Minggu, 23 Agustus 2015

FISIMINI LOVERS (part 3)



FIKSIMINI LOVERS #8

 

 

 

Topik FiksiMini : MERAH

 

 

WARNA ANGIN

“Warna angin itu merah,” kataku sambil melirik punggung ayah. (Sitie Cah Boement)

 

JANGAN TATAP AKU

Bapak memakai kacamata hitam, matanya merah. (Dee Cie Putri BundaRosiy)

 

SI KERUDUNG MERAH

Ia mulai suka makan daging serigala sejak mencobanya di rumah sang nenek di hutan. (Ajeng Maharani)

 

RAPORT MERAH

Budi meloncat ke kawah. (Gina Rochima)

 

SETELAH SEPULUH TAHUN

Akhirnya celana merahnya berganti warna biru. (Dee Cie Putri BundaRosiy)

 

TERGODA

“Bibir merahmu membuat dadaku memburuh,” bisik si gadis berambut cepak. (Dian Ambarwati)

 

NODA

Leher bapak berubah merah semenjak kedatangan Tante Lisa, tetangga barunya. (Maya Madu)

 

BUTA

Seorang nenek berhenti di tengah jalan, menunggu lampu merah yang kunjung hijau. (Maya Madu)

 

 

BERDARAH

“Alhamdulillah, anakku sudah dewasa.” (Sitie Cah Boement)

 

PENGEMIS LAMPU MERAH

Jutaan rupiah terselip di bajunya yang lusuh. (Gus Jun)

 

MERAH PADAM

Melihat foto cantik di dompet sang suami. (Naura Yani)

 

LDR

Sang suami manyun ketika istrinya memberi aba-aba ‘merah’. “Akh, seminggu lagi!” (Asih Wardhani)

 

KOPI DARAT CINTA

Lelaki itu terbirit-birit setelah bertemu wanita idamannya yang berbaju merah. (Rinidiyanti Ayahbi)

 

OLEH-OLEH

“Pa, belikan ikan cupang sepulang kerja, ya.” | Suami tunjukkan lehernya yang memerah setelah pulang kerja. (Asih Watdhani)

 

MANA SI MERAH?

Jono mematung di tempat motornya terpakir tadi. (Patrianur Patria)

 

GINCU

Harga naik, aku pakai bekas bogeman suamiku. (Durroh Fuadin Kurniati)

 

 
FIKSIMINI LOVERS #9
 
 
 
Topik FiksiMini: TRANSPORTASI
 
 
BIAR MURAH – Ke kantor platnya merah, ke mall platnya hitam. (Lina Agustiani)
 
SISTEM TIDAK AMAN, KAPTEN – Kampungnya jauh, sistem tidak aman. Sunar kawin, malam pertama via online. (Durroh Fuadin K)
 
ONTEL – Ke bulan yuk, caranya kita tanyain Cherrybell, deh. (Nona Reni)
 
MALAM MINGGU YANG MERIAH – Tanggal tua, Sunar apel naik odong-odong. (Durroh Fuadin K)
 
NAIK KERETA API, TUUT TUUUTT – “Maaf, pulsa Anda tidak cukup untuk melakukan panggilan ini.” (Durroh Fuadin K)
 
KURANG UANG – Lelaki itu menukar kekasihnya di penyewaan sepeda. (Riebuan Cahaya)
 
KARPET ALADIN – Dipakai sholat, terbang ke surga. (Damar Hening Sunyiaji)
 
PRIA LUBANG KUNCI – Album foto mengirimnya ke berbagai masa. (Damar Hening Sunyiaji)
 
PENGANTAR KATA – Karakter game bersorak riang dalam flashdisk, “Liburan!” (Damar Hening Sunyiaji)
 
NAIK KERETA API – Guru TK diprotes petugas PJKA karena mengajarkan anak naik kereta dengan gratis. (Anggun Cahyani)
 
MALU – Aku menyembunyikan semua dosaku ke hidden folder. (Durroh Fuadin K)
 
TAXI – “Short time or part time?” tanyanya sebelum masuk. (Maya Madu)
 
ANAK HARAM – Korban kecelakaan akibat transfer sukses. (Durroh Fuadin K)
 
KARAM – Tim SAR pun datang, kami melambaikan tangan dari dasar laut. (Annisa Zahra Werdha)
 
TRANSPORTASI RAKYAT – Tak ada beda, mana kambing mana manusia. (Maya Madu)
 
LATIHAN PBB – Weekend, mobil berjajar memenuhi jalan raya. (Nichma Farid)
 
SOPIR MENGANTUK – mobil mencium sepeda, saling tumoang tindih. (Nihma Farid)
 
TRANSPORTASI MASAL – Manusia berkumpul di padang mahsyar untuk diberangkatkan ke tempat terakhir. (Lina Agustiani)
 
TUKANG TAMBAL BAN – “Alhamdulillah akhirnya aku menuai benih yang kutabur semalam.” (Aceha Kenji Fauzy)
 
BUKTI CINTA – Bus Kurnia dan truk berciuman di tikungan Idi Cut. (Ida Fitri)
 
KERETA MINI – Penumpangnya mengoek. (Dee Chie)
 
TAK BISA LEWAT – Sepasang suami istri siap dengan sayap di bawah lengannya. (Nichma Farid)
 
BUKAN DUNIA NYATA – “Saatnya berselancar!” Sambil memegang mouse. (Rinidiyanti Ayahbi)
 
KURBAN – Ia baru saja menyembelih kendaraannya menuju surga. (Yannah Akhras)
 
TENGGELAM – Pesawat kelelahan membawa penumpang, mendarat di lautan. (Rinidiyanti Ayahbi)
 
DICARI! – Kendaraan tercepat menuju alam barzah. (Sebening Embun)
 
TAKUT BONNYA MAHAL – Udin menolak makanan dan minuman dari pramugari. (Nur Jannah Al-Islamiyah)
 
DIKIRA TUKANG BEGAL – “Ampun, Mas!” ujar Udin. | “Itu ... istrimu ketinggalan di POM bensin!” (Sabylha Egloveeat)
 
 
FIKSIMINI LOVERS #10
 
 
 
Topik FiksiMini: BUKU
 
 
DARI BUKU-BUKU JARINYA – Terlahir manusia. (Damar Hening Sunyiaji)
 
IA MENYOBEK LEMBARAN HIDUPNYA – Menerbangkan sebagai pesawat kertas. (Damar Hening Sunyiaji)
 
MERAH – Buku amalku. (Ratna Hana Matsura)
 
SEBENTAR LAGI MENJADI JANDA – “No, Paino! Buku kecilnya Emak yang warnanya ijo di mana?” | “Dibawa Bapak, Mak, katanya mau digadein.” | Emak pingsan. (Ayas Aninerak)
 
HAUS – Buku-buku itu diremasnya dalam mulut, air manis menetes. (Asih Wardhani)
 
BUKU NIKAH – Nama mempelai pria ditulis di buku yang lain. (Annisa Azzarah)
 
BUKU TABUNGAN – Endingnya kita yang tentukan. (Damar Hening Sunyiaji)
 
BUKU PORNO – Bapak sering keluar masuk ke dalamnya. (Ajeng Maharani)
 
BUKU AMAL – Umurnya paling panjang. (Ida Fitri)
 
BUKU AMAL – Sambil berbaris dia memotong tangan kirinya. (Damar Hening Sunyiaji)
 
(BUKAN) SALAH PENULIS – Tumpukan mayat di halaman terakhir. (Ajeng Maharani)
 
ABADI – Kulihat penulis itu dikuburkan di dalam bukunya. (Ida Fitri)
 
KEJUTAN – Namamu sudah ada di sana—buku kematian. (Ratna Hana Matsura)
 
PERPUSTAKAAN – Buku-buku terbang, mencari sendiri pembacanya. (Damar Hening Sunyiaji)
 
PERJALANAN KE BARAT – Mengoleksi buku nikah. (Damar Hening Sunyiaji)
 
MARAH – Plak! “Dasar kutu buku!” (Re Tiapian)
 
KUTU BUKU – Kuambil dari kepala, kumasukkan ke dalam buku. (Ida Fitri)
 
BUKU MENANGIS – Sudah terlalu lama diterlantarkan pemiliknya. (Sya Cyma)
 
INGIN PINTAR – 20 buku ditelan, perutnya buncit. (Ademia Nurul Fuada)
 
BUKU TABUNGAN – Endingnya menyedihkan sekali. (Ademia Nurul Fuada)
 
DI TOKO BUKU – Buku agama sedang merukyah kawan-kawannya di keranjang obral. (Durroh Fuadin K)
 
BUKU ABSEN – Hanya satu suara, tanpa rupa. (Damar Hening Sunyiaji)
 
PROMOSI – “Semua alasan mengapa saya jadi koruptor ada di sini,” ujar Bagus, mengangkat buku biografinya. (Reema Miftha)
 
CINTA SEGITIGA – Aoyama Gosho dan Agata Christie bersitegang berebut buku pintar. (Durroh Fuadin K)
 
MODEL KAWAKAN – “Ngapain pake lipstik, Nek?” | “Siap-siap pemotretan.” | “Buat apa?” | “Buku yasin, dong.” – cucunya keselek kursi!
 
BUKU TUNTUNAN SHOLAT – Dari dalamnya keluar cambuk dan gada besi. (Damar Hening Sunyiaji)
 
JENDELA BUKU – Gumpalan kertas itu mengajariku emngintip dunia. (Nur Jannah Al-Islamiyah)
 
PERSIAPAN UJIAN – Pahanya berubah menjadi buku. (Durroh Fuadin K)
 
HANTU DI PERPISTAKAAN – Semuanya pintar. (Durroh Fuadin K)
 
DI TOKO BUKU (2) – Penjaga toko sibuk melerai buku anak-anak. (Durroh Fuadin K)
 
BUKU SEJARAH – Desing peluru melubangi setiap halamannya. (Rinidiyanti Ayahbi)
 
BUKU TAMU – Pakailah sepatu dan baju baru. (Ida Fitri)
 
BUKU GAMBAR – “Mana gambarnya, Bu, kok putih bersih?” (Maisaroh Mai)
 
BUKU BESTSELLER – Dikenang dunia (Fina Rochima)
 
JODOH – Buku ini aku pinjam. (Regia Herastanti)
 
EDISI TERBATAS – Jangan cetak buku ijo lagi! (Edoh Lukman)
 
 
 
(FiksiMini ini diambil dari kelas #FiksiMiniLovers di grup LovRinz and Friends)

 


 

 
 

  


Kamis, 13 Agustus 2015

KESEDIHAN SEBUAH DAPUR



Dapurku tak pernah tertawa. Rumput-rumput tumbuh di dalam rahimnya, dan pohon pepaya, dan benih cabai yang menangis karena daun-daunnya digunduli tikus-tikus, dan sepeda usang yang tak lagi berlari mengantarkan kaki-kaki ayahku pulang, dan baju-baju basah yang meneteskan air mata, dan seekor kucing bermata muram, merindukan anaknya yang hilang dua bulan setelah dilahirkan, dan api yang berlompat-lompatan memaki-maki tubuhnya yang terlalu panas, dan uap air, dan mesin cuci yang membisu, dan dinding bambu tua yang roboh, bata-bata berlumut, saluran air yang mulutnya disumpali kebijakan-kebijakan omong kosong pemerintah, dan tanah-tanah berkhianat, kayu-kayu mati tanpa ada yang menggiringnya ke pemakaman, dan dedaunan rambat yang jasadnya kering di pojokan, dan tumpukan sampah yang merenung.

Aku terlalu riang ketika dapur menemaniku mencuci piring-piring kotor di sudut kakinya. Kujejalkan suara suamiku di tubuh dapur, dan bola matanya yang liar, dan desah-desahnya yang menggetarkan, dan derap kakinya yang tergopoh-gopoh, dan aroma tubuhnya yang berbau sabun mandi murahan, dan jantungnya, dan hatinya yang khianat, dan kepalanya. Anak-anakku tenggelam dalam bak cuci piring, aku menertawainya. Sekumpulan lalat berdengung, menukik, membuang anak-anak mereka di perut ikan yang belum aku cuci. 

Makan bola matanya, duri-durinya, sirip punggungnya, ekor buntungnya, tapi jangan makan daging-dagingnya! 

Dapurku tidak pernah tertawa. Dan ketika malam singgah, dapurku mati, gelap. Tak ada kunang-kunang, tak ada neon, tak ada cahaya Tuhan di sisinya. Dia hanya duduk di atas kepalanya sendiri sambil menyeduh kopi dan menyenggamai bulan hingga pagi.



Sidoarjo, 2016


JANGAN PERNAH MENIKAHI PECUNDANG

Jangan pernah menikahi pecundang, jika kau tak ingin ketika kau mati, tubuhmu tak pernah dihantarkan pulang ke tanah-Nya.

Jangan pernah menikahi pecundang, jika kau tak ingin air matamu meluncur dengan lihai dari ujung-ujung rambutmu yang tidak pernah kau cuci dengan kebahagiaan.

Jangan pernah menikahi pecundang, jika kau tak ingin dapurmu menjadi sunyi, tanpa ceoteh-celoteh perabotan, suara teriakan ikan gurami yang tenggelam di minyak panas, atau gemericik air dari kran yang sekian tahun dilanda kemarau.

Jangan pernah menikahi pencundang, jika kau tak mau bernasib sama seperti tumpukan baju bersih yang belum sempat kau setrika, atau tumpukan sampah yang dilahap ribuan belatung yang berteriak-teriak, "Beri kami sampah! Ini tidak cukup!"

Sungguh, jangan pernah kau nikahi pecundang, jika kau tak ingin tiba-tiba saja ditenggelamkan dalam lautan di daster ibumu sendiri, atau dibakar dalam ujung rokok klobot ayahmu yang sudah separuh jalan.



(Ajeng Maharani, 130815)

SEGENGGAM AIR BAH DI ATAS LOTENG - KUMPULAN FLASH FICTION TERBAIK LOVRINZ AND FRIENDS


Selamat Datang di Dunia Kami

 


 
 

Judul Buku : Segenggam Air Bah di Atas Loteng
Penulis : LovRinz and Friends
Terbitan : LovRinz Publishing, Agustus 2015
Dimensi : 13 x 19 cm; viii + 143 halaman
ISBN : 978-602-0849-31-7
Harga : Rp. 39.900,-
 

Setelah sukses dengan buku kumpulan Flash Fiction pertama dan kedua sebagai salah satu buku best seller, LovRinz kembali menghadirkan buku ketiga. Masih tentang cerita-cerita dengan ending yang mengejutkan, namun kali ini semakin unik dan berwarna, tidak hanya didominasi oleh cerita horor dan berdarah-darah (ada beberapa opening yang memang seakan-akan itu menyeramkan, namun Anda akan ditipu mentah-mentah ketika telah menjejakkan kaki Anda ke akhir cerita).

 

Keunikan lain di buku ketiga ini, adalah penggunaan narasi yang semakin matang pada setiap penulisnya. Sebutkan saja Durroh Fuadin Kurniati yang juga pernah menjadi salah satu kontributor pada buku pertama, Subuh yang Paling Sunyi. Ibu muda ini sudah semakin lihai mempermainkan kalimatnya. Demikian juga dengan Rinidiyanti Ayahbi, Anda akan dibuat menggeleng-gelengkan kepala pada bahasa narasi yang indah namun tidak ber-lebay pada tiga karyanya dalam buku ini. Keotentikan seorang Jeli Manalu pun jangan sampai Anda lewati. Seorang wanita dengan irama yang unik dalam menyusun kalimat.

 

Ada empat belas penulis yang dipilih dari #KelasTantangan di grup kepenulisan LovRinz and Friends dalam buku ketiga ini. Masing-masing mengusung karakternya sendri. Saya berani jamin, Anda akan menemukan sesuatu yang beda, sebuah Flash Fiction yang tidak biasa dalam buku ini.

 

Jadi, untuk apa Anda melewatkannya? Mari tenggelamlah bersama kami, dalam sebuah dunia yang tidak pernah Anda bayangkan!

 

....

 

PAGI baru saja melata ketika kulihat para lelaki itu datang berbondong-bondong dengan celurit yang menyeringai di tangan mereka. Jantungku seketika tersibak. Ketakutan yang menusuk-nusuk itupun datang. Perih. Kudengar jeritan-jeritan di ujung, lalu lolongan tangis yang menyayat. (Pembantaian – Ajeng Maharani)

 

JONO terisak. Namun sang bapak tidak menggubrisnya. Lelaki paruh baya itu tetap melanjutkan aksinya memotong sedikit demi sedikit bagian tubuh Jono. (Biarkan Aku Bebas, Ayah! – CT Rapunzel)

 

DI luar, sayup-sayup suara tetangga terdengar melolong memperingatkan saya, tapi saya memilih tetap bergeming di loteng. Saya lebih memilih menyalakan lilin, menikmati lusinan dus mie instan yang hangat. (Segenggam Air Bah di Atas Loteng – Durroh Fuadin Kurniati)

 

“PESTANYA di atas bukit. Tengah malam. Buktikan kalau kau berani.” (Sweet Seventeen – Iis Nur Wahyudi)

 

NARA seketika lemas. Ia baru pulang dari luar kota tadi siang. Apa mungkin suaminya melakukan seperti apa yang dituduhkan itu semua selama ia tak ada? (Pintu Hijau – Anggun Cahyani)

 

DERIT pintu kamar terbuka. Kacau. Tidak ada waktu untuk Rani membereskan baju yang terserak, apalagi menyuruh Doni bersembunyi. Lelaki itu tak bisa berkutik. (Ini Rahasia – Annisa Azzahra)

 

 SUARA bentakan itu berasal dari atas kepala. Seperti sedang murka namun desiran darah seolah merekam aroma kesedihan yang membuat bulu-buluku setengah kaku. (Di Lambung Batu – Jeli Manalu)

 

AKU bahkan rela membunuh jika itu memang harus kulakukan demi mendapatkanmu kembali dalam dekapanku. (Keinginan – Kazuhanna El Ratna Mida)

 

DIA adalah monster yang hadir untuk menjemput kematianmu. Sama halnya diriku, aku menganggapnya mimpi buruk dalam kehidupanku. (Mimpi Buruk – Maya Madu)

 

SENJA sudah datang, tapi Andi belum pulang juga. Sudah kucari ke mana-mana, tapi dia tidak juga diketemukan. (Balon Penyempurna – Re Tiapian)

 

AKU sempat mencongkel habis ke dalam retinanya hingga dia meraba-raba mencari cahaya dan akhirnya menyimpanku lagi dalam matanya. (Matamu, Kau Kucing Hitam – Rinidiyanti Ayahbi)

 

JHON menyandarkan diri di dinding belakang gudang. Tak berdaya, tubuhnya melemah, berkeringat dan napasnya memelan. Pandangannya mulai berkunang-kunang. (Jejak-jejak Hitam – Rosi Ochiemuh)

 

“AYE takut lewat tanjakan gelagah, Mak.” (Klakson Tiga Kali – SH. Kusuma)

 

ELLE selalu sibuk dengan lukisannya. Sementara dua adik kembarnya hampir tak pernah ada di rumah. Yang paling aneh adalah Nyonya Fe. Ia punya dua mata yang selalu berair. (Dua Bait Terakhir pada Sajak Elle – Zahraa Senja)

 

....

 

Untuk pemesanan buku, silakan klik akun Facebook saya di sini (komunikasi via inbox terlebih dahulu, baru kemudian akan saya berikan nomor contact saya)


 

Terima kasih.

Salam Netra!

 

 

 

Minggu, 09 Agustus 2015

DI MALAM KETIKA BAPAKMU HILANG


Oleh : Ajeng Maharani

 

(1)

 

BARU saja kau membuka mata, menggeliat lalu mengerjab, kau sudah tak melihat sosok ibumu lagi di atas ranjang. Pun demikian pula dengan bapakmu. Kamar pengap karena asap obat nyamuk yang dibakar itu kini menjadi sunyi. Kau merasa kesepian. Seketika itu pula kau turun dari pembaringan, lalu melangkah merayapi kegelapan dengan matamu yang menyala tajam, membawa tubuh kecilmu pada dapur yang tengah terang benderang. Kau yakin, ibu-bapakmu pasti ada di sana.

Sekejab, kau mendengus. Cuping hidungmu kembang-kempis digelitiki aroma amis darah segar bercampur bau daging mentah. Liurmu pun menetes. Segera kau mempercepat langkah menjemput bebauan yang membuat jantungmu menari karena kegirangan, juga dengan perut-perutmu yang meronta-ronta kelaparan malam ini.

Kini kau telah tiba di dapur kesayangan ibumu yang tak lebih besar dari kamar tidurnya itu. Kau lihat sekeliling dengan mata birumu, tak nampak bapakmu di sana. Hanya ada ibu yang nampak tengah asyik memisahkan tulang, daging dan jerohan. Tangannya yang terlumuri darah, sibuk memasukkan tulang-belulang ke dalam sebuah plastik besar berwarna hitam pekat, dibuntalnya rapat, lalu menarik-narik kantong itu keluar ke halaman belakang rumah dengan susah payah.

Kau melangkah manja mengikuti ibumu keluar, namun hanya pada sebatas pintu kayu jati yang telah keropos kolongnyalah kau berani untuk menempatkan diri. Ketakutan akan bunyi derit gesekkan dari pepohonan bambu yang menjulang tinggi membuatmu hatimu kelu. Suara yang mengingatkanmu pada bisik-bisik kematian.

Dari tempatmu meletakkan bokong, kau menangkap sosok ibumu memasukkan kantong ke dalam sebuah lubang yang mengangah. Kemudian menumpahkan sebuah cairan dari botol bekas minuman air mineral, dan menyalakan pematik apinya. Lidah-lidah liar itu pun membumbung, menjilat-jilat semua yang ada di dalam liang. Kau bergidik ngeri. Bulu-bulumu berdiri seketika karena gigil. Api itu terlihat seperti bayang-bayang neraka yang pernah kau dengar dari suara-suara pergunjingan di atap rumah tetangga ibumu.

Tak seberapa lama kemudian, ibumu kembali masuk ke dalam dapur. Mengelus kepalamu sebentar, lalu melangkah ke tungku perapian. Sebuah kuali besar bertengger di atas tungku kayu itu. Kuahnya yang mendidih, membuat aroma gulai daging dari dalamnya membumbung ke udara lalu menusuk-nusuk penciumanmu. Kau sangat yakin, gulai itu adalah pesanan dari salah satu penduduk desa. Karena di desa kecil itu, gulai ibumulah yang terbaik rasanya. Setiap ada hajatan, mereka selalu menggunakan jasa ibumu.

“Ini, Bie, makanlah,” ujar ibumu. Dia menyodorkan sepiring daging empal goreng sebesar telapak tangan manusia dewasa. Seketika itu pula, liur yang sedari tadi menetes di bibir kecilmu, menyusut. Dengan lahap kau terkam daging itu. Kau kunyah kuat-kuat. Rasa yang aneh, rasa yang tak biasa, batinmu. Kau pikir kali ini ibumu pasti tengah mencoba bumbu empal baru. Namun kau tetap tak memedulikannya. Itu jauh lebih nikmat dari pada harus menahan rasa lapar yang menggigit sejak tadi.

“Bagaimana, Bie, enak dagingnya?”

Kau mengangguk. Matamu berbinar-binar sebagai tanda ucapan terima kasih pada ibumu.

“Sepertinya, tujuh hari ke depan kita akan makan daging terus, Bie. Setiap hari!”

Sesungging senyum menggaris di bibir ibumu. Senyum yang dingin. Tapi kau tak peduli, masih lahap dengan makan malammu yang lezat.

 

 

 

(2)

 

SENJA yang melumat langit baru saja melata pelan-pelan ketika perempuan muda berambut sebahu itu datang menemui ibumu. Kau yang saat ini tengah terduduk di pangkuan ibumu hanya diam sambil memandang dengan mata bulatmu. Wajah perempuan itu melarat-larat, matanya leleh, namun kau tahu semua itu tak membuat hati ibumu tersentuh. Dia menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan tamunya dengan ketus. Kalimatnya menukik. Pahit. Seperti ada kebencian yang teramat di hatinya.

“Aku mana tahu di mana suamimu! Sudah tiga tahun dia tak pulang ke rumah ini. Bisanya menelantarkanku, dan bersuka cita sama perempuan muda seperti kamu. Semua gara-gara kamu, tahu!”

Ibumu meludahi tanah. Matanya membuntang. Urat-uratnya menegang. Kau rasakan ibumu benar-benar terpanggang amarah. Baru kali ini kau melihatnya demikian. Padahal setiap malam, wanita separuh baya itu bisanya hanya menangis sambil meratap-ratap tentang nasibnya yang telah lama ditinggalkan oleh sang suami.

Ibumu terus melemparkan umpatan padanya—mengatakan tentang dendam dan kebencian—membuat perempuan muda itu makin terisak. Bola matanya menyipit. Kau melihatnya dengan hati yang benguk. Ibumu masih terus sibuk menatapnya dengan kemarahan. Cukup lama waktu tertatih di antara kalian bertiga. Hingga akhirnya, perempuan muda itu memutuskan untuk pergi tanpa meninggalkan kata-kata dan kau kembali sibuk membenamkan tubuh di atas kursi goyang kesayangan ibumu.

 

 

 

(3)

 

KEMBALI ibumu membuka frezer pagi ini. Sebuah buntalan daging dalam kantong plastik hitam kecil dikeluarkannya dari sana. Daging-daging itu seperti tak pernah bisa habis. Sejenak, kau teringat tentang kuali besar berisi gulai yang panas lima hari lalu. Kau lihat ibumu membaginya ke para tetangga. Gulai dengan rasa daging yang tak biasa. Gulai yang dilumerkan di atas tungku kayu yang membara, pada malam ketika sosok bapakmu pun tiba-tiba menghilang dari ranjang tidurnya.  

 

 

-Sidoarjo, 121014-

 

 

FIKSIMINI LOVERS (part 2)

Sumber gambar : Google
 
 
FIKSIMINI LOVERS #5
 
 
 
Tema : MUSIM
 
 
PACEKLIK
Buka dompet, tiba-tiba ingat mantan suami. Dialah sang penyelamatku. (Rina Rinz)
 
MUSIM UJIAN
Para pelajar kenyang makan soal. (Sang Bayang)
 
SEMI
Teringat senyummu, tiba-tiba dada dipenuhi bunga merekah. (Naura Yani)
 
MUSIM GUGUR
Banyak wanita Indonesia meninggal saat melahirkan. (Lina Agustiani)
 
MUSIM PEMUTIH WAJAH
Ochin mandi pakai Bayklin. (SuEff Idris)
 
MUSIN KAWIN
Seorang Naib pingsan setelah menikahkan sekampung. (Lina Agustiani)
 
MUSIM EVENT
Banyak penulis tewas di garis kematian—dead line. (Lina Agustiani)
 
MUSIM PILU
Ratusan kain kafan mengantri, menanti para pelopor kebenaran. (Rosi Ochiemuh)
 
MUSIM GUGUR
Hari ini pacarku tinggal dua. (Ika Marwah)
 
MUSIM BEGAL
“Jangan sampai kita dibakar massa!” (Riebuan Cahaya)
 
GARA-GARA PIL KB GRATIS
Musim kawin tiba, suasana kampung mendadak lengang. (Durroh Fuadin Kurniati)
 
MUSIM KAWIN
“Mak, ane siap!” teriak Ocid meninggalkan kandang si japrik. (Maya Madu)
 
MUSIM KAWIN YANG SALAH
Tarjo terkulai karena keracunan susu expired milik Surti. (Asih Wardhani)
 
HARGA CABE MELAMBUNG
Kekurangan stok semenjak muncul cabe-cabean yang tak jelas. (Aceha Kenji Fauzi)
 
MUSIM BEGAL
Tak mau motornya dibegal, totong menelannya bulat-bulat. (Ademia Nurul Fuada)
 
SIBUK PANEN
Emak, Juminten dan kutu rambut. (Ajeng Maharani)

"JAGA LILINNYA, DIK."
Musim panen telah tiba. Dia berubah wujud. (Ajeng Maharani)

KEMARAU PANJANG TELAH LEWAT
"Syukurlah, sekarang air di Jakarta melimpah ruah." (Ajeng Maharani)
 
MUSIM JAMAN EDAN
Pak Penghulu menelan ludah, ngeri melihat kedua mempelai, Doni dan Dono. (Siti Chafidoh)
 
MUSIM MANCING
Mamat menyiapkan semua perlengkapan. Pasukan keamanan siaga menghadapinya. (Anggarani Ahliah Citra)
 
TREND
“Rajin benar nggosok akik.” | “Iya, mau aku tempel di gigi, jadi kawat akik.” (Asiah Ahmad)
 
MUSIM PANEN
Keramas tiap hari, Jeni dan suami kejar produksi. (Damar Hening Sunyiaji)
 
BECEK
Rika menjinjing sepatunya, kedua kaki tertinggal di dalam lumpur. (Siti Chafidoh)
 
GARA-GARA MUSIM KAWIN
Ia mengakhiri masa lajangnya di tiang rumah. (Zahraa Senja)
 
 
FIKSIMINI LOVERS #6
 
 
 
Kata wajib : PUNGGUNG
 
 
MISCALL TENGAH MALAM
Punggungnya tak henti bergetar. (Ajeng Maharani)
 
DI HARI KETIKA IA MATI
Ia memberikan tulang punggungnya pada sang putra sulung. (Annisa Azzarah)
 
LAWAKAN ADIK
Ibu gendut tertawa saat adik berkata punggungnya sebesar bis kota. (Eva Sholiha)
 
SEMENJAK BERPISAH
Tulang rusukku menjelma tulang punggung. (Cahaya Qolbu)
 
SETELAH WANITA ITU PERGI
Aku mencuri punggung suaminya. (Dee Chie)
 
SOP TERLEZAT
Warung itu bertuliskan, ‘Tersedia sop tulang punggung. Khusus untuk para wanita.’ (Ademia Nurul Fuada)
 
SOP IGA
Bik Yem memotong punggung majikannya. (Siti Chafidoh)
 
AYAM TIREN
Setelah dada dan paha turun harga, sekarang giliran punggung tak bertulang diobral. (Maya Madu)
 
NASIB TKI di NEGERI TETANGGA
“Ini baru permulaan.” Sang majikan menempelkan setrika panas di punggungnya. (Riebuan Cahaya)
 
NOMOR GILIRAN
“Jon, tahun depan giliranmu,” ujarku sambil menempelkan nomor di punggungnya. Tahun depan, dia dibawa ke tukang jagal. (Rosi Ochiemuh)
 
MALU
Dia memindah wajah ke punggungnya. (Durroh Fuadin Kurniati)
 
MATEMATIKA
Dia belajar penjumlahan dari punggung bapaknya. (Durroh Fuadin Kurniati)
 
KONER
Tak punya gitar, dia membetot punggung temannya. (Durroh Fuadin Kurniati)
 
ZAMAN LUTH
“Sebenarnya aku menyukai punggung, bukan rusuk,” batin lelaki itu. (Rinidiyanti Ayahbi)
 
KATANYA AYAH CINTA IBU
Ibu menangis terharu. Setiap malam ayah selalu membelai punggungnya dengan sabuk kulit. (Eva Sholiha)
 
ANAK BARU BAPAK
"Sana ikut, nanti ngambil yang ginian!" perintah Mbah Darmo sambil menunjukkan lembaran seratus ribu. Anak kecil botak melompat ke punggung pria pilihan mbah Darmo. (Reema Mifta)
 
KANGEN
Aku selalu menyimpan potongan punggungmu, agar kau tak hilang dari pandangan. (Yannah Akhras)
 
 
FIKSIMINI LOVERS #7
 
 
Topik fiksimini: BUNGA
 
 
BUNGA – Belum mekar sudah dipetik. Di kamarnya, dia menangis, menahan sakit. (Nona Reni)
 
BUNGA DESA – Ia berbuah sebelum bunganya mekar. (Yannah Akhras)
 
KARANGAN BUNGA – Menghiasi wajah Ibu Pertiwi dengan tulisan bela sungkawa. (Lina Agustiani)
 
BUNGA SEDAP MALAM – Gang Dolly ditutup karena ditumbuhi bunga liar. (Lina Agustiani)
 
BUNGA BANGKAI – Setiap hari kerjanya membisikan hasut di telinga tetangga. (Lina Agustiani)
 
BUNGA KANTIL – Suryo tak pernah tahu, apa yang selalu dimakan kekasihnya. (Indri Listya Rahman)
 
INGIN KAYA – Akhirnya ia menikah dengan bunga deposito. (Durroh Fuadin K)
 
ANGGREK BULAN – Diperlukan seratus astronot untuk bergantian merawat bunga kesayangannya. (Durroh Fuadin K)
 
AWET MUDA – Tiap hari ia mengunyah melati. (Re Tiapian)
 
RENTENIR MENGGEDOR PINTU – Menyodorkan seikat bunga, mencekik bapakku. (Naura Yani)
 
BUNGA TERAKHIR – “Hutangku lunas! Horree!” (Durroh Fuadin K)
 
BUNGA BANK – Gendut, gak mau diet. (Naura Yani)
 
BUNGA BANGKAI – Entah, di mana kuburnya. (Durroh Fuadin K)
 
MENIKAH DENGANMU – Hanya sebagai bunga tidur. (Naura Yani)
 
BUNGA di TEPI JALAN – Tak punya akte kelahiran. (Siti Chafidoh)
 
MANDI BUNGA – Wanita itupun berganti rupa. (Naura Yani)
 
AKIBAT MITOS – Tak pernah laku, Dino mencabut kembang kantil di keris pengantin pria. (Anik Bunda Rara)
 
SEABADI EIDELWEIS – Susuknya tak terjamah cacing. (Indri Listya Rahman)
 
EFEK BAJU BUNGA-BUNGA – Kumbang-kumbang nakal mengejarku. (Siti Chafidoh)
 
TURUT BERDUKA CITA – Kecewa, sebuah karangan bunga ia kirimkan ke pernikahan kekasihnya. (Penerbit LovRinz)
 
MANDI TERAKHIR – Ia tersenyum bahagia saat melihat tubuhnya dimandikan bunga tujuh rupa. (Yannah Akhras)
 
 
(Diambil dari kelas #FiksiMiniLover di grup LovRinz and Friends)