PEMUDA YANG TERSESAT
Di hari ketika kami berpisah, Wulan tak mengucap apa pun tentang kehamilannya. Ia baru mengatakan segalanya sore ini, padahal lima bulan telah berlalu. Pagi itu, di terminal Purabaya, Wulan hanya memelukku erat dan tanpa kata-kata atau tangisan yang dibuat-buat agar nampak seperti perpisahan yang menyedihkan. Aku berpikir, semua karena kata-kata dan air mata sudah terlalu banyak kami hibahkan pada hari-hari kebersamaan kami, tapi ternyata aku salah. Ia sengaja menyimpan segala kepedihannya seorang diri.
Sekali lagi angin laut mempermainkanku. Aku mengerjab-kerjab, memandangi ombak-ombak kecil yang berlarian menerjang dinding batu tempatku terduduk dengan menggenggam erat ponsel. Wulan tidak memintaku kembali ke kotanya—padahal hanya butuh beberapa jam perjalanan saja. Ia hanya berkata, “Aku tidak apa-apa. Aku akan selalu menunggumu pulang. Aku dan anak ini akan menunggumu pulang suatu saat nanti.” Air mataku pecah. Aku masih ingin mengenang Wulan, tapi senja sudah tiba. Aku harus segera kembali pulang ke rumah Mak Muah.
Mak Muah adalah perempuan tua yang mengizinkan aku ikut tinggal di dalam rumahnya yang sederhana, selama aku singgah dan tersesat di desa pesisir ini. Ia seorang pendongeng yang andal. Ia hidup seorang diri. Suaminya sudah mati bertahun-tahun yang lalu, dan mereka tidak mempunyai anak. Ia hidup dalam kesendirian, kesepian yang melarat-larat.
Setiap habis sholat Isya, anak-anak akan berkumpul di teras rumah Mak Muah. Mereka duduk di bawah kaki perempuan tua itu, mengelilinginya bak acara selamatan. Anak-anak itu akan mendongak ke atas—Mak Muah duduk di atas kursi rotannya—manggut-manggut atau membuka mulutnya lebar-lebar. Ada juga yang terkantuk-kantuk, lalu merebahkan tubuh di lantai ubin hingga ibu atau bapaknya datang menjemput dan menggendongnya pulang.
Secangkir kopi dan dua potong pisang nangka goreng sudah kuhabiskan dengan lahap. Mak Muah pandai menyeduh kopi yang hitam dan kental. Ada rasa sedikit pedas, aku kira itu merica dan kapulaga yang ditumbuk halus dan dicampurkan dalam kopi bubuknya. Itu membuatku mampu terjaga semalaman hingga pagi buta nanti, karena aku akan ikut berlayar menjaring ikan. Pak Soleh, tetangga Mak Muah-lah yang bersedia menerimaku bekerja di perahunya. Aku terbiasa melakukan pekerjaan apa pun dalam setiap perjalananku, dan untung saja aku tidak mabuk laut.
Menjelajahi laut di tengah malam seperti memasuki lubang hitam pekat yang sewaktu-waktu bisa saja menelanku. Dingin dan berguncang-guncang. Aku harus terus mampu terjaga, laut bisa saja menjadi kuburan yang menakutkan.
Ketika aku masih kecil, aku dan Ayah sering ikut terjun ke dalam tambak milik penduduk sekitar ketika mereka memanen ikan. Kami akan mencari ikan-ikan mujair, yang kecil-kecil tentu saja, karena yang besar akan dijual sendiri oleh pemilik tambak. Ikan-ikan mujair itu kami pilih yang bertubuh gelap seluruhnya, rasanya lebih gurih daripada yang ekor dan siripnya berwarna kemerahan. Ibu akan mengolahnya menjadi dendeng mujair dan itu yang terenak bagiku, karena ketika aku pernah makan di rumah salah satu kawanku yang ibunya juga memasak dendeng mujair, rasanya hambar dan payah.
Di sini, setelah pulang berlayar dan menjual hasil tangkapan kami di pelelangan ikan, Pak Soleh selalu memberiku sepotong atau dua potong ikan laut yang besar-besar. Ikan-ikan aneh yang belum pernah kumakan. Kemarin pagi aku mendapatkan tiga ekor ikan yang kulit tubuhnya keras, yang bahkan tidak bisa ditembus oleh pisau. Pak Soleh bilang itu jenis ikan karang, di Lamongan ikan itu terkenal dengan sebutan togeg, tapi nama umumnya adalah ikan ayam-ayam.
Aku mengamatinya dengan cermat dan tekun, merasa aneh dengan mata bulatnya yang besar dan bibir yang teramat tebal. Aku terus berpikir tentang bagaimana caranya agar aku bisa makan ikan yang bahkan tidak bisa kupotong-potong dan dibersihkan kulitnya yang sekeras batu itu.
Sesampainya di rumah Mak Muah, kuutarakan keanehan itu padanya, dan perempuan tua itu tertawa penuh pingkal, memperlihatkan gigi-giginya yang cokelat merah karena terlalu sering bersenggama dengan sirih, pinang, dan cengkeh. Ia berkata, “Togeg itu ndak perlu dibersihkan kulitnya, Le. Iki yo mung dibakar wae, mengko kulitnya bisa buka sendiri.”
Dan benar saja, ketika ikan itu dibakar di atas bara arang, kulitnya yang keras jadi melepuh dan pecah-pecah. Aku tinggal membukanya pelan-pelan. Dagingnya yang putih dan kesat itu ternyata jauh lebih enak daripada ikan bandeng, dan ikan togeg tidak memiliki duri-duri kecil yang tumbuh di daging-dagingnya seperti ikan bandeng. Aku lahap menyantapnya. Mak Muah hanya membuatkan sambal kecap dengan potongan bawang merah dan perasan jeruk limau, tapi bagiku itu sangatlah nikmat.
Suatu waktu—mungkin empat hari lalu, sebelum aku menerima ikan togeg—aku juga pernah mendapatkan ikan hiu yang masih kecil. Tubuh hiu itu memiliki bintik-bintik hitam. Pak Soleh bilang, daging hiu rasanya manis, dan ia benar. Mak Muah membuatkan kuah pedas dengan banyak potongan tomat hijau dan cabai yang dibiarkan utuh begitu saja. Keringatku sampai habis, dan Mak Muah lagi-lagi tertawa terpingkal-pingkal. Ia pikir tingkahku yang kepedasan itu lucu, mirip dengan mendiang suaminya.
Kini, malam hampir mencapai puncaknya dan anak-anak sudah pulang satu per satu, meninggalkan Mak Muah yang masih saja duduk di atas kursi rotannya yang digoyang-goyang pelan. Aku rebah di atas dipan kayu, di samping kursi rotan perempuan itu. Mataku sibuk menerawang di langit-langit teras ketika bunyi dering ponsel berbunyi. Itu pasti dari Wulan lagi. Setiap malam, Wulan selalu menyiapkan cerita-cerita baru, menemani kerinduanku padanya, sampai ia merasa lelah dan berujar ingin segera tidur.
“Hai,” ucapnya menyapa. Aku tersenyum dan bangkit dari dipan, mengambil posisi duduk. Mak Muah melihatku dengan senyum-senyum kecil. Ia tahu hubunganku dengan Wulan, tapi aku belum mengatakan perihal bayi kami.
“Ada cerita lucu hari ini,” ujar Wulan. Nada suaranya sudah lebih ceria daripada tadi sore. Kali ini ia berkisah tentang muridnya, Liona. Wulan adalah seorang guru TK. Ketika aku singgah di kotanya, aku bertemu dirinya di alun-alun kota, ketika ia dan Liona tengah menikmati pertunjukan boneka kayuku.
Perjumpaan itu adalah sebuah ketidaksengajaan yang membahagiakan. Kami saling jatuh cinta. Ia bahkan tidak mempedulikan siapa diriku. Sudah kukatakan aku tidak mungkin menjalin sebuah hubungan yang serius, karena aku akan selalu berjalan dan tersesat, mencari tawa-tawa bocah dan memasukkannya ke dalam sebuah kotak. Kotak yang kutahu tidak akan pernah penuh oleh tawa, jadi aku harus terus mengumpulkannya dengan bertingkah konyol, menjadi badut gendut yang pura-pura terpeleset, atau badut bodoh yang melompat-lompat lalu berputar-putar sambil melempar bola-bola ke atas dan pura-pura tidak bisa menangkapnya satu-satu.
Suara-suara ceria Wulan terus menggema di telingaku. Saat seperti ini, aku tidak pernah menyela ceritanya. Bagi diriku, ucapan Wulan seolah dongeng pengantar tidur dan aku sangat menyukainya.
Malam semakin larut. Mak Muah sudah terkantuk-kantuk. Percakapanku dengan Wulan akhirnya harus berakhir ketika Pak Soleh keluar dari pintu rumahnya dan memandangku. Inilah saatnya aku kembali menebas lautan yang pekat, dingin, dan berguncang-guncang.
KOTAK TAWA
Wulan mengetuk-ketukan tumpukan buku-buku itu di atas ubin, lalu melesakkannya ke dalam rak paling bawah, menatanya sedemikian rupa hingga pantat buku itu lurus dan menghadap sempurna ke depan. Ia mengamati tumpukan buku-buku itu sejenak, sambil mengelus-elus perutnya yang sudah semakin membuntal. Tangan kanannya kemudian meraih bolpoin dan sebuah buku besar, lalu menuliskan sesuatu di sana. Aku tidak bisa melihat, apa yang sedang dituliskannya. Jarak antara tubuh basahku dan dirinya terlalu jauh. Aku juga tidak ingin mengganggunya.
Sesekali kulihat Wulan berhenti menulis, mengalihkan pandangannya pada ponsel hitam yang diletakkan di samping kirinya. Ia menungguku. Aku tahu ia begitu menungguku. Saat-saat demikian itu tiba-tiba terasa hening. Dan kesunyian yang menyedihkan seperti itu, menguar hingga ke tempatku berdiri. Membuatku terenyuh.
Kuremas kotak tawa di genggamanku. Kotak itu masih belum penuh juga. Dulu, di hari ketika kakekku meninggal, ayahku berkata dalam isakan tangisnya, bahwa ia telah membuat bapaknya itu pergi dengan kekecewaan yang teramat dalam. Aku bertanya pada ayahku, dan ia menjawab kalau ia tidak bisa mengumpulkan tawa. Kakek ingin Ayah melakukan itu tapi Ayah dulu menolaknya dengan kasar, dan itu membuat kakekku terluka dan sedih.
Kakekku adalah seorang badut keliling. Ia mempunyai kotak tawa. Kotak itu berwarna biru langit dan kini telah menjadi milikku. Aku yang akhirnya memutuskan meneruskan impian Kakek: mengumpulkan tawa. Atau lebih tepatnya: membuat anak-anak tertawa. Dan sekarang, aku ingin menyerahkan kotak ini pada anakku, agar kelak bocah itu juga tahu, bahwa di dunia ini masih ada begitu banyak anak-anak yang membutuhkan tawa. Aku ingin, kelak bocah itu akan mengerti dan melanjutkan impianku dan Kakek.
Wulan menoleh ke arahku. Mengerjab sedih. Wajahnya terlihat murung. Aku jadi merasa bersalah. Aku ingin berlari ke arahnya dan memeluknya, tapi tentu saja itu mustahil.
Kuletakan kotak tawa itu di depan pintu, mengenai genangan air yang menetes dari tubuhku. Aku berjalan menjauh. Jejak-jejak air menapak di halaman sekolah tempat Wulan mengajar. Perasaan damai itu menyusup ke dada. Keinginanku sudah terpenuhi, dan sekarang, saatnya aku menjumpai malaikat kematian yang telah menungguku di sana. Di bawah laut yang paling gelap, tempat jasadku tenggelam, terhempas badai laut yang menggila. []
Sidoarjo, 2018
Kamis, 24 Mei 2018
Minggu, 20 Mei 2018
APA ITU HEMOFILIA DAN BAGAIMANA KITA MENGHADAPINYA
Beberapa hari ini, saya tengah menyelesaikan sebuah naskah novel yang diangkat dari kisah nyata sang penulis, seorang perempuan hebat yang memperjuangkan hemofilia. Sebagai seorang editor freelance, tentu saja saya harus memahami betul apa yang tengah saya hadapi, dan dalam hal ini adalah Hemofilia. Saya pun mulai melakukan riset tentang kelainan genetik tersebut, dan ingin berbagi di dalam blog pribadi saya ini.
Hemofilia adalah suatu kelainan genetik, di mana pasien mengalami gangguan pembekuan darah.
Di dalam darah kita, terdapat beberapa faktor pembeku yang memiliki tugas untuk menghentikan pendarahan. Ketika kita mengalami pendarahan, akan muncul cabikan atau sobekan pada salurah darah, atau yang sering kita sebut pembuluh darah. Dengan cepat, pembuluh darah itu bereaksi mengetatkan diri (menyempit). Suatu sel darah kemudian mulai bekerja menutup sobekan tersebut. Sesaat berikutnya barulah faktor pembeku darah bereaksi untuk merajut penutup luka cabikan.
Faktor-faktor pembeku darah tersebut bekerja secara berurutan, seperti halnya efek domino. Faktor yang satu bekerja setelah faktor yang lain, dan pada saat rangkaian kinerja itu berakhir, perdarahan akan berhenti.
Apabila salah satu faktor pembeku itu hilang atau tidak dapat berfungsi dengan baik, proses pembekuan tak akan berlangsung sempurna, sehingga darah bakal terus mengucur. Itulah yang terjadi pada pasien hemofilia.
Apabila mutasi gen tersebut terjadi pada faktor pembekuan VIII (8), maka pasien disebut sebagai penderita Hemofila A. Suntikan yang diberikan untuk penderita hemofilia A adalah octocog alfa yang dirancang untuk mengontrol faktor pembekuan VIII (8). Pemberian suntikan ini dianjurkan setiap 48 jam. Efek samping yang mungkin timbul: gatal, ruam kulit, nyeri dan kemerahan pada area suntikan.
Dan, apabila mutasi gen tersebut terjadi pada faktor pembekuan IX (9), maka pasien disebut menderita Hemofilia B. Suntikan yang diberikan untuk penderita hemofilia B adalah nonacog alfa yang dirancang untuk mengontrol faltor pembekuan IX (9). Penyuntikan dilakukan 2 kali dalam seminggu. Efek samping: mual, pembengkakan pada area yang disuntik, pusing, dan rasa tidak nyaman.
Para penderita yang mendapatkan suntikan ini harus melakukan pemeriksaan kadar inhibitor secara teratur, karena obat faktor pembekuan darah terkadang dapat memicu pembentukan antibodi sehingga obat kurang efektif.
Hemofilia, yang sering disebut sebagai "The Royal Diseases" ini--penyakit hemofilia adalah identik dengan kaum ningrat di Inggris. Karena ingin menjaga kemurnian darah bangsawannya, terkadang kaum ningrat itu menikah dengan keturunan yang masih dekat. Karena dekatnya garis keturunan sering memunculkan masalah genetik pada keturunannya, termasuk Hemofilia. Salah satunya adalah Ratu Victoria Inggris yang diduga sebagai pembawa sifat (carrier)—sebenarnya sudah bisa dideteksi sejak dini, yakni pada bayi. Biasanya, akan muncul lebam-lebam tanpa sebab. Apabila penderita mengalami sedikit saja benturan, maka akan mengakibatkan luka memar yang sulit menghilang. Hemofilia memang tidak dapat disembuhkan, tapi kita bisa mencegahnya agar tidak terjadi pendarahan fatal.
Penderita kelainan ini kebanyakan adalah laki-laki, karena hemofilia menyerang kromosom X, sehingga perempuan hanya bertindak sebagai pembawa gen (carier) saja, dan berpotensi menurunkan hemofilia kepada anaknya. Dan inilah yang tengah dialami oleh penulis novel yang tengah saya handle. Ia membawa gen tersebut dan menurunkannya kepada kedua anaknya. Cerita perjuangan seorang ibu yang mengharukan dan penuh semangat.
Mari kita kembali membahas Hemofilia.
Hal-hal apa saja yang mampu membahayakan pasien Hemofilia?
Terjadinya perdarahan di kepala, tenggorokan, perut, dan sekitar paha, bisa sangat membahayakan hidup pasien Hemofilia. Padahal, perdarahan tidak selalu terjadi di luar, tetapi bisa juga di dalam. Meski tak tampak oleh mata, gejala dari perdarahan itu bisa dikenali. Apabila penderita Hemofilia mengalami keluhan berikut, segeralah pergi ke dokter untuk mendapatkan pertolongan segera.
° Perdarahan di kepala. Tanda-tandanya: sakit kepala hebat, muntah berulang kali, mengantuk terus, bingung, tak dapat mengenali orang atau benda di sekitarnya, penglihatannya kabur atau ganda, keluar cairan dari hidung atau telinga, terasa lemah pada tangan, kaki, dan wajah.
° Perdarahan di tenggorokan. Tanda-tanda: sulit bernapas atau menelan, bengkak.
° Perdarahan di perut. Tanda-tanda: muntah darah, terdapat darah pada feses, sakit perut tak kunjung sembuh, penderita tampak pucat dan lemah.
° Perdarahan di paha. Tanda-tanda: nyeri di daerah paha atau agak ke bawahnya, mati rasa di daerah paha atau tidak mampu mengangkat kaki.
Meski sebaiknya tidak mengalami luka berdarah, bukan berarti anak Hemofilia harus berdiam diri. Banyak hal bisa mereka lakukan. Yang penting, mereka juga menjaga diri, antara lain dengan kiat-kiat berikut:
° Mengonsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang.
° Rutin berolahraga, tapi pilih yang bermanfaat untuk menguatkan otot dan melindungi persendian. Anak Anda boleh berenang, jalan kaki, atau bersepeda santai. Jangan memilihkan olahraga keras dan penuh benturan.
° Sikat gigi dengan sikat yang lembut, setiap kali usai makan.
° Periksakan gigi dan gusi tiap 6 bulan atau setahun sekali ke dokter. Ungkapkan bahwa anak Anda mengidap hemofilia.
Harapan hidup pasien hemofilia tidak berbeda dengan orang sehat pada umumnya. Memang untuk bertahan hidup, pasien harus rutin menerima transfusi darah sepanjang hidupnya. Pemberian transfusi disesuaikan dengan keadaan dan akan dihentikan kalau pembekuan sudah terjadi. Umumnya diberikan sekitar 10 kantong darah per jam, dan setiap kantong berisi 30 cc.
Saya juga membaca beberapa keluhan, atau lebih tepatnya curhatan para penderita Hemofilia dalam menjalani kehidupan mereka. Besarnya biaya pengobatan sudah menjadi hal yang menjadi momok, tetapi tidak hanya hal itu. Penolakan sosial pun kerap mereka terima. Seperti misalnya, gagal menikah atau menjalin hubungan dengan lawan jenis karena pasangan tidak siap menerima keadaan fisik mereka, dan juga ditolak oleh banyak perusahaan ketika melamar kerja dan mengutarakan bahwa mereka seorang pasien Hemofila. Hal semacam ini sesungguhnya tidak perlu terjadi, jika masyarakat paham benar tentang kelainan genetik ini dan mengetahui bagaimana cara bertindak, baik pencegahan dan pengobatan.
Kita tidak perlutakut, atau bahkan mengucilkan penderita Hemofilia. Kita, sebagai masyarakat normal, hanya butuh untuk belajar lebih banyak lagi. Mereka juga manusia. Mereka butuh dukungan dan butuh diterima. Jangan takut akan terjadi hal-hal yang fatal, selama kita benar-benar tahu dan menghindari apa yang wajib dihindari. Dan ini telah dibuktikan oleh penulis hebat yang novelnya tengah berada di tangan saya itu. Selama mengedit naskah ini, saya jadi terharu dan respect. Saya belajar banyak hal. Terutama pada: bersabar dan berikhtiar pada setiap ujian yang Allah berikan kepada kita. []
Ajeng Maharani
Penulis dan Freelance Editor
Jika Anda membutuhkan jasa edit dan layout naskah, atau mencetak buku, silakan menghubungi saya di WA: 0896-7946-2559 atau telepon melalui: 0856-0737-2626
#WiCa_Day4
#ResolusiRamadhan1439H
#FLPSidoarjo
Rabu, 14 Juni 2017
DANGAL: HIDUP ADALAH SEBUAH PERJUANGAN
Judul film : Dangal
Genre : action, biography, drama
Aktor : Amir Khan, Fatima Sana Shyaikh, Sakshi Tanwar, Sanya Malhotra
Sutradara : Nitesh Tiwari
Rilis : 23 Desember 2016
Durasi : 2 jam 41 menit
Sudah sangat lama saya ingin menonton film ini, tetapi selalu saja gagal karena alasan-alasan. Pagi ini, saya pun berhasil menuntaskan keinginan tersebut.
Kepiawaian Amir Khan sudah tidak perlu diragukan lagi. Pertama kali melihat akting aktor besar ini, saya menonton film Mann, yang menguras air mata. Di zaman saya kecil, Amir Khan kerap menjadi peran yang cengeng dan sedikit lembek, berbeda dengan aktor-aktor lainnya, seperti Sanjay Dutt dan Sunil Doel. Tapi semakin ke sini, ia semakin berani mengolah kemampuan aktingnya dengan peran-peran unik, seperti dalam film PK yang konyol, kritis, dan blak-blakan.
Film Dangal mengisahkan tentang seorang mantan atlet gulat nasional, bernama Mahavir Sigh Phogat, yang melepas impiannya--memperoleh medali emas untuk India dalam kejuaraan internasional--agar keluarganya mampu bertahan hidup. Ternyata, kehidupan seorang atlet nasional di India tidak jauh beda dengan di negara kita: miskin dan tidak mendapatkan apapun dari negara. Negara seolah tutup mata, belum lagi birokrasi departemen yang manaungi para atlet itupun banyak dihuni oleh oknum-oknum yang hanya bisa mengenyangkan perut mereka sendiri. Dalam keadaan seperti inilah, Mahavir Sigh Phogat bertahan dan berjyang mati-matian dengan dana sendiri saat melatih kedua putrinya, hingga menjadi pegulat profesional.
Mahavir Sigh tidak begitu saja melepaskan mimpi itu. Ia berkata pada istrinya, "Jika bukan aku, maka anakkulah yang akan mendapatkan medali emas untuk negara ini." Dan itulah awal konflik film ini dimulai.
Keinginan Mahavir Sigh untuk mempunyai anak lelaki ternyata tidak dikabulkan oleh dewa mereka. Keempat bayi yang lahir dalam keluarga itu semuanya perempuan. Mahavir Sigh kecewa dan putus asa. Ia pun menurunkan semua medali yang diperolehnya dan tidak bersemangat dalam menjalani kehidupannya. Tahun demi tahun. Hingga pada akhirnya peristiwa itu terjadi.
Pada suatu hari, tetangganya datang dalam keadaan marah. Mereka mengadukan kedua putrinya yang menghajar anak-anak lelaki mereka hingga babak belur. Bukannya marah, Mahavir Sigh malah takjub dan bangga. Seolah ada secerca sinar harapan yang jatuh tiba-tiba dari atas langit dan membuat kepalanya yang sempat kosong itu terisi kembali dengan mimpi-mimpi.
Mahavir Sigh pun mulai melatih kedua putrinya itu tentang cara-cara menjadi seorang pegulat. Seluruh desa mencemoohnya. Kedua putrinya pun dikucilkan dan diolok-olok. Tapi selayaknya orang gila yang tidak mau menoleh ke arah mana pun, Mahavir Sigh tidak peduli pada semuanya. Walaupun kedua putrinya itu tidak menyukai apa yang dilakukan ayahnya: merampas kebahagiaan masa kanak-kanak dan menggantinya dengan latihan yang keras dan melelahkan.
Lalu apa yang terjadi kemudian? Apakah Mahavir Sigh berhasil mengantarkan kedua putrinya ke ajang gulat internasional dan mewujudkan impiannya?
Film besutan Nitesh Tiwari ini sarat dengan petuah-petuah kehidupan. Pemainnya pun berakting dengan sangat totalitas. Film ini menyentuh, lucu, inspiratif, sekaligus memprihatinkan. Memprihatinkan yang saya maksud adalah, kenyataan bahwa kita sebagai orang tua terkadang lupa bahwa anak pun memiliki kehendaknya sendiri, bagaimana mereka ingin menjalani hidup mereka. Kita selalu hadir sebagai penentu, sebagai doktrin, yang terkadang timbul karena keegoisan kita sendiri. Kebanggaan kita sendiri. Memang sebagai orang tua kita ingin anak sukses, tapi kadangkala kita hanya sedikit lupa akan keinginan anak itu sendiri. Tapi bukan berarti film ini buruk. Justru film ini, bagi saya, mengajarkan banyak hal baik dalam segala sudut pandang; hubungan ayah dan anak, hubungan seluruh anggota keluarga, semangat serta sikap pantang menyerah untuk mewujudkan mimpi, kepercayaan, cinta kasih, dan kejujuran.
'Hidup adalah sebuah perjuangan yang sangat panjang dan melelahkan, dan ada kalanya, di saat itu, kita harus berani berjuang seorang diri.'
#NulisRandom2017 #Day14 #NulisBuku #AjengMaharani
Jumat, 09 Juni 2017
KISAH TENTANG ORANG-ORANG SAKIT DAN REALITA YANG BERPURA-PURA BAIK-BAIK SAJA
Judul: Ia Tengah Menanti Kereta Uap Tuhan yang Akan Membawanya ke Bulan (Kumpulan Cerita)
Penulis: Ajeng Maharani
Penerbit: Basabasi
Penyunting: Gunawan Tri Atmodjo
ISBN: 978-602-391-352-7
Cerita-cerita dalam buku kumpulan cerpen 'Ia tengah Menanti Kereta Uap Tuhan yang Akan Membawanya ke Bulan', menurut saya berisi orang-orang yang sakit. Seperti kata Freud, kita semua sebetulnya sedang sakit, hanya saja kita tidak menyadarinya. Sebagian dari kita pura-pura bahwa kondisi kita baik-baik saja.
Kita hang-out bersama teman-teman, membicarakan film, musik, buku, game, atau ketertarikan kita pada asmara untuk memenuhi lubang yang semenjak dahulu kala ada di dada kita. As long as we live, shits happen, dan cerita-cerita di dalam buku ini berusaha mengutarakan hal tersebut dengan caranya.
'Maysa Rindu Menyusu pada Batu' misalnya, ia secara hiperbolik berusaha mengkritisi kondisi sosial masyarakat kita. Utamanya mengenai hubungan ibu dan anak. Di samping banyaknya pasangan muda yang belum terlalu mengerti tentang tanggung jawab seorang ibu, juga di masyarakat mulai terjadi asimilasi di mana peran ibu sekadar menyediakan apa yang bisa membuat anaknya bertahan hidup. Menilik kasus-kasus yang kerap saya jumpai meski tidak terlalu ekstrim, namun perilaku annoying ibu terhadap anaknya kerap terjadi. Lihatlah di sekeliling kita, bisa kita temukan dengan mudah ibu-ibu yang asyik melakukan kegiatan sendiri dan memarahi anaknya begitu sang anak melakukan kesalahan. Kelihatannya sederhana dan remeh tetapi tugas seorang ibu tak hanya mencukupi kebutuhan material anaknya, melainkan juga memiliki tanggung jawab terhadap perkembangan emosi sang anak serta perilakunya. Ibu memang tahu apa yang terbaik untuk sang anak, tetapi tahukah ia bahwa kadang sang anak berbuat nakal hanya untuk mendapat perhatian?
Cerita Maysa memang tidak menampilkan hal tersebut karena Maysa justru tergolong melankolis, dan ia melampiaskan perasaan sedihnya itu pada khayalan yang ia buat berdasarkan perkataan ibunya. Bukankah melawan atau menurut sama-sama bentuk perhatian terhadap sesuatu?
Dalam mbah Sumitroh, Ajeng Maharani bercerita mengenai budaya warok yang telah menghilang dan hampir tak berbekas. Zaman telah melindasnya. Dengan piawai penulis yang satu ini menampilkan kegelisahan seseorang yang melenceng dari kodratnya dan risiko-risiko yang bakal ditanggung pelaku atas kelakuannya. Meskipun dalam kasus ini termasuk tindakan kriminal sih, tetapi kupikir jika itu terjadi pada sepasang kekasih pun, reaksi masyarakat yang buas akan tetap sama.
Selain dua cerita di atas, buku ini juga merangkum kasus-kasus KDRT dalam beberapa ceritanya. Lumayan kelam dengan benturan karakter di sana-sini.
Kita tidak sedang membicarakan agama ketika membicarakan sebuah buku, kita sedang membicarakan sebuah realitas. Tetapi selama kita tidak memahami bumi, kita tidak akan pernah bisa memahami langit. Dan buku ini berhasil menunjukan cuilan demi cuilan realitas yang terjadi di sekitar kita melalui analogi kisah-kisah di dalamnya.
~ Peresensi:
Damar Hening Sunyiaji, penikmat buku dan sastra
#NulisRandom2017 #Day9 #NulisBuku #AjengMaharani
Kamis, 08 Juni 2017
NOBELIA DAN JANIN-JANIN DALAM GENDONGANNYA (bagian satu)
Oleh: Ajeng Maharani
Ia membuka mata dan kesenyapan itu menyergap. Ia tidak tahu pukul berapa ketika itu, tapi ia menyadari satu hal: suaminya tidak pulang lagi hari ini.
Dibukanya ponsel yang telah ia matikan. Tidak ada chat dari lelaki itu. Keterlaluan. Sudah empat hari berjalan, dan di malam itu, ia merasakannya dengan benar, pelan-pelan, darah di dadanya mendidih.
Puluhan makian terlahir sempurna di dada itu. Mereka mengalir layaknya sungai yang beringas, menuju ke kepalanya. Mereka meletup-letup di dalam sana. Ingin meledak. Matanya hampir saja pecah, tapi ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis lagi. Tidak akan, demikian desis batinnya. Ia harus bisa menjadi kuat. Sangat kuat. Ia tahu ia tidak sedang sendirian. Mereka, bocah-bocah itu, berkata dengan keluguannya, "Nggak mau ikut Ayah. Ikut Ibu. Kami sayang Ibu, nggak sayang Ayah. Ayah jahat." Dan itulah kekuatannya. Dengan itu pulalah ia akan berjuang untuk menyelamatkan hak-hak anaknya. Nanti, ketika ia dan suaminya akan berhadapan dengan seorang hakim.
Ia sebenarnya ingin bertanya pada perempuan itu: sedemikian rendahnyakah seorang perempuan yang jatuh cinta hingga kamu menghalalkan tubuhmu pada suami perempuan lain dan dengan bahagia tinggal seatap bersamanya, dengan bahagia pula merampas waktu yang seharusnya masih milik istri dan anak-anaknya, dan dengan bahagia pula melakukan itu semua tanpa merasa berdosa?
Sedemikian rendahnyakah seorang perempuan yang tengah jatuh cinta itu?
Tapi ia, Nobelia, hingga detik ini, masih juga tidak layangkan pertanyaan-pertanyaan itu.
Ia pernah berujar kepada suaminya perihal perkara ini pada suatu siang yang masih belia. "Tolong, jangan paksa aku menjadi manusia yang buruk di mata anak-anakku. Bisa saja aku memaki perempuan itu, mendatangi rumahnya dan berkelahi jika aku mau. Tapi aku tetap gigih pada keinginanku yang telah kuucapkan padamu, aku ingin kita berpisah dalam keadaan baik-baik saja dan melanjutkan hubungan ini sebagai seorang sahabat, demi anak-anak. Tapi lihat, apa yang sudah kalian lakukan? Kalian sengaja melupakan mereka. Kalian dengan seenaknya bertingkah dan anak-anak itulah yang menjadi korban. Apa kamu tahu bagaimana rasanya ketika mereka bertanya, 'Di mana Ayah, Bu? Kok nggak pulang?' Juga, 'Tante Amel itu apanya Ayah? Kok peluk-peluk Ayah?' Coba pikir, bagaimana rasanya?"
Lelaki itu hanya diam saja dan menatapnya sayu.
"Aku diam karena aku butuh tenang. Aku diam karena aku menghormati kalian sebagai manusia dan berharap kalian pun menghormati kami yang ada di sini. Hak-hak kami. Bukankah aku sudah menawarkan poligami tetapi Amel yang tidak mau? Kamu bilang dia tidak bisa membagi dirimu. Bukankah itu konyol? Dia yang mencurimu, kenapa justru dia yang tidak bisa membagi dirimu?"
Ia menarik napasnya yang sesak di siang itu, kemudian melanjutkan, "Baiklah, tidak apa-apa. Aku pun bersyukur akhirnya bisa lepas dari kamu setelah bertahun-tahun tersiksa dan sabar pada semua pengkhianatanmu. Tapi tolong dengan sangat, jangan buat diriku lebih marah dari hari ini. Kendalikan nafsu kalian berdua. Beri anak-anak waktu yang seharusnya memang milik mereka. Jangan tinggalkan mereka. Memangnya, Amel sudah lupa ya kalau kamu ini masih suami perempuan lain dan seorang ayah dari empat anakmu?"
"Tidak, dia masih ingat, kok."
"Nah!! Lalu, kenyataannya?"
Lelaki itu diam kembali. Senyap. Hanya ada suara siang yang pecah dari jendela kamarnya yang terbuka. Semilir angin yang membara merayapi dinding-dinding hijau pastel, membuat kipas angin berdebu yang tengah berputar di atas rak susun tidak mampu menyejukkan.
"Aku berubah pikiran," ujar Nobelia kemudian, memecah hening.
"Apa maksudmu?"
"Anak-anak akan ikut bersamaku semua. Aku yang akan merawat mereka. Dan rumah ini, aku yang akan menjaganya. Ini hak anak kita. Setelah resmi bercerai, kamu yang keluar dari sini, bukan aku."
Nobelia mengucapkan itu dengan keyakinannya. Ia menatap suaminya teguh. Tidak gentar. "Aku telah siap. Mungkin di persidangan nanti, kita akan menjadi lebih buruk daripada hari ini, tapi aku telah siap," lanjutnya.
"Kok gitu, sih? Dulu kamu setuju membagi anak kita. Kenapa sekarang berubah pikiran?"
Ia menarik napas dalam-dalam. Bola mata lelaki di hadapannya itu mulai memunculkan kekecewaan. Ia mahfum.
"Karena aku telah melihat kalian berdua, beberapa bulan ini."
Lelaki di hadapannya itu mengerutkan dahi.
"Kalian terlalu asyik dengan cinta kalian. Kamu dan hubungan barumu itu."
"Bu, apa selama ini Ayah tidak tanggung jawab sama anak-anak?"
"Tanggung jawab, kok."
"Lalu?"
"Kamu memang tidak luput dari tanggung jawabmu pada materi, tapi kebutuhan anak itu tidak cukup hanya sekadar materi, kamu tahu benar itu. Kamu bilang kalau kamu dan Amel baru akan menikah dua tahun lagi. Untuk apa? Untuk menjaga nama baik dia, gitu? Kalau kalian langsung nikah setelah kita cerai, terus Amel pasti disebut sebagai pihak ketiga sama orang-orang di sekitar kalian dan kalian takut sama itu, gitu? Terus bagaimana nasib anak-anak yang ikut kamu nanti? Aku sudah pernah tanya ini, kan? Lalu kamu jawab, 'Kan mereka sudah besar, sudah bisa ditinggal.' Besar seperapa? Mereka baru sembilan dan delapan tahun loh. Kalau kamu setiap hari kerja, sibuk pacaran seperti sekarang, terus pulang tengah malam setiap hari seperti biasanya, bagaimana keadaan mereka nanti? Siapa yang mau mengawasi, membimbing, memasak, ngajak ngobrol mereka? Kamu tega seperti itu?"
Nobelian meneteskan air mata.
"Aku tidak mau anakku diterlantarkan akibat hubungan egois kalian. Tidak. Biar aku yang menjaga mereka. Bagaimana nasib atau rencana-rencana hubungan kalian berdua bukan urusanku, tapi mereka berempat adalah tanggung jawabku. Titik. Dan aku akan berjuang untuk itu."
- bersambung -
Rabu, 07 Juni 2017
SEPENGGAL PARAGRAF YANG JATUH DARI MATAKU
Image from Google
Kamu jatuh dari mataku dan mengoek. Membuyarkan lamunanku petang itu. Embusan hujan menggetarkan jendela kamar kita, lalu kamu memintaku menyelimutimu dengan duka-duka. Bunyi sang waktu yang berteriak semakin lamban, dan lamban, dan lamban. Hingga senyap itu menggurui tubuhku, tubuhmu, tubuh kita.
Kalimat-kalimat berhamburan dari jari-jemarimu. Satu kalimat terseok-seok, mencari tanda petiknya yang menggelinding. Satu lagi lesat menembus dinding kamar kita, lalu kembali membawa bayi-bayi, yang mengoek lebih keras ketimbang suaramu. Satu lagi membumbung di langit-langit, mencipta pendar cahaya kebiruan. Bulan itu telah kalah olehnya. Ia bersembunyi malu-malu, sesekali mengintip, memicingkan matanya yang terlukai warna biru. Satu lagi ketakutan di bawah kolong ranjang. Tubuhnya menggigil. Ia berujar, "Selamatkan aku dari siksa neraka! Selamatkan aku dari Tuhan!"
Kamu kini tidak utuh lagi. Sebuah paragraf yang bertubuh cacat. Kamu kehilangan banyak kalimat, tapi bagaimanapun wujudmu, aku tetap mencintaimu dengan laknat. Selaknat-laknatnya seorang ibu yang marah ketika kamu tidak membelikannya popok. Aku akan kencing di kasurku tanpa popok, ujar seorang ibu itu. Tapi kamu bergeming. Tidak berjalan ke minimarket. Dan seorang ibu itu menangis. Banjir datang kala malam yang melindap. Seorang ibu itu hanyut bersama air matanya dan seprai yang berbau ompol orang dewasa.
Bagaimana aku harus mengembalikan bentukmu yang porak-poranda itu, tanyaku. Hatiku bahkan telah kusut masai, terjungkal dalam lubang jebakan tikus mondok. Aku menjelma seekor cacing tanah. Bertubuh kurus dan tinggal di bawah ketela ubi. Tapi kamu segera menggali tanah, memberiku buku dan pensil. Tulis diriku. Di mana? Di buku ini. Tentang apa? Tentang aku. Aku tidak mengenalmu. Aku adalah kamu. Aku tidak setuju. Tapi itu benar. Aku tidak suka rambutmu. Tapi ini rambutmu. Ada kutu di dalam sana.
Kamu jatuh dari mataku dan mengoek. Kamu yang masih belia, yang memiliki mata sehitam malam. Di dalam cermin, kata-kata terjebak. Mereka tidak bisa kembali padaku. []
#NulisRandom2017 #Day8 #NulisBuku #AjengMaharani
BENARKAH ADA TUHAN DI DALAM KOTAK HITAM CEPI SABRE?
Judul : Kotak Hitam
Penulis : Cepi Sabre
Penerbit : Mijil Publisher
Kota terbit : Jakarta
Tahun terbit : 2012, terbitan pertama
Jumlah halaman : x + 158 halaman
"... Lalu aku diam-diam membayangkan pikiran sang pengarang. Tidakkah, kataku, di dalam kotak hitamnya, ia menyimpan Tuhan untuk dirinya sendiri." (Hudan Hidayat)
Buku bersampul hitam nan sederhana ini, mula-mula dibuka oleh tulisan Hudan Hidayat, yang menggambarkan seolah ia tengah bercengkrama dengan sang pengarang dan Gieb dalam sebuah dunia imajinasi, yang memperkarakan sebuah obrolan melantur tapi juga tidak melantur. Sebuah pembuka yang sangat unik saya bilang.
Di dalamnya, saya disuguhi cerita-cerita di luar batas realis. Ada 25 cerita yang dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
00.00 - 09.00 : GILA (berisi 10 cerpen)
11.00 - 17.00 : JATUH CINTA (berisi 8 cerpen)
19.00 - 24.00 : NEGARA (berisi 7 cerpen)
Sebagai pembuka, saya bertemu dengan 'Tokoh-tokoh Cerita dari Sebuah Kotak Kayu', yang mengisahkan tentang Frick Fritzgerald, sang penulis cerita, yang gemar menyimpan tokoh-tokoh ceritanya dalam sebuah kotak kayu. Ketika akan mengarang cerita, Frick akan membuka kotak kayu itu, mengambil beberapa tokoh dan mulai menulis. Tapi pada suatu ketika, tokoh-tokoh cerita itu keluar dari kotak kayu dan melarikan diri, membuat Frick kesulitan menulis cerita, hingga kemudian muncul Gabriel, sang malaikat, yang menganggap Frick adalah Tuhan dan meminta lelaki itu untuk juga memasukkannya ke dalam kotak kayu. Tapi Frick tidak bisa melakukannya karena tubuh Gabriel yang sangat besar, lalu terjadilah percakapan antara mereka mengenai makna Tuhan sambil mengejar satu per satu tokoh-tokoh cerita yang melarikan diri itu.
"Maksudku, bagaimana bisa, kau tidak punya kendali atas mereka, Tuan Frick? Bukankah mereka semua itu kau yang ciptakan?"
"Aku bukan Tuhan, Gabriel." (halaman 5)
"Tapi Tuhan tidak pernah mengajakmu bercerita. Kau tidak bisa menceritakan keinginanmu, dan dia tidak pernah menceritakan keinginannya...." (halaman 6)
Cerpen-cerpen Cepi memiliki kekuatan pada keberanian, keunikan, liar, dan meletup-letup. Eksperimen (demikian sang penulis ini seringkali menyebut konsep bukunya ini pada saya) yang indah. Setiap kali saya membaca, saya selalu menemukan ide-ide baru untuk ditulis. Salah satu contohnya adalah pada cerpen 'Anakku, Orang-orang yang Ingin Kugambar, dan Ayahku yang Membawa Pistol', yang menginspirasi saya menulis cerpen 'Lukisan Suara' (Solopos). Juga cerpen 'Pacar dalam Lemari', yang menginspirasi saya menulis cerpen 'Laki-laki Akan Selalu Mengencani Kunang-kunang' dan 'Rahasia Lemari Ibu'. Dan masih banyak lagi.
Ada beberapa cerpen Cepi yang sangat berani daripada cerpen-cerpen lainnya di dalam buku ini. Liar dan begitu birahi (tapi tidak murahan). Itu menurut saya, setelah membaca cerpen 'Gubrak, Nyoh, dan Din- Din- Din-' dan 'Laki-laki yang Mencari Buah Dada' (sebuah cerbung, yang ini dibagi menjadi tiga bagian). Ada pula cerpen yang ditulis dengan teknik surealis yang pure (ini salah satu favorit saya), berjudul 'Hujan Hudan, Hujan'. Narasi cerpen ini melompat-lompat, nampak tidak teratur dan di luar nalar segala macam bentuk aturan, tetapi memang demikianlah keunikannya.
Cepi Sabre bagi saya adalah seorang guru yang hidup di dalam bukunya. Tulisan-tulisannya membuat saya jatuh hati pada surealisme dan mulai mempelajarinya. Dan buku 'Kotak Hitam' ini, selayaknya sebuah kitap suci bagi saya. (padahal itu buku pinjaman, tapi saya begitu tidak rela untuk mengembalikannya bahahahaha)
Lalu, benarkah ada sosok Tuhan di dalam Kotak Hitam seorang Cepi Sabre, seperti apa yang telah diutarakan oleh Hudan Hidayat di bagian pembuka buku tersebut?
Saya jawab, "Bagi saya, IYA!"
Cepi Sabre menciptakan tuhannya sendiri, tuhan bagi tokoh-tokoh yang diciptakannya, tuhan yang bergerak bebas dan liar, yang penuh makna, tuhan dari segala bentuk sudut pandang, yang terkadang luput dari ujung mata pemahaman kita. Tuhan semacam itu, hanya dapat kita temukan di dalam 'Kotak Hitam', karena Cepi telah memasungnya rapat-rapat di dalam sana. []
#NulisRandom2017 #Day7 #NulisBuku #AjengMaharani
Langganan:
Postingan (Atom)












