Sabtu, 11 Juni 2016

SUATU PAGI SEBELUM MALAM HALLOWEEN TIBA

gambar: @r3dcarra


Saya yakin, tidak ada yang bisa menghindari tatapan saya. Tidak juga wanita bergincu semerah darah itu. Saya sudah mempelajari banyak hal--salah satunya adalah menatap dengan mengiba layaknya kita butuh dikasihani--semenjak ibu mati dan saudara-saudara saya dibawa pergi orang-orang itu, meninggalkan saya sendirian di sini.

Wanita bergincu merah dan bergaun serba hitam itu menggendong saya dengan belaian kasih-sayang yang sehangat selimut baru. Ia berjalan menuju sebuah mobil. Seorang lelaki besar dan menakutkan sudah menunggunya. Ia melambai pada saya, tapi saya tidak memedulikannya.

Sesudah kami masuk, saya menggonggong sekali dan mengibas-kibaskan ekor sebagai ungkapan terima kasih karena ia telah memilih saya dan akan memelihara sebaik-baiknya majikan. Ia menepuk-nepuk kepala saya.

"Ya, ya, nikmati saja kebebasanmu ini, Sayang. Nanti malam kamu akan mati di meja altar dan menjadi santapan kami semua di pemujaan."

Saya tidak paham ucapannya, tapi saya tetap riang dan menggonggong sekali lagi. (*)


1 komentar:

  1. Cerita pendek-pendeknya (semoga penyebutan ini cocok) sangat menarik. Salut.

    BalasHapus