Selasa, 11 Maret 2014

SANG PEREMPUAN GILA



  
Sekali lagi perempuan itu kutatap dengan iba. Selalu saja terduduk di bawah pohon sono yang bahkan ranting-rantingnya telah dijemput kematian, kering, tak kuasa tuk hidup kembali.

Sang perempuan tetap dengan baju putih kucel yang sama dengan bulan-bulan lalu. Bercakap diam bersama sang hening yang merajut sunyi di antara keduanya. Sesekali tertawa, sesekali bisu. Berkali-kali terkekeh ringan dengan pandangan yang seperti hendak menyibak lalu lalang kendaraan di jalanan yang tak pernah lengang.

Aku terkesima seketika. Apa karena terlalu sering memperhatikan keberadaannya, atau karena memang mataku yang tengah sigap memandang perutnya. Lihatlah itu, dia mulai membuncit. Siapakah gerangan yang telah tak senonoh tega mencabuli perempuan gila di ujung lampu merah?

Ah, hatiku sakit. Bagai terhunjam beribu-ribu parang tajam. Setega itukah mereka, lelaki itu?

***

Ini sudah hari ketujuh. Pikiranku masih terus berpusat pada perut buncit sang perempuan gila. Bahkan sudah tiga hari ini tak tampak dia di tempat duduknya.

Lalu ke manakah? Entah..

“Bunda kenapa? Kok akhir-akhir ini sering melamun?”

Suamiku datang menghampiri kesendirianku. Kutatap dia lemah.

“Bunda memikirkan perempuan itu lagi?”

Aku mengangguk, “dia menghilang.”

“Menghilang bagaimana? Ah, mungkin saja dia berpindah tempat nongkrong. Bukankah berjalan itu sudah kebiasaannya.”

“Tidak. Seharusnya setiap pagi saat aku berangkat kerja, perempuan itu selalu ada di sana.”

Suami mengangkat bahunya tinggi-tinggi.

Kuhela nafas satu hembusan, “sepertinya dia sedang hamil.”

“Ah, masa!” mata suamiku memelotot tajam, seakan tak percaya benar dengan ucapanku.

“Siapa yang mau meniduri perempuan kotor seperti itu?”

“Entahlah, Yah. Jika memang ada dan nyata, justru yang kupikirkan selama ini adalah, bagaimana dia bisa setega itu?” tanyaku, dan tentu saja takkan mampu dijawab oleh suami.

Iya, bukankah manusia itu makhluk paling beradab? Tapi lihatlah ini, pada kenyataannya, manusia tega memangsa manusia lain.

Mereka ibarat setan, iblis di atas iblis. Limbung, jika tanpa agama di jiwa kotor mereka...

***

Hari kesebelas, perempuan gila itu kembali menduduki singgasananya. Aku bernafas lega.

Namun sedikit mataku terusik kembali dengan penampakannya yang semakin bersih. Iya, bersih dan lebih terawat dari terakhir kali aku menjumpainya.

Rambutnya tidak gimbal, malah lembut terurai, jatuh mengombak. Kulitnya yang telah melegam dibakar matahari, tampak licin mengkilap. Lalu baju putih kumalnya musnah, berganti daster bunga berwarna biru cerah.

Siapakah gerangan yang telah merawatnya?

Jika itu adalah sosok manusia yang berhati besar, mau mempercantik sang perempuan yang hidup terluntah di jalan dengan pikirannya yang kosong, lalu, mengapa dilepaskan kembali?

Pertanyaan-pertanyaan itu tercekat di hatiku. Ada suatu kejanggalan tersungging di sana.

***

Semangkok bakso hampir bersih karena kulahap isinya. Ini adalah jam istirahat para karyawan. Semua tengah asyik bercengkrama dengan rekan sejawat. Namun tidak denganku, yang justru lebih tertarik dengan sosok perempuan yang berdiri menyendiri di samping pohon pinang, tak jauh dari tempat kami makan.

“Kau lihat perempuan itu, Sus. Sebentar lagi dia akan melahirkan.” Pak Sarip si tukang mie ayam tiba-tiba membisikkan kalimat di sampingku.

Memang benar, perutnya yang membuntal itu semakin besar. Sudah hampir menetas.

Mesak’e, kuwi kerjaannya si tukang-tukang becak iku, Dek Sus.” Kali ini Pak Darwan yang menyelah. Lelaki empatpuluh tahun itu sepertinya paham benar dengan kisah pahit sang perempuan.

“Gitu kok tega yo, Pak? Kasihan,” jawabku.

Ngunu kuwi dudu manungso, Dek Sus. Mereka binatang.”

Benar, manusia berhati binatang tepatnya.

Ah, wahai engkau perempuan gila, ke arah manakah kelak jabang bayimu itu kau bawa? Apakah masih ada sanak saudara yang memperdulikan setiap jengkal hidup matimu? Ataukah mereka tengah berpura buta, apa memang hatinya telah mati rasa padamu?

Begitulah. Pikiranku hanya bisa kembali mendarat pada kata entah. Hanya bisa mendecap doa setiap kali bersujud pada kaki-Nya, agar kebaikan datang kepadamu, hai perempuan gila.

***

Aku ingin menjadi burung kenari yang terbang menjajah sang bumi. Menghilangkan derita gila yang mencekik leherku...

Atau menjadi senja kesumba yang menggagahi alam. Datang tanpa suara, pun pergi tanpa sisa, dilumat gulita malam yang hitam pekat...

Bisa juga kuharap berubah menjelma reranting pohon, bergelantungan tanpa arti. Menjadi dedaunan rimbun, atau mungkin kelopak bunga sono yang kuning kecil-kecil, jatuh diterbangkan angin, melepaskan segala sengguk pada kuasa-Nya...

Apakah kau ijinkan, wahai Tuhan, kepada perempuan yang dianggap gila ini?

Hah, padahal aku tak pernah jatuh pada kegilaan. Hanya sedang mengembara pada duniaku sendiri. Dan mereka tidak pernah tahu tentang ciak miak alam pikiranku yang telah bertingkat-tingkat lebih tinggi dari peradaban mereka...



Nda, 110314

( salah satu cerpen dalam buku antologi yang sedang saya godok dengan hati, Bismillah...)

SEBUAH CORETAN SEDERHANA

apakah cinta sebegitu rendahnya hingga kau menculik wanita lelaki lain?
ah, kalian ...begitu mudahnya mengartikan renjanamu adalah cinta, membuat senja menangis, lalu luntur di pangkuanku...


Nda, 110314
 

Senin, 10 Maret 2014

KEMUNING



  

Adalah dia, Kemuning, wanita berhati tangguh. Dalam usia yang hampir tigapuluh tiga, sudah mampu menaklukan musuh terkuatnya, aku, dirinya sendiri. Sempat tidak percaya bagaimana dia mampu menjegalku masuk ke dalam rongga hati yang terdalam, paling dasar dan paling gelap. Menguncinya rapat, tersenyum sebentar, lalu menghilang tanpa memandang ke belakang. Meninggalkan aku dalam perasaan kelam yang pernah kuciptakan sendiri, dahulu sekali, ketika aku masih mengagahi hatinya.

Sudah dua atau tiga bulan ini, dia membiarkanku kelaparan. Tidak sekalipun berbicara atau bahkan hanya sekedar menyapa hai. Padahal, sejak aku diciptakan oleh perasaan kalutnya, kami selalu bersama. Berjalan beriring-iring. Tak pernah dia meninggalkan aku dibelakang, melepas tangan, atau mengacuhkan perkataanku.

Lalu mengapa sekarang dia berkhianat?

Sudah lupakah siapa yang mengajarinya tentang hidup? Bahwa jangan pernah mempercayai seorang pun, hanya kita. Aku juga sering berkata padanya, jika hidup itu harus bisa membalas, jangan mau menjadi pihak yang lemah, begitu mudah diinjak dan disakiti. Tidak! Kita bukan wanita yang harus menjadi sandal bagi pria manapun.

Tetapi lihatlah kini? Dia diam padaku. Seolah aku ini sudah bukan bagian dari dirinya lagi. Benda asing. Sesuatu yang harus dibuang jauh-jauh dari kehidupannya. Baginya aku adalah hal buruk yang tak pantas bersemayam lagi di otak. Hei, padahal diriku ini nyata keberadaannya. Lupakah kau, Kemuning?

Ah, sebentar, kuhela nafas dahulu. Aku sudah terlalu lelah menunggunya datang menghampiri lalu menjulurkan tangannya kembali. Sama seperti dulu. Ingin menari bersama, dan meneriakan isi hati kami seru-seru dengan nada pedas.   

Oh ya, aku teringat. Terakhir kali kami bersama adalah malam itu, saat kepedihan luka lama menyeruak berhamburan, keluar dari pori-pori. Denting sepi, bulan durjana lalu anak embun yang mulai menampakan wajahnya. Mereka bertigalah yang menemani deru tangis Kemuning, yang sudah lama begitu dia rindukan.

Tangisannya memilu, menyayat hati. Berteriak, menangis, tertawa terbahak, kemudian menangis lagi kencang-kencang. Bulan bahkan malu untuk melihat Kemuning, tidak berdaya dilahap dendam amarah yang meluap-luap. Dalam remang cahaya dia menelungkupkan kaki, memeluk dengan kedua tangannya, sesegukan di dapur sendirian. Iya sendirian. Sebenarnya aku tahu lelaki itu, suami Kemuning, bisa mendengar teriakan dan tangisannnya, tetapi apa? Dia berpura-pura tuli. Hanya diam merebahkan tubuh di kamar.

Makhluk yang menyedihkan. Lelaki paling egois yang pernah kutemui!

Lalu apa kau tahu ke mana Kemuning setelah itu? Membenamkan dirinya dalam kamar mandi, dengan deru air kran yang deras, berkali-kali menyiram kepalanya dengan gayung sebesar panci air. “Byur! Byur! Byur!” Seperti sedang mengusir roh jahat dalam tubuhnya, sebuah ritual, sambil terus terisak. Kau tahu pukul berapa saat itu? Duabelas malam. Aku pikir saat itu dia sudah gila. Tetapi ternyata dugaanku salah.

Setelah malam itu, sekali pun dia tak pernah tertawa lagi padaku. Muncul sebuah kekuatan baru yang entah datang dari mana. Dan itu menakutkan. Dengannya Kemuning berhasil melawanku. Menindih semakin ke dalam. Terpuruk. Lalu beginilah akhirnya. Dia bebas, dari cekikan dendam dan kebencian yang telah bertahun-tahun menggerogoti pikirannya. Itulah aku, dendam dan amarah Kemuning pada suaminya sendiri.

Ah, ini tidak boleh seperti ini. Tak bisa dia terus-terusan mengacuhkan aku. Sungguh, harus segera bertindak sebelum kekuatannya semakin membesar. Maka, dengan sisa tenaga yang tersimpan, aku berusaha memanggilnya sekali lagi. Untuk yang terakhir kalinya, mungkin, tapi bisa saja juga tidak yang terakhir, kita lihat saja nanti.

“Kemuning.” Hening menggema.

“Hai, bisakah kau mendengarkan. Sebentar saja, berbicaralah padaku.”

Diam, masih tak ada jawaban. “Kemuning. Kemuning!” kali ini lebih keras.

“Apa?” akhirnya dia menyahut walaupun dengan perasaaan malas.

“Apakah kau benar sudah menyerah pada perjuanganmu selama ini? Menuntut hakmu untuk bahagia dari lelaki itu?”

Kemuning membisu sebentar, sambil terus merajut baju hangat untuk bayi perempuannya. “Tidak. Aku bukan orang yang mudah putus asa, kau tahu benar itu.”

“Lalu, mengapa sekarang kau melepaskan dirimu dari aku? Bukankah aku ini kekuatanmu untuk melawan keegoisannya.”

“Bukan, kau salah.”

“Apa maksudmu aku salah?” Hatiku meradang. Tersinggung benar aku akan perkataan Kemuning barusan.

“Kekuatanku bukan kamu, tetapi anak-anakku. Kau hanya sisi gelap yang mengaku menjadi penolong. Kau merusakku.”

Hah? Apa! Huh, geregetan aku. Dia malah menyungging senyum, bukti kalau benar-benar membenciku. “Jadi kau akan diam saja dengan perlakuan lelaki itu? Dia itu pembohong, banyak menyimpan rahasia di belakangmu, dia bajingan, maen perempuan. Kamu tahu benar itu! Bagaimana kau hanya bisa diam saja melihatnya menari kegirangan, meloncat-loncat, dan menganggapmu bodoh karena begitu pemaaf, begitu mudah dibohongi. Padahal sebenarnya kau tahu semua kebohongannya. Kau tahu itu!”

Kemuning terdiam.

“Aku tidak bisa terima, Kemuning. Kau itu sedang dilecehkan. Apa gunanya dia menikahimu jika hanya mampu menyiramimu dengan kebohongan saja? Bukan itu guna kamu menjadi pendamping hidupnya.”

Dia menghela nafas panjang. Sekarang menatap mataku dalam-dalam sambil berkata panjang. “Kau tahu, tidak ada gunanya menyimpan dendam dan kebencian dalam hati. Justru akan membuat kita bobrok saja, hati akan semakin membusuk. Tidak pantas aku memberi tangisku pada lelaki yang semaunya itu, biarlah sudah, dia bukan menjadi prioritas lagi dalam hidupku. Kau tahu apa yang terpenting sekarang? Anak-anakku, ibadahku, kebahagiaanku. Kan kukejar itu sampai malaikat maut datang. Bukan lagi kesetiaannya, bukan lagi kejujurannya. Percuma. Kita tidak akan bisa merubah sesuatu jika sesuatu itu sendiri tidak memiliki keinginan untuk berubah. Sama saja menyayat tangan kita dengan belati, menyakiti diri sendiri. Biarkan saja dia mau menumpuk dosa, itu hak dia menjalani hidupnya, mungkin memang hanya segitulah batas kemampuannya. Lebih baik rubah diri sendiri menjadi lebih baik lagi. Bukankah aku ini wanita yang tidak sempurna, belum mampu menjadi istri yang baik.”

Sekarang aku yang membisu.

“Aku lebih memilih berdoa pada Tuhan, agar hati lelaki itu dibuka, disentuh dengan tangan agungNya. Kau tahu kekuatan doa bukan?”

Benar, wanita ini semakin kuat. Dan aku menjadi lemah dihadapnya.

“Kau tidur saja di sana, renungkan perkataanku. Rubah dirimu menjadi hal yang baik jika kau masih mau bersamaku. Aku tidak mendendam, pun tidak marah dengan dirimu. Kau masih bagian dari jiwaku.”

Huh, apa katamu, merubah diriku. Dendam saja belum bisa terbalaskan, enak saja. Sudahlah, mungkin saat ini kau menang, dan aku akan kembali kaku di pojok gelap sana. Tetapi ingatlah Kemuning, bahwa aku masih ada, tersimpan di hatimu. Ya, walaupun aku terbenam semakin dalam, tetapi kelak, saat kau putus asa kembali, itulah saatnya kemenanganku akan berkibar.

Maka dengan bersungut-sungut aku kembali terdiam, malas berbicara kembali, sementara Kemuning melanjutkan rajutannya.




Des 19, 2013
9:19

Jumat, 07 Maret 2014

SUARA KYNA





Seisi rumah pada ribut. Papa, Mama, Oma, Opa, Iyem, bahkan Ulla, si kucing anggora betinapun juga ribut mengeong tak henti-henti. Mereka bingung bertanya-tanya, kemanakah perginya suara Kyna?

Anak gadis satu-satunya itu secara gaib kehilangan suaranya. Berteriak sekeras apapun, membuka mulut selebar apapun, tetap saja tidak ada suara yang keluar. Hampa, dan kosong.

Dokter terhebat sudah didatangkan. Orang-orang pintar, bahkan para dedukun sudah berdatangan. Tetapi tetap saja semua angkat tangan. Seolah benar, suara Kyna telah ditelan oleh sang gaib.

Siapa?

Apa?

Semua saling berpandangan. Menelan ludah mereka masing-masing. Kalimat-kalimat mereka saling tergagap karena ketakutan yang teramat sangat.

Benarkah “dia” yang telah menelan suara Kyna? Ah, tidak. Bisa saja mereka salah. Itu hanya sebuah mitos. Hanya dongeng isapan jempol semata.

Tetapi, bagaimana jika dongeng sedih dan penuh kengerian itu benar-benar ada? Apa yang diinginkan Kyna? Dendam dan kebencian seperti apa yang disimpan Kyna selama ini, sehingga gadis cantik itu datang pada “dia”?

Tidak ada yang tahu.

Keributan yang sedari kemarin itupun akhirnya mereda dengan menyimpan sesak pada hati keluarga Kyna. Mama dan Oma menangis tersedu. Papa geram, ingin sekali meneriakan makian pada anaknya. Bagaimana Kyna bisa sebodoh itu?

“Arghh!” teriak Papa.

Rumah Kyna dirundung mendung.

Lalu sementara itu, di dalam kamar yang bersemu merah jambu, Kyna terduduk dalam hening. Matanya menerawang pada langit-langit kamar. Sendu. Haru membiru. Bunyi detak hatinya tergantung lemah pada penyesalan yang teramat dalam. Sudah banyak bulir perih yang dia alirkan.

Dalam keheningan dia membatin, Tuhan, tidak bisakah semuanya kembali?

***

Sekali lagi Kyna menahan nafas. Berusaha meyakinkan bahwa apa yang hendak dilakukannya adalah benar.

Kyna, ayo, kuatkan keinginanmu, besarkan keberanianmu. Melangkahlah lebih ke dalam lagi..

Glek!

Ditelannya setetes ludah.

Ayolah, pemuda itu pantas mendapatkan ini semua, Kyna. Dia mencampakkanmu, mengatai kau sebagai gadis manja yang tak pantas untuk dicintai.

Buktikan!

Buktikan jika dia telah salah...

Glek!

Sekali lagi menelan, tetapi kali ini dengan membusungkan dada. Memantapkan hatinya. Iya, benar apa kata sang batin yang berdengung-dengung di otak, pemuda itu harus dibuat menyesal. Harus!

Bagaimana tidak pantas? Deo yang teramat dicintainya itu, ternyata berselingkuh dengan sahabat Kyna sendiri, Rara. Sudah lama, bahkan sudah berlabuh pada hitungan tahun. Dan selama itupun Kyna begitu tulus menyayangi mereka berdua. Apapun diberikan. Hati, cinta, waktu, bahkan tubuh. Apa yang kurang? Apa!

Benarkah Kyna semanja itu? Yang hanya bisa memikirkan keinginannya sendiri? Argh! Masa bodoh dengan sebutan itu, hanya alasan Deo saja, agar dia bisa lepas dari tangan Kyna.

Iya, pasti begitu..

Akhirnya Kyna berani menjejakkan kakinya semakin dalam. Suara hening mulai melindap. Desir angin yang berliku di sela-sela dedaunan membuat suasana Bukit Perawan makin menyeramkan. Pohon-pohon yang menjulang tinggi, angkuh menutup sinar matahari. Bukit seram yang dijauhi para penduduk kampung itu, tampak semakin likat karena gelap.

Perlahan Kyna melangkah mendekat pada sebuah pohon beringin tua, berbadan hampir sebesar rumah. Suasananya mencekat, begitu mencekam. Aura kebencian dan amarah yang terpancar dari sang pohon, membuat bulu-bulu halus gadis limabelas tahun itu berdiri tegak.

Ah, di tempat inikah semua manusia membuang kebusukannya? Mengikuti kemana arah dendam akan berjalan? Menyedihkan. 

Panggil dia Kyna. Panggil peri itu..

Sepenggal dua penggal, dihembuskan nafas dingin dari mulutnya. Kyna gemetaran. Dia benar-benar sedang ketakutan.

“Bagaimana bila rupa peri itu menyeramkan?” desahnya.

Kyna, ingatlah lukamu. Dengarkan kembali tangisan-tangisanmu di tiap malam itu, sayang. Ingatlah Deo, ingatlah Rara...

“Iya, kau benar. Tangisan itu harus dibayar sama Deo dan Rara!”

Gadis berambut sebahu itu sudah menguatkan tekad. Benar-benar bulat sempurna. Tanpa perlu menunggu berlama-lama lagi, Kyna duduk bersujud, merapatkan kedua telapak tangan di depan dada. Dalam hati dia mengucap sebuah nama.

Iya, sebuah nama, yang seharusnya tak boleh disebut dengan gamblang.

Tiba-tiba angin mendesir kencang. Sebuah sinar dengan kerlipnya berdenyar ke arah Kyna. Diiringi sebuah tawa cekikikan yang menyayat pilu.

Kyna terkejut. Seketika itu juga melompat mundur. Tubuhnya lemas. Kaki-kakinya ngilu. Kini rasa takut Kyna, sudah diambang batas wajarnya.

Sinar itu terbang mendekat pada wajah Kyna. Perlahan kerlipnya mulai berpendar. Menampakkan sebuah sosok mungil sebesar mentimun telunjuk, memiliki rupa manusia berhidung mancung, dan bersayap seperti seekor capung.

“Apa yang hendak kau pinta?”

“Aa, aku, aku..” Kyna tergagap. Jantungnya masih berdegup kencang, tak ingin berhenti.

Makhluk itu terkekeh sekejab. Wajahnya kesenangan. Entah sudah berapa lama dia tidak menemui manusia yang akan memberikan makanan kesukaannya untuk ditukar dengan sebuah keinginan.

Setahun. Dua tahun. Atau seabad, dua abad. Entahlah.

“Suaramu indah.”

Kyna menelan ludah untuk kesekian kalinya. Wajahnya masih memucat. Hati kecil Kyna mulai ragu. Apakah benar ini yang dia inginkan? Lalu jika nanti permohonannya terkabulkan, apakah dia bisa berbahagia lagi? Sekali lagi...

Terbesit wajah Deo. Lalu samar-samar muncul bayangan Rara. Kyna benci sekali dengan mereka. Benci! Bahkan jika harus kehilangan sesuatu demi membalas sakit hati, Kyna rela. Sangat rela. Sudah muak dia dengan pengkhianatan mereka berdua.

Iya Kyna, kesakitanmu harus dirasakan juga oleh mereka..

Kyna mengangkat kepalanya, sudah tidak ada lagi rasa takut dan terkejut. Sudah bukan waktunya menyesali apa yang sudah dikehendaki. Lalu serta merta, dengan suara lantang, Kyna berteriak membabi buta pada keheningan.

“Aku, aku ingin mereka berdua merasakan sakit! Hei kau peri penunggu Bukit Perawan, lahaplah seluruh suaraku. Lalu hancurkan mereka, buat aku puas melihat Deo dan Rara menderita! Aku ingin mereka hancur, sama seperti hatiku!”

 Awan langit tiba-tiba menggulung hitam. Desir angin semakin kencang, menerbangkan daun-daun, ranting, bahkan tanah hitam di bawah kaki Kyna. Peri kecil itu tertawa terbahak-bahak karena terlalu senang. Sudah lama dia kelaparan, dan akhirnya ada seorang anak Adam yang sedang mengikat sebuah perjanjian dengan dirinya.

Pohon beringin bergoyang. Terdengar suara tangisan yang melolong panjang. Tidak hanya satu, tetapi banyak. Berpuluh-puluh, bahkan beratus-ratus! Menangis, berteriak. Suara-suara mereka menyanyat hati Kyna. Menggema ke semua arah bukit. Merobek telinga siapapun yang bisa mendengar tangisan kesedihan.

Apakah itu suara-suara manusia yang telah dicuri oleh sang peri? Sepedih itukah hidup dalam kebisuan?

Kyna ketakutan. Air matanya mengalir deras. Getar tubuhnya menghebat.

Hei! Tidak bisakah ini dihentikan? Tidak bisakah kalian diam! Cukup, hentikan. Hentikan kataku!

Gadis itu menutup telinganya rapat-rapat. Jiwanya terguncang hebat. Dia berteriak. Berteriak! Berusaha sekencang apa yang dia bisa.

Tetapi terlambat. Suara Kyna telah hilang.

***

Itulah Bukit Perawan

Menjulang gagah di ujung desa kami. Sebuah mitos bersemayam dalam ketenangannya. Cerita tentang seorang peri jahat, yang akan mewujudkan semua keinginan. Dia bisa membalaskan dendam dan kebencianmu. Tetapi dengan satu syarat, berikan suara indahmu kepadanya.

Dan kau, apakah kau punya sebuah dendam yang ingin diwujudkan? Datanglah kemari, akan kutunjukan di mana letak Bukit Perawan itu.



Feb 6, 2014
22:40

Kamis, 06 Maret 2014

AKU HANYA BUTUH KAMU...






"jika diperbolehkan kubeli waktu untuk bisa bersamamu, KUBELI.. berapa? apa dengan semua kesetiaanku hingga akhir lenguh nafasku ini tidak cukup bagimu?... katakan, berapa harga kebersamaan itu..."


Selasa, 04 Maret 2014

ENTAH INI APA...





Ah sudahlah. Kututup semua harapan. Sudah lelah menunggu sesuatu itu datang. Apa yang kudapat? Waktu yang bahkan sudah tak sudi lagi mampir antara kita? Atau rindu yang telah menguap bak embun pagi tersapu sinar mentari?

Entah.

Walaupun dalam hati, keyakinan itu masih ada. Namun ia pun mulai lambat laun jengah.

Jika dalam sebuah perjalanan itu hanya ada aku yang bertahan dari tempaan badai, sedangkan kau tidak, lalu apa yang bisa kita harapkan? Apa benar masih ada kata mencintai yang benar-benar tulus keberadaannya?

Masihkah?

Sudah kuterima semua carut luka yang kau gores dalam hati dan ingatan. Apalagi yang hendak kau berikan? Akankah kau timbun semakin dalam pada sebuah nelangsa yang tak kunjung berakhir nantinya?

Atau kau akan memberi tawa palsu, bahagia semu dan sebuah kasih abal-abal yang kau sebut-sebut itu cinta?

Aku telah lama mati, tetapi kucoba bernafas agar hidup kembali. Ku goyang pagar besi penghalang dari rasa benci agar bisa kutelan madu-madu pahitnya. Jika kau berkehendak aku kembali jatuh, mungkin bisa, namun dalam hitungan detik dan menit.

Kau tak pernah tahu, aku telah menyalakan sumpah serapa pada bilik-bilik hati agar semua rasa cinta itu mendengar, “hei! Jika kau tak dihormati, maka lupakanlah, biarkan dia hilang dan bermain pada kesenangannya hingga puas. Kelak, dia akan tahu, siapa yang masih berdiri di sampingnya saat dia jatuh lalu setengah mati!”

Apa kau akan protes?


Senin, 03 Maret 2014

DUA CANGKIR KOPI SENJA MILIK AYAH



Sepotong senja terperangkap sedih pada sepasang mata hitam yang telah uzur. Langit jingga keemasan itu pingsan seketika di balik rerimbun pepohonan kopi. Membuat hati si lelaki tua semakin tercabik sepi, menerobos rindu yang meradang, pada kisah dua cangkir kopi hitam kental dengan senja pukul lima sore. Duduk bersila di dalam gazebo, menatap lamat-lamat sang matahari, hingga dia menghilang ditelan bumi Dampit.

Dialah Ayahku, sang juragan kebun kopi di kota kami. Enampuluh lima tahun usianya. Namun garis-garis kelelakian yang tergurat pada binar tubuhnya masih kuat. Tidak renta dan rapuh seperti kebanyakan. Dia hidup dalam tempaan kelam, hingga datang sebuah cahaya hangat, menariknya bangkit untuk berjuang pada hidup.

Kuaduk perlahan dua cangkir kopi hitam yang mengepul. Tigapuluh adukan. Tidak akan lebih ataupun kurang. Sebentar senyumku terkembang, memandang sebuah gazebo tua di belakang rumah. Lelaki tua kesayanganku sudah duduk di sana menanti anak gadisnya, membawa nampan dan menghidangkan cangkir-cangkir kopi ini di sampingnya.

Ah, sudahlah. Ayah telah menungguku. Tak pantas jika kubuat dia semakin tenggelam dalam sepi.

“Menunggu lama ya, Yah? Maaf, Ranti keasyikan melamun tadi.” Kulempar senyum padanya, lalu segera duduk di samping kiri.

Ayah melingkarkan tangan pada pundakku, menepuknya pelan penuh kasih. Dan dengan keheningan sore, kami terdiam sepersekian waktu, untuk menikmati langit yang mulai menarikan tarian keemasan.

“Tak terasa ya sudah limabelas tahun berlalu, dan keindahan senja tidak pernah berubah sedikitpun. Kenangan akan Bunda pun masih segar di pikiran Ayah,” suara Ayah memecah sepi.

Aku hanya terdiam sendu. Tidak bisa mengerti bagaimana arti sebuah kenangan itu. Bukan karena apa, tetapi saat Bunda meninggal, aku baru berumur tiga tahun. Memori otak sudah memudar tergerus waktu. Tidak ingat bagaimana dahulu kulalui hari bersama Bunda.

Yang membuat hatiku tersentuh haru hanya sebuah keteguhan yang masih dijamah oleh Ayah. Cintanya kepada sang istri masih begitu kuat. Tidak menguap sedikitpun. Masih berbinar cerah. Masih mengharum semerbak. Dan masih seindah warna senja di perkebunan kopi.

“Bundamu itu seorang malaikat berupa manusia. Jika bukan karena dirinya, tidak mungkin Ayah yang dulu sebuah sampah di jalanan, bisa seperti ini,” Ayah menghentikan kalimatnya sebentar untuk menghela nafas. Lalu melanjut dengan berbisik, “dia itu berlian, dan Ayah yang membuat kilaunya meredup karena cinta.”

Mata Ayah mulai berkaca-kaca. Selalu saja seperti itu, setiap kali sebuah penyesalan menggelitik ingatannya.

Cerita tentang Bunda sudah sering kudengar, setiap hari, sama seperti saat ini. Hingga bayang-bayang mereka berdua melekat begitu erat pada imajiku.

“Ayah itu miskin, hidup terluntah di jalanan. Kerjanya ngamen, mabuk, nyopet, dan dikejar-kejar orang. Lalu datanglah dia, gadis berkerudung yang menjadi salah satu relawan dari sebuah lembaga sosial, mengajar anak-anak jalanan yang putus sekolah di kampung Banar. Sungguh sejuk hati ayah saat melihat sosoknya. Anggun, berwibawa, selalu tersenyum dan tidak jijik pada kami.”

 Ayah mengangkat lengannya, bangga memamerkan tato-tato tua yang terukir dari ujung hingga pangkal.

“Nih, lihatkan tato Ayah. Semua takut pada ini, wong Ayah ini ketua geng di sana. Tetapi, gadis itu tidak. Dia malah semakin mendekat. Dengan kegigihannya, mengajak Ayah sholat. Cih, waktu itu aku sering marah sama dia, Ranti. Tapi, dimarahi model bagaimanapun, dia bergeming. Tidak menyerah sedikitpun.”

“Ayah..” Aku tersenyum melihat binar wajah Ayah bersemu merah. Dia selalu tampak bahagia setiap kali jatuh pada bagian alur kisahnya yang ini.

“Suatu hari, kulamar gadis itu. Ayah benar-benar jatuh cinta, sudah mantap di hati. Dia bersedia, tetapi dengan syarat, Ayah harus mau belajar sholat dan mengaji. Wah, kala itu, aku ditertawakan rekan-rekan sesama preman. Malu sebenarnya, tetapi cinta sudah membuka hati perlahan-lahan. Hari-hari Ayah penuh rasa bahagia bersama gadis berkerudung tercinta. Tetapi,” Ayah berhenti berkata. Binar cerahnya mulai redup kembali.

“Keluarganya menentang anak gadis itu menikah dengan seorang preman. Kami berdua sempat dirundung sedih berkepanjangan. Semuanya kembali suram. Hingga suatu hari, dengan keberanian yang berpendar-pendar, kuajak dia kawin lari. Tetapi gadis itu menolak. Dia berkata, restu orang tua adalah surga baginya. Karena restu mereka adalah sebuah doa, yang akan menguatkan kita menapaki sebuah pernikahan. Ah Ranti, mendengar itu Ayah semakin jatuh cinta kepadanya.”

“Bunda wanita yang hebat ya, Yah. Ranti iri, ingin bisa kelak menjadi istri solehah seperti Bunda.”

“Bundamu itu gak ada duanya di dunia ini,” Ayah terkekeh senang, “bahkan dalam kesedihan, dia tetap kukuh berusaha meyakinkan kepada kedua orang tuanya bahwa Ayah benar-benar telah berubah. Dan Ayah buktikan itu, Ranti. Pelan-pelan kami lakukan pendekatan, pun juga dengan doa-doa kepada Allah. Meminta agar pintu hati mereka dibuka.”

Ayah manggut-manggut sekali lagi sambil tersenyum. Bahkan aku hampir berpikir bahwa dia telah gila karena kenangannya sendiri. Tetapi bukan, Ayah hanya sangat mencintai Bunda, itu saja.

“Setelah berbulan-bulan berjuang, akhirnya restu itu kami dapat lalu segera menikah. Sederhana sekali, hanya berbalut kebaya putih tua milik Ibu Mertua, dan jas lusuh pinjaman dari kerabat Ayah. Namun, acaranya sakral sekali, kami semua pada menangis karena terharu.”

“Saat itu Ayah dan Bunda pasti sangat bahagia bukan? Aku bisa membayangkannya.” Kataku sambil tersenyum.

“Pastilah itu sayang. Nah, setelah menikah itulah kami pindah ke bumi Dampit ini. Membangun sebuah gubuk sederhana, dan bekerja seadanya di ladang kopi. Semua yang kami lalui tidak mudah, banyak cobaan yang menghancurkan hampir semua pertahanan dan keyakinan cinta kami. Tetapi dia itu wanita tangguh. Kesabarannya menghadapi Ayah sungguh menakjubkan.”

Cerita Ayah makin mengalir. Cangkir kopi yang terdiam sedari tadi direguklah isinya, untuk menuntaskan dahaga. Sebentar kemudian, kembali bergulat pada kenangan.

“Dari dirinya, Ayah banyak belajar tentang arti sebuah kehidupan. Bahwa setiap jengkal nafas yang kita hembuskan, ada pertanggungjawabannya kepada Sang Maha Kuasa. Bahwa hidup adalah suatu perjuangan, tidak boleh menyerah, tidak boleh mengeluh. Hingga akhirnya semua ini kami dapatkan. Inilah bukti cinta kami, Ranti. Kehadiranmu juga, begitu menambah kebahagiaan.”

Kuraih tangan Ayah yang kasar dan berbau ketangguhan seorang pejuang hidup di masa mudanya itu.

“Jika saja Ayah mengetahui sejak awal tentang penyakit Ibumu,” Ayah menitikkan bulir air dari ujung mata. Hati tuanya mulai bergetar. Perih. Mengingat sebuah perjuangan antara hidup dan mati sang istri.

Bagaimana tidak.

Wanita yang telah menariknya dari lubang hitam itu, terus menyimpan lukanya sendiri. Bertahan demi mendukung perjuangan sang suami untuk memperbaiki hidupnya. Saat sakit, senyumnya tetap terkembang. Pelukannya tetap menghangatkan. Jiwanya yang terang benderang selalu berhasil membuat semangat suaminya berapi-api. Begitulah kisah Ayah tentang keteguhan hati Bunda.

Bunda begitu sempurna. Tidak akan ada wanita yang bisa setangguh pengorbanan Bunda. Pun sekuat imannya. Dan juga sesabar dirinya dalam menghadapi setiap hantaman kepedihan. Entah pada saat Ayah jatuh dan menyerah. Ataupun pada saat Ayah marah dan mengumpat pada Tuhan.

“Ayah, tidak benar jika ayah membuat binar Bunda yang bak berlian itu meredup karena cinta Ayah yang merasa kotor dan rapuh, hanya karena tak bisa menjaga nafasnya. Justru karena Ayahlah, berlian itu makin bersinar. Pasti saat ini, Bunda juga selalu menatap kita di balik binar senja itu. Mengintip di sela-sela jingga, bangga pada Ayah karena masih mencintainya.”

“Iya, kau benar Ranti. Bunda memang semakin bersinar sejak bersama Ayah. Wajahnya semakin ayu saja. Ah, jika seandainya kau bisa melihat dirinya saat itu, Ranti.”

“Bunda sangat bahagia saat bersama Ayah, dia tak pernah menyesal memilih Ayah sebagai imam dalam hatinya. Ranti yakin itu, Ayah..”

Air mata Ayah berhasil menetes kembali. Menderas jatuh ke bawah pipi.

Senja semakin melindap. Sekali lagi, hari ini dilalui dengan kenangan yang sama. Dua cangkir kopi hitam dengan tigapuluh adukan dan senja pukul lima sore. Sama seperti hari di tahun-tahun lalu, bersama sang istri tercinta. 




Feb 3, 2014
14:46