Kamis, 10 April 2014

BALON DAN KISAH TENTANG GALUH




Aku teringat betul, ketika Galuh memekik tertahan dengan erangan yang ringkih, balon-balon itu membumbung tinggi, melayang ke udara. Dari keheningan mereka, terdengar cerita tentang seorang gadis kecil yang meregang nyawa di hadapanku.

Tubuhku diam terpaku. Seolah salur-salur samun melilit erat kedua kakiku, dan tak membiarkan aku segera datang menghampiri Galuh. Aku menelan ludah, tanganku bergetar satu persatu. Semua yang kulihat menjadi sebuah layar televisi buram. Berputar, dan berputar. Hingga akhirnya, aku jatuh. Kesadaranku raib, menjadi kegelapan yang sangat pekat.

***

Seketika aku terperanjat. Kepalaku masih terasa pening. Bau kamar tidur yang sudah tak asing lagi menyeruak di sela-sela hidung. Hingga akhirnya, ingatanku tersadar tentang gadis kecilku, Galuh.

“Galuh.. Galuh..”

Kupanggil namanya berkali-kali, namun tak tampak sebuah jawaban sekalipun dari arah luar kamar. Hatiku cemas. Segera kuangkat tubuhku yang masih terasa lemas, beranjak dari ranjang.

“Ibu mau kemana?” Mbok Sa tergopoh-gopoh datang menghampiri diriku.

“Galuh mana, Mbok? Galuh anakku, di mana dia?”

Raut wajah Mbok Sa menyiratkan kesedihan, membuat tubuhku kembali bergetar. Jantung yang sedari tadi berdetak kencang, kini semakin menggila. Aku hampir pingsan lagi.

“Mbok...”

“Neng Galuh ada di rumah sakit, Bu. Dia sedang kritis,” jawabnya. Seketika, sebuah pasak tajam yang datang entah dari mana, menghujam hatiku.

***

Jalan depan sekolah Bustan Children School tempat Galuh terakhir kali menambatkan keceriaannya, siang ini lengang. Semua murid, guru dan ibu-ibu yang mengantarkan anaknya bersekolah sudah berhamburan pulang.

Kulihat sebuah balon yang telah kempes, lunglai menggantung di ranting pohon sono di depan gedung sekolah. Rupanya satu balon itu tak sudi meninggalkan tempat pemiliknya jatuh tersungkur. Mungkin dia masih ingin mengenang keberadaan gadis kecilku yang periang.

Ah, bulir beningku kembali meleleh. Jika saja, iya... jika saja di hari itu aku tidak hanya sibuk bercengkrama ria bersama wanita-wanita yang tengah asyik bergunjing tentang perempuan di ujung gang, Galuh tak akan pergi secepat ini.

Seandainya saja, aku lebih memperhatikan gadis kecilku, tidak mungkin semua ini terjadi. Iya, Galuh pun akhirnya meninggal setelah koma tiga hari, akibat tertabrak sepeda motor yang melaju cepat. Pengendara itu ternyata adalah seorang pencuri yang baru saja melarikan motor salah satu warga. Dan Galuh, menjadi korban kelalaian ibu kandungnya sendiri.

Isakku tersengal-sengal. Melempar semua kemarahan dan sesal, yang selamanya takkan pernah membiarkan aku untuk lupa, tentang keberadaan Galuh.

Galuh...
Maafkan Bunda sayang... Maafkan... 


Nda, 100414


Rabu, 09 April 2014

WANITA di DALAM MIMPI-MIMPI PRITA



Sekali lagi, dengan mimpi yang sama. Kulihat wanita cantik itu berjalan lunglai sambil menggendong keranjang mungil di dada. Air wajahnya menyiratkan kepedihan. Sangat dalam. Dan aku tak tahu karena apa. Mimpi itu terhenti begitu saja, menghilang di balik pepohonan hutan tempat wanita itu menapaki kaki-kakinya yang telanjang, menuju sebuah sungai yang mengalir deras.


***


“Mimpi aneh itu lagi, Prit?” tanya Dilla sahabatku. Aku mengangguk. “Mungkin kau hanya sedang kelelahan saja,” lanjut Dilla.


“Bukan, Dil. Aku yakin ini bukan mimpi yang biasa. Setiap kali aku bangun, rasanya hatiku sakit. Seolah apa yang terlihat itu nyata. Beneran.”


Dilla tersenyum. “Kau aneh Prit, mana ada mimpi yang nyata?”


“Ih, dibilangin kok,” aku melengos. Ya... sudah tentu Dilla takkan bisa mengerti perasaanku. Memang bukan dia yang sedang bermimpi.


“Entahlah, Dil. Sepertinya mimpi itu sedang memberitahuku tentang sesuatu.”


Kali ini Dilla diam. Hanya menatapku dengan mata yang hampir kosong. Sepersekian menit kemudian, dia berceletuk ngeri, “hih, kamu ini. Jangan membuatku merinding dong.”


“Dibilangin juga.”


“Prit, jangan-jangan, mimpi itu tentang kehidupanmu di masa lalu. Kau tahu kan, apa itu reinkarnasi?” Kuanggukan kepalaku. “Mungkin wanita di dalam mimpimu itu, adalah... kau.”


“Jika benar begitu, lalu, siapa wanita itu?”


Dilla mengangkat bahunya tinggi-tinggi. Membuatku semakin penasaran dengan arti mimpiku.


***


Seorang lelaki tua dengan jengot putih memanjang, duduk bersila di bawah pohon nan rindang. Matanya tengah terpejam. Sementara mulutnya komat kamit melantunkan doa-doa.


Kulihat wanita itu duduk bersila di hadapannya. Seperti sedang menunggu si lelaki tua selesai dengan ritualnya yang membosankan bagiku. Tetapi, rasa bosan itu tidak hinggap secuilpun pada sang wanita. Dia sungguh sabar menanti semua ini berakhir dengan tenang.


“Kau benar-benar gadis yang baik, Nduk.” Lelaki tua mulai berbicara.


“Terima kasih Resi Durwasa “


“Sebagai pengabdianmu kepadaku, akan kuberikan Mantra Surga untukmu. Dengan mantra ini, kau bisa memanggil Dewa sesuka hatimu. Dan dari meraka nanti, kau akan mendapatkan seorang anak sebagai keturunanmu.”


Wajah sang wanita tampak senang. Berkali-kali dia berucap terima kasih kepada lelaki tua yang disebutnya Resi Durwasa itu. Lalu, sebuah mantra dengan bahasa yang tak kukenali, dibacakan oleh sang Resi.


***


Pada siang yang teramat cerah, sang wanita berdiri di puncak bukit tertinggi dari sekitarnya. Matanya tengah terpejam. Kepalanya tertunduk. Kedua telapak tangan saling bersetubuh di depan dada. Dalam keheningan yang syahdu itu, sang wanita mengucap bait-bait doa.


Aku tak mendengar apa yang tengah ia kecap. Hanya bisik-bisik lirih. Lalu kulihat sebuah angin berhembus menerpa rambutnya. Tiupan bayu itu semakin kencang. Menerbangkan dedaunan kering yang telah gugur, ranap bersama tanah.


Sang wanita mundur beberapa langkah karena kejut. Raut wajahnya tengah bertanya-tanya, ada apa gerangan? Hingga beberapa waktu kemudian, sebuah sinar terang benderang, hampir membutakan mata semua yang menatapnya, datang menerpa tubuh sang wanita.


“Aku sudah banyak mendengar tentang pengabdianmu yang tulus dan penuh kesabaran pada Resi Durwasa, Kunti. Dan dengan keberanianmu memanggil jiwaku datang saat ini, kuhadiahkan seorang putra yang kelak akan mewarisi kekuatanku, Dewa Surya.” Sebuah suara tanpa wujud terdengar menggema ke seluruh penjuru bukit tempat sang wanita berdiri. Dan aku yang tengah memandang sebuah kisah yang diperlihatkan padaku bak sebuah film yang tengah diputar, terkejut dengan sebuah nama yang baru saja disebut suara itu.


Kunti. Aku tahu siapa dia. Tahu sekali...


***


Di tengah-tengah makan siang kami yang belum habis masa tayangnya, Dilla mendelik sambil membuka mulutnya lebar-lebar. “Apa kau bilang? Wanita dalam mimpimu itu Kunti? Dewi Kunti yang hidup dalam dongeng-dongeng pewayangan Mahabharata itu?”


Kuanggukan kepalaku.


“Ah, ngaco kamu, Prit,” Dilla menahan tawa. Kukerutkan kedua alisku. “Dengar ya, Prita sayang, wanita itu tidak nyata, hanya sebuah dongeng. Masa kau ini adalah reinkarnasi dari seorang dewi yang hidup dalam dunia yang bahkan tidak pernah ada.”


“Lah, yang bilang soal reinkarnasi itu siapa? Bukankah kamu sendiri?”


“Iya, itu karena kukira ini hanya sebuah lelucon, jadi aku sedikit menggodamu saja,” Dilla makin cekikikan. “Aku malah tidak menyangka jika akhirnya kau menganggap mimpimu adalah sebuah keseriusan. Hello... Prita sayang, kita hidup di jaman internet. Berpikirlah lebih realistis.”


Jleb! Rasanya hatiku tertusuk sebuah paku baja berkarat. Seolah-olah perkataan Dilla yang kutangkap adalah, Prita, kau itu gadis yang bodoh! Aku sangat tersinggung. Bagaimana bisa dia berkata demikian. Padahal dia tidak pernah merasakan sakitnya hatiku setiap kali bermimpi tentang Dewi Kunti. Seperti sebuah tangisan yang tertahan, tak mampu untuk diungkapkan. Sakit...


***


Iya...


Sekarang aku tahu, mengapa wanita itu begitu hancur saat berjalan dengan telanjang kaki, menyelusuri hutan sambil membawa keranjang mungil di dadanya. Aku juga tahu bagaimana berdarahnya tangisan luka yang membuncah di hari itu. Karena gadis yang ceroboh bernama Kunti, tengah menuai tuahnya sendiri. Hanya karena rasa penasaran ingin mengetahui kesaktian Mantra Surga dari Sang Resi, akhirnya dia harus membuang sebuah aib.


Kalian tahu siapakah yang digendong dalam keranjang itu? Seorang bayi mungil yang rupawan. Yang kelak akan menjadi sebuah karma yang menghantui kehidupan ibu kandungnya sendiri. Mencabik hati seorang wanita lemah karena penyesalan terdalam, kala cinta telah raib karena ketidakberdayaan masa mudanya.


Iya, bayi kecil yang dihanyutkan ke sungai Aswa itu akan diketemukan oleh seorang kusir dari kerajaan Hastinapura, dan diberi nama Karna. Seorang Karna yang gagah perkasa, dengan kekuatan Dewa Surya di tangannya, kelak akan menjadi musuh terkuat dari Pandawa Lima, anak Kunti yang lahir dikemudian hari setelah dia menikah dengan Pandu. 


Sesama saudara akan saling membunuh. Sesama saudara akan saling membenci. Karena apa? Kerena ketidakberuntungan yang dianggap Karna sebagai ketidakadilan atas kehidupannya.


Ah, Kunti... Entah apa arti kau selalu hadir dalam mimpi-mimpiku. Rasanya, aku begitu ingin bisa memelukmu kala itu. Berharap sedikit saja, sedikit saja mampu meringankan kesedihanmu. Mungkin benar kata Dilla, kau hanyalah sebuah ilusi. Sebuah dongeng yang takkan lekang oleh waktu. Berkelana pada alammu sendiri. Mengajarkan kepada para manusia, bahwa kasih ibu itu ada, untuk sepanjang masa, apapun telah yang terjadi.


Dan kau pun kini terkenal sebagai Kunti, seorang ibu yang harus menderita karena terpisah dengan anakmu.


***


Api suci perlahan mulai menjalar. Pada detik-detik di akhir masanya, Kunti menatap wajah manis abdinya yang setia menemani selama ini. Pada saat Kunti tertawa, dia ada. Saat Kunti merintih sedih karena kebodohannya, dia juga masih ada. Bahkan saat terakhir pun, setelah perang besar di Kurukshetra selesai dan Kunti bertapa di hutan terdalam, abdi yang hampir seusia dirinya itu masih mau melayani dengan setia.


“Prita, aku bangga punya abdi yang setia seperti dirimu,” desah Kunti dalam sisa-sisa lengu nafasnya yang mulai melemah. “Jika kau punya kehendak, maka katakanlah. Aku akan memohon pada Dewa, agar mereka mau mengabulkan permintaanmu,” lanjutnya.


Prita yang masih tetap duduk menemani pertapaan Kunti, berkata perlahan, “jika benar diijinkan, hamba ingin mengalami reinkarnasi tak berujung Ibu Kunti. Dalam setiap masa hidupku, aku ingin mengingat semua perjalanan kita. Tentang cinta, kesetiaan, kesedihan, kebodohan dan keserakahan yang ada di sekitar kita. Aku ingin, kisah epik tentang seorang ibu yang bijak dan penuh kasih sayang, yang menyimpan luka bahkan hingga di akhir masanya, tidak akan pernah lekang oleh waktu.”


Kunti tersenyum mendengar permintaan sang abdi, “permintaanmu akan dikabulkan, Prita. Kau akan terus menjalani pengabdian reinkarnasimu, hingga Dewa-Dewa menghancurkan dunia fana ini, dan merubahnya
menjadi kehidupan yang abadi.”


Mendengar ucapan Kunti, Prita terharu, pun juga bahagia. Air matanya meleleh pelan. Lalu jilatan-jilatan api suci dari kesaktian Kunti, tiba-tiba membumbung semakin tinggi, membakar raga Kunti yang tengah terpejam, melanjutkan semedinya.


Prita menangis sejadi-jadinya dalam keheningan hati. Melepas kepergian sang majikan yang berhati selembut kain sutra India, yang tengah terbakar di hadapannya.




Nda, 090414


Selasa, 08 April 2014

LELAKI YANG JONGKOK di PADANG GERSANG



  
Lelaki, apa yang sedang engkau inginkan?

Kau sudah lama berdiri di ruang hampa yang sudut-sudut kamarnya adalah keegoanmu sendiri. Apa yang tengah kau tunggu? Kesombongan apa yang tengah kau kecap?

Lihatlah mukamu yang memerah hitam itu. Dengan surih-surih kemarahan, kau terbenam dalam bisumu. Mendiamkan wanita yang telah begitu setia menghadapi kekanakanmu selama bertahun-tahun lamanya. Dia bahkan tak lagi bosan untuk menunggumu berbicara, dan tersenyum hangat kembali kepadanya.

Tetapi pandanglah wajahmu sendiri, hai lelaki. Hatimu berdecap amarah. Mengatakan lantang bahwa kau ingin melihatnya bingung sampai tergenang air mata darah karena kau diam di hadapannya. Berkali-kali dia bertanya, apa kesalahanku hingga kau mendiamkan aku begitu lama?  

Dalam hati kau desiskan begitu banyak kata teruntuk dirinya, ini kesalahanmu sendiri, yang tak pernah mau memaafkan dosa laknatku dulu, kapan kau bisa mempercayaiku kembali? Kapan!

Ah, kau benar sudah lupa lelaki. Saat kau berkata padanya tentang biru itu kuning dan merah itu ungu, apa pernah kau tahu bagaimana dirinya yang tengah terluka kala mendengarnya? Kau sangat ingin dimaafkan, namun kau lupa untuk memahami kesakitannya karena ulah ketamakanmu yang kau sebut itu sedikit kekhilafan semata.

Kau hanya marah pada ketidakberdayaanmu menyusun kembali keping-keping hatinya yang telah hilang tertiup angin kenangan masa lalu. Menyakitkan bukan? Tetapi kau angkuh. Kini semakin lama kau semakin tenggelam dalam kebodohanmu. Tanpa sadar kau makin menjauhi wanitamu. Tak kau jamah, pun tak pernah kau peluk kembali. Kau ingin membalas. Sungguh, kau benar-benar ingin dia menangis sambil menyembah kaki-kakimu.

Kau telah menjadi pendosa. Membuncah semua bencimu pada kemaksiatan. Kau tiduri wanita lain, berharap inilah caramu membalas dendam kesalahannya.

Hei, kesalahan yang mana? Bahkan sebenarnya kau sendiri pun tak mengerti di mana wanitamu itu meletakkan dosanya di dalam hatimu. Bukankah saat ada lelaki lain yang menawarkan diri hendak menghapus lukanya, dia malah lebih memilih setia padamu? Memilih untuk tetap mencintaimu dan menyembuhkan lukanya sendiri.

Apa kau sudah lupa? Saat kakimu pincang dan kau tak mampu berjalan dalam hamparan takdir yang telah menjatuhkan nama baikmu, wanitamu masih setia berada di sisimu? Percaya penuh dengan jiwamu walaupun kau telah begitu sering menduakan kehadirannya dalam hatimu.

Sudah lupakah kau, lelaki, saat-saat itu?

Kau mati lelaki. Kau hanya semakin menyakiti hatimu yang sangat mencintainya. Bahwa sebenarnya kau pun sangat merindukan pelukan kasih, yang kini telah menghilang di antara kau dan wanitamu.

Kapan kau akan kembali? Bangunlah dari kekelaman hatimu sendiri. Lihatlah, tengok dirinya. Bahkan hingga saat ini pun, wanita sekuat karang itu masih menunggumu dengan cintanya.



Nda, 080414

Kamis, 03 April 2014

TENTANG RASA YANG BELUM KAMI MENGERTI




Aku teringat tentang sebuah rasa. Yang teramat manis dan renyah. Kau tahu wanginya seperti apa? Aroma strawberry, kesukaanmu. Warnanya merona merah, seperti warnamu.

Kala kita masih sama-sama tak mengerti perasaan apa itu. Apakah tentang sebuah persahabatan yang terjalin karena saling merasa nyaman. Ataukah tentang rasa saling memiliki, memikirkan satu sama lain, sedikit perhatian, merindukan tawa masing-masing, yang tidak seorangpun dari kita sadar bahwa itulah sebuah cinta.

Sosokmu yang ramah pada semua. Berjiwa humoris dan mampu menarik perhatian banyak gadis lain. Bagiku kau bukanlah sesuatu yang pantas aku inginkan. Mengapa? Karena aku hanyalah sebuah edelweis kecil, dan tak menarik bagimu. Sedangkan mereka itu mawar, cantik. Lihat saja warna-warna mahkota yang mereka tawarkan kepadamu. Sedangkan mahkotaku?

Hanya kehampaan. Kering dan tanpa warna.

Kau yang menyukai keindahan, selama tiga tahun kebersamaan kita, hanya menganggapku sebagai teman. Tempatmu bercuap keluh kesah. Bercerita tentang nikmatnya masa-masa mudamu bersama para gadis itu. Dan kau lihat, dengan begitu sabarnya aku hanya sebagai pendengar. Tersenyum sedikit, tertawa sedikit, dan itu sudah mampu membuatmu bahagia.

Namun, jauh di lubuk hatimu, tak kusangkah jika kau ternyata menyimpan rasa padaku. Iya, sedikit. Walaupun tak kau sadari itu. Ah, atau mungkin sudah tetapi kau lebih suka untuk menyangkalnya? Entahlah..

Hingga datang malam itu. Di mana aku menangis karena suatu hal dan kau tak menghiraukanku. Lalu datanglah sahabatmu Er, yang memberikanku bahu untuk bersandar.

Kau tahu? Pemuda itu mendengarkanku. Memberiku sedikit cerita konyol yang mampu membuatku tersenyum kembali. Hingga akhirnya dia berkata, “Ran, aku selama ini selalu memperhatikanmu. Maukah kau menjadi pacarku?”

Satu hal yang kuingat saat suara lembutnya mendarat di sukmaku adalah kamu. Iya, kamu. Yang bahkan mengatakan sahabatku tetapi tak memperhatikan aku kala aku terluka. Kau bahkan hanya sibuk bersama gadismu, yang entah siapa lagi, aku tak tahu.

Al, mampukah kulepaskan tanganku darimu? Ada pemuda lain yang hendak mengulurkan tangannya kepadaku penuh cinta. Terkadang, akupun ingin menikmati masaku sendiri. Berbahagia. Dan merasakan apa yang sering kau perdengarkan kepadaku.

Lepaskan aku, Al. Ijinkan burung kecil yang tak cantik ini terbang mencari kebahagiaannya sendiri.

***

Kini kau memilih diam padaku.

Katakan, apa kesalahanku, Al? Apa aku telah menyakiti hatimu? Kapan? Ataukah karena aku telah egois meninggalkanmu, dan menyambut uluran kasih Er?

Al, pernahkah kau berpikir jika aku telah lama menjadi boneka pendengarmu? Kau biarkan aku tak menunjukan siapa sejatinya diriku, sedangkan kau begitu bersinar dengan duniamu.

Kau curang, Al. Egois. Bukankah kau telah memiliki mereka yang memperhatikanmu? Apa yang kurang?

Jangan-jangan, kau ingin menangkap kembali burung kecil ini dan mengurungnya dalam sangkar emasmu seperti dulu?

Al, belajarlah kau untuk dewasa, sejenak saja...

***

Tiga bulan telah berlalu, Al. Namun bisumu tetap sunyi.

Ada luka di sini Al, di hati yang dulu selalu menatap dirimu. Menangis sudah bukan lagi hal aneh bagiku. Bahkan setiap menit saat kudengar suaramu yang merdu itu, jiwaku tercabik lalu tercabik lagi. Al, kita tak bisa saling menjauh, tetapi pun tak mungkin bersama kembali. Apa yang sebenarnya yang ada di hatimu? Cobalah, sedikit saja kau jujur padaku.

Katakan kau menginginkan aku di sampingmu. Atau katakan kau sedang hampa tanpa senyumku, tanpa sedikit tawaku, katakan.. Akupun sedang tak mengerti perasaan apa ini, Al. Begitu kau diam, duniaku menjadi kelam. Aku sudah tak mengenali lagi, mana warna merah, mana warna biru lalu mana yang ungu.

Bagiku semua sama. Putih, Al.

Ah, jiwa-jiwaku pada berlarian mencari sosokmu. Sungguh, hanya kamu dan kamu. Al, aku merindukanmu...




Malam sudah menetas, hampir menjemput pukul duabelas. Laptop putih yang sedari tadi menemaniku menulis sebuah kisah di tubuh mungilnya masih menyala dengan ceria. Menungguku sampai selesai berceloteh, lalu tidur dalam mati.

“Bunda belum mengantuk?” tanya Panda, suamiku, yang tiba-tiba sudah meletakan dagunya dibahuku. Aku menggelengkan kepala sambil tersenyum.

“Bunda kali ini lagi menulis tentang apa lagi?”

Ditanya begitu, aku sedikit tersipu. “Panda, ah..”

“Leh, ditanya kok malah senyum-senyum sendiri. Dasar Bunda yang aneh.”

“Ini loh kisah tentang dua hati yang memiliki rasa namun belum memahaminya. Terinspirasi dari kenangan kita waktu jaman SMP dulu.”

Alis Panda mengkerut, “yang mana?”

“Itu, yang waktu Panda diam dan marah sama Bunda selama tiga bulan. Inget gak?”

“Ah, masak Panda pernah begitu? Rugi dong mengabaikan gadis cantik seperti Bunda.”

“Hem, lak gak ngaku..”

Panda tertawa terkekeh. Tiba-tiba sebuah kecupan kecil mendarat di pipi kiriku.

“Lupyu..” desahnya sambil tersenyum..


Nda, 030414


Rabu, 02 April 2014

DUA SISI


“Apa yang sebenarnya tengah kau inginkan?”

“Ketenangan.”

“Maka cobalah untuk menenagkan hatimu, Va.”

“Bagaimana aku bisa tenang jika aku selalu menemukan keganjilan?”

“Itu karena kau memikirkannya. Hentikan pikiran yang tidak bermanfaat itu, jangan rusak kehidupanmu sendiri.”

“Cih, tidak mungkin aku bisa berhenti memikirkannya jika keganjilan demi keganjilan masih saja hadir dalam sosoknya setiap hari. Bayangkan, setiap hari!”

“Ah Va, maka selamanya kau akan terluka..”

“Iya aku tahu, itu pula yang dia katakan padaku, dulu. Dengan mudahnya dia berkata untuk merubah mindshet-ku. Dirubah bagaimana?...”

Sekilas kenangan tetang percakapan dengan lelaki itu berkelebat. Aku ingat benar, malam itu di sela-sela tubuh kami yang saling terbaring dalam pembaringan, dia berkata, “coba rubah pikiran Bunda, anggap saja apa yang selama ini Ayah lakukan dengannya hanyalah sebuah permainan belaka. Hanya iseng, tidak serius...”

Iya.. mudah sekali lelakiku berkata demikian. Padahal jelas-jelas aku tahu kenyataannya. Tahu segala yang mereka obrolkan tetang cinta, tentang hati yang tak mungkin untuk bersama. Juga tentang kenangan, tentang sebuah janji untuk saling mencintai selamanya, takkan melupakan. Janji untuk bahagia walaupun tak mungkin untuk mereka saling bersama.

Fuck! Sisi kemarahanku mengumpat.

Bahkan dia rela meninggikan kedudukan perempuan itu dalam kehidupannya, iya! Memberikan nama perempuan tercintanya pada bayi kecil nan cantik yang baru aku lahirkan...

Lihatlah, jika sudah begitu, bagaimana mungkin aku bisa mengubah kenangan tentang perselingkuhannya hanya sebuah kata “iseng belaka”.. bagaimana? Katakanlah padaku sekarang juga!

“Perempuan itu tengah terluka. Entahlah, aku merasakannya dan menjadi sebuah iba.”

“Aku juga tahu itu.”

“Lalu..?”

“Hanya saja aku akan terluka kembali setiap dia menemukan lagu romantis yang menggambarkan perasaannya tentang perempuan itu..”

“Bagaimana kau tahu itu lagu untuk perempuannya?”

“Karena, aku dan kau paham benar bagaimana saat dia sudah mencintai, bukan? Hubungan mereka tidak hanya sekedar iseng, tetapi hati-hati mereka sudah ikut berbicara, kau tahu itu dan jangan coba menyangkalnya..”

“Kau benar. Tetapi..”

“Tetapi apa?”

“Jika kau hanya bisa menyalahkan dan membenci seperti ini, apa kau akan hidup tenang?”

“Jelas tak akan, Va..”

“Kamu ingat apa motto kita berdua yang telah menguatkan kita dalam hal ini dan juga tetang hal apapun tentang kelakuannya?”

“Iya, aku ingat..”

“Apa?”

“Bahwa, jangan pernah iri dan cemburu pada mereka yang tengah menumpuk dosa..”

“Nah! Gunakan itu, sudah lupakah kau caranya?”

“Tidak..”

“Va, kembalilah ikhlas dengan apapun yang tak kau ketahui dan apapun yang ingin kau ketahui. Biarkan. Jika benar, maka ada Tuhan yang akan menjudge tindakan mereka. Jika salah, maka bersyukurlah bahwa lelaki kita telah berubah...”

Sisi kemarahanku diam..

“Lihatlah lelakimu sekarang, dia telah banyak berubah bukan? Semakin lembut, dan tak pernah lagi seperti dulu. Apa lagi yang kau harapkan dari dia. Bersyukurlah, ijinkan dia memeprbaiki kesalahannya. Jangan biarkan masa lalu terus membayangi kehidupan kalian. Ayolah, rubahlah dirimu, bukan untuk sesiapa, tetapi untuk dirimu sendiri... untuk kita berdua...”
“Tapi bagaiamana jika dibalik kebaikannya dan sikap tiba-tibanya yang romantis penuh kasih sayang itu hanyalah kedok untuk menutupi hubungannya lagi dengan perempuannya?”

“Kamu.. bukankah dari awal sudah kukatakan, ikhlaskan. Biar yang berhak memberi balasanlah yang membalasnya kelak, dan tentu saja jika apa yang kau khawatirkan ini benar, bukan? Ayolah, Va. Jangan menggapai keburukan, nanti kau sendiri yang akan terluka.. jernihkan pikiranmu.”

“Kau benar..” kemarahanku berkata sambil tertunduk. Kemudian kesabaran datang memeluknya.

“Berdamailah dengan keadaan apapun, Va. Kau tahu kau itu sebenarnya kuat dan tangguh. Ijinkan dirimu bersinar indah. Buktikan pada mereka yang menyakitimu, bahwa kau adalah yeng terbaik, kau pemenang dari kebusukanmu sendiri. Dan perlihatkan sebuah sukses di mata mereka. Kelak, ada masa di mana seseorang akan menyadari dan menyesal karena telah menyia-nyiakan keberadaan dirimu. Buat hatimu cantik, Va. Buatlah dia mekar dan harum..”

Ah.. hembusan lenguhku terasa ringan. Pertarungan dua sisi yang sedari tadi mengaduk-aduk hatiku sepertinya telah hampir berakhir. Kusungging senyum, lalu menyeruput kopi susu di cangkir cokelat milikku.

Iya, jangan pernah aku kalah, dengan masa lalu....




Nda, 020414

Selasa, 01 April 2014

PUSPA (GADIS YANG TERTIDUR)



keabadian adalah makna dari kesejatian cintaku padamu…



Malam kasip. Bulan pucat menggantung pada tembok kelam, membuat temaramnya jatuh menelungkup di wajahku yang sedang menengada menatap gelap. Aku berhasil menangis. Setelah berminggu-minggu tak ada lagi tumpahan nanah yang mampu meluapkan semua sayatan luka di hati.

“Bulan, pernahkah kau kecewa dengan perlakuan malam yang tak adil padamu? Lihatlah dia, begitu angkuh merajai, membuatmu sendirian mematung di langit sana.”

Bergumam kututurkan hinaan pada malam, pun pada nasib yang tak bisa ramah. Mulut kering yang terpecah-pecah ini mengkomat-kamitkan kata. Membuat dahaga yang telah lama tak terguyur nikmatnya kasih basah, semakin terserak dan nyeri.

“Jika benar sang takdir memaksaku berdansa pada derita, memahat jalan penuh luka yang harus kulalui pada buku Sang Raja Langit, aku ingin menantangnya, hai bulan gendut!”

Tangisku semakin menjadi. Berkelebat kenangan pahit yang telah lama bersemayam pada jiwa kotor ini. Luka itu kembali mengangah, hatiku berdarah. Panas, mendendam. Tetapi kepada siapa?

 Kuketuk-ketuk kaki telanjangku pada besi dingin yang memanjang. Rel kereta api tempatku berpijak itu bergetar perlahan. Mendengung sebuah suara yang semakin mendekat. Dekat, dan semakin dekat. Lalu sebuah cahaya, dengan lesat menyambar kegelapan malam.

Bulan menatap tanpa suara, pekiknya tertahan. Dan kegelapan yang selalu menjadi teman bermainku pun pingsan seketika, melihat tubuhku berhamburan dikoyak sang Malaikat Maut.

***

Si Emak Puspa meraung-raungkan tangisnya padaku. Bercerita tentang anak gadisnya yang sudah lama mematung tanpa hati. Gadis perawan paling cantik, kehilangan mahkotanya. Tersembunyi pada cela-cela pepohonan tebu, tidur dalam telanjang, senja, tujuh September lalu.

Cinta di hatiku marah. Ingin membunuh binatang serupa manusia itu. Lihatlah perlakuannya, menghasilkan Puspa bagai gundukan batu yang hanya bisa diam dan bernafas. Tidak makan, pun tidak meneguk air. Bibirnya kering pecah bak nyanyian hutan tandus yang merindu hujan.

Matanya mati. Otaknya membeku. Lalu hatinya entah hilang, atau bersembunyi pada apa.

Ah, Puspaku sayang. Kutahu kau sedang menderita sendiri dalam bisumu. Apa yang mampu aku lakukan pada dirimu, agar kau kembali tersenyum pada dunia?

Lihatlah impian-impian kita yang telah tergerus masih hidup dalam hatiku. Aku tak peduli, walaupun selaput gadismu terkoyak, cinta ini tak berkurang sedikitpun.

Kumohon, kembalilah hai gadis perawanku Puspa.. Aku rindu lenguh nafas kehidupanmu di sisiku.

***

Ini pertengahan Oktober.

Tarian hujan mulai menyapa tanah-tanah yang hampir gila karena menanti. Debu jalan terhanyut banyu dari langit, membuat yang terkotorkan menjadi bersih.

Aku ingin pula terbersihkan olehnya, sang hujan itu, bisakah?

Sudah enam minggu hampir berlalu, terasa hidup begitu membosankan. Aku lupa bagaimana rasanya bahagia, bagaimana caranya tertawa, bahkan lupa cara berbicara pada manusia. Apa benar mereka tulus menantiku menemukan hati yang dicolong senja biadab di ladang tebu?

Aku meragu…

Aku sudah ingin mati. Terlalu berat menopang kenangan yang menggoreskan carut marut pada tubuhku. Sosok yang berhasil melucuti kebanggaanku masih jelas melekat di mata hitam ini.

Mereka berlima. Semuanya, menjambak, mencabik, dan menindih tubuhku. Memahat bejat pada kelangkang. Menerkam jiwa kegadisan yang bertahun-tahun kujaga lelapnya, yang kelak kan kuberikan pada dia kekasihku tercinta.

Apakah ini yang namanya hidup?

Bahkan aku tengah takut ketika aku membuka mata dan sosok-sosok itu tertawa penuh puas dalam dinding-dinding kamarku!

Aku sudah hina!

Sudah tak pantas bersamanya lagi.. Bahkan, aku telah mati di hari itu. Di mana senja menelan semua keceriaanku, membawanya tenggelam ke dalam dasar bumi terdalam.

Jadi, buat apa aku takut mati untuk yang kedua kalinya?

Menggelikan!

***

Aku terduduk lemas dalam keterkejutanku. Emak Puspa menangis tak hilang kepalang. Dipukul-pukulnya dada busung yang menggendut karena lemak itu. Berteriak menggema, memanggil-manggil nama Tuhan. Deritanya membanjiri hati siapa yang mendengar.

Puspa kini bagai puing-puing batu yang pecah. Ah, Puspaku. Pantaskah apa yang kau korbankan ini, Sayang?

Bahkan mereka yang telah menyakitimu itu masih berkeliaran menikmati hidupnya yang berkubang dosa. Dari hasil memakan tubuh para gadis-gadis yang nestapa. Apa kau tak ingin membenamkan mereka dalam kepahitan hukum?

Ah, mengapa kau lebih memilih untuk mati…


Nda, 180314


TEMUI AKU KALA SENJA


“…cinta Anne, harus segera diakhiri, Bang, harus!”



Bang, mengapa kau tak datang jua. Bukankah engkau yang membuat janji bertemu di gubuk tengah sawah ini. 

Tak tahukah kau Bang, aku kesepian menanti. Bahkan senja sudah hampir menghilang namun sosokmu tak jua kunjung datang. Apa kau telah merubah pikiran? Sudah tidak ada lagikah keberanian yang mengajakku untuk lari?

Ke manakah engkau pergi? Aku begitu merindukanmu. Tolong, cepatlah datang dan selamatkan aku dari rasa takut ini. 

Tolong aku Bang, mungkin kekasihmu ini akan mati…

***

“Mak, Mamak! Anne ada di mana? Mengapa dari tadi sore aku tak lihat anak itu sama sekali?”

Bapak berteriak parau. Sudut-sudut rumah telah ditelusuri, namun tetap tidak menemukan sosok anak gadis satu-satunya itu. 

Mamak lari tergopoh dari halaman depan. Mulutnya monyong-monyong, tengah penuh dengan kue bingke. Sambil terus mengunyah, Mamak menjawab pertanyaan Bapak, “mana aku tahulah, Pak. Sedari sore aku sudah repot membantu Wak Cuah memasak bingke.”

“Ah, kau ini. Tidak perhatian sama sekali dengan anakmu. Ini sudah hampir malam, seharusnya gadis penakut itu sudah berada di dalam kamarnya, belajar.”

“Ah sudahlah, Pak. Mungkin juga lagi main ke rumah si Wati. Biasalah, anak muda.”

Setelah berkata, Mamak kembali melesat keluar rumah menuju rumah Mak Cuah. Sedangkan Bapak masih saja bingung, khawatir dengan keberadaan sang anak.

Malam semakin larut. Sudah pukul sembilan malam. Namun Anne belum juga pulang. Mamak sudah mendengkur di kamar tidur. Seakan tidak peduli dengan keadaan anak gadisnya. Beda dengan Bapak, yang masih menunggu di halaman depan, sambil menyedot belasan batang rokok.
 
Hatinya gelisah.

Sementara itu, jauh di sebuah bangsal tentara angkatan darat, dua orang pemuda tengah berbisik-bisik dalam sunyi. Suaranya dipelan-pelankan, berharap tak seorang pun tahu apa yang sedang mereka ucapkan.

“Bagaimana, Ru? Apa kau sudah..”

“Ssstt.. Cukup sampai di situ sajalah kau bercuap, Wan. Nanti ada yang mendengar kita.”

“Lalu hasilnya bagaimana?”

“Aman. Semua sudah beres.”

Pemuda berkulit putih bertubuh ramping, menganggukkan kepalanya, “bagus, kau selalu bisa dihandalkan bro.”

Sedangkan pemuda satunya yang berkulit lebih gelap, nyengir menunjukan deretan gigi yang sudah kuning.

Mereka berdua tersenyum puas. Merasa kemenangan kini berpihak kepada keduanya.

***

Malam lekat telah berlalu pergi. Berganti fajar merah yang menangis sedu di antara Lembah Harau. Sawah menguning masih sepi melengang. Hanya terdengar hiruk pikuk burung gereja yang saling bercerita tentang sosok gadis setengah telanjang di dalam gubuk.

Mati.

Meninggalkan sebuah tanya pada kisah janin dua bulan yang tengah dikandung dalam dekap rahimnya. Juga pada Sang Malaikat Maut dari dusun mana yang tega menculik paksa nyawa sang gadis…

Anne, telah dijemput kematian, memetik tuah cintanya sendiri…



Nda, 100314