrimu?”

“Dia sudah tidur. Tenang saja.”

“Ini sudah hampir pagi. Apa kau tak lelah?”

“Aku masih mengkhawatirkanmu, Phie. Mana mungkin hatiku tenang saat kau sedang terluka seperti itu.”

“Ini bukan luka, Phoe. Ini hukuman. Ini karmaku.”

“Jangan berkata begitu.”

“Memang keadaannya seperti ini!”

Ah, perempuanku sungguh sedang terluka. Apa benar ini hukumannya? Jika benar begitu, bagaimana denganku? Apa hukumanku? Bukankah diri ini juga seorang pendosa, sama seperti dirinya?

Kutekan tombol kembali. Kali ini mengirimkan sebuah lagu untuknya. Perjalanan file masih melambat. Lalu setelah semua kotak berisi warna biru itu penuh, aku bernapas lega.

“Kukirimkan lagu untukmu, Phie. Semoga hatimu bisa lebih tenang.”

“Tengkyu, Phoe.”

Aku tersenyum. Sejenak, rasa ingin mendengarkan lagu itu datang. Jauh di sana, ia pasti juga tengah mendengarkannya. Lalu kuputar lagu itu. Meresapinya. Tak terasa, air mataku jatuh.

When you try your best but you don’t succeed
When you get what you want but not what you need
When you feel so tired but you can’t sleep
Stuck in reverse

And the tears come streaming down your face
When you lose something you can’t replace
When you lose someone but it goes to waste
Could it be worse?

Lights will guid you home
And ignite your bones
And i will try to fix you

...

Malam hampir meninggalkan waktunya. Lagu itu semakin lamat terdengar. Sejenak kemudian, lelap datang menjemput. Dalam mimpi, aku bertemu dengan seorang malaikat betina dengan sayap yang patah berkecai. Datang menghampiri, sambil berurai air mata berlian.

***

“Ayah baik-baik saja?”

Istriku tiba-tiba sudah duduk di samping ranjang. Tangannya membelai rambutku. Matanya berkesap-kesip. Binarnya menghangat.

“Ayah mimpi apa? Mengapa dari tadi tidur sambil terisak?”

Aku mengigau? Ah, ya ... Aku kembali ingat, mimpi itu seolah nyata. Hatiku masih terasa perih. Wajah malaikat itu, mencuri rona kekasihku.

Sesakit inikah, rasa mencintai itu?

“Bunda ....”

Kupeluk punggung Rany, merebahkan kelelahan di bahunya. “Ayah ingin seperti ini, sebentar saja.” Aku memejam mata.


“Lama juga gak papa kok.”

“Aku sayang, Bunda.”

“Bunda tahu.”

Rany membelai tanganku yang tengah melingkar di perutnya. Tuhan, aku banyak menanam benih luka di hatinya.

“Maaf ...,” desisku.

***

Pagi pukul sembilan. Mobilku sudah berhenti di tempat biasanya. Tepat di bawah pohon akasia merah yang kala ini tengah menggugurkan kelopaknya. Setengah jam aku menanti. Perempuan berambut ikal panjang itu kulihat tengah menyeberangi lalu lintas Jalan Diponegoro. Semenit kemudian, ia menghampiriku.

“Mana suamimu? Tumben kau berangkat kerja sendirian,” tanyaku padanya, ketika ia sudah memasuki mobil.

“Sudah berangkat setelah subuh tadi.”

Ia tersenyum. Matanya bersinar. Namun masih kurasakan duka di tiap sudut-sudutnya.

Mobil hitamku perlahan berjalan kembali. Jalanan Sabtu ini tak terlalu padat. Beberapa perkantoran di Surabaya meliburkan karyawannya di hari Sabtu-Minggu. Termasuk diriku.

“Sejak kapan kau tahu keadaanmu itu, Phie?” tanyaku memecah keheningan. Sedikit rasa canggung masih terasa menggigit setelah kudengar kabarnya semalam yang sangat mengejutkanku. Bagaimana seorang perempuan akan bertahan dengan situasi seperti ini? Kuatkah ia menahan lukanya?

“Tujuh bulan lalu. Sebelum kita bertemu kembali di Royal Plaza.”

Ia menjawab dengan tenang. Bagaimana bisa seperti itu? Setenang itu?

“Aku kadang lelah, Phoe. Aku ingin menikmati waktuku sendiri. Tanpa dirinya. Apakah kau ..., masih mau menculikku kembali, seperti dua tahun lalu?”

Jiwaku tumbang, aku terkejut. Seketika darah di dalam nadi-nadiku berdesir cepat. Seolah berjalan terbalik dari jalur yang telah ditetapkan-Nya. Menculiknya? Ah, memang sudah bukan hal baru untuk lari dari dunia nyata yang membelenggu perasaan kami. Hanya saja ..., masih mungkinkah aku melukai Rany kembali? Setelah sikap maaf yang dia berikan kepadaku?

Kebimbangan itu semakin menyudutkanku. Lalu, dari hingar bingar rasa yang ia pendar dari bola matanya yang sebening embun itu, aku melihatnya. Sebuah kenangan. Melesat tak berbelas kasih, mengoyak ingatan.




~ 0 ~





Melukis Kenangan



"Ini adalah tempat, di mana hanya kita yang tahu."



Sebenarnya, di otakku masih terasa segar aroma kenangan dua tahun lalu bersama dirinya. Hari itu, untuk pertama kali aku melarikan perempuan dari lelaki lain. Aku berkata padanya, “Maukah kau mengukir kenangan bersamaku? Setidaknya, sekali saja.”

Lalu tanpa kusangka, perempuan itu mengiya-kan ajakan konyolku ....

***

“Aku sedang marah pada waktu yang sombong pada kita, Phoe. Dua belas tahun, kenapa tak sekali pun dia memihak pada kita?”

Kutatap matanya. Layu. Entah ia tengah menerawang pada apa. Lalu pupilku beralih menekuri kaki-kaki perempuan itu, yang sedang asyik menerjang ombak. Melumat buih laut hingga hilang dibenamkan pasir pantai. Sesekali ia tersenyum, mungkin karena rasa geli. Lalu mimiknya kembali pulang pada raut wajah yang kosong.

Senja Pantai Papuma semakin lahap ditelan garis langit. Carut marut awan berwarna merah emas membaur pada denting-denting perasaan kami yang biru. Sebuah rindu terhimpit ketidakberdayaan. Pada kisahku dengannya di masa kanak-kanak dahulu.

Alia adalah gadis cilik yang sering melintas di depan rumah, sambil mengayuh sepeda kuning berlapis warna keperakan. Wajahnya lugu nan manis. Sosoknya periang.  Berminggu-minggu kemudian, kisah cinta monyet di antara kami itu pun bersambut. Aliaku baru dua belas tahun kala itu. Sedangkan aku, lima belas.

Rasaku padanya hanya bertahan selama sebulan. Tak lebih. Karena mata mudaku, menangkap sosok gadis yang lebih cantik dari Alia. Kisah kami pun berakhir tanpa kata perpisahan. Kutinggalkan dirinya. Aku tahu, hatinya dipenuhi dengan pertanyaan, “Mengapa?” yang tak pernah bisa terjawab.

Setelah pertemuan kembali di jejaring sosial itu, kami menghabiskan malam-malam penuh gejolak di ruang chat pribadi. Aku dan Alia menikmati masa-masa mengenang kembali kisah lalu kami. Memutar otakku agar bisa kembali padanya. Tentang lagu-lagu masa kecil yang kami perbincangkan, tentang film favorit yang pernah kami lihat berdua, juga tentang tempat-tempat yang pernah menjadi persinggahan kami.

Lambat laun, rasa itu muncul kembali. Menyelusup di hatiku. Bagaikan sebuah ketukan lembut dari seorang gadis yang selalu kutunggu kedatangannya, lalu aku membuka pintu, merengkuhnya dan menerima pernyataan cintanya.

Dadaku bergejolak. Tiap detik selalu kutahan agar dia tak melangkahi kesadaran. Ini buta. Bukan hal yang nyata, dan aku harus bisa melawannya.

Namun, aku bodoh. Kalah dengan perasaanku sendiri.

“Maaf karena aku telah datang dan membuka kembali kenangan kita di hatimu. Seharusnya, kisah itu tertutup selamanya,” katanya waktu itu. Ketika kuberitahu perasaanku yang sebenarnya.

“Bukan salahmu. Aku yang menghendakinya. Maka aku-lah yang bertanggung jawab atas rasa ini.”

“Kita hanya manusia, bukan?”

“Iya. Kita hanya manusia.”

Setelah itu, Alia mengakui bahwa ia pun merasakan hal yang sama seperti perasaanku. “Aku tak mampu membendungnya juga. Maafkan aku,” ucapnya pelan.

“Kau melamun apa?”

Perempuan tercintaku sudah menambatkan wajahnya di samping. Ia tiba-tiba sudah menemani duduk di batang pohon yang sengaja ditumbangkan di tepi pantai ini.

Aku membalas pertanyaannya dengan tersenyum, “Ah, tidak kok.”

Mata Alia kemudian kembali menikmati senja. Seperti sedang melumat warna itu di penglihatannya. Dahulu, Alia pernah berkata bahwa ia sangat menyukai warna langit yang kuning keemasan. Juga pada bulan yang sedang menyabit sempurna. Karena itulah kubawa ia di sini. Ini, tempat terindah yang kuhadiahkan padanya.

Hanya teruntuk dirinya.

“Apa kau pernah memikirkan, bagaimana seandainya kita belum saling terikat dengan pernikahan, Phoe?”

Aku terdiam. Pertanyaan itu sudah berbulan-bulan ini kutanyakan pada diri sendiri. Namun tak pernah ada jawaban.

“Kau tak bisa menjawabnya? Ah, tentu saja.” Alia manggut-manggut.

“Tidak, bukan begitu. Kau pun sebenarnya tahu, pertemuan ini takkan mungkin kita genggam selamanya. Kita akan saling menyakiti, demikian pula dengan orang yang mencintai kita. Bagiku, sudah cukup seperti ini. Kau dan aku, hanya sebagai hantu bagi satu sama lain. Sesuatu yang tak nyata.”

Alia tersenyum kembali. Senyum yang sama dengan gadis kecil bertahun-tahun lalu.

Ah, aku merindukannya ....

“Setidaknya, aku memiliki kenangan indah bersamamu di sini. Ini adalah tempat, di mana hanya kita saja yang tahu, Phoe.”

“Dan setidaknya, aku bisa memberimu kebahagiaan yang belum sempat kuberikan di masa lalu.”

Matanya mengerjab, seolah ingin menangkap kata-kata yang baru saja kulambungkan, lalu mendekap erat di hatinya. Dada ini semakin bergetar. Sebuah bayangan seorang wanita yang sedang setia menantiku di sana menyapa. Kutepis. Wajah itu melenyap.

Senja durjana kini sudah menghilang. Digantikan kegelapan yang lamat-lamat mulai merajai pandangan kami berdua. Alia kembali bermain air laut yang makin girang memepermainkan kaki-kaki telanjangnya. Ia berlari. Diam berhenti. Berkali-kali menghentakkan kaki ke pasir yang tergenang air. Baru kemudian berlari kembali.

Ah, sungguh cantiknya ia.

Kubenanamkan batang rokok ke pasir pantai. Sedetik kemudian Alia berlari menghampiri dengan tawa lebar kegirangan. Napasnya tersengal. Sambil menelan ludah, ia berseru, “Aku tadi melihat tebing di atas sana. Sepertinya pantai ini akan tampak semakin indah jika kita melihatnya dari sana!”

“Benarkah?”

Kekasihku mengangguk. Tanpa babibu lagi, kami berdua berjalan menuju arah tebing yang ditunjuknya. Jalan yang kami lalui lebih terjal. Namun sama sekali tak menyurutkan niatku dan dirinya untuk mendaki tebing yang menjorok ke pantai itu. Dan benar saja, Pantai Papuma yang tengah bermandikan cahaya bulan gendut malam ini, jauh kelihatan lebih indah dari sini.

“Bagaimana?” tanya Alia. Rambutnya berkibar diterpa bayu.

“Cantik!”

Kami berdua tertawa.

Angin pantai yang menjamah tebing semakin dingin. Kulihat Alia menahan gigil sambil menekuk kedua tangannya di depan dada. Napasnya mulai mendesah tak keruan. Aku melepas jaket yang menempel di tubuh, lalu menyematkannya di bahu perempuan itu. Sejenak, mata kami beradu. Dalam. Teramat dekat. Kelelakianku mulai bergejolak. Degupnya naik turun. Tanpa sadar, Dewa Renjana hadir di antara kami, berbisik mantra guna-guna.

Cepat-cepat, Alia memalingkan muka. Mengambil langkah menjauh dariku. Sedetik kemudian, aku teringat akan sesuatu yang menyayat batin. Kesadaranku kembali.

Iya, kami memang saling mencintai. Namun jiwa kami tidak serendah itu. Ada sebuah batas yang tak seharusnya kami langkahi di sini. Ada sebuah cinta, yang harus kami jaga kehormatannya. Di sana. Tempat tujuan kami untuk pulang.

“Phoe! Kaulah cinta pertamaku! Sampai kapan pun, kau tetap yang pertama bagiku!” Tiba-tiba Alia berteriak di bibir tebing. “Berjanjilah kau akan selalu mengingatku! Berjanjilah kau akan selalu mencintaiku!”

Aku terhenyak. Jantung ini semakin kencang berdenyut di akarnya. Perempuan itu menoleh menatapku. Bibirnya kembali merekah seperti biasanya. “Apa kau mau berjanji padaku, Phoe?”

Gemetarku sedikit reda. Berganti sebuah rasa tentram tatkala menatap sosok cantik yang menggoda di hadapanku itu.

“Iya, aku janji. Aku akan selalu mencintaimu, bahkan hingga seribu tahun sekali pun. Dan kau, berjanjilah untuk selalu bahagia, walaupun setelah ini mungkin kita takkan kembali menjadi manusia yang gila karena perasaan ini. Apa kau bisa, Phie?”

Rinai Alia meleleh.

“Iya, aku janji ....”

Bulan merah pucat memandang kami dari kejauhan. Aku berdiri memeluk Alia yang yang tengah limbung karena lukanya. Malam pun pingsan di depan kami. Hening. Di bibir tebing, kami putuskan untuk bersanding. Duduk sambil menautkan jari jemari. Menatap gelap, berdecap harap agar semua ini tak cepat berlalu di antara kami.

Selamanya ....

Namun fajar telah tiba. Alia menangis kembali. Kusentuh dagunya, lalu kesalahan itu terjadi juga. Ciuman yang lembut, laksana marshmallow yang lumer di lidah. Setelahnya, ia berkata pelan sambil menundukkan kepala, “Tak ada yang terjadi di antara kita, Phoe. Tak ada yang terjadi. Kita pantas untuk melupakan malam dan fajar hari ini.”

***

Aku pulang. Tepat pukul satu pagi buta, di hari berikutnya. Rany menyambut dengan wajah yang tampak lelah. Seraut kekhawatiran itu ada. Sementara aku, setitik rasa bersalah padanya muncul. Hanya setitik.

“Ayah belikan nasi kucing kegemaran Bunda. Mau makan sekarang?” kataku mencoba mengalihkan perasaanku sendiri.

Rany mengangguk. Kemudian kami berdua duduk di bawah lantai rumah. Dia membuka pembungkus nasi dari daun pisang itu. Isinya menyembul. Menggiurkan. Dengan lahap, dia memakannya. Kuelus rambut Rany penuh kasih. Kukecup keningnya. Dia tersenyum.

“Enak,” ujarnya dengan mulut yang penuh, mengunyah nasi dan paru goreng.

Sebuah pesan singkat masuk. Kubaca nama pengirimnya, Phie. Aku sedikit menghindar. Berpura-pura berdiri menghadap lemari es di samping Rany.

“Kau sudah pulang?”

“Sudah, baru saja sampai,” balasku.

“Baguslah. Aku mengkhawatirkanmu.”

“Aku baik-baik saja. Tidurlah.”

“Kau juga, istirahatlah. Bermimpilah tentang kita di pantai itu.”

“Aku mencintaimu, Phie.”

“Aku juga, Phoe. Terima kasih buat kenangan yang kau berikan dua hari ini.”

“Good night, Phie.”

“Night, Phoe.”

“BBM dari siapa? Kok malam-malam sekali?” Aku terkejut. Tiba-tiba saja Rany sudah berada di belakang. Mulutku gagap. Segera ku-endchat percakapan dengan Alia.

“A-anu ... I-itu Aris,” jawabku sekenanya. “Bunda sudah kenyang? Tidur, yuk.”

Rany memelukku. Rapat. Lalu kami berjalan ke kamar. Menikmati kebersamaan yang telah kulupakan dua hari lalu.




~ 0 ~

(bersambung)

Minggu, 30 November 2014

LELAKI DARI MASA LALU



"Mengapa kau harus kembali di kehidupanku?"

"Ma-maafkan aku, Ra. A-aku ...."

"Aku apa?"

"Aku memang salah, Ra. Tapi kau tahu aku terpaksa melakukannya."

"Jadi keterpaksaan itu adalah suatu pembenaran atas semua yang telah kau lakukan padaku?"

"Tidak, bukan begitu. A-aku ..., aku mau kau kembali padaku."

"Kembali padamu?"

"Aku masih sangat mencintaimu, Ra. Kumohon, kembalilah bersamaku. Aku akan membayar semua kesalahanku padamu."

Kutatap wajahmu yang melusuh. Hujan meliris, kita masih berdiri di bawah pohon beringin ini. Aku menjadi bisu. Kau pun memilih bertahan dalam penantian, menunggu sebuah jawab dari bibir ini.

Ah, entah sudah berapa purnama kita berpisah. Walaupun lukisan wajahmu yang terpatri di dinding kenangan masih terlihat begitu jelas, namun tak sekali pun kumimpikan untuk menjumpaimu kembali. Kau laksana bulan yang takkan pernah tergapai. Kau lihat, benteng itu masih kokoh berdiri di antara duniaku dan milikmu. Siapakah aku, Ru? Siapakah pula dirimu, akan selalu kuingat jarak itu.

"Kau cantik, Ra," ujarmu di keheningan malam suatu waktu. Desir angin meniupkan aroma cinta antara kita. Degup jantungmu terdengar begitu lantang, menemani gigil tubuhku yang mulai menanggalkan kain satu persatu.

Lenguh napasmu hangat, merengkuh jiwaku yang rapuh karena denting renjana telah membabi-butakan malam laknat yang mencumbui kita. Kau menikam lembut liang-liang kerinduanku, sementara aku hanya bisa pasrah. Hanya mampu mendesahkan namamu pada bibir yang bergetar.

Ru, lingkaran dosa telah kita langkahi bersama, namun setelahnya kau pergi tanpa sepatah kata. Aku meratap atas kebodohan ini. Memaki semua rasa cinta di dada dan melumatnya dengan harap akan menjadi debu kebencian. Tapi aku tak mampu, Ru. Aku masih sangat mencintaimu, bahkan itu kebusukanmu sekali pun.

Berhari-hari aku hanya mampu menangisi diriku sendiri. Rahim yang dulu kosong kini telah terisi benihmu, Ru. Lalu mereka datang dengan tatapan yang menakutkan. Sesak, Ru. Aku kehilangan napas ketika suara-suara itu mulai menghakimi. Meneriakan umpatan-umpatan, mengatai diriku jalang. Bagaimana aku bisa disebut jalang hanya karena mencintaimu, Ru? Bagaimana bisa!

Kaki-kaki telanjangku terus berlari tiada henti. Mata hatiku sasar, mencari sosokmu yang telah lama raib. Kau yang telah menjelma layaknya hantu itu, bagaimana pun jiwa ini mencari, tak mampu kutemui dirimu di mana pun. Aku limbung, Ru. Aku gila. Apakah ini hukuman karena mencintai seorang anak raja sepertimu?

Ah, Ru ..., aku ingin mati. Aku akan tenggelamkan tubuh ini di danau tempat kita mencampakan keperawanan itu.

Pelan-pelan, kubenamkan raga di danau suatu malam lalu, kala putus asa merajai jiwa kotor ini. Hening menjamah penyatuanku dengan air yang dingin. Lalu, dalam kesadaran yang hampir lesap, kurasakan sebuah lengan kokoh merengkuh tubuh. Gelap. Hanya terdengar suara kepakkan lembut sayap para kunang-kunang. Kemudian, sunyi menyergapku.

Dua purnama sudah aku bersamanya. Kemudian lelaki itu berkata kalau dirinya telah jatuh cinta padaku, Ru. Ia bahkan rela bersujud, memohon sebuah kehidupan baru untukku setiap kali hendak kupotong nadi yang mulai membusuk ini. Kau dengar ucapku, Ru? Kehidupan baru, yang berarti juga untuk anak kita.

Ah, betapa mulia hati lelaki yang bahkan belum kukenal itu. Kau bukan sesuatu yang indah lagi tatkala mata ini menatapnya, Ru.

Hingga akhirnya, di bawah sinar bulan pasi yang terang benderang itulah ia menikahiku. Membelai lembut sisa-sisa cinta yang telah kuserahkan semuanya padamu. Ia yang hidup hanya sebagai seorang penarik perahu di danau kenangan kita, telah mampu menghidupkan kembali binar-binar semangatku. Detik demi detik kulalui bahagia ini sambil menyulam kembali cinta teruntuknya. Ia malaikat bagiku, Ru.

Walaupun nasi kami tak pernah mencukupi untuk mengenyangkan perut-perut ini. Walaupun lauk jarang ada di atas piring yang aku hidangkan setiap hari. Walaupun tak ada selimut yang mampu menghangatkan malam-malam kami, tapi aku bahagia, Ru. Sangat bahagia.

Karena itulah, Ru, sudah jelas apa jawabanku untukmu saat ini, bahkan untuk selamanya.

-A.M.231114-