Sabtu, 06 Desember 2014

PEREMPUAN PERINDU BENIH part 2 (sebuah mininovel)





Dusta Yang Terdedah


"Aku tak mengenalnya. Ia datang begitu saja, lalu meluluhlantakkan kebahagiaan di rumahku."



Kedua kakinya kudekap erat. Aku bersujud tanpa melihat wajah yang sudah pasti tengah terbakar amarah itu. Setiap kalimat yang dia keluarkan dari bibirnya terdengar mengigil. Aku mafhum sekali. Mulut ini tak henti mengiba, memohon limpahan maaf padanya, namun dia bergeming. Hingga akhirnya bibir itu mendekap kebisuan, yang mencekik leherku.

***

Semua berawal ketika suatu pagi aku dikejutkan oleh sosok perempuan yang bertamu ke rumah, Alia. Langit seakan runtuh menimpa kepalaku. Entah apa yang ada di pikiran perempuan itu. Sudah pernah kubilang dengan jelas, bahwa jangan bersinggungan dengan rumah tanggaku. Tetapi tanpa memberi kabar terlebih dahulu, ia berani datang bersama suaminya, sambil membawa buah tangan untuk anak ketigaku yang baru lahir sebulan lalu.

“Siapa dia?” tanya Rany penuh keheranan. Dengan gugup kukatakan kalau Alia adalah teman sekolah kami dulu.

“Benarkah? Aku tak ingat punya teman bernama Alia.”

“D-dia adik kelas kita. Bunda pasti sudah lupa, dia juga pernah ikut PMR, tapi hanya sebentar.”

Walau dengan wajah yang masih terlihat bingung, Rany hanya mengangguk pasrah. Sejalan dengan itu, di antara debaran hati yang tak menentu, kulihat wajah Rany yang terus saja menyimpan rasa keanehan. Seolah ada yang terbesit di benaknya. Aku pun menjadi takut, bagaimana jika wanita cerdas itu mampu mengendus wajah Alia yang bersemu merah tatkala berbicara? Bagaimana jika wanita itu pun mampu membaca rona kekhawatiran di setiap sudut lakuku?

Ah, aku ingin menghilang saja. Segera!

Apa yang kutakutkan itu akhirnya terjadi juga. Malam ini, aku dikejutkan oleh tangisan yang lamat-lamat terdengar hingga ke alam mimpi. Mataku terbuka, mencoba membangun kembali kesadaran dari lelap, lalu bangkit dari ranjang dan mengikuti arah tangisannya.

Rany ada di sana. Terduduk di sudut ruang kamar yang tak kami pakai. Kulihat layar televisi masih menyala, namun tanpa suara. Lalu mata ini menangkap sebuah benda di atas meja jahit yang sudah lama tak terpakai. Blackberry-ku menyala.

Kuraih ponsel hitam kesayangan itu. Seketika mata sayu ini terbelalak lebar. Sebuah chat pribadi antara aku dan Alia terpampang. Kini aku tahu, mengapa istri tercintaku itu melambungkan isakan tangis yang begitu menyesakkan. Rinai matanya terus berurai deras. Hatiku rasanya ngilu, ikut tertusuk kesedihan yang dia buncah tengah malam ini.

Kudekati Rany. Dia berdiri, mencoba menghindar. Tubuhnya menggigil, bisa jadi karena amarahnya padaku. Tanpa pikir panjang aku pun bersujud, menciumi kaki-kakinya yang terletak aroma wangi surga dari ketiga anakku itu.

“Aku minta, ceraikan aku!” Rany berucap dengan tegas namun tetap dengan nada yang gemetaran, membuat hatiku semakin hancur berkeping.

***

Berhari-hari Rany membisu, tak sekali pun dia mau kusentuh. Matanya bengkak. Setiap saat dia bisa tiba-tiba saja menangis atau sekedar menahan sengguk. Hati kecil ini jadi semakin kacau balau. Duniaku, kebahagiaanku, semuanya raib. Seolah tumpuan yang selama ini aku pijak, rapuh. Membuatku jatuh tenggelam di dalam lautan penyesalan, tanpa tahu kapan akan kembali ke darat.

“Dia sudah tahu hubungan kita?” Sebuah pesan singkat dari Alia kubaca.

“Iya.”

“Lalu bagaimana, apa kau baik-baik saja?”

Aku diam. Tak kubalas pesan berikutnya.

“Phoe, katakan padanya, tak ada apa-apa antara kita. Tak terjadi apa-apa.”

Aku masih diam.

“Phoe?”

....

“Phoe!”

Aku diam.

***

“Bawa perempuanmu kemari. Suruh suaminya juga ikut! Jika tidak, aku akan benar-benar meminta cerai darimu. Titik!”

Suara Rany menggema di setiap sudut hati. Dia benar-benar marah kali ini. Aku sudah tak tahu musti berbicara apalagi di hadapannya. Semua salahku, berkelit dengan cara apa pun aku sudah jatuh tersungkur. Takkan lagi didengarkan.

Akhirnya, kuhubungi lagi Alia. Kali ini lewat chat di e-mail, karena nomor teleponnya sudah dihapus oleh Rany.

“Rany memintamu dan Sony ke rumah.”

“Buat apa?! Mengapa harus pakai Sony?”

“Dia ingin bicara.”

“Tidak mau!”

“You must!”

“I would not!”

“Berarti, kau ingin aku kehilangan istriku?”

Alia tak membalas. Pembicaraan itu pun berakhir.

Hampir seminggu sejak percakapanku dengan Alia terputus. Tak ada lagi kabar darinya, sementara Rany masih membungkam. Siang ini ponselku sudah berdering berkali-kali, namun tak kuhiraukan. Aku yakin nomor tak dikenal itu adalah milik Alia, yang telah kuhapal empat digit terakhirnya. Hatiku ragu, haruskah kujawab panggilan itu? Bukankah aku sudah berjanji pada Rany agar tak lagi berhubungan dengan Alia?

Entahlah. Pikiranku semakin berat. Tugas kantor hari ini masih menumpuk. Ditambah dengan ancaman cerai dari Rany, yang sepertinya akan benar-benar terjadi jika aku masih tak mampu menghilangkan sosok Alia di kehidupanku. Haruskah, kami benar-benar berpisah setelah tujuh tahun lebih pernikahan ini, hanya demi seorang perempuan seperti Alia? Hanya demi kenangan konyol yang kukejar beberapa minggu lalu? Ahk!

Sebuah deringan memecah kembali. Bising. Otakku hampir gila dibuatnya. Akhirnya kuputuskan juga untuk menjawab panggilan itu.

“Kau pengecut, ya, Ndu!” Nada Alia marah. Ia bahkan tak lagi menyebutku dengan nama kesayangannya.

“Maksudmu?”

“Kau ngomong apa sama istrimu? Hah! Lihat dia, memaki-maki aku sebagai perempuan murahan di akunnya!”

Memaki Alia? Benarkah? Ohya, aku lupa. Setelah kejadian itu, aku menonaktifkan akun Facebook. Jadi sudah tak mungkin lagi aku bisa tahu, hal-hal apa saja yang tengah mereka berdua ributkan di sana. Tetapi aku yakin, wanita-wanita yang sedang sakit hati seperti Alia dan Rany, pasti mengumbar kemarahannya di media sosial. Mereka berdua pasti sedang perang status saat ini.

“Aku tak mengatakan apa-apa. Dia yang membaca semua chat kita. Semuanya, Alia. Kau tahu, kan, apa maksudnya itu. Semuanya!”

“Cih!”

Setelah mengumpat kemarahannya, Alia menutup telepon. Kuhela napas. Karena rasa penasaran, aku pun mengaktifkan kembali akunku.

Nama itu kucari. Rany Puspasari, istriku. Aku membacanya, melahap satu demi satu status yang dia tulis di wall-nya. Kemudian aku beralih mencari nama kekasihku, Alia Hanna. Pelan-pelan aku menjelajah kalimat-kalimatnya. Lalu ..., perasaan itu mencuat. Sedih, malu, dan sedikit rasa marah.

Ah, wanita-wanitaku ....

***

Sesampainya di rumah, pukul sembilan malam, aku langsung menghampiri Rany yang sudah terpejam di ranjang kami. Kutatap wajahnya. Sisa-sisa air mata yang mengering terlihat sangat jelas. Ini sudah seminggu sejak dia menemukan ketidaksetiaanku.

Trauma yang tengah dia kecap itu begitu menyakitkan, aku tahu sekali perasaannya. Baru kali ini Rany sangat terpukul dengan kenakalanku. Walaupun sudah sering aku berhubungan dengan perempuan lain, Rany masih bisa memaafkan. Dia tahu, saat itu aku hanya main-main. Tapi tidak untuk kali ini. Hati sudah ikut terpaut di dalamnya.

Ah, lelaki macam apa aku ini. Sungguh, aku telah gagal menjadi pelindung hati istriku sendiri. Bahkan aku berani meninggalkannya seorang diri dan bersenang-senang dengan Alia, tatkala dia baru saja seminggu melahirkan bayi kami. Jika sudah begitu, akulah yang lebih pantas disebut jalang. Bukan Alia. Seharusnya kata murahan itu untukku. Karena, jika seandainya lelaki ini mampu menahan nafsunya sendiri, sudah barang tentu Alia takkan berani lebih mendekat di kehidupan pribadiku.

Benar begitu, bukan ... Rany? Ah, tanpa senyummu, jiwa ini lelah, Sayang.

Kuembus lenguh sejenak, lalu merebahkan tubuh di samping wanita yang baru sebulan lalu melahirkan anak ketiga kami itu. Memeluk punggungnya yang sedang membelakangi. Rambut panjangnya kuelus lembut. Tak terasa, air mata meleleh. Sesuatu yang haram kulakukan, namun kali ini benar-benar tak kuasa untuk membendungnya.

“Maaf,” desisku.

“Maaf untuk apa?”

Aku terkejut. Tiba-tiba saja Rany yang kukira tengah lelap itu bersuara.

“Bunda belum tidur?” tanyaku. Rany membalikkan badannya. Dia menatapku. Lindap.

“Ayah meminta maaf untuk apa? Bunda tanya.”

Malu, aku yakin wajah ini pasti tengah  memerah.

“Karena selama ini Ayah selalu menyakiti hati Bunda. Ayah tak pernah memberikan kebahagiaan pada Bunda. Bisanya hanya membuat Bunda nangis.”

“Bunda masih belum mengerti, mengapa Ayah suka mempermainkan perasaan Bunda. Selalu saja ber-SMS mesra dengan perempuan lain. Mengapa?”

Mulutku tertutup rapat. Tatapan mata ini kulempar pada dinding di belakang tubuh Rany. “Jujur, Yah. Bunda ingin tahu, di mana letak kekeliruan kita selama ini. Apakah Ayah sudah bosan dengan Bunda?” tanya Rany kembali.

Dengan wajah melusuh, akhirnya aku menjawab pertanyaannya, “Mungkin ..., bisa dibilang itu naluri lelaki. Iya, Ayah tahu itu salah, tapi Ayah tak bisa menghilangkan kesenangan konyol ini. Ayah bodoh dan murahan, bukan? Selalu menyia-nyiakan Bunda. Padahal, selama ini Bunda selalu memaafkan kenakalan Ayah.”

Istriku melempar napasnya keras-keras. Dia pasti merasa jengkel dengan jawabanku.

“Lalu, bagaimana dengan perempuan itu? Mengapa dia marah-marah ketika aku mengatainya murahan? Bukankah itu kenyataannya. Dia bersuami, tetapi masih saja mau dibawa pergi oleh suami orang lain. Sebutan apalagi yang pantas buat dia selain murahan?”

“Bunda, sudahlah. Aku pun sudah sangat menyakiti hatinya.”

Mata istriku melotot tajam. Ah, aku baru saja salah memilih kalimat. Maksudku, agar dia mau menghentikan status-status konyol yang terus menyerang Alia, kemudian Alia membalasnya dengan lebih konyol lagi. Hal yang menggelikan seperti itu, takkan pernah ada habisnya jika salah satu dari mereka tak ada yang mengalah dan berusaha berdamai dengan kesakitannya sendiri. Tapi, wanita takkan mau disuruh diam, bukan? Walaupun itu pada akunnya sendiri.

“Oh, jadi begitu. Ya, sudahlah.”

Rany kembali membelakangiku. Dia marah.

“Bunda ....”

“Aku bilang sudah. Setidaknya, biarkan Bunda sendiri agar bisa menjernihkan hati. Bunda sudah lelah. Capek makan hati terus!”

“Maaf, ya, Bun ....”

Rany terdiam. Aku tahu saat ini dia pasti sedang membenamkan seguknya di sela-sela bantal.

***

Alia berteriak-teriak tak keruan di akunnya. Jiwanya benar-benar tengah terluka. Aku membaca status-statusnya siang ini, sambil menelan ludah. Iba. Rasa bersalahku padanya menjadi semakin besar.

‘Kau pengecut, Ndu. Pengecut! Menghilang begitu saja setelah apa yang terjadi!’

‘Seharusnya, jangan kau yang menghilang. Aku-lah yang lebih dahulu menghilang. Agar aku tak seluka ini, Ndu.’

Ah, iya ..., aku sudah sangat melukainya. Melecuti hati kekasihku dengan begitu angkuh.

‘Aku bukan murahan! Kau tahu itu, Ndu. Kau tahu itu! Bungkam mulut wanitamu, sekarang juga!’

Alia ..., jika saja aku mampu hadir di sana dan memelukmu. Meminta maaf atas semua luka yang kuberikan padamu. Ah, iya ... Hanya maaf, kata itu yang aku punya untuk kalian berdua.




~ 0 ~
(bersambung)

Jumat, 05 Desember 2014

PEREMPUAN PERINDU BENIH part 1 (sebuah mini novel)




Perempuan Yang Kusebut Ia Kekasih 



"Ini pasti sebuah hukuman dari Tuhan, karena aku seorang yang jalang."



Malam ini, ketika bulan merah pucat tengah bersinar, kulihat perempuan kesayanganku duduk bersanding dengan kesedihan. Wajahnya layu. Lenguh napasnya sepenggal demi sepenggal. Meninggalkan aroma kopi vanila latte yang membaur dengan udara di wajahnya. Beberapa detik lalu, mata itu terlihat hampir meleleh.

Kemudian, hatiku terenyuh.

“Ada apa, Phie?” tanyaku dengan menyebut nama kesayangan untuknya.

Perempuanku tetap bergeming. Bibirnya masih terbungkam rapat. Ia hanya menatap dalam diam. Berkedip sebentar, lalu melempar kembali pupil matanya ke arah sudut-sudut cafe.

“Phie ...?”

“Phoe,” ia berdesis. Tangan kirinya tetap setia menopang dagu. Korneanya masih sasar, melahap tiap jengkal suasana di sekelilingnya. Seorang pramusaji pria baru saja melewati tempat duduk kami. Kulihat perempuanku berkedip sekali. “Apa kau percaya dengan karma?” tanyanya kemudian.

“Kok kamu tiba-tiba ngomong seperti itu sih, Phie?”

Ia tak menjawab.

Hening.

Pramusaji pria itu kembali melintas. Kali ini tangannya membawa nampan bulat berwarna hitam, penuh dengan cangkir kopi yang sudah kosong. Sejenak, mataku beradu dengan mata pemuda itu. Dia melemparkan senyum. Ramah.

Cafe Orenz Blue tempatku melepas rindu bersama perempuan yang sedang duduk di hadapanku itu, selalu ramai pengunjung. Di sini nyaman. Teramat malah. Kami bisa melihat lalu lalang kendaraan yang menerobosi kegelapan dengan jelas. Lampu-lampu mobil dan motor itu bagaikan kunang-kunang raksasa yang melesat. Indah.

Di pojok dekat pohon pinang setinggi bahuku inilah tempat kami memeluk kebersamaan. Selalu di sini. Bersembunyi dari pandangan pengunjung lain yang mungkin mengenali salah satu dari kami. Ini adalah pertemuan terlarang, tak mungkin bagi kami menunjukkan diri terang-terangan.

Dua tahun lalu, aku bertemu kembali dengannya melalui salah satu sosial media. Facebook. Sebuah perjumpaan tanpa unsur kesengajaan. Lagu lama, bukan? Namun memang seperti itulah takdir kami. Setelah lebih dari dua belas tahun berpisah, kisah masa kanak-kanak itu pun tersambung kembali. Hingga saat ini.

Aku, dan juga dirinya, tak pernah menginginkan semua ini terjadi. Bukan kehendak kami. Bukan. Namun lebih karena ketidakberdayaan yang tak mampu melawan hati kecil. Logikaku, logikanya, melebur. Raib diterbangkan oleh benih-benih cinta yang kembali tersemai.

Salahkah? Iya, karena sebenarnya, aku dan dirinya, sudah berkeluarga.

Tetapi kami hanyalah manusia biasa, yang begitu angkuh menghalalkan sebuah kesalahan. Pembenaran kami berkacak pinggang dengan sombong, lalu dengan bangga menerobosi hati nurani masing-masing.

“Aku sudah sangat bersalah sama istrimu, Phoe, dan inilah balasanku.” Kali ini, matanya benar-benar meleleh. Kuraih jemarinya. Meremas dengan lembut.

“Phie, kamu itu ngomong apaan sih? Jangan bikin aku takut, dong.”

Ia tersenyum. Di balik luka yang masih belum kuketahui apa itu, ia masih saja tersenyum. Aku mencintainya karena ia perempuan yang lincah, ceria, dan penuh semangat. Namun kali ini, iya ..., baru kali ini kulihat sisi kelemahannya.

“A-aku ....”

“Apa?”

Isaknya makin deras. Berurai-urai membasahi semua rona wajahnya.

“Selamanya, a-aku ... Aku takkan mempunyai anak dari rahimku sendiri, Phoe.”

Terhenyak. Malam itu, aku merasakan sebuah tombak mencabik-cabik jiwa kelelakianku.

***

“Apa kau baik-baik saja, Phie?”

“Mana mungkin aku bisa baik-baik saja.”

“Setidaknya, setelah kau bercerita padaku, apakah kau sudah lebih baikan?”

“Apa itu merubah sesuatu?”

“Tidak.”

Kuhentikan ketikan jari di atas tombol Blackberry. Bodohnya aku. Sudah tentu ia takkan bisa baik-baik saja dengan keadaan yang mengerikan bagi semua kaum hawa itu.

“Apa kau mau mendengarkan sesuatu? Sebuah lagu, mungkin.”

“Kau belum tidur, Phoe? Bagaimana dengan istrimu?”

“Dia sudah tidur. Tenang saja.”

“Ini sudah hampir pagi. Apa kau tak lelah?”

“Aku masih mengkhawatirkanmu, Phie. Mana mungkin hatiku tenang saat kau sedang terluka seperti itu.”

“Ini bukan luka, Phoe. Ini hukuman. Ini karmaku.”

“Jangan berkata begitu.”

“Memang keadaannya seperti ini!”

Ah, perempuanku sungguh sedang terluka. Apa benar ini hukumannya? Jika benar begitu, bagaimana denganku? Apa hukumanku? Bukankah diri ini juga seorang pendosa, sama seperti dirinya?

Kutekan tombol kembali. Kali ini mengirimkan sebuah lagu untuknya. Perjalanan file masih melambat. Lalu setelah semua kotak berisi warna biru itu penuh, aku bernapas lega.

“Kukirimkan lagu untukmu, Phie. Semoga hatimu bisa lebih tenang.”

“Tengkyu, Phoe.”

Aku tersenyum. Sejenak, rasa ingin mendengarkan lagu itu datang. Jauh di sana, ia pasti juga tengah mendengarkannya. Lalu kuputar lagu itu. Meresapinya. Tak terasa, air mataku jatuh.

When you try your best but you don’t succeed
When you get what you want but not what you need
When you feel so tired but you can’t sleep
Stuck in reverse

And the tears come streaming down your face
When you lose something you can’t replace
When you lose someone but it goes to waste
Could it be worse?

Lights will guid you home
And ignite your bones
And i will try to fix you

...

Malam hampir meninggalkan waktunya. Lagu itu semakin lamat terdengar. Sejenak kemudian, lelap datang menjemput. Dalam mimpi, aku bertemu dengan seorang malaikat betina dengan sayap yang patah berkecai. Datang menghampiri, sambil berurai air mata berlian.

***

“Ayah baik-baik saja?”

Istriku tiba-tiba sudah duduk di samping ranjang. Tangannya membelai rambutku. Matanya berkesap-kesip. Binarnya menghangat.

“Ayah mimpi apa? Mengapa dari tadi tidur sambil terisak?”

Aku mengigau? Ah, ya ... Aku kembali ingat, mimpi itu seolah nyata. Hatiku masih terasa perih. Wajah malaikat itu, mencuri rona kekasihku.

Sesakit inikah, rasa mencintai itu?

“Bunda ....”

Kupeluk punggung Rany, merebahkan kelelahan di bahunya. “Ayah ingin seperti ini, sebentar saja.” Aku memejam mata.


“Lama juga gak papa kok.”

“Aku sayang, Bunda.”

“Bunda tahu.”

Rany membelai tanganku yang tengah melingkar di perutnya. Tuhan, aku banyak menanam benih luka di hatinya.

“Maaf ...,” desisku.

***

Pagi pukul sembilan. Mobilku sudah berhenti di tempat biasanya. Tepat di bawah pohon akasia merah yang kala ini tengah menggugurkan kelopaknya. Setengah jam aku menanti. Perempuan berambut ikal panjang itu kulihat tengah menyeberangi lalu lintas Jalan Diponegoro. Semenit kemudian, ia menghampiriku.

“Mana suamimu? Tumben kau berangkat kerja sendirian,” tanyaku padanya, ketika ia sudah memasuki mobil.

“Sudah berangkat setelah subuh tadi.”

Ia tersenyum. Matanya bersinar. Namun masih kurasakan duka di tiap sudut-sudutnya.

Mobil hitamku perlahan berjalan kembali. Jalanan Sabtu ini tak terlalu padat. Beberapa perkantoran di Surabaya meliburkan karyawannya di hari Sabtu-Minggu. Termasuk diriku.

“Sejak kapan kau tahu keadaanmu itu, Phie?” tanyaku memecah keheningan. Sedikit rasa canggung masih terasa menggigit setelah kudengar kabarnya semalam yang sangat mengejutkanku. Bagaimana seorang perempuan akan bertahan dengan situasi seperti ini? Kuatkah ia menahan lukanya?

“Tujuh bulan lalu. Sebelum kita bertemu kembali di Royal Plaza.”

Ia menjawab dengan tenang. Bagaimana bisa seperti itu? Setenang itu?

“Aku kadang lelah, Phoe. Aku ingin menikmati waktuku sendiri. Tanpa dirinya. Apakah kau ..., masih mau menculikku kembali, seperti dua tahun lalu?”

Jiwaku tumbang, aku terkejut. Seketika darah di dalam nadi-nadiku berdesir cepat. Seolah berjalan terbalik dari jalur yang telah ditetapkan-Nya. Menculiknya? Ah, memang sudah bukan hal baru untuk lari dari dunia nyata yang membelenggu perasaan kami. Hanya saja ..., masih mungkinkah aku melukai Rany kembali? Setelah sikap maaf yang dia berikan kepadaku?

Kebimbangan itu semakin menyudutkanku. Lalu, dari hingar bingar rasa yang ia pendar dari bola matanya yang sebening embun itu, aku melihatnya. Sebuah kenangan. Melesat tak berbelas kasih, mengoyak ingatan.




~ 0 ~





Melukis Kenangan



"Ini adalah tempat, di mana hanya kita yang tahu."



Sebenarnya, di otakku masih terasa segar aroma kenangan dua tahun lalu bersama dirinya. Hari itu, untuk pertama kali aku melarikan perempuan dari lelaki lain. Aku berkata padanya, “Maukah kau mengukir kenangan bersamaku? Setidaknya, sekali saja.”

Lalu tanpa kusangka, perempuan itu mengiya-kan ajakan konyolku ....

***

“Aku sedang marah pada waktu yang sombong pada kita, Phoe. Dua belas tahun, kenapa tak sekali pun dia memihak pada kita?”

Kutatap matanya. Layu. Entah ia tengah menerawang pada apa. Lalu pupilku beralih menekuri kaki-kaki perempuan itu, yang sedang asyik menerjang ombak. Melumat buih laut hingga hilang dibenamkan pasir pantai. Sesekali ia tersenyum, mungkin karena rasa geli. Lalu mimiknya kembali pulang pada raut wajah yang kosong.

Senja Pantai Papuma semakin lahap ditelan garis langit. Carut marut awan berwarna merah emas membaur pada denting-denting perasaan kami yang biru. Sebuah rindu terhimpit ketidakberdayaan. Pada kisahku dengannya di masa kanak-kanak dahulu.

Alia adalah gadis cilik yang sering melintas di depan rumah, sambil mengayuh sepeda kuning berlapis warna keperakan. Wajahnya lugu nan manis. Sosoknya periang.  Berminggu-minggu kemudian, kisah cinta monyet di antara kami itu pun bersambut. Aliaku baru dua belas tahun kala itu. Sedangkan aku, lima belas.

Rasaku padanya hanya bertahan selama sebulan. Tak lebih. Karena mata mudaku, menangkap sosok gadis yang lebih cantik dari Alia. Kisah kami pun berakhir tanpa kata perpisahan. Kutinggalkan dirinya. Aku tahu, hatinya dipenuhi dengan pertanyaan, “Mengapa?” yang tak pernah bisa terjawab.

Setelah pertemuan kembali di jejaring sosial itu, kami menghabiskan malam-malam penuh gejolak di ruang chat pribadi. Aku dan Alia menikmati masa-masa mengenang kembali kisah lalu kami. Memutar otakku agar bisa kembali padanya. Tentang lagu-lagu masa kecil yang kami perbincangkan, tentang film favorit yang pernah kami lihat berdua, juga tentang tempat-tempat yang pernah menjadi persinggahan kami.

Lambat laun, rasa itu muncul kembali. Menyelusup di hatiku. Bagaikan sebuah ketukan lembut dari seorang gadis yang selalu kutunggu kedatangannya, lalu aku membuka pintu, merengkuhnya dan menerima pernyataan cintanya.

Dadaku bergejolak. Tiap detik selalu kutahan agar dia tak melangkahi kesadaran. Ini buta. Bukan hal yang nyata, dan aku harus bisa melawannya.

Namun, aku bodoh. Kalah dengan perasaanku sendiri.

“Maaf karena aku telah datang dan membuka kembali kenangan kita di hatimu. Seharusnya, kisah itu tertutup selamanya,” katanya waktu itu. Ketika kuberitahu perasaanku yang sebenarnya.

“Bukan salahmu. Aku yang menghendakinya. Maka aku-lah yang bertanggung jawab atas rasa ini.”

“Kita hanya manusia, bukan?”

“Iya. Kita hanya manusia.”

Setelah itu, Alia mengakui bahwa ia pun merasakan hal yang sama seperti perasaanku. “Aku tak mampu membendungnya juga. Maafkan aku,” ucapnya pelan.

“Kau melamun apa?”

Perempuan tercintaku sudah menambatkan wajahnya di samping. Ia tiba-tiba sudah menemani duduk di batang pohon yang sengaja ditumbangkan di tepi pantai ini.

Aku membalas pertanyaannya dengan tersenyum, “Ah, tidak kok.”

Mata Alia kemudian kembali menikmati senja. Seperti sedang melumat warna itu di penglihatannya. Dahulu, Alia pernah berkata bahwa ia sangat menyukai warna langit yang kuning keemasan. Juga pada bulan yang sedang menyabit sempurna. Karena itulah kubawa ia di sini. Ini, tempat terindah yang kuhadiahkan padanya.

Hanya teruntuk dirinya.

“Apa kau pernah memikirkan, bagaimana seandainya kita belum saling terikat dengan pernikahan, Phoe?”

Aku terdiam. Pertanyaan itu sudah berbulan-bulan ini kutanyakan pada diri sendiri. Namun tak pernah ada jawaban.

“Kau tak bisa menjawabnya? Ah, tentu saja.” Alia manggut-manggut.

“Tidak, bukan begitu. Kau pun sebenarnya tahu, pertemuan ini takkan mungkin kita genggam selamanya. Kita akan saling menyakiti, demikian pula dengan orang yang mencintai kita. Bagiku, sudah cukup seperti ini. Kau dan aku, hanya sebagai hantu bagi satu sama lain. Sesuatu yang tak nyata.”

Alia tersenyum kembali. Senyum yang sama dengan gadis kecil bertahun-tahun lalu.

Ah, aku merindukannya ....

“Setidaknya, aku memiliki kenangan indah bersamamu di sini. Ini adalah tempat, di mana hanya kita saja yang tahu, Phoe.”

“Dan setidaknya, aku bisa memberimu kebahagiaan yang belum sempat kuberikan di masa lalu.”

Matanya mengerjab, seolah ingin menangkap kata-kata yang baru saja kulambungkan, lalu mendekap erat di hatinya. Dada ini semakin bergetar. Sebuah bayangan seorang wanita yang sedang setia menantiku di sana menyapa. Kutepis. Wajah itu melenyap.

Senja durjana kini sudah menghilang. Digantikan kegelapan yang lamat-lamat mulai merajai pandangan kami berdua. Alia kembali bermain air laut yang makin girang memepermainkan kaki-kaki telanjangnya. Ia berlari. Diam berhenti. Berkali-kali menghentakkan kaki ke pasir yang tergenang air. Baru kemudian berlari kembali.

Ah, sungguh cantiknya ia.

Kubenanamkan batang rokok ke pasir pantai. Sedetik kemudian Alia berlari menghampiri dengan tawa lebar kegirangan. Napasnya tersengal. Sambil menelan ludah, ia berseru, “Aku tadi melihat tebing di atas sana. Sepertinya pantai ini akan tampak semakin indah jika kita melihatnya dari sana!”

“Benarkah?”

Kekasihku mengangguk. Tanpa babibu lagi, kami berdua berjalan menuju arah tebing yang ditunjuknya. Jalan yang kami lalui lebih terjal. Namun sama sekali tak menyurutkan niatku dan dirinya untuk mendaki tebing yang menjorok ke pantai itu. Dan benar saja, Pantai Papuma yang tengah bermandikan cahaya bulan gendut malam ini, jauh kelihatan lebih indah dari sini.

“Bagaimana?” tanya Alia. Rambutnya berkibar diterpa bayu.

“Cantik!”

Kami berdua tertawa.

Angin pantai yang menjamah tebing semakin dingin. Kulihat Alia menahan gigil sambil menekuk kedua tangannya di depan dada. Napasnya mulai mendesah tak keruan. Aku melepas jaket yang menempel di tubuh, lalu menyematkannya di bahu perempuan itu. Sejenak, mata kami beradu. Dalam. Teramat dekat. Kelelakianku mulai bergejolak. Degupnya naik turun. Tanpa sadar, Dewa Renjana hadir di antara kami, berbisik mantra guna-guna.

Cepat-cepat, Alia memalingkan muka. Mengambil langkah menjauh dariku. Sedetik kemudian, aku teringat akan sesuatu yang menyayat batin. Kesadaranku kembali.

Iya, kami memang saling mencintai. Namun jiwa kami tidak serendah itu. Ada sebuah batas yang tak seharusnya kami langkahi di sini. Ada sebuah cinta, yang harus kami jaga kehormatannya. Di sana. Tempat tujuan kami untuk pulang.

“Phoe! Kaulah cinta pertamaku! Sampai kapan pun, kau tetap yang pertama bagiku!” Tiba-tiba Alia berteriak di bibir tebing. “Berjanjilah kau akan selalu mengingatku! Berjanjilah kau akan selalu mencintaiku!”

Aku terhenyak. Jantung ini semakin kencang berdenyut di akarnya. Perempuan itu menoleh menatapku. Bibirnya kembali merekah seperti biasanya. “Apa kau mau berjanji padaku, Phoe?”

Gemetarku sedikit reda. Berganti sebuah rasa tentram tatkala menatap sosok cantik yang menggoda di hadapanku itu.

“Iya, aku janji. Aku akan selalu mencintaimu, bahkan hingga seribu tahun sekali pun. Dan kau, berjanjilah untuk selalu bahagia, walaupun setelah ini mungkin kita takkan kembali menjadi manusia yang gila karena perasaan ini. Apa kau bisa, Phie?”

Rinai Alia meleleh.

“Iya, aku janji ....”

Bulan merah pucat memandang kami dari kejauhan. Aku berdiri memeluk Alia yang yang tengah limbung karena lukanya. Malam pun pingsan di depan kami. Hening. Di bibir tebing, kami putuskan untuk bersanding. Duduk sambil menautkan jari jemari. Menatap gelap, berdecap harap agar semua ini tak cepat berlalu di antara kami.

Selamanya ....

Namun fajar telah tiba. Alia menangis kembali. Kusentuh dagunya, lalu kesalahan itu terjadi juga. Ciuman yang lembut, laksana marshmallow yang lumer di lidah. Setelahnya, ia berkata pelan sambil menundukkan kepala, “Tak ada yang terjadi di antara kita, Phoe. Tak ada yang terjadi. Kita pantas untuk melupakan malam dan fajar hari ini.”

***

Aku pulang. Tepat pukul satu pagi buta, di hari berikutnya. Rany menyambut dengan wajah yang tampak lelah. Seraut kekhawatiran itu ada. Sementara aku, setitik rasa bersalah padanya muncul. Hanya setitik.

“Ayah belikan nasi kucing kegemaran Bunda. Mau makan sekarang?” kataku mencoba mengalihkan perasaanku sendiri.

Rany mengangguk. Kemudian kami berdua duduk di bawah lantai rumah. Dia membuka pembungkus nasi dari daun pisang itu. Isinya menyembul. Menggiurkan. Dengan lahap, dia memakannya. Kuelus rambut Rany penuh kasih. Kukecup keningnya. Dia tersenyum.

“Enak,” ujarnya dengan mulut yang penuh, mengunyah nasi dan paru goreng.

Sebuah pesan singkat masuk. Kubaca nama pengirimnya, Phie. Aku sedikit menghindar. Berpura-pura berdiri menghadap lemari es di samping Rany.

“Kau sudah pulang?”

“Sudah, baru saja sampai,” balasku.

“Baguslah. Aku mengkhawatirkanmu.”

“Aku baik-baik saja. Tidurlah.”

“Kau juga, istirahatlah. Bermimpilah tentang kita di pantai itu.”

“Aku mencintaimu, Phie.”

“Aku juga, Phoe. Terima kasih buat kenangan yang kau berikan dua hari ini.”

“Good night, Phie.”

“Night, Phoe.”

“BBM dari siapa? Kok malam-malam sekali?” Aku terkejut. Tiba-tiba saja Rany sudah berada di belakang. Mulutku gagap. Segera ku-endchat percakapan dengan Alia.

“A-anu ... I-itu Aris,” jawabku sekenanya. “Bunda sudah kenyang? Tidur, yuk.”

Rany memelukku. Rapat. Lalu kami berjalan ke kamar. Menikmati kebersamaan yang telah kulupakan dua hari lalu.




~ 0 ~

(bersambung)

Minggu, 30 November 2014

LELAKI DARI MASA LALU



"Mengapa kau harus kembali di kehidupanku?"

"Ma-maafkan aku, Ra. A-aku ...."

"Aku apa?"

"Aku memang salah, Ra. Tapi kau tahu aku terpaksa melakukannya."

"Jadi keterpaksaan itu adalah suatu pembenaran atas semua yang telah kau lakukan padaku?"

"Tidak, bukan begitu. A-aku ..., aku mau kau kembali padaku."

"Kembali padamu?"

"Aku masih sangat mencintaimu, Ra. Kumohon, kembalilah bersamaku. Aku akan membayar semua kesalahanku padamu."

Kutatap wajahmu yang melusuh. Hujan meliris, kita masih berdiri di bawah pohon beringin ini. Aku menjadi bisu. Kau pun memilih bertahan dalam penantian, menunggu sebuah jawab dari bibir ini.

Ah, entah sudah berapa purnama kita berpisah. Walaupun lukisan wajahmu yang terpatri di dinding kenangan masih terlihat begitu jelas, namun tak sekali pun kumimpikan untuk menjumpaimu kembali. Kau laksana bulan yang takkan pernah tergapai. Kau lihat, benteng itu masih kokoh berdiri di antara duniaku dan milikmu. Siapakah aku, Ru? Siapakah pula dirimu, akan selalu kuingat jarak itu.

"Kau cantik, Ra," ujarmu di keheningan malam suatu waktu. Desir angin meniupkan aroma cinta antara kita. Degup jantungmu terdengar begitu lantang, menemani gigil tubuhku yang mulai menanggalkan kain satu persatu.

Lenguh napasmu hangat, merengkuh jiwaku yang rapuh karena denting renjana telah membabi-butakan malam laknat yang mencumbui kita. Kau menikam lembut liang-liang kerinduanku, sementara aku hanya bisa pasrah. Hanya mampu mendesahkan namamu pada bibir yang bergetar.

Ru, lingkaran dosa telah kita langkahi bersama, namun setelahnya kau pergi tanpa sepatah kata. Aku meratap atas kebodohan ini. Memaki semua rasa cinta di dada dan melumatnya dengan harap akan menjadi debu kebencian. Tapi aku tak mampu, Ru. Aku masih sangat mencintaimu, bahkan itu kebusukanmu sekali pun.

Berhari-hari aku hanya mampu menangisi diriku sendiri. Rahim yang dulu kosong kini telah terisi benihmu, Ru. Lalu mereka datang dengan tatapan yang menakutkan. Sesak, Ru. Aku kehilangan napas ketika suara-suara itu mulai menghakimi. Meneriakan umpatan-umpatan, mengatai diriku jalang. Bagaimana aku bisa disebut jalang hanya karena mencintaimu, Ru? Bagaimana bisa!

Kaki-kaki telanjangku terus berlari tiada henti. Mata hatiku sasar, mencari sosokmu yang telah lama raib. Kau yang telah menjelma layaknya hantu itu, bagaimana pun jiwa ini mencari, tak mampu kutemui dirimu di mana pun. Aku limbung, Ru. Aku gila. Apakah ini hukuman karena mencintai seorang anak raja sepertimu?

Ah, Ru ..., aku ingin mati. Aku akan tenggelamkan tubuh ini di danau tempat kita mencampakan keperawanan itu.

Pelan-pelan, kubenamkan raga di danau suatu malam lalu, kala putus asa merajai jiwa kotor ini. Hening menjamah penyatuanku dengan air yang dingin. Lalu, dalam kesadaran yang hampir lesap, kurasakan sebuah lengan kokoh merengkuh tubuh. Gelap. Hanya terdengar suara kepakkan lembut sayap para kunang-kunang. Kemudian, sunyi menyergapku.

Dua purnama sudah aku bersamanya. Kemudian lelaki itu berkata kalau dirinya telah jatuh cinta padaku, Ru. Ia bahkan rela bersujud, memohon sebuah kehidupan baru untukku setiap kali hendak kupotong nadi yang mulai membusuk ini. Kau dengar ucapku, Ru? Kehidupan baru, yang berarti juga untuk anak kita.

Ah, betapa mulia hati lelaki yang bahkan belum kukenal itu. Kau bukan sesuatu yang indah lagi tatkala mata ini menatapnya, Ru.

Hingga akhirnya, di bawah sinar bulan pasi yang terang benderang itulah ia menikahiku. Membelai lembut sisa-sisa cinta yang telah kuserahkan semuanya padamu. Ia yang hidup hanya sebagai seorang penarik perahu di danau kenangan kita, telah mampu menghidupkan kembali binar-binar semangatku. Detik demi detik kulalui bahagia ini sambil menyulam kembali cinta teruntuknya. Ia malaikat bagiku, Ru.

Walaupun nasi kami tak pernah mencukupi untuk mengenyangkan perut-perut ini. Walaupun lauk jarang ada di atas piring yang aku hidangkan setiap hari. Walaupun tak ada selimut yang mampu menghangatkan malam-malam kami, tapi aku bahagia, Ru. Sangat bahagia.

Karena itulah, Ru, sudah jelas apa jawabanku untukmu saat ini, bahkan untuk selamanya.

-A.M.231114-


Rabu, 29 Oktober 2014

KEPAM



  
Selama ini, kami tak pernah tahu kelaminnya. Entah lelaki, entah pula perempuan. Entah tua, entah pula anak-anak. Atau orang dewasa yang berotak anak-anak?
Yang kami pahami selama ini, dia adalah seorang dewa yang menghuni sebuah rumah mewah. Banyak kamar yang dia punya di sana. Ruang yang bersekat-sekat. Sebagian gelap, sebagian terang.
Kami pernah diundang datang masuk ke dalam rumahnya itu. Awalnya kami sangat bahagia. Bagaimana tidak? Dia seorang dewa yang sangat kami agung-agungkan kepandaiannya, kepiawaiannya bermain aksara. Bertutur lembut atau pun kasar, kami tetap memujanya.
Tapi di situlah letak kebodohan kami. Dia yang sempurna, ketika makin banyak yang membuntuti punggungnya, tiba-tiba menjadi angkuh. Saat berkata, dia suka mendongakkan kepala tinggi-tinggi. Bahkan sampai menjulang ke arah pelangi, membuat warna-warni itu pudar lalu menghilang. Langkahnya jinjit, seolah najis menjamah tanah kami yang sudah lama kekeringan. Lebih banyak cercaan yang melompat dari bibirnya yang menghitam karena terlalu sering menghisap kelobot yang dibakar. Jika ada yang tak patuh oleh perintahnya, atau yang tak sepaham dengan pemikirannya, dia akan menghapus jejak orang itu dari layar kehidupan. Kadang dia mengunci mereka rapat-rapat di dalam sebuah bilik pengap tanpa secerca sinar matahari sedikit pun. Menjauhkan dari pikuk dunia yang berwarna, mengkerdilkan nama-nama mereka.
Banyak yang sudah disiksa oleh kesombongannya. Namun beberapa dari kami yang begitu mendewakannya, selalu menutup mata, telinga, bahkan hidung-hidung yang tak mancung ini.
Kami tak ingin dia murka lalu menelan tubuh ini bulat-bulat. Seringainya bahkan lebih menakutkan dari moncong singa penunggu Hutan Terlarang di ujung dusun kami.
Hingga suatu hari, seorang dewi datang—entah dari mana. Dewi cantik dengan tangan gemulai dan lincah membelai kesepian kami. Senyumnya menghangatkan, begitu mampu membenahi jiwa kami yang telah lama retas karena rasa kebodohan.
Ia mengajarkan kami banyak hal, hingga semua yang pernah diajarkan oleh dewa yang congkak itu, raib tanpa sisa.
Pelan-pelan, satu persatu dari kami berbondong-bondong mendatangi gubuknya di atas Bukit Kepedihan. Lampu-lampu kami nyalakan. Pepohonan nan lindap kami tanam di sisi-sisi kediamannya. Kami berkumpul membangun desa baru yang penuh dengan aroma kebahagiaan. Tak ada dengki atau pun iri hinggap di hati. Tak ada ketakutan. Tak ada kepatuhan yang dipaksakan. Semuanya berjalan indah dan damai.
Desa kami berkembang bagaikan spora yang diterbangkan angin lalu hinggap di tanah, menumbuhkan bibit-bibit baru. Bayi-bayi mungil yang memiliki renyutnya sendiri. Menyanyikan pikatnya sendiri, tanpa lagi dicampuri jiwa sang dewa yang selalu dijejalkan paksa selama ini.
Kini, ketika kami turun bukit, puing-puing dusun yang telah kami tinggalkan telah ranap. Tak ada lagi terdengar lenguh napas atau pun denyut kehidupan. Kami hanya melihat sebuah rumah mewah nan megah yang masih berdiri kokoh di tengah. Ada sinar di sana, namun cahaya yang kusam. Ada suara di sana, namun hanya tutur-tutur penuh kesedihan dari mereka yang masih tertahan di dalamnya.
Di dalam hati, kami berdoa, semoga kelak ada kebebasan yang hakiki menjamah rumah mewah yang ditinggali oleh mantan dewa terkasih kami itu.
Semoga ....

Selasa, 28 Oktober 2014

WANITA YANG MENARI BERSAMA HUJAN







Ah, secangkir brown coffee lagi. Iya, hanya itu yang aku miliki. Tangisan langit masih menderu-deru di luar. Beberapanya tumpah pada kaca jendela yang saat ini tengah kuselingkuhi dengan keheningan. Titik-titik air itu menatapku tajam, seolah marah karena tak kupedulikan lagi.

Ah, Kalian. Bagaimana aku bisa riang bermain bersama, sementara tawa-tawaku telah menghilang? Maafkan aku. Saat ini aku hanya ingin sendiri sambil menikmati isi cangkirku yang mengepul.

"Wanita Hujan!"

Aku ingat, dia yang baru pertama kali kutemui di sana, menjulukiku dengan nama itu. Aku yang suka berlari, berdansa, tertawa senang memainkan rintik demi rintik. Lalu dia, lelaki dengan bola mata seteduh mendung, hanya melihatku dengan senyum simpulnya.

"Kau suka hujan?"

Kuanggukkan kepala. Dia membalasku dengan senyuman.

"Mengapa?" tanyanya lagi. Sebegitu ingin tahunyakah dia? Batinku kala senja yang basah itu.

"Hujan akan meluruhkan semua kenangan pahitku, Tuan. Rindu-rinduku. Juga semua kenangan yang tak ingin berlama-lama terpilin dalam ingatan. Mereka bisa lakukan itu!"

Dia menatap dengan pandangan--kutebak--sangat takjub. Bola hitamnya terlihat berbinar. Entah mengapa, dada ini berdebar. Seperti ada sesuatu yang merayapi bulir-bulir nadiku. Akhirnya, karena tak ingin merasakan lagi rasa yang telah kubuang jauh-jauh, aku pun memilih pergi. Lari dan melesat di antara rinai kesayanganku.

***

"Wanita Hujan!"

Lelaki itu kembali menampakkan wujudnya di suatu sore. Aku terkesima. Tangannya melambai-lambai dengan senyum kegirangan.

Mengapa? Mengapa dia terlihat begitu senangnya berjumpa denganku?

"K-kau." Dia berkata dengan napas yang terkapah-kapah, setelah berlari mendekat. Jari telunjuknya bergoyang-goyang mengarah padaku. Dia menekuk punggung, menopangkan tangan kanannya pada lutut. "A-apa kau selalu ada di sini?" lanjutnya kemudian.

Aku diam. Hanya menatapnya dengan penuh rasa tak percaya.

"A-aku, aku selama ini tak pernah melihatmu," tanyanya kembali, masih dengan dada yang naik turun.

"Aku baru seminggu ini ada di kotamu, Tuan."

Dia mengangguk, seolah paham. Tanpa rasa malu, dia kemudian menempatkan diri, duduk di sampingku.

"Apa yang kau lakukan di taman ini?"

"Menunggu sahabatku datang."

"Ouw! Kau sudah punya kenalan di kota ini rupanya."

"Hujan? Ah, bukan kawan baru. Ia sahabatku sejak aku dilahirkan."

Kujawab pertanyaannya dengan datar, namun tak kusangkah jika lelaki itu malah terperanga. Apakah dia tak mempercayaiku? Hujan benar-benar sesuatu yang ditakdirkan bersamaku semenjak aku dilahirkan di tempat busuk itu!

"Kau menakjubkan!" ujarnya lagi. Kali ini dia ulurkan tangannya. "Namaku Ovan. Kau?"

Diam, tak kusambut tangan itu. Beberapa detik kemudian kulirik dia menarik kembali tangannya. Ah, entahlah. Pagi itu, mengapa aku begitu bodoh? Tak mau menyambut kehangatannya.

"Okey, baiklah. Sepertinya kau sedang ingin sendiri. Kuharap, suatu saat kita akan bertemu lagi, di sini."

Sebelum beranjak, lelaki itu melambungkan lambaiannya dan menatapku penuh arti yang tak mampu kubaca. Punggungnya kuamati. Bulir-bulir darahku bergetar. Ujung-ujung tubuhku rasanya meremang tak keruan. Pagi itu, aku tahu ..., aku telah jatuh cinta.

***

Di hari selanjutnya, ketika senja mulai menggelitiki wajah angkasa, dia sudah berdiri di tempat itu. Aku mengulum senyum.

"Kau terlambat," ujarnya. Kata-kata yang seperti biasa, tanpa ada sekat, seolah kami sudah kenal sejak lama.

"Sebenarnya aku tak mau datang kemari."

"Ohya? Lalu, kenapa sekarang kau ada di sini?"

Ah, mata teduh itu lagi. Menatapku dengan binar keingintahuannya padaku. Apa istimewanya diriku ini. Dia bahkan tak mengetahui, siapa sebenarnya diriku.

"Kawanku tak datang hari ini. Tapi entah mengapa ada sesuatu yang membuat langkah kakiku mendarat di sini, Tuan," jawabku tanpa ekspresi sama sekali. Kutempatkan tubuhku di sebuah bangku taman yang terbuat dari besi bercat warna biru.

"Kawanmu? Maksudmu hujan? Akh, kau ini unik. Kata-katamu selalu membuatku terkejut."

Aku tersenyum secuil saja kala itu saat mendengar ucapannya. "Aku tak bohong, Tuan."

"Ya, sudahlah."

Sejenak kami diam. Kulihat dia menjatuhkan tatapannya pada senja di sela-sela pepohonan akasia. Wajah yang meneduhkan. Serasa, aku ingin memilikinya.

"Kalau kita bertemu lagi, kuharap kau mau mengatakan siapa namamu, dan kuharap juga kau panggil namaku Ovan, bukan Tuan," ucapnya lembut.

Sekali lagi, aku hanya tersenyum simpul, sambil terus menikmati wajahnya yang menentramkan.

***

Brown coffee yang sudah menghangat itu kusesap. Rinai hujan masih saja mengejek kediamanku pada mereka.

"Kau telah jatuh hati, Ame, kami tahu itu."

Aku diam, masih terus menikmati pahit-manisnya rasa kopi di cangkir hitamku.

"Kau tak takut terluka lagi?"

"Jangan, Ame ... Hapus rasa itu."

"Menarilah bersama kami, Ame. Jangan diam saja!" Mereka tak henti berseru-seru. Memekak telinga.

"Tak," desahku lirih. 

"Kau bodoh, Ame! Kalau kau tak menari dan membasahi dirimu bersama kami, kau akan teringat lelaki itu!"

"Lelaki itu ...."

Pelan-pelan, kenangan mulai merayuku. Kedua mata ini menimang linangan. Basah. Lalu, wajah lelaki yang pernah menjatuhkan hatiku pada kata cinta itu pun samar-samar menampakkan wujud. Suara-suaranya yang mencekik, juga amarahnya yang membumbung.

"K-kau! Bagaimana bisa kau diam selama ini, Ame? Bagaimana aku bisa mengatakan pada kedua orang tuaku, ka-kalau kau ..., kau ini anak seorang pendosa!"

Ah, malam itu segalanya tumpah. Bahkan napasku pun telah lesap.

"Sori, aku tak mungkin menikahimu!"

Akhirnya, air mataku meleleh deras. Tanpa menunggu detik berikutnya, aku beranjak dari kursi. Berdiri dan melangkah menuju pintu keluar. Titik-titik hujan yang sedari tadi menanti tampak begitu riang tatkala kakiku mulai menginjak tanah, kerikil dan rerumputan yang mereka basahi.

Iya, Sahabatku, aku datang. Terimalah tubuh kotorku ini. Basuhlah darahku yang mengalir dari keturunan sang pendosa. Lunturkan kenangan pahit itu dari pikiranku. Menelusuplah ke dalam ujung-ujung kepalaku, lalu rengkuhlah sukmaku, Sahabat!

Aku tak ingin ingat lagi ....

Kedua tanganku terlentang. Kunikmati setiap rintik yang menjamah kulit. Hangat. Aku dipeluk cinta mereka.

Ah, Ovan. Seandainya kau tahu siapa diriku, kau pun pasti akan lari seperti lelaki itu, bukan? Karena itu, Ovan, jangan mencoba dekati diriku lagi. Please. Semoga angin mengabarkan pintaku ini ke arah tempatmu bersemayam.

Selamat tinggal, Ovan. Kuluruhkan cintaku bersama hujan senja ini.



-A.M.141014-

Senin, 27 Oktober 2014

FLASH FICTION




 
Sebuah Pilihan

“Apakah semua orang mati itu akan tenang jiwanya?” tanyamu pada waktu yang berjalan lambat di hadapanmu. Kau lihat dirinya. Jarum-jarum itu berdetak pelan, diam tak menjawab.

“Apakah dengan mati aku benar-benar bisa tenang? Tak merasakan lagi rasa sakit itu ...?” desismu kembali.

Malam semakin pekat. Keraguanmu bergejolak. Jemarimu masih kuat mencengkeram sebatang pisau yang berkilat-kilat. Pilihanmu hanya satu. Akankah kau akhiri napasmu, ataukah kau lanjutkan hidupmu yang makin membusuk?

Entah ....

Kau hanya terus bertanya pada waktu. Walaupun diam adalah jawaban abadi darinya.


Pertanyaan

“Mak, kapan Bapak pulang?”

Pertanyaan anaknya mendekap sesak yang telah lama ia pendam.

“Belum tahu, Nduk. Semoga saja Bapak cepet memberi kabar,” jawab ia seadanya.

Perempuan itu hanya sedang tenggelam dalam kesedihan. Hingga ia tak tahu harus berkata apa agar anak lima tahunnya itu bisa paham tentang arti kerasnya kehidupan yang tengah ia kunyah. Bahkan duri binatang jantan itu telah menancap kuat di hati. Membuat organ merah itu pucat, karena luka yang menjelma nanah.

“Aku kangen Bapak, Mak,” kata anaknya lagi. Kali ini diiringi linangan di sudut matanya.

“Sabar, Nduk. Doakan saja Bapakmu cepat pulang. Mintalah pada Allah, agar Dia membuat hati Bapak ingat kembali pada kita.”

Anaknya mengangguk. lalu dalam rumah sepetak itu, seorang gadis kecil menaburkan doa. Meminta kepada Tuhan agar bapaknya segera dikembalikan. Dia benar-benar tak tahu, bahwa emaknya sedang terisak. Teringat suaminya yang tengah dimabukkan wanita jalang.


Gadis Jingga

Aku menelan ludah. Gadis berkerudung jingga tampak semakin bercahaya. Rona wajahnya menyiratkan keanggunan hati yang ia miliki. Lindap langkahnya membuat debar jantungku semakin kencang mengoyak dada. Rasanya dia ingin keluar, untuk menjumpai jantung gadis itu, lalu bersanding bersama selamanya.

Namun akulah yang pengecut. Mencinta, tapi tak kuasa menatap matanya.

Gadis Jingga mendekat. Jiwaku hendak lari berhamburan, tetapi tubuh kakuku hanya bisa terdiam. Kini jarak antara ia dan aku sudah sebatas jari telunjuk. Ia menjamahku. Lembut. Lalu menaburkan pesonaku pada kerudung dan lengan bajunya yang putih pucat. Sejenak ia menghirup udara yang telah tercampur aromaku. Tenang. Lalu gadisku pun beranjak pergi. Dengan ucapan basmallah, ia menyedapkan langkah kaki, menuju ke arah dunia yang hingar bingar.

“Pergilah. Bercahayalah, Gadisku. Kutunggu kau pulang malam nanti,” desahku lirih. Tak mungkin terdengar olehnya. Hanya dia, sebatang lipstik merah jambu, yang cekikikan di samping saat melihat tingkah konyolku.

Pembantaian Pagi Hari

Pagi ini, kala matahari masih belum terlalu menyengat, kulihat para lelaki itu. Datang berbondong-bondong, dengan celurit yang menyeringai di tangan mereka.

Jantungku tersibak. Ketakutan yang menusuk-nusuk. Perih.

Kudengar jeritan-jeritan di ujung. Lalu lolongan tangis yang menyayat. Hatiku melarat-larat. Sahabat, kawan, rekan dan tetangga yang tinggal di depan, berhasil dibantai mereka terlebih dahulu.

“Tolong! Tolong! Adakah yang bisa menolong kami?”

Ah, tidak. Suaraku tercekat. Tak seorang pun yang mampu mendengarnya. Iya, tak ada.

“Kakak, aku takut.”

Adikku merintih. Aku bergeming. Tak mampu berbuat apa pun.

“Kakak ...,” ia merengek kembali.

Air mataku menetes. Pedih. Jika seandainya aku bisa lari, pasti akan melesat dari tanah ini. Tapi ..., itu hal yang mustahil. Kaki-kakiku tertanam!

Angin pagi berhembus perlahan. Aroma peluh dari para pembantai itu sudah hampir dekat di hidungku. Amis. Bau keringat yang terpanggang matahari. Semakin dekat. Semakin dekat. Hingga akhirnya, benda tajam itu pun menebasku. Hingga tubuhku terputus. Cairan pekat dari dalam terasa menetes. Jutuh terbenam di tanah.

Gelap. Samar-samar, kudengar suara berat dari seorang lelaki berteriak memerintah.

“Cepat! Kumpulkan tebu-tebu itu lalu angkat ke dalam truk. Sebelum pukul dua belas, kita sudah harus sampai ke pabrik!”

Rei dan Suara Misterius

Rei, aku ada di sini. Kau tak lihat aku?
Kemarilah ..., kemarilah, Rei. Di sini dingin.

Sayup-sayup gadis itu mendengar namanya disebut berkali-kali. Sebuah suara yang lindap. Pelan, tapi mencekik. Dada Rei berdegup. Semakin mengencang.

Rei, jangan tinggalkan aku. Jangan pergi sendiri. Aku kesepian, Rei.

Kini, tangisan yang menyayat terdengar. Telinganya meradang. Rasa takut itu pun menusuk.

Siapa itu?! teriaknya lantang.

Hening.

Ia mundurkan langkahnya beberapa. Kegelapan yang menggagahi sekelilingnya masih menghitam pekat. Hembusan angin merengkuh tubuhnya yang entah kenapa tiba-tba saja sudah basah kuyup. Rei menggigil.

Tangisan itu terdengar lagi.

Siapa kau? Jawab! Siapa kau?!

Tangisan itu menjadi diam.

Kau tak ingat aku? Benar kau tak tahu siapa aku, Rei?

Rei menggeleng.

Bukalah matamu, Rei. Jangan terpejam. Buka!

Gadis itu menelan ludah. Suara itu benar. Ia sedang terpejam!

Pelan-pelan, Rei membuka mata. Hitam, lalu berubah menjadi abu-abu. Perlahan, sinar mentari menyibak pandangannya. Sejenak ia menyapu sekitar dengan bola mata yang berkesip. Mencoba menemukan sosok suara itu. Hingga akhirnya, tubuh itu tampak juga. Di sana. Mengambang di atas danau dengan air yang dingin. Sebuah tali mengikat di lehernya.

Rei terperanga. Wajah itu ..., adalah miliknya.

Kau tahu, kan, siapa aku, Rei? Aku adalah kamu. Kau ingat?

Iya, aku ingat.

Tangisan Rei membuncah. Kejadian semalam itu pun mengapung di otaknya. Saat ia menanti kekasihnya di tepi danau ini untuk lari bersama, tiba-tiba sebuah tali melingkar di lehernya.

Kau pantas mati! Siapa yang mau manikah denganmu, hah? Kau itu aibku. Matilah kau dengan anak yang kau kandung itu, Rei! kata seorang lelaki dari belakang. Itu suara kekasihnya.


MIRAT

Pertama kali kau menceritakan kemarahanmu, aku sudah jatuh hati. Kau laksana seonggok daging yang terpanggang. Baumu harum memikat. Menggairahkan. Kau yang berjalan hilir mudik dengan napas yang meledak-ledak, memburuh kebencian yang mengambang di kamar kita.

“Kau bisa bayangkan, kan? Bagaimana marahnya aku!” teriakmu. Matamu yang berbinar merah, menatapku dengan begitu angkuhnya. Lalu jalanmu mengendap-endap, memiringkan kepalamu ke arah kiri, kemudian berbisik lembut dengan memicing mata, “Rasanya, aku ingin memakan dangingnya. Apa kau mau?”

Kau terkekeh. Kebengisan yang menggema. Telingaku tersayat. Tapi, aku puas melihatmu demikian, Kirei.

Siang yang mencekam. Keringat dinginmu mengalir deras. Aku tetap bergeming pada tempat yang telah kau tentukan. Hingga sore, saat senja telah kau laknat itu berani menunjukkan wajahnya padamu, akhirnya rencana-rencana yang kau susun sudah bulat. Sebulat matamu yang membuntang.

Malamnya, lelaki itu datang. Seperti biasa, kulihat kau menggandeng tangannya dan memasuki kamar kita. Pikat-pikat kemolekkanmu kau tebar. Aku tahu itulah keahlianmu. Anugerah yang diberikan Tuhan padamu, Kirei, dan kau tahu bagaimana cara menggunakannya. Sangat tahu ....

Apa kau lihat itu, Kirei? Tangan-tangan rembulan yang hampir kehilangan binarnya malam ini pelan-pelan menyelar ke arah gairahmu. Namun, kutahu kau tak peduli. Seperti katamu siang tadi, kau ingin menelan bulat-bulat daging lelaki itu.

Aku menunggumu, Kirei. Tetap dengan berdiri menggantung di dinding ini. hingga akhirnya, mataku melumat tubuh lelakimu yang kelojotan. Napas yang terkapah-kapah dan mata yang terbeliak, nanap. Setelah itu, hening. Kepuasan kurasakan meluncur dari senyummu.

Kirei, ini lelaki ketiga yang akan kau tanam belulangnya di belakang rumah, dan kau kunyah dagingnya.

“Kau tahu, aku benci dikhianati!” desismu geram, dengan seulas senyum jahat pada bayanganmu sendiri, yang memantul di tubuhku.