Senin, 05 Juni 2017

CERPEN-CERPEN SUREALISME PERTAMA YANG SAYA BACA

Beberapa sahabat yang bahagia membaca cerpen-cerpen saya, apakah itu yang berada dalam buku 'Ia Tengah Menanti Kereta Uap Tuhan yang Akan Membawanya ke Bulan' ataupun yang terposting di blog ini, mengatakan kalau cerpen-cerpen saya itu bernuansa surealisme. Ya, saya memang menggilai salah satu aliran sastra itu. Jika ditanya, sejak kapan saya mulai membuat diri saya tertarik pada surealisme, maka saya saya akan menjawab: sejak saya membaca cerpen-cerpen surealisme.

Lalu kalian mungkin akan bertanya lebih lanjut (karena rasa ingin tahu yang besar) tentang cerpen milik siapa yang telah menggugah hati saya. Maka saya akan menjawab sekali lagi: pada kenyataannya, cerpen surealisme pwrtama yang saya baca bukanlah salah satu cerpen dari Seno Gumira Adjidarma, yang digadang-gadang sebagai bapak surealisme Indonesia itu, yang terkenal dengan cerpennya 'Sepotong Senja untuk Pacarku'.

Jadi, cerpen siapa yang membuat saya takjub akan dunia surealis yang telah dibangunnya dalam sebuah tulisan?

Mula-mula, sebelum saya menunjukkan atau menyebutkan sesuatu, saya akan katakan (perlu digarisbawahi) bahwa bagi sebagian pembaca (termasuk saya) tidak semua buku laris itu adalah buku-buku yang menarik untuk dibaca. Sebelum membaca dua buku yang hendak saya utarakan dalam tulisan kali ini, saya telah membaca dua buku Tere Liye dan tiga buku Asma Nadia, tapi tidak sedikit pun memunculkan gairah untuk menuliskan sesuatu, atau lebih tepatnya terinspirasi untuk menuliskan sesuatu setelah mengkatamkan buku-buku itu. Tentu saja ini perkara selera, bukan? Dan tentu pula kita tidak akan bisa memaksakan selera kita pada orang lain.

Seorang sahabat, yang sangat prihatin dengan keadaan saya yang pada ketika itu belum mempunyai buku-buku bagus untuk dibaca, mengirimkan beberapa buku miliknya kepada saya. Dan di antaranya itu, saya jatuh cinta pada kedua buku ini: Kotak Hitam (Cepi Sabre) dan Suara Sunyi (Rose Widianingsih).



Kedua buku ini tidak diperjuajbelikan di toko-toko buku besar, namun secara online dan mulut ke mulut, sahabat ke sahabat. Kedua buku ini diterbitkan oleh penerbit indie, di mana Mijil Publisher yang menaungi Kotak Hitam, sementara Indie Book Corner menaungi Suara Sunyi.

Hal-hal apa sajakah yang telah saya pelajari dari kedua buku tersebut, dan mengapa buku-buku tersebut menakjubkan dan terus mampu menginspirasi saya berapa kali pun saya membaca berulang-ulang?

Esok, di postingan hari ketujuh dan kedelapan, saya akan mengelupasnya satu pwr satu, mengapa mereka bwgitu istimewa.

Selamat menanti dan belajar cerpen surealisme yang tidak biasa bersama saya. []


#NulisRandom2017 #Day6 #NulisBuku #AjengMaharani

Minggu, 04 Juni 2017

KAKI SEORANG IBU

image from Pinterest

kaki seorang ibu melangkah masuk ke dalam pikiranku. ia berkata lelah, menarik sebuah kursi kayu mahoni dan mendudukkan bokongnya di atas sana. anak lelakiku berulah lagi, ia berujar getir. istri anak lelakiku menangisi mayat kenangan yang mati di dalam rumah mereka. pernikahan itu tercerai-berai. seorang perempuan telah memotong urat nadi kebahagiaannya, dan istri anak lelakiku itu terpaksa menerima demi setetes ketenangan.

kaki seorang ibu terus meracau tentang anak lelakinya yang terbodohi birahi. aku tidak ikut duduk di kursi kayu mahoni itu, diam-diam berdiri dan ikut sedih. anak lelakiku telah mencuri senyum sepasang matahari. aku harus bagaimana, tanya kaki seorang ibu itu dengan melarat-larat. tidak ada matahari adalah sebuah bencana, pekikku. cucianku tidak akan kering, padahal esok pagi aku harus mengejar bus dan mengelap bibir bosku yang suka meludahi dinding kantor itu dengan bibirku.

kaki seorang ibu tertawa terpingkal melihatku gaduh. aku tekun melihat wajahnya yang memerah malu. apa kamu bahagia sekarang, wahai Kaki Seorang Ibu? tidak, jawabnya. kebahagiaan tidak muncul dari sebuah lelucon konyol. seperti lelucon anak lelakiku yang meniduri perempuan lain sementara istrinya merenungi mata malam yang hujan. jadi bagaimana caraku agar kamu bahagia, wahai Kaki Seorang Ibu, tanyaku kembali. kaki seorang ibu itu bergetar gelisah. ia mulai menangis. surga di telapak kakinya meredup sayup. aku membungkam, tidak bertanya lagi. dan kesunyian merajai isi kepalaku.

aku butuh istirahat, tapi tangisan kaki seorang ibu itu tidak reda juga. aku mengulurkan setumpuk tisu. aku jadi ingat kawanku yang dua hari lalu marah-marah karena selembar tisu tersangkut di sela-sela giginya.

kaki seorang ibu itu akhirnya berdiri dan menghentak-hentak tanah kering di dalam kepalaku. ada apalagi sekarang, tanyaku padanya. aku mau ke kamar kecil. tidak ada kamar kecil di dalam kepalaku. pulanglah. ia menekuniku. apa kau tidak punya seorang ibu, tanyanya dingin. tidak. ibuku sudah mati dan aku terlambat ikut memandikannya. kaki seorang ibu terenyuh. ia memelukku. sekarang giliranku yang menangis. sial. padahal esok aku harus bangun pagi, mengejar bus dan mengelap bibir bosku yang suka meludahi dinding kantor itu dengan bibirku. []


Sidoarjo, 2017 

#NulisRandom2017 #Day5 #NulisBuku #AjengMaharani 

Sabtu, 03 Juni 2017

PERKARA CUCU WAK PUAH YANG BERKELAMIN DENGAN SUNDARI


image from Google 

Sebelum berita tentang cucunya yang berkelamin dengan Sundari itu mengguncang desa, Wak Puah sudah mengetahuinya jauh-jauh hari jika hal ini akan terjadi. Maka, ketika Wagimin datang dengan wajah pasi ketakutan dan membisikkan kabar menggemparkan itu dengan tergopoh, Wak Puah hanya menggelengkan kepala saja sambil melebarkan bibirnya.

Pagi ini, sebenarnya Wagimin sedang melunyah tanah di sawah dengan kaki-kakinya yang kokoh saat berita itu mengembus tanpa permisi ke cuping telinganya. Ia segera mentas dari permainan kegemarannya itu dengan susah payah karena pikiran yang kalang-kabut, lalu mencuci kaki-kakinya yang berlumpur dengan menimbah air sumur buatan ala kadarnya di bibir pematang. Ia hanya ingin segera menuju rumah Wak Puah dan mengabarkan perkara tersebut, sebelum nantinya akan ada orang lain yang suka menambah-nambahkan cerita pada lelaki tua itu.

Lesat Wagimin berlari melintasi pematang yang licin dengan sedikit terhuyung. Hujan semalam membuat tanah di tempat itu menjadi adonan bubur setengah matang. Likat. Berkali-kali sandalnya tertangkap oleh tanah hingga terlepas, hingga ia terpaksa mencabutnya dengan tangan dan mendapati tanah liat menempel di alasnya, membuat sandal itu menjadi lebih berat untuk digunakan berlari. Dan saat ia berhasil naik ke jalanan, ia merasa dirinya seperti terbebas dari kepungan puluhan orang dengan golok di tangan mereka.

Wagimin tidak peduli dengan sandalnya yang menjadi bengkak dan berat. Ia melanjutkan larinya, terseok di atas bebatuan yang terselar sepanjang jalan. Desanya memang belum mencicipi rasa manis dari pembangunan. Sudah berkali-kali warga berbondong-bondong menuju kantor pemerintahan pusat dan meneriakkan harapan-harapan. Tapi seperti kisah pembesar kota lainnya yang lihai menebar janji layaknya menyemai bibit padi di sawah, selalu saja hanya janji yang warga terima. Dan seharusnya, tahun ini jalanan yang mulai dikuasai liang-liang itu sudah berubah menjadi gundukan aspal hitam keabu-abuan yang mulus tanpa batu-batu.

Sebenarnya, sejak Wak Puah mengetahui cucunya sangat mencintai Sundari, anak bungsu Juragan Codet yang cantiknya tidak main-main, dada lelaki tua itu sudah sering dibuat kembang-kempis karena rasa khawatir yang besar terhadap cucunya. Ia takut masa depan cucunya menjadi kopong, tanpa isi, karena tidak mungkin cinta cucunya akan menjadi kenyataan. Ada jarak perbedaan besar antara mereka yang tidak disadari oleh cucunya itu. Tapi berapa kali pun ia berusaha menyadarkan cucunya tentang perbedaan-perbedaan yang mengambang dengan begitu jelas di antara mereka, tetap saja orang tua seperti dirinya tidak bisa berbuat apapun pada seorang pemuda yang tengah membara karena cinta.

Sebelum Wagimin akhirnya sampai ke rumah Wak Puah, pria bertubuh pendek dengan kulit terpanggang matahari itu bertemu dengan beberapa warga yang bergerombol di sebuah warung kopi. Mereka melambai pada Wagimin, mengajaknya untuk ikut menikmati secangkir kopi dengan ditemani senyum manja dari penjualnya, janda muda yang baru saja ditinggal mati suaminya.

Nama janda itu adalah Ijah, bokongnya besar aduhai, pun demikian dengan buah dadanya yang memantul pelan setiap kali ia bergerak. Warung kopinya adalah yang paling laris di desa itu. Tidak ada satu pun laki-laki di desa yang tidak pernah menikmati kopi racikan Ijah. Tangan-tangan bulat Ijah yang putih menggemaskan sering menjadi pelampiasan mereka, dielus-elus. Juga bokongnya yang terkadang ditepuk pelan atau diremas gemas. Ijah hanya akan menjerit keenakan lalu memukul-mukul bahu penggodanya dengan manja, dan melengos genit dengan tatapan mata yang berkerling nakal. Laki-laki akan senang setiap kali mendengar Ijah menjerit. Ada yang bergetar di tubuh mereka. Pelan dan menggairahkan.

Saat mereka melambaikan tangan pada Wagimin, lelaki itu hanya menggeleng saja. Ia memang benar menghentikan kakinya sejenak, tapi tidak sedikit pun melangkah mendekat. Salah satu dari mereka, yang duduk di kedai kopi Ijah, mengangkat tubuhnya dan berjalan ke arah Wagimin yang tersengal-sengal lelah. Menanyakan akan ke mana gerangan lelaki itu berlari, mengapa begitu tergopoh padahal hari masih begitu pagi dan dingin—waktu yang pantas untuk digunakan bersantai dan minum kopi sambil menepuk bokong Ijah. Wagimin menjawab dengan kata yang patah-patah, bahwa ia akan ke rumah Wak Puah dan mengabarkan berita tentang cucunya. Mendengar jawaban itu lawan bicaranya terbahak-bahak, mengatakan bahwa betapa hebatnya cucu Wak Puah itu bisa meniduri kembang desa. Dan itu membuat Wagimin dongkol. Ia tak lagi mengacuhkan laki-laki di hadapannya itu, lalu kembali berlari.

Berita tentang cucu Wak Puah yang berkelamin dengan Sundari itu dimulai dari seorang lelaki pencari katak yang melihat gerakan-gerakan di sebuah gubuk dekat sungai pada malam lalu. Dengan degup penasaran yang meletup lelaki itu mengendap-endap, mencoba mencari tahu apa dan siapa yang sedang bermadu malam-malam di tempat itu. Ia melihat sosok perempuan molek yang cekikikan, lalu sosok pria yang mengendus-endus, membuat ia mual dan memuntahkan sisa makan malamnya di semak-semak.

Itulah yang didengar Wagimin pagi ini, walau pada kenyataannya ia menyangsikan kebenaran berita itu. Memang pemuda itu sedikit keras layaknya batu gunung saat ia berkehendak. Sejak kecil ia terkenal usil dan pemberani. Wagimin tahu cucu Wak Puah itu tidak akan menjadi rampok, atau perusuh, atau bahkan mengawini anak orang dengan seenaknya. Tapi saat ia memandangi wajah Wak Puah yang gelisah dan semakin sering melenguh panjang itu, Wagimin merasa berita itu mungkin benar adanya.

Suara gaduh sekumpulan orang yang sedang marah terdengar di halaman rumah Wak Puah. Wagimin terperanjat dibuatnya. Ia lesat menghampiri jendela dan terbeliak ketika melihat orang-orang berwajah marah sudah berkerumunun dan meneriakkan nama cucu Wak Puah. Dada Wagimin dipenuhi kegelisahan yang besar. Ia menatap mata tua Wak Puah. Dikiranya lelaki itu akan menggigil ketakutan, tapi kenyataannya tidak.

Wak Puah berjalan menyedapkan langkah menuju pintu depan. Ia menyambut orang-orang itu dengan ramah-tamah yang menurut Wagimin yang berdiri di balik punggungnya adalah sebuah kebodohan. Bagaimana mungkin seorang lelaki tua mampu meredakan amarah belasan harimau yang sedang murka? Wagimin semakin was-was. Ia menelan ludahnya sendiri.

Orang-orang itu bersahut-sahutan, mengatakan akan meringkus cucu Wak Puah dan menggiringnya penuh kemaluan ke seluruh desa, lalu membawanya ke kantor polisi atas tuduhan pemerkosaan. Wak Puah berusaha menenangkan mereka. Mengatakan hal ini butuh diselidiki terlebih dahulu. Jika benar cucunya berkelamin dengan Sundari, ia yakin itu bukan pemerkosaan. Insting tuanya mengatakan, Sundari pun mencintai cucunya.

Bergumulan antara Wak Puah dan orang-orang berwajah marah itu masih saja alot. Mereka bersikeras ingin menyeret cucu Wak Puah. Berteriak dan melempar ludah ke tanah, lalu melunyahnya kuat-kuat. Wak Puah masih sabar dan telaten. Ia menjawab semua pertanyaan dan makian-makian dengan tabah, sementara Wagimin beringsut di punggung tuanya. Ketika itulah datang ketua RW dan dua ajudan lurah dengan langkah gagah, membubarkan kerumunan warga yang sedang marah. Mengatakan ini adalah tugas mereka sebagai pamong. Dan dengan patuh, para warga itu pergi meninggalkan halaman rumah Wak Puah.

Melihat orang-orang itu sudah pergi dengan melipat bara di dada, Wagimin memutuskan untuk pulang. Sudah tidak ada lagi keperluan dengan masalah ini, dan tanah-tanah di sawah sudah terlalu lama menunggu untuk kembali dilunyah. Ia memohon diri pada Wak Puah, juga pada ketua RW dan dua ajudan lurah, lalu meninggalkan mereka yang masih bergeming di depan pintu rumah.

Kali ini Wagimin tidak lagi berlari. Ia terlalu lelah untuk berlari lagi. Dan kehausan. Ia lupa meminta segelas air di rumah Wak Puah tadi. Ia terlalu panik dan gusar. Bagi dirinya, keluarga Wak Puah sudah bagaikan saudara. Ia besar bersama anak lelaki Wak Puah yang meninggal dalam kecelakaan bus, bertahun-tahun lalu.

Ketika Wagimin melintasi warung kopi milik Ijah yang sudah sepi pengunjung, ia memutuskan untuk mampir sejenak, sekadar minum segelas es teh untuk membasahi dahaganya. Di warung kopi itu, ia hanya melihat seorang laki-laki dan Ijah saja, yang sedang saling manja dan menggoda. Itu laki-laki yang sama dengan yang memanggil dirinya tadi pagi, saat berlari menuju rumah Wak Puah. Wagimin sedikit ragu apakah ia akan mampir ke kedai milik Ijah ataukah tidak saat melihat adegan colek dan pegang yang seronok itu. Ia ingin mual, tapi dahaganya terlalu angkuh untuk mau melepaskan keinginan meminum segelas es teh yang segar.

Wagimin tahu, laki-laki yang duduk bersama Ijah itu sudah beristri, tapi tentu saja pria akan selalu sama, melupakan istri saat ia sedang bersama seorang wanita, apalagi yang bahenol dan murah seperti Ijah. Dengan kepasrahan atas rasa hausnya, Wagimin akhirnya melangkahkan kaki mendekati warung. Saat itulah, samar ia mendengarnya, ucapan yang dilontarkan laki-laki yang duduk bersama Ijah. Pernyataan yang membuatnya marah dan menggenggam kepalannya rapat-rapat. Ia pun ingat satu hal tentang laki-laki itu. Ia-lah laki-laki pemburu katak yang menguarkan berita tentang cucu Wak Puah yang berkelamin dengan Sundari pada malam di sebuah gubuk di pinggir sungai.

Seketika, Wagimin ingin sekali menghantamkan kepalannya di wajah laki-laki itu.



Sidoarjo, 2017 


#NulisRandom2017 #Day4 #NulisBuku #AjengMaharani 

Jumat, 02 Juni 2017

DI BALIK CERPEN MALAIKAT KEMATIAN DI DAPUR KITA


“Kau percaya manusia selalu terlahir dari cinta?”
Aku tercengang, ia bisa membaca pikiranku.
“Kau tidak terlahir dari sebuah cinta.”
Ia benar. Ia katakan itu dengan mata keji. Membuatku ingin menangis.
‌~ Malaikat Kematian di Dapur Kita (halaman 111)


Cuplikan dialog di atas saya kutip dari salah satu cerpen di dalam buku saya 'Ia Tengah Menanti Kereta Uap Tuhan yang Akan Membawanya ke Bulan', yang diterbitkan oleh Penerbit Basabasi. Cerpen berjudul 'Malaikat Kematian di Dapur Kita'. Dialog tersebut terjadi antara tokoh 'Aku' dan sang malaikat kematian. Kisah dimulai ketika tokoh 'Aku' pulang dari berbelanja dan terkejut saat menemukan seorang perempuan cantik bergaun hitam pekat di dapurnya. Perempuan itu mengaku sebagai malaikat kematian yang hendak mencabut nyawanya, tapi anehnya, malaikat kematian itu justru memasak makanan kesukaan si tokoh 'Aku' terlebih dahulu.

Ia berkata, “Makanlah sepuasmu, lalu izinkan aku mencabut nyawamu dengan ketenangan yang manis.” (halaman 105)

Saat menulis cerpen tersebut, mula-mula saya terilhami oleh salah satu cerpen Bamby Cahyadi dalam buku 'Perempuan Lolipop' yang saya baca bertahun-tahun lalu, di mana sang tokoh utama juga menemukan seorang perempuan di dalam rumahnya dan mengaku sebagai malaikat kematian. Hanya saja, karakter malaikat kematian di cerpen itu lebih unik, sementara dalam cerpen saya, saya lebih memfokuskan pada masa lalu tokoh 'Aku' yang kompleks beserta cintanya yang tidak biasa, dan tidak banyak mengeksplor karakter perempuan malaikat kematian.

Dalam kesempatan kali ini, saya sedang tidak ingin membahas lebih banyak lagi tentang cerpen tersebut, tetapi lebih ingin menggarisbawahi inti permasalahan yang tersirat dari dialog di atas. Pertanyaan tentang apakah semua manusia terlahir dari sebuah cinta sudah bukanlah hal baru di zaman sekarang. Jelas-jelas banyak janin lahir justru tanpa adanya cinta, bahkan walaupun mereka, janin-janin itu, terlahir dari sebuah pernikahan yang sah sekalipun. Memprihatinkan memang. Perkara cinta adalah suatu obrolan yang pelik. Setiap dari kita, sejak dilahirkan di dunia, sudah barang tentu telah ditanamkan rasa itu mulai dari sentuhan seorang ibu. Lalu ayah. Kemudian keluarga. Menjelma ke ranah hubungan sosial. Hingga mampu merasakan cinta terhadap lawan jenis, menikah, lalu berjuang dalam sebuah pernikahan tersebut. Semua demi satu kata: CINTA.

Pertanyaannya adalah, mengapa saya menyisipkan sebuah permasalahan tentang kebenaran bahwa tidak semua manusia terlahir dari sebuah cinta?

Sebagai seorang perempuan yang memiliki isi kepala selayaknya labirin besar yang berliku dan bersudut-sudut, saya menyimpan sebuah kegelisahan ini di salah satu sudut labirin itu. Berita-berita mengerikan yang terdengar hampir setiap hari; perihal bayi yang dibuang dan janin-janin yang digugurkan, membuat dada saya pedih. Saya ingin bersuara, tapi tentu dengan cara saya sendiri. Saya ingin menunjukkan, hal-hal buruk apa yang bisa terjadi pada mereka yang terlahir tidak dari sebuah cinta, pada pola didik yang salah, atau doktrin-doktrin keliru yang dicekok sejak dini.

Saya bukan tipe penulis yang mengatakan pesan-pesan moral saya secara terang-terangan. Saya senang sekali membentuk sebuah konflik cerita yang mengarah ke sebuah jalan lurus, tapi membelokkan sebuah pesan moral ke arah yang lainnya dengan menyisipkannya. Saya ingin pembaca saya ikut berpikir, memikirkan satu demi satu pesan (karena terkadang dalam satu cerpen saya tidak cukup hanya membuat satu pesan moral saja, bisa dua atau lebih), dan jeli memaknai cerita saya yang terkadang tidak semua orang mampu menerima tema-tema frontal yang saya angkat (seperti misalnya tema tentang homoseksual, transgender, dan pedofil).

Rumit sekali ya saya ini?

Well, tapi memang demikianlah cara-cara labirin di kepala saya ini bekerja. Tapi tetap tentu saja, dengan isi kepala yang demikian, saya bukan tipe pemurung. Saya justru romantis (seperti kata salah satu pembaca buku saya) dan benar sedikit melankolis walau pada akhirnya setelah tiga puluh enam tahun hidup sebagai manusia, saya sekarang tudak secengeng saya yang dulu.

Oh ya, bagi kamu yang penasaran dan berminat ingin membeli buku 'Ia Tengah Menanti Kereta Uap Tuhan yang Akan Membawanya ke Bulan', bisa langsung hubungi saya. Atau bisa dibeli di toko-toko buku Togamas.

Maturnuwun...


#NulisRandom2017 #NulisBuku #AjengMaharani #KeretaUapTuhan #PenerbitBasabasi #SastraPerjuangan

Kamis, 01 Juni 2017

THABITA DAN CAPUNG-CAPUNG YANG BERNYANYI

image from art of america


Sekali lagi Thabita hanya diam terkelu di sudut aula. Hari ini kelas tari, dan Thabita tidak sedang ingin menari. Dia hanya ingin duduk, tertunduk, dan diam, walau sudah berkali-kali Nandini, sang guru tari, mencoba menggiring bocah lima tahun itu untuk ikut menggerakkan kaki dan tanggannya sesuai petunjuk. Thabita bahkan tidak merasa tertarik untuk memerhatikan kawan-kawannya bercanda dan menari. Dia seperti berada di dunianya sendiri. Dunia yang sunyi. Dan muram.

Ketika kelas tari berakhir, Thabita masih saja duduk di tempat yang sama. Nandini melihat itu dengan pandangan yang sayu. Dia membenahi perlengkapan tarinya, lalu cepat menghampiri Thabita.

“Thabita tidak suka menari?”

Thabita menggeleng.

“Lalu, kenapa Thabita tidak mau menari bersama Bunda Dini?”

Thabita tetap bungkam, tertunduk, menekuri jari-jari kakinya sendiri. Melihat itu, Nandini mengembus napas berat.

***

Thabita tidak masuk sekolah hari ini. Nandini kecewa, padahal sebuah kejutan sudah disiapkannya. Dia pun merenung dan gelisah. Berjalan mondar-mandir, sementara anak-anak berkumpul di aula, duduk, tertawa-tawa dan melihat seorang pemuda badut yang sedang bermain sulap.

Seekor kelinci keluar dari sebuah topi, lalu bunga-bunga kertas, lalu merpati dan pita merah yang teramat panjang. Anak-anak bersorak riuh. Suara tepuk tangan saling bersaut. Nandini hanya menatap permainan pemuda badut itu dari pintu masuk aula. Tatapan redup dan kosong. Bayangan Thabita yang selalu berdiri diam di pagar beberapa hari lalu datang dalam pikirannya lagi.

“Apa yang sedang Thabita lakukan di sini? Thabita tidak ingin bermain sama teman-teman?”

Gadis kecil itu menggeleng. Matanya menerawang, lurus ke luar pagar sekolah. Dia sedang menatap kosong sebuah taman yang dipenuhi bunga. Ah, bukan. Thabita sedang memandangi seekor capung kemerahan yang sedang terbang berkeliling di sana.

“Thabita suka capung?”

Thabita mengangguk.

“Kenapa?”

“Bita ingin jadi capung, Bunda. Biar Bita bisa terbang jauh dan pergi dari rumah Mama,” ujar gadis kecil itu lirih. Tatapan matanya masih jauh. Sangat jauh. Dan juga kosong.

Nandini menggigiti bibirnya. Dia sudah tidak sabar. Dia pun beranjak dari tempatnya berdiri dan menghampiri ruang guru, mencari sesuatu di buku biodata siswa.

*** 

Rumah keluarga Thabita ternyata besar. Mereka tinggal di sebuah kompleks perumahan, yang letaknya tidak jauh dari sekolah. Nandini berdiri di depan pagar setelah sepuluh menit tiba, dan tidak ada seorang pun di dalam rumah itu yang menghampirinya. Wanita itu semakin gelisah. Dia yakin hatinya bisa merasakan, Thabita sedang tidak baik-baik saja. Dia yakin sekali itu.

Dihampirinya sebuah toko kelontong yang berselisih lima rumah dari rumah Thabita. Dia mempertanyakan tentang kabar Thabita dan keluarganya. Dan ketika jawaban itu terlontar dari bibir sang pemilik toko, Nandini dibuat sedih.

Nandini tiba-tiba saja merindukan bapaknya yang telah tiada.

*** 

Badut itu duduk di salah satu bangku tunggu sekolah, menanti Nandini datang. Sekolah telah sepi. Dan ketika wanita itu tiba dengan raut muka yang menyedihkan, pemuda itu mengerti, sesuatu yang buruk pasti sedang terjadi pada Thabita.

Nandini memandang pemuda badut yang telah dia siapkan untuk Thabita hari ini. Mereka bersitatap. Lama. Lalu, dengan limbung Nandini mendekati pemuda itu, duduk di sampingnya. Membisu. Tidak tahu dengan kata apa dia bisa mengungkapkan perasaannya saat ini.

Pemuda itu seperti mafhum pada reaksi Nandini. Dia ikut terdiam, menunggu. Menekuri langit yang sebagian warna birunya terhalang oleh dedaunan pohon akasia yang merimbun.

“Anaklah yang akan selalu menjadi korban. Orang dewasa itu egois.” Nandini meracau kekesalannya, lirih. “Orang dewasa selalu bilang, mereka berhak bahagia. Selalu saja begitu. Tapi mereka melupakan anak-anak mereka. Mereka pikir merekalah yang paling berhak menentukan nasib anak-anak. Mengapa begitu? Apa anak-anak juga tidak berhak untuk bahagia?”

Mata Nandini meleleh. Kemarahan yang sedari tadi bergemuruh dalam dadanya itu pun tumpah.

“Bapakku bermimpi menjadi pelukis. Suatu hari, dia rela meninggalkan mimpi itu demi keluarganya. Tapi bagi Ibu itu seolah belum cukup. Entah apa yang diinginkan Ibu. Apa yang ada di pikiran Ibu, sampai dia rela pergi meninggalkan kami? Bapak bilang, Ibu ingin bahagia dan dia tidak bisa bahagia bersama Bapak. Tentu saja itu menyakitkan kami berdua. Dan sudah pasti, itu juga menyakitkan perasaan Thabita saat ini. Orang-orang dewasa itu keterlaluan. Thabita masih lima tahun. Masih lima tahun dan ingin menjadi seekor capung agar bisa terbang ja—”

Bulir-bulir air mata Nandini semakin deras. Dadanya semakin sesak. Sesenggukan. Wanita itu tidak mampu lagi melanjutkan kata-katanya.

“Kau sama denganku. Kau, Aku, juga mungkin Thabita nantinya. Aku juga pernah kehilangan tawa. Kita semua pasti pernah kehilangan tawa. Kita tumbuh dalam dunia yang seperti itu. Tapi sebelum meninggal, kakekku pernah berkata, bagaimana pun ingatlah selalu tentang rasa pahitmu, jangan pernah takut padanya, jangan pernah berusaha untuk melupakannya. Agar kelak kau bisa memahami, apa dan untuk siapa kau dilahirkan. Tidak ada kata terlambat, bukan? Kita masih punya waktu di depan kita, dan itu lebih dari cukup.”

Pemuda itu tersenyum. Tanpa sadar, Nandini pun ikut tersenyum dan mengangguk.

*** 

Sore ini, ketika Thabita membuka mata, dia melihat sekumpulan capung berterbangan di langit-langit kamar. Capung-capung itu beraneka warna. Merah, kuning, hijau, dan oranye. Mereka terbang lesat dan meninggalkan jejak layaknya taburan bintang-bintang kecil di udara. Thabita menyungging senyum. Itu senyum pertamanya setelah berhari-hari bibirnya terbungkam rapat. Sejak dia menangis dan berteriak: Papa! Papa! Hingga suaranya hilang dan mengering.

Malam itu, papa dan mamanya bertengkar hebat. Thabita ketakutan dan meringkuk di bawah ranjang, mendekap erat-erat boneka beruangnya. Rumahnya menjadi hiruk dan ganjil dan sangat menyedihkan.

Teriakan-teriakan terhenti ketika terdengar suara pintu yang dibanting kuat-kuat. Thabita terkejut, lalu rumah mendadak menjadi hening dan mati. Gadis kecil itu merangkak pelan keluar dari kolong ranjang lalu berjalan ke arah pintu kamar. Dia mengintip, tapi tidak ada lagi papa dan mamanya. Dia keluar dan mencari, memanggil-manggil mereka. Suaranya menggigil.

Mamanya keluar dari pintu dapur dengan muka yang masih membara dan mata yang basah. Thabita bertanya: Di mana Papa, Ma? Lalu mamanya menjawab: Papamu pergi, Mama sudah mengusirnya!

Bagi Thabita, Papa adalah segalanya. Papa baik dan tidak pernah marah-marah seperti Mama. Jadi ketika dia diberitahu jika papanya itu sudah pergi untuk selamanya, dia menjadi sedih. Thabita menangis, memanggil-manggil papanya. Thabita marah pada mamanya. Sangat marah. Dia ingin papanya kembali, tetapi mamanya tetap bersikukuh pada pendiriannya.

Karena itulah gadis kecil itu jadi pendiam dan murung. Dia merajuk, tidak ingin makan atau melakukan hal apapun sebelum papanya pulang kembali. Badannya semakin hari semakin lemah. Hingga akhirnya, hari ini dia berada di kamar rawat inap ini bersama sekumpulan capung yang berputar-putar di atasnya.

Di telinga Thabita, capung-capung itu terdengar seperti bernyanyi. Seketika Thabita merasa ingin menari. Dia berusaha bangkit dari ranjangnya. Badannya terasa lemas, tapi Thabita sangat ingin menari bersama capung-capung itu. Menari dan menari. Lantai terasa dingin, namun kaki-kaki telanjang bocah itu tidak memedulikan rasa dingin. Thabita masih terus menari dan menari. Lalu tiba-tiba, nyanyian capung-capung itu terhenti. Thabita menghentikan tariannya, mendongak ke langit-langit kamar. Capung-capung itu terbang beriringan, lesat dan menghilang menembus dinding.

Mata Thabita sedih. Capung-capung sepertinya tidak mau berkawan lagi dengannya. Tidak ada Papa, tidak ada capung-capung. Thabita begitu kesepian. Dia berharap, capung-capung itu mau membawanya pergi untuk bertemu papanya. Dalam keadaan yang masih limbung ia menghampiri sebuah meja yang berada di dekat ranjangnya. Thabita melihat, sekotak crayon yang diberikan mamanya ada di sana.

***

Nandini dan pemuda itu bertemu Mama Thabita tepat di depan pintu kamar. Ketiganya saling bersalaman dan berbasa-basi singkat. Nandini mempertanyakan keadaan Thabita. Dia sudah mau makan, ujar Mama Thabita sambil menunjukkan kantong plastik hitam yang berisi puding cokelat. Nandini mengembus napas lega.

Mama Thabita mempersilakan keduanya masuk. Dia memutar knop pintu kamar itu pelan-pelan, lalu membukanya. Hawa ganjil seketika terasa menyergap ketiganya. Penuh kesedihan, sekaligus kesepian yang terbebaskan.

Kamar itu kosong dan sunyi. Tidak ada Thabita di ranjang. Mamanya gusar dan menghambur ke kamar mandi, tapi tetap saja tidak ada Thabita di sana. Nandini dan pemuda itu saling berpandangan. Rasa cemas menyelimuti dada Nandini.

Mama Thabita tergopoh dengan panik keluar kamar, memanggil-manggil nama anaknya. “Thabita! Thabita!” Nandini dan pemuda itu mengikutinya di belakang. Turut memanggil-manggil. Mereka bertiga meninggalkan kamar tempat Thabita dirawat, dengan pintu yang masih terbuka lebar-lebar. Di kamar itu, pernah ada segerombolan capung terbang berputar-putar di langit-langitnya. Capung-capung berterbangan dengan meninggalkan jejak layaknya serpihan bintang yang kelap-kelip, dan seorang gadis kecil menari-nari di bawahnya. Dan mereka (ketiga orang dewasa itu) tidak bisa menyadari sesuatu samar-samar menjelma sebuah bayangan di dinding kamar itu: Sebuah pintu yang terbuka separuh, dibentuk dari garis-garis hitam yang tidak sempurna. Di balik pintu itu, berdiri seorang laki-laki yang tersenyum dan merentangkan tangan. Segerombolan capung berputar-putar di atas kepalanya dan seorang gadis kecil menghambur ke arahnya.

Lamat, dari dalam dinding, terdengar suara nyanyian yang sangat lirih dan menggetarkan. Itulah nyanyian kesepian dan kerinduan Thabita. Nyanyian para capung.




Sidoarjo, 2017 


#NulisRandom2017 #NulisBuku #AjengMaharani 

SUATU KETIKA SAYA INGIN MENJELMA MANUSIA YANG MAMPU MEMPERMAINKAN WAKTU DENGAN BAHAGIA


Oleh: Ajeng Maharani

Mungkin sedikit konyol, tapi itulah yang tiba-tiba muncul di salah satu sudut labirin pikiran saya setelah membaca buku 'Mimpi-mimpi Einstein' karya Alan Lightman.

Mulanya, novel ini belum saya jamah sedikit pun sejak kedatangannya beberapa bulan yang lalu (seorang sahabat yang juga menggilai buku seperti saya memberikannya pada saya dan ia berkata novel ini sangat bagus), dan baru dua hari kemarin saya membacanya.

Novel setebal 137 halaman terbitan KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) ini mengusung konsep realis magis, seperti Calvino, Borges, dan Lucius Shepard. Novel yang sangat cerdas menurut saya. Sang penulis adalah seorang fisikawan yang lahir di Memphis, Tennessee, pada tahun 1948, dan novel ini merupakan karya fiksi pertamanya. Berisi tentang dunia-dunia yang memiliki keunikan waktu. Dunia-dunia di dalam mimpi seorang lelaki muda yang jenius, Albert Einstein.

Dunia unik seperti apa saja yang termaktup dalam novel ini?

Satu dunia memiliki waktu yang berbentuk lingkaran, di mana orang-orang di dalamnya melakukan hal yang terus berulang-ulang. Satu dunia memiliki waktu yang mengalir dari muara ke arah yang sebaliknya, hingga orang-orang di dalamnya tiba-tiba saja terhempas ke masa lalu mereka. Satu dunia memiliki waktu yang berjalan melambat ketika jauh dari pusat bumi, hingga orang-orang (yang tidak i gin cepat tua dan mati) mulai membangun rumah di atas bukit, pegunungan, dan tiang-tiang. Satu dunia tidak memiliki waktu, yang ada hanyalah peristiwa-peristiwa yang membeku. Dan masih banyak lagi kegilaan di dalamnya.

Saya kemudian berpikir, bagaimana jika waktu semacam itu benar-benar ada di dunia ini? Bagaimana jika seandainya saja saya memiliki kemampuan mempermainkan waktu sesuka hati saya? Apa yang akan saya lakukan?

Pertama kali, mungkin, saya akan mengambil kembali waktu-waktu yang telah dicuri secara paksa dari saya (mungkin oleh seseorang atau beberapa orang). Saya akan mengumpulkan seluruh waktu itu ke dalam sebuah kotak. Hingga satu hari, ketika saya ingin, saya akan mengambilnya satu demi satu, dan menjalani waktu-waktu itu dengan sukacita. Tidak ada kepedihan. Tidak ada kesakitan-kesakitan. Saya akan menjadikannya sebahagia mungkin, hingga menjelma kenangan yang tidak akan pernah saya sesali nanti.

Mungkin akan ada yang bertanya, waktu semacam apa yang telah dicuri dari saya. Tapi untuk saat ini saya tidak ingin mengisahkannya. Belum. Mungkin suatu hari nanti, pada tulisan yang lain.

Hal kedua yang ingin saya lakukan adalah membuat saya awet muda, dengan cara membekukan waktu, lalu saya akan melakukan hal-hal gila yang ingin saya lakukan tapi belum sempat saya lakukan. Mungkin semacam film Korea, Vanishing Time, di mana seluruh isi pulau melambat; manusia, ombak, burung, debu, angin, lalu sang tokoh utama berjalan di antara mereka dengan penuh sukacita. Saya akan mencuri es krim dari tangan seorang bocah, membaca buku sebanyak-banyaknya dalam sebuah toko buku, mencoba baju-baju mahal dan bermerk, merampok isi restoran-restoran ternama dan menguasai dapurnya, dan yang lebih gila lagi, saya akan menculik seorang aktor Korea yang paling tampan, idola saya (mungkin Lee Min Ho atau Kim So Hyun), lalu menciumi dan memeluk mereka tanpa ampun.

Benar-benar gila. Dan edan! Tapi memang begitulah yang tercipta setelah saya membaca novel tersebut. Walau pada akhirnya, saya membangunkan diri saya sendiri dan berkata, "Oke, waktunya bangun dan kembali waras!" dan mimpi-mimpi konyol itu akan menjelma tulisan fiksi yang bisa dibaca orang lain. Setidaknya, kegilaan itu membuahkan hasil.

'Jangan takut memimpikan hal-hal gila, karena Albert Einstein pun memulai segalanya dengan pemikiran yang gila.' []


#NulisRandom2017 #NulisBuku #AjengMaharani

Minggu, 28 Mei 2017

DUA EKOR ANJING YANG MELUNJAK-LUNJAK DI ATAS KEPALAKU DAN MENJADIKANKU PELIHARAAN MEREKA

Sumber gambar : Pinterest


Dua ekor anjing itu muncul di depan rumahku pada suatu pagi yang gemuruh. Dua ekor anjing itu mengiba, dengan bola mata kurang ajar yang berbinar-binar. Dua ekor anjing itu ekornya bergoyang-goyang. Dua ekor anjing itu menggonggong bersama-sama, "Kami saling mencintai, izinkan kami tinggal di atas kepalamu." lalu aku terkesiap dengan khidmat. Merasakan punggungku yang mulai pecah.

Dua ekor anjing itu tidak mau pergi dari halaman rumahku. Dua ekor anjing itu membuat sarang di bawah pohon jambu bijiku. Dua ekor anjing itu bermesra-mesra di hadapanku tanpa peduli anjing. Dua ekor anjing itu menjilati dubur dengan suka cita, lalu berkelamin di depan mukaku. Dua ekor anjing itu menggonggong nyaring melengking bersama-sama, "Kami saling mencintai, jadi izinkan kami tinggal di atas kepalamu!"

Dua ekor anjing itu menerkamku suatu malam yang senyap. Dua ekor anjing itu merobek dadaku. Dua ekor anjing itu mencuri degup jantungku, mencukil napasku, menggerogoti jiwaku. Dua ekor anjing itu sibuk memperdayai janin-janin dalam rahimku. Dua ekor anjing itu berlari ke atas kepalaku, melunjak-lunjak di sana. Semakin tinggi, semakin tinggi. Dua ekor anjing itu menggonggong garing bersama-sama, "Kami saling mencintai, kapan kamu pergi dari sini?" Lalu aku terperanga dengan begitu tekunnya.

Dua ekor anjing itu menjadikanku tawanan mereka di dalam rumahku sendiri. Dua ekor anjing itu menyuruhku mengangguk-angguk. Dua ekor anjing itu membuatkanku rantai besi yang sangat panjang. Dua ekor anjing itu mengikatkannya di leherku. Dua ekor anjing itu mengajakku jalan-jalan layak anjing peliharaan. Dua ekor anjing itu tertawa riang tanpa dosa, dengan liur yang menetes deras dari moncongnya dan bola mata kurang ajar yang berbinar-binar. Sementara aku hanya bisa mengucap perih, "Bebaskan aku dari kutukan yang kalian ciptakan untukku." Tapi dua ekor anjing itu tidak paham eongan seekor kucing betina yang melarat-larat. []