Kamis, 15 Desember 2022

Pejalan Mimpi, Oleh: Maharvin Putra Nugroho

Apa cinta pertamamu? Hm yah, itu wajar kalau cinta pertama mu suka terhadap seorang wanita. Kau bertanya apa cinta pertama ku? Ahaha, cinta pertama ku terhadap buku novel yang kubaca saat masih di sekolah dasar. Hei sudahlah jangan menggapnya aneh aku serius, karena buku novel yang ku baca itu lah aku dapat menjadi diri ku yang sekarang. Apa kamu mau tahu bagaimana cerita nya? Baiklah tapi jangan tertawa okay.

Aku dulu bersekolah di SCARLET GAKUEN. Itu sekolah elit yang berada di Susaki. Banyak anak berprestasi di sana mulai dari yang jago olaraga, bidang seni, ilmu pengetahuan. Pengalaman ku bersekolah di sana biasa saja, maksudku setiap mata pelajaran yang di berikan selalu membuatku ngantuk, dan hampir setiap hari kelas sepi karena kebanyakan anak mengasah kemampuan mereka untuk berjalan di jalur prestasi mereka sediri. Karena kelas begitu membosankan, di kelas aku selalu belajar sendiri dan selalu menyelesaikan soal-soal yang tertera di buku paket atau pun lembar kerja siswa. Aku lebih suka belajar sendiri, dan karena itu jarang ada yang mengajak ku ngobrol atau singkat nya aku tidak memiliki teman yang tetap. Kebanyakan dari mereka hanya mengobrol dengan ku untuk urusan pribadi mereka, setelah selesai mereka kembali sibuk dengan teman nya yang lain.

Higga suatu hari kelas kami di tugas kan untuk menceritakan cerita atau alur yang terdapat di buku cerita. Aku tidak suka tugas ini, aku merasa kekanak-kanakan karena membaca buku cerita. Saat pulang aku mampir ke suatu perpustakaan yang tidak jauh dari sekolah. Perpustakaan itu besar sekali,aku sampai bingung ingin kemana terlebih dahulu. Karena kebingungan aku bertanya kepada perpustakawan yang sedang merapikan buku.

“Permisi Pak,apa ada buku cerita yang bagus di sini,” tanyaku.

“Oh ada,dari rak buku sini kamu belok ke kanan sampai melewati 3 rak buku dan belok kiri,” jawab perpustakawan itu.

“baiklah Pak, terima kasih,” Jawabku sambil menundukan kepala. 

Setelah mengikuti petunjuk dari pak perpustakawan tadi aku sampai di rak buku yang bertuliskan novel. Aku bingung, aku minta nya buku cerita dan kenapa malah ke rak buku novel. Sudah lah kata perpustakawan itu disini rak buku cerita. Mari kita lihat apa yang ada disini. 

Setelah melihat kesana sini, mata ku tertujuh kepada buku yang judulnya PEJALAN MIMPI. Tanpa pikir panjang aku mengambil buku tersebut karena ku pikir buku itu terlihat seperti bukan buku cerita anak-anak. Saat ku buka terdapat banyak judul dari bab buku itu yang terdapat kesan yang dalam. Dalam hati ku aku merasa penasaran dan jantung ku berdetak kencang. Karena penasaran dengan isi buku itu aku segera pergi ke meja perpustakawan untuk meminjam buku itu.

Sesampai di rumah aku membaca buku novel tersebut dan kesan tentang apa yang ku rasakan saat membaca ada banyak hal. Mulai dari rasa sedih,marah,bahagia,terharu. Buku ini sangat keren, itu yang ku katakan. Menceritakan tentang perjuangan seorang wanita yang berjuang menggapai mimpinya. Detak jantung ku semakin kencang, hingga aku lupa untuk makan malam. Setelah selesai membaca buku yang berjumlah 235 halaman itu dalam waktu 3 jam, aku bergegas bangun dari kasur dan turun ke lantai bawah dan menghampiri mama.

“Ma, impianku adalah menjadi penulis buku novel,” kataku kepada mama,mama hanya tersenyum manis kepada ku, sambil membawah sebuah piring makan malam,mama mencubit pipi ku dan berkata.

“Bagus,itu bagus sekali. Mama yakin kamu bisa mengejar impianmu itu. Dan kamu bisa membuat semua orang bahagia saat membaca karyamu,” jawab mama menaruh harapan kepada ku. Aku semakin yakin kalau aku bisa menjadi penulis novel yang hebat seperti penulis buku PEJALAN MIMPI. 

Hingga hampir setiap hari aku menulis cerita ku sediri,aku menulis banyak kata dan ide yang ada di pikiran ku. Aku menjadi semangat, aku jadi  ingin membaca buku novel yang lainya. Hingga pada suatu hari aku menulis cerita novel ku sendiri sambil membaca buku novel di kelas. Saat jam istirahat aku tidak bisa melepaskan pandangan ku dari buku ku.

“Hei lihat, tumben nih dia nggak membaca buku materi lagi,biasanya dia membaca buku yang cuma menyangkut pelajaran saja,” kata anak laki laki di belakangku. 

“Apa salahnya, buku ini bagus tahu,” jawabku.

“Ya itu hanya buku cerita anak anak saja,bukanya umur mu sudah bisa di bilang dewasa. Seharusnya kamu berhenti membaca buku cerita yang tidak nyata seperti itu,” ejek anak laki laki berambut pirang.

“Kalian jangan mengejek buku novel se enaknya ya,buku novel ini adalah karya hebat yang bisa membuat pembacanya merasakan apa yang tertulis di buku ini,” teriak ku ke gerombolan anak laki laki.

“Jangan marah begitu dong, memangnya apa penting nya novel itu untukmu,” tanya salah satu anak anak laki laki belanda.

“Asal kalian tahu ya, cita cita ku ingin menjadi penulis novel yang terkenal,” jawabku dengan lantang. Mereka menatap satu sama lain dan akhirnya mereka mulai tertawa dengan apa yang kukatakan.

“Ya ampun, kamu ini bersekolah di sekolah elit dan cita cita mu rendah sekali hahaha.” ejek si rambut pirang. Mereka semakin menjadi jadi, mengejek mimpiku. Aku sangat kesal, tapi tiba tiba Pak Qingxiu datang dan menampar ketiga anak laki laki itu.

“Kalian yang seharusnya malu, kalian di sekolah elit seperti ini masih bersikap seperti anak anak. Semua cita cita itu mulia, jadi jangan mengejek cita cita orang lain dan kamu anggap cita cita mereka rendah,” kata Pak Qingxiu marah kepada anak laki laki itu. Mereka mengangguk, setelah itu pak Qingxiu berbalik dan menghampiri ku.

“Jangan dengarkan mereka ya, impianmu sudah bagus, bapak yakin kamu bisa menjadi penulis yang hebat. Ciptakan karya mu dan capai lah impian mu itu,” kata Pak Qingxiu. Aku terharu dengan apa yang di katakana nya,karena aku sempat mengira impian ku hanya seperti selembar daun di pinggir jalan.

“Ah iya, bapak lihat kamu juga mulai menulis novel karya mu sendiri, bisa bapak melihat buku hasil karya mu?” tanya pak Qingxiu. Aku langsung  menyerahkan buku catatan novel ku ke Pak Qingxiu, dan setelah membacanya selama 3 menit, Pak Qingxiu terkesan dengan hasil karyaku.

“Ini sangat bagus, walau bapak membacanya hanya sebentar tapi bapak yakin kamu dapat menciptakan karya yang mengagumkan. Hei bagaimana kalau bapak daftarkan ke lomba menulis novel, nanti buku mu akan di cetak dan akan di baca banyak orang” tawar pak Qingxiu kepadaku.Aku awalnya ragu dan tidak yakin dengan diri ku sendiri,tapi ini kesempatan yang bagus untuk memulai awal dari perjalanan mimpi ku.

“Baik Pak, saya mau ikut lomba novel itu,aku akan berusaha yang terbaik,” jawabku dengan penuh semangat. Pak Qingxiu tersenyum mendengarnya. 

“baiklah akan ku hubungi penyelenggara lomba nya.Bapak selalu di ruangan bapak, kalau ada apa sesuatu yang susah akan bapak bantu,” kata pak Qingxiu, aku mengangguk dan semakin bersemangat untuk melanjutkan cerita novel ku. Saat kembali aku aku berlari ke arah mama dan segera memeluk nya.

“Mama coba tebak aku masuk lomba menulis novel loh, aku semakin dekat dengan impian ku sebagai penulis novel. Gimana? keren kan mama,” ucapku ke mama dengan nada bahagia.

“Duh kamu ini, mama sudah tau kalu kamu pasti bisa menjadi penulis yang hebat. Tapi apapun mimpi mu mama akan selalu mendukungmu,” ucap mama kepada ku. 



Sudah bulan ke 4 dari aku mengirim karya ku ke panitia lomba dan masih tidak ada kabar tentang hasil lomba ku. Aku di kelas tetap menunggu sambil membaca buku novel lainya.

“Tuh lihat, dia pasti tidak memenangkan lomba nya,” ucap anak laki laki pirang itu.

“Tentu saja,pak Qingxiu terlalu berlebihan untuk memanjakan diri nya. Sampai mengagumi karya anak sekolah dasar yang lawan nya anak anak yang lebih dewasa darinya,” ucap teman laki laki lainnya. Mendengar kata hinaan dan ejekan dari mereka membuat ku putus asa. Apa aku hanya melakukan hal percuma? aku mulai kehilangan harapan atau impian ku untuk menjadi penulis yang hebat. Aku mulai terjatuh di jalan impianku sendiri. aku telah mengecewakan harapan orang tuaku. 

“Lihat pasti dia tidak lolos lomba—“ tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, Pak Qingxiu berlari dari arah pintu koridor dan menujuh ke diri ku dengan nafas terengah engah.

“Ada apa Pak?”

“Penyelenggara lomba, ingin bertemu denganmu,” jawab pak Qingxiu. Aku kaget karena untuk apa penyelenggara lomba datang ke sekolah ku. Setelah sampai di ruang kepala sekolah, ada seorang pria yang wajah nya tidak asing bagi ku. Aku duduk di depan nya dan dia bertanya kepada ku.

“Apa benar kamu yang menulis buku novel yang berjudul Hujan Tidak Turun dari Langit ini?” tanya pria itu,aku pun mengangguk. 

“kamu memenangkan lomba menulis novel nak” ucap pria itu sambil menatap mata ku. aku terpaku diam dan kembali bertanya.

“ak,aku memenangkanya?” Tanya ku, dan pria itu juga menngangguk. Mulut ku tidak bisa mengeluarkan kata kata dan aku menangis terharu. Kepala sekolah itu berdiri dan mulai berbicara.

“nak,pria ini adalah luise graham. Penulis novel terkenal yang sudah mempubliskan banyak karya nya ke dunia.” Ucap kepala sekolah. Aku kaget dan berdiri sambil menaruh telapak tangan ku di meja.

“luise graham, penulis buku novel pejalan mimpi itu. Aku penggemar berat mu, nama ku lidya niulord.”ucap ku,luise terdiam dan tertawa.

“hahaha ternyata kamu penggemarku,aku senang memiliki penggemar yang hebat seperti mu.” Ucap luise

“Ah tidak biasa saja. Dibandingkan dengan Pak Luise aku masih pemula,dan aku termotivasi dari buku bapak luise. Ah iya boleh aku minta tanda tangan mu?” Tanya ku dengan penuh rasa senang.

“Panggil saja aku Luise, boleh aku akan memberi mu tanda tangan. Dan buku yang kamu baca pertama kali pejalan mimpi ya. Seperti nya kamu sudah menjadi seorang pejalan mimpi sesunggunya. Sekarang kamu sudah menggapai impian mu bukan?” Jawab luise. Aku kebingungan dan kembali bertanya.

“Apa maksudmu tentang sudah menggapai impian ku?” tanyaku balik.

“Hadiah dari lomba ini kamu akan dijadikan penulis resmi oleh diriku, dan mulai dari sekarang kamu adalah penulis.”

Aku mulai menangis haru setelah mendengar aku telah menjadi penulis novel secara resmi di usiaku yang masih di sekolah dasar. Dan setelah itu aku bisa membuktikan kalau perkataan mereka salah, aku telah membuktikan kepada mereka diriku yang perjuang untuk menggapai impianku. Mulai saat hari itu aku di tawarkan oleh Luise untuk ikut dengan nya keluar negeri untuk mengasah kealihannya dalam menulis. Setelah 3 tahun berguru bersama luise, aku kini sudah menjadi penulis terkenal.

“Dan ya itu lah ceritaku sebelum aku menjadi penulis yang terkenal. Apa kamu puas dengan ceritaku manager?” 

“Iya aku puas tapi aku sungguh kesal kepada anak yang mengejekmu. Anda hebat juga bisa menghirau perkataan mereka, dan sekarang kamu bisa membuktikan kalau kamu bisa,” kata managerku.

“Hahaha aku tidak akan bisa menjadi diriku yang sekarang kalau aku tidak menemukan bukunya Luise. Luise telah membuat ku menemukan jalan mimpi ku sendiri. aku sangat berhutang budi pada nya. Dan aku termotivasi untuk membuat buku novel yang membuat pembacanya pantang menyerah di jalan mimpinya. Aku ingin menjadi sosok yang telah membuktikan kalau usaha untuk mencapai mimpi dan cita-citamu tidak ada kata sia-sia saat kamu benar-benar niat dan ingin berusaha.” []




Maharvin Putra Nugroho

Saat ini bersekolah di SMP Hang Tuah 5 Candi. Lahir di Sidoarjo. Penyuka anime dan game.

Minggu, 16 September 2018

KUMPULAN FIKSIMINI: CARA PALING CEPAT MENEMUI KEKASIH

Gambar: Pinterest


Di Dalam Kereta Api yang Berjalan 
Sepasang mata ditemukan di langit-langit toilet. Orang-orang panik. Dengan santai, aku melirik Ayah yang mengenakan kacamata hitam.

Butuh Uang untuk Makan 
Sepasang suami-istri menjual cinta mereka ke pasar loak. 

Ketika Satpol PP Datang 
Belasan rumah liar di tepi sungai Cikapundung lari terbirit-birit, meninggalkan anak-anak mereka. 

Lupa 
Dasar laki-laki cabul, berani sekali kau tidur di ranjangku! maki Nenek sambil memukuli punggung Kakek dengan tongkat.

Sebuah Pernikahan yang Sakral 
Sebulan setelah sepasang kekasih itu terjun ke dalam sumur, terdengar suara ijab qabul dan tangisan bahagia sepanjang malam.

Pembunuh Berdarah Dingin Itu Akhirnya Tumbang 
Dari dalam dadanya yang tertembus peluruh polisi, keluar bongkahan-bongkahan es batu. 

Akibat Terlalu Takut Terlambat Bangun 
Setiap malam, Bandit tidur di dalam jam dinding rumahnya. 

Cara Paling Cepat Menemui Kekasih 
Ia melebur seluruh tubuhnya menjadi kata-kata, lalu mengirimnya melalui pesan Whatsapp. 

Bau Amis yang Tidak Bisa Hilang 
Ia tidak henti-hentinya mencuci tangan semenjak pagi buta. Ketika anaknya bertanya, ia menjawab, Tangan Ibu telah membuat ayahmu tidak pernah pulang lagi.

~ Ajeng Maharani 

Kamis, 24 Mei 2018

PEMUDA YANG TERSESAT DAN KOTAK TAWA

PEMUDA YANG TERSESAT 

Di hari ketika kami berpisah, Wulan tak mengucap apa pun tentang kehamilannya. Ia baru mengatakan segalanya sore ini, padahal lima bulan telah berlalu. Pagi itu, di terminal Purabaya, Wulan hanya memelukku erat dan tanpa kata-kata atau tangisan yang dibuat-buat agar nampak seperti perpisahan yang menyedihkan. Aku berpikir, semua karena kata-kata dan air mata sudah terlalu banyak kami hibahkan pada hari-hari kebersamaan kami, tapi ternyata aku salah. Ia sengaja menyimpan segala kepedihannya seorang diri.

Sekali lagi angin laut mempermainkanku. Aku mengerjab-kerjab, memandangi ombak-ombak kecil yang berlarian menerjang dinding batu tempatku terduduk dengan menggenggam erat ponsel. Wulan tidak memintaku kembali ke kotanya—padahal hanya butuh beberapa jam perjalanan saja. Ia hanya berkata, “Aku tidak apa-apa. Aku akan selalu menunggumu pulang. Aku dan anak ini akan menunggumu pulang suatu saat nanti.” Air mataku pecah. Aku masih ingin mengenang Wulan, tapi senja sudah tiba. Aku harus segera kembali pulang ke rumah Mak Muah.

Mak Muah adalah perempuan tua yang mengizinkan aku ikut tinggal di dalam rumahnya yang sederhana, selama aku singgah dan tersesat di desa pesisir ini. Ia seorang pendongeng yang andal. Ia hidup seorang diri. Suaminya sudah mati bertahun-tahun yang lalu, dan mereka tidak mempunyai anak. Ia hidup dalam kesendirian, kesepian yang melarat-larat.

Setiap habis sholat Isya, anak-anak akan berkumpul di teras rumah Mak Muah. Mereka duduk di bawah kaki perempuan tua itu, mengelilinginya bak acara selamatan. Anak-anak itu akan mendongak ke atas—Mak Muah duduk di atas kursi rotannya—manggut-manggut atau membuka mulutnya lebar-lebar. Ada juga yang terkantuk-kantuk, lalu merebahkan tubuh di lantai ubin hingga ibu atau bapaknya datang menjemput dan menggendongnya pulang.

Secangkir kopi dan dua potong pisang nangka goreng sudah kuhabiskan dengan lahap. Mak Muah pandai menyeduh kopi yang hitam dan kental. Ada rasa sedikit pedas, aku kira itu merica dan kapulaga yang ditumbuk halus dan dicampurkan dalam kopi bubuknya. Itu membuatku mampu terjaga semalaman hingga pagi buta nanti, karena aku akan ikut berlayar menjaring ikan. Pak Soleh, tetangga Mak Muah-lah yang bersedia menerimaku bekerja di perahunya. Aku terbiasa melakukan pekerjaan apa pun dalam setiap perjalananku, dan untung saja aku tidak mabuk laut.

Menjelajahi laut di tengah malam seperti memasuki lubang hitam pekat yang sewaktu-waktu bisa saja menelanku. Dingin dan berguncang-guncang. Aku harus terus mampu terjaga, laut bisa saja menjadi kuburan yang menakutkan.

Ketika aku masih kecil, aku dan Ayah sering ikut terjun ke dalam tambak milik penduduk sekitar ketika mereka memanen ikan. Kami akan mencari ikan-ikan mujair, yang kecil-kecil tentu saja, karena yang besar akan dijual sendiri oleh pemilik tambak. Ikan-ikan mujair itu kami pilih yang bertubuh gelap seluruhnya, rasanya lebih gurih daripada yang ekor dan siripnya berwarna kemerahan. Ibu akan mengolahnya menjadi dendeng mujair dan itu yang terenak bagiku, karena ketika aku pernah makan di rumah salah satu kawanku yang ibunya juga memasak dendeng mujair, rasanya hambar dan payah.

Di sini, setelah pulang berlayar dan menjual hasil tangkapan kami di pelelangan ikan, Pak Soleh selalu memberiku sepotong atau dua potong ikan laut yang besar-besar. Ikan-ikan aneh yang belum pernah kumakan. Kemarin pagi aku mendapatkan tiga ekor ikan yang kulit tubuhnya keras, yang bahkan tidak bisa ditembus oleh pisau. Pak Soleh bilang itu jenis ikan karang, di Lamongan ikan itu terkenal dengan sebutan togeg, tapi nama umumnya adalah ikan ayam-ayam.

Aku mengamatinya dengan cermat dan tekun, merasa aneh dengan mata bulatnya yang besar dan bibir yang teramat tebal. Aku terus berpikir tentang bagaimana caranya agar aku bisa makan ikan yang bahkan tidak bisa kupotong-potong dan dibersihkan kulitnya yang sekeras batu itu.

Sesampainya di rumah Mak Muah, kuutarakan keanehan itu padanya, dan perempuan tua itu tertawa penuh pingkal, memperlihatkan gigi-giginya yang cokelat merah karena terlalu sering bersenggama dengan sirih, pinang, dan cengkeh. Ia berkata, “Togeg itu ndak perlu dibersihkan kulitnya, Le. Iki yo mung dibakar wae, mengko kulitnya bisa buka sendiri.”

Dan benar saja, ketika ikan itu dibakar di atas bara arang, kulitnya yang keras jadi melepuh dan pecah-pecah. Aku tinggal membukanya pelan-pelan. Dagingnya yang putih dan kesat itu ternyata jauh lebih enak daripada ikan bandeng, dan ikan togeg tidak memiliki duri-duri kecil yang tumbuh di daging-dagingnya seperti ikan bandeng. Aku lahap menyantapnya. Mak Muah hanya membuatkan sambal kecap dengan potongan bawang merah dan perasan jeruk limau, tapi bagiku itu sangatlah nikmat.

Suatu waktu—mungkin empat hari lalu, sebelum aku menerima ikan togeg—aku juga pernah mendapatkan ikan hiu yang masih kecil. Tubuh hiu itu memiliki bintik-bintik hitam. Pak Soleh bilang, daging hiu rasanya manis, dan ia benar. Mak Muah membuatkan kuah pedas dengan banyak potongan tomat hijau dan cabai yang dibiarkan utuh begitu saja. Keringatku sampai habis, dan Mak Muah lagi-lagi tertawa terpingkal-pingkal. Ia pikir tingkahku yang kepedasan itu lucu, mirip dengan mendiang suaminya.

Kini, malam hampir mencapai puncaknya dan anak-anak sudah pulang satu per satu, meninggalkan Mak Muah yang masih saja duduk di atas kursi rotannya yang digoyang-goyang pelan. Aku rebah di atas dipan kayu, di samping kursi rotan perempuan itu. Mataku sibuk menerawang di langit-langit teras ketika bunyi dering ponsel berbunyi. Itu pasti dari Wulan lagi. Setiap malam, Wulan selalu menyiapkan cerita-cerita baru, menemani kerinduanku padanya, sampai ia merasa lelah dan berujar ingin segera tidur.

“Hai,” ucapnya menyapa. Aku tersenyum dan bangkit dari dipan, mengambil posisi duduk. Mak Muah melihatku dengan senyum-senyum kecil. Ia tahu hubunganku dengan Wulan, tapi aku belum mengatakan perihal bayi kami.

“Ada cerita lucu hari ini,” ujar Wulan. Nada suaranya sudah lebih ceria daripada tadi sore. Kali ini ia berkisah tentang muridnya, Liona. Wulan adalah seorang guru TK. Ketika aku singgah di kotanya, aku bertemu dirinya di alun-alun kota, ketika ia dan Liona tengah menikmati pertunjukan boneka kayuku.

Perjumpaan itu adalah sebuah ketidaksengajaan yang membahagiakan. Kami saling jatuh cinta. Ia bahkan tidak mempedulikan siapa diriku. Sudah kukatakan aku tidak mungkin menjalin sebuah hubungan yang serius, karena aku akan selalu berjalan dan tersesat, mencari tawa-tawa bocah dan memasukkannya ke dalam sebuah kotak. Kotak yang kutahu tidak akan pernah penuh oleh tawa, jadi aku harus terus mengumpulkannya dengan bertingkah konyol, menjadi badut gendut yang pura-pura terpeleset, atau badut bodoh yang melompat-lompat lalu berputar-putar sambil melempar bola-bola ke atas dan pura-pura tidak bisa menangkapnya satu-satu.

Suara-suara ceria Wulan terus menggema di telingaku. Saat seperti ini, aku tidak pernah menyela ceritanya. Bagi diriku, ucapan Wulan seolah dongeng pengantar tidur dan aku sangat menyukainya.

Malam semakin larut. Mak Muah sudah terkantuk-kantuk. Percakapanku dengan Wulan akhirnya harus berakhir ketika Pak Soleh keluar dari pintu rumahnya dan memandangku. Inilah saatnya aku kembali menebas lautan yang pekat, dingin, dan berguncang-guncang.


KOTAK TAWA

Wulan mengetuk-ketukan tumpukan buku-buku itu di atas ubin, lalu melesakkannya ke dalam rak paling bawah, menatanya sedemikian rupa hingga pantat buku itu lurus dan menghadap sempurna ke depan. Ia mengamati tumpukan buku-buku itu sejenak, sambil mengelus-elus perutnya yang sudah semakin membuntal. Tangan kanannya kemudian meraih bolpoin dan sebuah buku besar, lalu menuliskan sesuatu di sana. Aku tidak bisa melihat, apa yang sedang dituliskannya. Jarak antara tubuh basahku dan dirinya terlalu jauh. Aku juga tidak ingin mengganggunya.

Sesekali kulihat Wulan berhenti menulis, mengalihkan pandangannya pada ponsel hitam yang diletakkan di samping kirinya. Ia menungguku. Aku tahu ia begitu menungguku. Saat-saat demikian itu tiba-tiba terasa hening. Dan kesunyian yang menyedihkan seperti itu, menguar hingga ke tempatku berdiri. Membuatku terenyuh.

Kuremas kotak tawa di genggamanku. Kotak itu masih belum penuh juga. Dulu, di hari ketika kakekku meninggal, ayahku berkata dalam isakan tangisnya, bahwa ia telah membuat bapaknya itu pergi dengan kekecewaan yang teramat dalam. Aku bertanya pada ayahku, dan ia menjawab kalau ia tidak bisa mengumpulkan tawa. Kakek ingin Ayah melakukan itu tapi Ayah dulu menolaknya dengan kasar, dan itu membuat kakekku terluka dan sedih.

Kakekku adalah seorang badut keliling. Ia mempunyai kotak tawa. Kotak itu berwarna biru langit dan kini telah menjadi milikku. Aku yang akhirnya memutuskan meneruskan impian Kakek: mengumpulkan tawa. Atau lebih tepatnya: membuat anak-anak tertawa. Dan sekarang, aku ingin menyerahkan kotak ini pada anakku, agar kelak bocah itu juga tahu, bahwa di dunia ini masih ada begitu banyak anak-anak yang membutuhkan tawa. Aku ingin, kelak bocah itu akan mengerti dan melanjutkan impianku dan Kakek.

Wulan menoleh ke arahku. Mengerjab sedih. Wajahnya terlihat murung. Aku jadi merasa bersalah. Aku ingin berlari ke arahnya dan memeluknya, tapi tentu saja itu mustahil.

Kuletakan kotak tawa itu di depan pintu, mengenai genangan air yang menetes dari tubuhku. Aku berjalan menjauh. Jejak-jejak air menapak di halaman sekolah tempat Wulan mengajar. Perasaan damai itu menyusup ke dada. Keinginanku sudah terpenuhi, dan sekarang, saatnya aku menjumpai malaikat kematian yang telah menungguku di sana. Di bawah laut yang paling gelap, tempat jasadku tenggelam, terhempas badai laut yang menggila. []


Sidoarjo, 2018

Minggu, 20 Mei 2018

APA ITU HEMOFILIA DAN BAGAIMANA KITA MENGHADAPINYA



Beberapa hari ini, saya tengah menyelesaikan sebuah naskah novel yang diangkat dari kisah nyata sang penulis, seorang perempuan hebat yang memperjuangkan hemofilia. Sebagai seorang editor freelance, tentu saja saya harus memahami betul apa yang tengah saya hadapi, dan dalam hal ini adalah Hemofilia. Saya pun mulai melakukan riset tentang kelainan genetik tersebut, dan ingin berbagi di dalam blog pribadi saya ini.

Hemofilia adalah suatu kelainan genetik, di mana pasien mengalami gangguan pembekuan darah.

Di dalam darah kita, terdapat beberapa faktor pembeku yang memiliki tugas untuk menghentikan pendarahan. Ketika kita mengalami pendarahan, akan muncul cabikan atau sobekan pada salurah darah, atau yang sering kita sebut pembuluh darah. Dengan cepat, pembuluh darah itu bereaksi mengetatkan diri (menyempit). Suatu sel darah kemudian mulai bekerja menutup sobekan tersebut. Sesaat berikutnya barulah faktor pembeku darah bereaksi untuk merajut penutup luka cabikan.

Faktor-faktor pembeku darah tersebut bekerja secara berurutan, seperti halnya efek domino. Faktor yang satu bekerja setelah faktor yang lain, dan pada saat rangkaian kinerja itu berakhir, perdarahan akan berhenti.

Apabila salah satu faktor pembeku itu hilang atau tidak dapat berfungsi dengan baik, proses pembekuan tak akan berlangsung sempurna, sehingga darah bakal terus mengucur. Itulah yang terjadi pada pasien hemofilia.

Apabila mutasi gen tersebut terjadi pada faktor pembekuan VIII (8), maka pasien disebut sebagai penderita Hemofila A. Suntikan yang diberikan untuk penderita hemofilia A adalah octocog alfa yang dirancang untuk mengontrol faktor pembekuan VIII (8). Pemberian suntikan ini dianjurkan setiap 48 jam. Efek samping yang mungkin timbul: gatal, ruam kulit, nyeri dan kemerahan pada area suntikan.

Dan, apabila mutasi gen tersebut terjadi pada faktor pembekuan IX (9), maka pasien disebut menderita Hemofilia B. Suntikan yang diberikan untuk penderita hemofilia B adalah nonacog alfa yang dirancang untuk mengontrol faltor pembekuan IX (9). Penyuntikan dilakukan 2 kali dalam seminggu. Efek samping: mual, pembengkakan pada area yang disuntik, pusing, dan rasa tidak nyaman.



Para penderita yang mendapatkan suntikan ini harus melakukan pemeriksaan kadar inhibitor secara teratur, karena obat faktor pembekuan darah terkadang dapat memicu pembentukan antibodi sehingga obat kurang efektif.

Hemofilia, yang sering disebut sebagai "The Royal Diseases" ini--penyakit hemofilia adalah identik dengan kaum ningrat di Inggris. Karena ingin menjaga kemurnian darah bangsawannya, terkadang kaum ningrat itu menikah dengan keturunan yang masih dekat. Karena dekatnya garis keturunan sering memunculkan masalah genetik pada keturunannya, termasuk Hemofilia. Salah satunya adalah Ratu Victoria Inggris yang diduga sebagai pembawa sifat (carrier)—sebenarnya sudah bisa dideteksi sejak dini, yakni pada bayi. Biasanya, akan muncul lebam-lebam tanpa sebab. Apabila penderita mengalami sedikit saja benturan, maka akan mengakibatkan luka memar yang sulit menghilang. Hemofilia memang tidak dapat disembuhkan, tapi kita bisa mencegahnya agar tidak terjadi pendarahan fatal.



Penderita kelainan ini kebanyakan adalah laki-laki, karena hemofilia menyerang kromosom X, sehingga perempuan hanya bertindak sebagai pembawa gen (carier) saja, dan berpotensi menurunkan hemofilia kepada anaknya. Dan inilah yang tengah dialami oleh penulis novel yang tengah saya handle. Ia membawa gen tersebut dan menurunkannya kepada kedua anaknya. Cerita perjuangan seorang ibu yang mengharukan dan penuh semangat.

Mari kita kembali membahas Hemofilia.

Hal-hal apa saja yang mampu membahayakan pasien Hemofilia?

Terjadinya perdarahan di kepala, tenggorokan, perut, dan sekitar paha, bisa sangat membahayakan hidup pasien Hemofilia. Padahal, perdarahan tidak selalu terjadi di luar, tetapi bisa juga di dalam. Meski tak tampak oleh mata, gejala dari perdarahan itu bisa dikenali. Apabila penderita Hemofilia mengalami keluhan berikut, segeralah pergi ke dokter untuk mendapatkan pertolongan segera.
° Perdarahan di kepala. Tanda-tandanya: sakit kepala hebat, muntah berulang kali, mengantuk terus, bingung, tak dapat mengenali orang atau benda di sekitarnya, penglihatannya kabur atau ganda, keluar cairan dari hidung atau telinga, terasa lemah pada tangan, kaki, dan wajah.
° Perdarahan di tenggorokan. Tanda-tanda: sulit bernapas atau menelan, bengkak.
° Perdarahan di perut. Tanda-tanda: muntah darah, terdapat darah pada feses, sakit perut tak kunjung sembuh, penderita tampak pucat dan lemah.
° Perdarahan di paha. Tanda-tanda: nyeri di daerah paha atau agak ke bawahnya, mati rasa di daerah paha atau tidak mampu mengangkat kaki.

Meski sebaiknya tidak mengalami luka berdarah, bukan berarti anak Hemofilia harus berdiam diri. Banyak hal bisa mereka lakukan. Yang penting, mereka juga menjaga diri, antara lain dengan kiat-kiat berikut:
° Mengonsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang.
° Rutin berolahraga, tapi pilih yang bermanfaat untuk menguatkan otot dan melindungi persendian. Anak Anda boleh berenang, jalan kaki, atau bersepeda santai. Jangan memilihkan olahraga keras dan penuh benturan.
° Sikat gigi dengan sikat yang lembut, setiap kali usai makan.
° Periksakan gigi dan gusi tiap 6 bulan atau setahun sekali ke dokter. Ungkapkan bahwa anak Anda mengidap hemofilia.

Harapan hidup pasien hemofilia tidak berbeda dengan orang sehat pada umumnya. Memang untuk bertahan hidup, pasien harus rutin menerima transfusi darah sepanjang hidupnya. Pemberian transfusi disesuaikan dengan keadaan dan akan dihentikan kalau pembekuan sudah terjadi. Umumnya diberikan sekitar 10 kantong darah per jam, dan setiap kantong berisi 30 cc.

Saya juga membaca beberapa keluhan, atau lebih tepatnya curhatan para penderita Hemofilia dalam menjalani kehidupan mereka. Besarnya biaya pengobatan sudah menjadi hal yang menjadi momok, tetapi tidak hanya hal itu. Penolakan sosial pun kerap mereka terima. Seperti misalnya, gagal menikah atau menjalin hubungan dengan lawan jenis karena pasangan tidak siap menerima keadaan fisik mereka, dan juga ditolak oleh banyak perusahaan ketika melamar kerja dan mengutarakan bahwa mereka seorang pasien Hemofila. Hal semacam ini sesungguhnya tidak perlu terjadi, jika masyarakat paham benar tentang kelainan genetik ini dan mengetahui bagaimana cara bertindak, baik pencegahan dan pengobatan.

Kita tidak perlutakut, atau bahkan mengucilkan penderita Hemofilia. Kita, sebagai masyarakat normal, hanya butuh untuk belajar lebih banyak lagi. Mereka juga manusia. Mereka butuh dukungan dan butuh diterima. Jangan takut akan terjadi hal-hal yang fatal, selama kita benar-benar tahu dan menghindari apa yang wajib dihindari. Dan ini telah dibuktikan oleh penulis hebat yang novelnya tengah berada di tangan saya itu. Selama mengedit naskah ini, saya jadi terharu dan respect. Saya belajar banyak hal. Terutama pada: bersabar dan berikhtiar pada setiap ujian yang Allah berikan kepada kita. []


Ajeng Maharani

Penulis dan Freelance Editor
Jika Anda membutuhkan jasa edit dan layout naskah, atau mencetak buku, silakan menghubungi saya di WA: 0896-7946-2559 atau telepon melalui: 0856-0737-2626


#WiCa_Day4
#ResolusiRamadhan1439H
#FLPSidoarjo

Rabu, 14 Juni 2017

DANGAL: HIDUP ADALAH SEBUAH PERJUANGAN


Judul film : Dangal
Genre : action, biography, drama
Aktor : Amir Khan, Fatima Sana Shyaikh, Sakshi Tanwar, Sanya Malhotra
Sutradara : Nitesh Tiwari
Rilis : 23 Desember 2016
Durasi : 2 jam 41 menit

Sudah sangat lama saya ingin menonton film ini, tetapi selalu saja gagal karena alasan-alasan. Pagi ini, saya pun berhasil menuntaskan keinginan tersebut. 

Kepiawaian Amir Khan sudah tidak perlu diragukan lagi. Pertama kali melihat akting aktor besar ini, saya menonton film Mann, yang menguras air mata. Di zaman saya kecil, Amir Khan kerap menjadi peran yang cengeng dan sedikit lembek, berbeda dengan aktor-aktor lainnya, seperti Sanjay Dutt dan Sunil Doel. Tapi semakin ke sini, ia semakin berani mengolah kemampuan aktingnya dengan peran-peran unik, seperti dalam film PK yang konyol, kritis, dan blak-blakan. 




Film Dangal mengisahkan tentang seorang mantan atlet gulat nasional, bernama Mahavir Sigh Phogat, yang melepas impiannya--memperoleh medali emas untuk India dalam kejuaraan internasional--agar keluarganya mampu bertahan hidup. Ternyata, kehidupan seorang atlet nasional di India tidak jauh beda dengan di negara kita: miskin dan tidak mendapatkan apapun dari negara. Negara seolah tutup mata, belum lagi birokrasi departemen yang manaungi para atlet itupun banyak dihuni oleh oknum-oknum yang hanya bisa mengenyangkan perut mereka sendiri. Dalam keadaan seperti inilah, Mahavir Sigh Phogat bertahan dan berjyang mati-matian dengan dana sendiri saat melatih kedua putrinya, hingga menjadi pegulat profesional. 

Mahavir Sigh tidak begitu saja melepaskan mimpi itu. Ia berkata pada istrinya, "Jika bukan aku, maka anakkulah yang akan mendapatkan medali emas untuk negara ini." Dan itulah awal konflik film ini dimulai. 




Keinginan Mahavir Sigh untuk mempunyai anak lelaki ternyata tidak dikabulkan oleh dewa mereka. Keempat bayi yang lahir dalam keluarga itu semuanya perempuan. Mahavir Sigh kecewa dan putus asa. Ia pun menurunkan semua medali yang diperolehnya dan tidak bersemangat dalam menjalani kehidupannya. Tahun demi tahun. Hingga pada akhirnya peristiwa itu terjadi. 

Pada suatu hari, tetangganya datang dalam keadaan marah. Mereka mengadukan kedua putrinya yang menghajar anak-anak lelaki mereka hingga babak belur. Bukannya marah, Mahavir Sigh malah takjub dan bangga. Seolah ada secerca sinar harapan yang jatuh tiba-tiba dari atas langit dan membuat kepalanya yang sempat kosong itu terisi kembali dengan mimpi-mimpi. 

Mahavir Sigh pun mulai melatih kedua putrinya itu tentang cara-cara menjadi seorang pegulat. Seluruh desa mencemoohnya. Kedua putrinya pun dikucilkan dan diolok-olok. Tapi selayaknya orang gila yang tidak mau menoleh ke arah mana pun, Mahavir Sigh tidak peduli pada semuanya. Walaupun kedua putrinya itu tidak menyukai apa yang dilakukan ayahnya: merampas kebahagiaan masa kanak-kanak dan menggantinya dengan latihan yang keras dan melelahkan. 

Lalu apa yang terjadi kemudian? Apakah Mahavir Sigh berhasil mengantarkan kedua putrinya ke ajang gulat internasional dan mewujudkan impiannya? 

Film besutan Nitesh Tiwari ini sarat dengan petuah-petuah kehidupan. Pemainnya pun berakting dengan sangat totalitas. Film ini menyentuh, lucu, inspiratif, sekaligus memprihatinkan. Memprihatinkan yang saya maksud adalah, kenyataan bahwa kita sebagai orang tua terkadang lupa bahwa anak pun memiliki kehendaknya sendiri, bagaimana mereka ingin menjalani hidup mereka. Kita selalu hadir sebagai penentu, sebagai doktrin, yang terkadang timbul karena keegoisan kita sendiri. Kebanggaan kita sendiri. Memang sebagai orang tua kita ingin anak sukses, tapi kadangkala kita hanya sedikit lupa akan keinginan anak itu sendiri. Tapi bukan berarti film ini buruk. Justru film ini, bagi saya, mengajarkan banyak hal baik dalam segala sudut pandang; hubungan ayah dan anak, hubungan seluruh anggota keluarga, semangat serta sikap pantang menyerah untuk mewujudkan mimpi, kepercayaan, cinta kasih, dan kejujuran. 

'Hidup adalah sebuah perjuangan yang sangat panjang dan melelahkan, dan ada kalanya, di saat itu, kita harus berani berjuang seorang diri.'


#NulisRandom2017 #Day14 #NulisBuku #AjengMaharani 

Jumat, 09 Juni 2017

KISAH TENTANG ORANG-ORANG SAKIT DAN REALITA YANG BERPURA-PURA BAIK-BAIK SAJA


Judul: Ia Tengah Menanti Kereta Uap Tuhan yang Akan Membawanya ke Bulan (Kumpulan Cerita)
Penulis: Ajeng Maharani 
Penerbit: Basabasi
Penyunting: Gunawan Tri Atmodjo
ISBN: 978-602-391-352-7

Cerita-cerita dalam buku kumpulan cerpen 'Ia tengah Menanti Kereta Uap Tuhan yang Akan Membawanya ke Bulan', menurut saya berisi orang-orang yang sakit.  Seperti kata Freud,  kita semua sebetulnya sedang sakit,  hanya saja kita tidak menyadarinya. Sebagian dari kita pura-pura bahwa kondisi kita baik-baik saja. 

Kita hang-out bersama teman-teman,  membicarakan film, musik,  buku,  game,  atau ketertarikan kita pada asmara untuk memenuhi lubang yang semenjak dahulu kala ada di dada kita. As long as we live,  shits happen, dan cerita-cerita di dalam buku ini berusaha mengutarakan hal tersebut dengan caranya. 

'Maysa Rindu Menyusu pada Batu' misalnya,  ia secara hiperbolik berusaha mengkritisi kondisi sosial masyarakat kita.  Utamanya mengenai hubungan ibu dan anak.  Di samping banyaknya pasangan muda yang belum terlalu mengerti tentang tanggung jawab seorang ibu,  juga di masyarakat mulai terjadi asimilasi di mana peran ibu sekadar menyediakan apa yang bisa membuat anaknya bertahan hidup. Menilik kasus-kasus yang kerap saya jumpai meski tidak terlalu ekstrim, namun perilaku annoying ibu terhadap anaknya kerap terjadi.  Lihatlah di sekeliling kita, bisa kita temukan dengan mudah ibu-ibu yang asyik melakukan kegiatan sendiri dan memarahi anaknya begitu sang anak melakukan kesalahan. Kelihatannya sederhana dan remeh tetapi tugas seorang ibu tak hanya mencukupi kebutuhan material anaknya,  melainkan juga memiliki tanggung jawab terhadap perkembangan emosi sang anak serta perilakunya. Ibu memang tahu apa yang terbaik untuk sang anak,  tetapi tahukah ia bahwa kadang sang anak berbuat nakal hanya untuk mendapat perhatian? 

Cerita Maysa memang tidak menampilkan hal tersebut karena Maysa justru tergolong melankolis,  dan ia melampiaskan perasaan sedihnya itu pada khayalan yang ia buat berdasarkan perkataan ibunya. Bukankah melawan atau menurut sama-sama bentuk perhatian terhadap sesuatu? 

Dalam mbah Sumitroh, Ajeng Maharani bercerita mengenai budaya warok yang telah menghilang dan hampir tak berbekas. Zaman telah melindasnya. Dengan piawai penulis yang satu ini menampilkan kegelisahan seseorang yang melenceng dari kodratnya dan risiko-risiko yang bakal ditanggung pelaku atas kelakuannya. Meskipun dalam kasus ini termasuk tindakan kriminal sih,  tetapi kupikir jika itu terjadi pada sepasang kekasih pun, reaksi masyarakat yang buas akan tetap sama. 

Selain dua cerita di atas,  buku ini juga merangkum kasus-kasus KDRT dalam beberapa ceritanya.  Lumayan kelam dengan benturan karakter di sana-sini. 

Kita tidak sedang membicarakan agama ketika membicarakan sebuah buku, kita sedang membicarakan sebuah realitas. Tetapi selama kita tidak memahami bumi,  kita tidak akan pernah bisa memahami langit. Dan buku ini berhasil menunjukan cuilan demi cuilan realitas yang terjadi di sekitar kita melalui analogi kisah-kisah di dalamnya. 


~ Peresensi:
Damar Hening Sunyiaji, penikmat buku dan sastra

#NulisRandom2017 #Day9 #NulisBuku #AjengMaharani 

Kamis, 08 Juni 2017

NOBELIA DAN JANIN-JANIN DALAM GENDONGANNYA (bagian satu)


Oleh: Ajeng Maharani 

Ia membuka mata dan kesenyapan  itu menyergap. Ia tidak tahu pukul berapa ketika itu, tapi ia menyadari satu hal: suaminya tidak pulang lagi hari ini. 

Dibukanya ponsel yang telah ia matikan. Tidak ada chat dari lelaki itu. Keterlaluan. Sudah empat hari berjalan, dan di malam itu, ia merasakannya dengan benar, pelan-pelan, darah di dadanya mendidih. 

Puluhan makian terlahir sempurna di dada itu. Mereka mengalir layaknya sungai yang beringas, menuju ke kepalanya. Mereka meletup-letup di dalam sana. Ingin meledak. Matanya hampir saja pecah, tapi ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis lagi. Tidak akan, demikian desis batinnya. Ia harus bisa menjadi kuat. Sangat kuat. Ia tahu ia tidak sedang sendirian. Mereka, bocah-bocah itu, berkata dengan keluguannya, "Nggak mau ikut Ayah. Ikut Ibu. Kami sayang Ibu, nggak sayang Ayah. Ayah jahat." Dan itulah kekuatannya. Dengan itu pulalah ia akan berjuang untuk menyelamatkan hak-hak anaknya. Nanti, ketika ia dan suaminya akan berhadapan dengan seorang hakim. 

Ia sebenarnya ingin bertanya pada perempuan itu: sedemikian rendahnyakah seorang perempuan yang jatuh cinta hingga kamu menghalalkan tubuhmu pada suami perempuan lain dan dengan bahagia tinggal seatap bersamanya, dengan bahagia pula merampas waktu yang seharusnya masih milik istri dan anak-anaknya, dan dengan bahagia pula melakukan itu semua tanpa merasa berdosa? 

Sedemikian rendahnyakah seorang perempuan yang tengah jatuh cinta itu? 

Tapi ia, Nobelia, hingga detik ini, masih juga tidak layangkan pertanyaan-pertanyaan itu. 

Ia pernah berujar kepada suaminya perihal perkara ini pada suatu siang yang masih belia. "Tolong, jangan paksa aku menjadi manusia yang buruk di mata anak-anakku. Bisa saja aku memaki perempuan itu, mendatangi rumahnya dan berkelahi jika aku mau. Tapi aku tetap gigih pada keinginanku yang telah kuucapkan padamu, aku ingin kita berpisah dalam keadaan baik-baik saja dan melanjutkan hubungan ini sebagai seorang sahabat, demi anak-anak. Tapi lihat, apa yang sudah kalian lakukan? Kalian sengaja melupakan mereka. Kalian dengan seenaknya bertingkah dan anak-anak itulah yang menjadi korban. Apa kamu tahu bagaimana rasanya ketika mereka bertanya, 'Di mana Ayah, Bu? Kok nggak pulang?' Juga, 'Tante Amel itu apanya Ayah? Kok peluk-peluk Ayah?' Coba pikir, bagaimana rasanya?"

Lelaki itu hanya diam saja dan menatapnya sayu. 

"Aku diam karena aku butuh tenang. Aku diam karena aku menghormati kalian sebagai manusia dan berharap kalian pun menghormati kami yang ada di sini. Hak-hak kami. Bukankah aku sudah menawarkan poligami tetapi Amel yang tidak mau? Kamu bilang dia tidak bisa membagi dirimu. Bukankah itu konyol? Dia yang mencurimu, kenapa justru dia yang tidak bisa membagi dirimu?" 

Ia menarik napasnya yang sesak di siang itu, kemudian melanjutkan, "Baiklah, tidak apa-apa. Aku pun bersyukur akhirnya bisa lepas dari kamu setelah bertahun-tahun tersiksa dan sabar pada semua pengkhianatanmu. Tapi tolong dengan sangat, jangan buat diriku lebih marah dari hari ini. Kendalikan nafsu kalian berdua. Beri anak-anak waktu yang seharusnya memang milik mereka. Jangan tinggalkan mereka. Memangnya, Amel sudah lupa ya kalau kamu ini masih suami perempuan lain dan seorang ayah dari empat anakmu?"

"Tidak, dia masih ingat, kok."

"Nah!! Lalu, kenyataannya?"

Lelaki itu diam kembali. Senyap. Hanya ada suara siang yang pecah dari jendela kamarnya yang terbuka. Semilir angin yang membara merayapi dinding-dinding hijau pastel, membuat kipas angin berdebu yang tengah berputar di atas rak susun tidak mampu menyejukkan. 

"Aku berubah pikiran," ujar Nobelia kemudian, memecah hening. 

"Apa maksudmu?"

"Anak-anak akan ikut bersamaku semua. Aku yang akan merawat mereka. Dan rumah ini, aku yang akan menjaganya. Ini hak anak kita. Setelah resmi bercerai, kamu yang keluar dari sini, bukan aku."

Nobelia mengucapkan itu dengan keyakinannya. Ia menatap suaminya teguh. Tidak gentar. "Aku telah siap. Mungkin di persidangan nanti, kita akan menjadi lebih buruk daripada hari ini, tapi aku telah siap," lanjutnya. 

"Kok gitu, sih? Dulu kamu setuju membagi anak kita. Kenapa sekarang berubah pikiran?" 

Ia menarik napas dalam-dalam. Bola mata lelaki di hadapannya itu mulai memunculkan kekecewaan. Ia mahfum. 

"Karena aku telah melihat kalian berdua, beberapa bulan ini."

Lelaki di hadapannya itu mengerutkan dahi.

"Kalian terlalu asyik dengan cinta kalian. Kamu dan hubungan barumu itu."

"Bu, apa selama ini Ayah tidak tanggung jawab sama anak-anak?"

"Tanggung jawab, kok."

"Lalu?"

"Kamu memang tidak luput dari tanggung jawabmu pada materi, tapi kebutuhan anak itu tidak cukup hanya sekadar materi, kamu tahu benar itu. Kamu bilang kalau kamu dan Amel baru akan menikah dua tahun lagi. Untuk apa? Untuk menjaga nama baik dia, gitu? Kalau kalian langsung nikah setelah kita cerai, terus Amel pasti disebut sebagai pihak ketiga sama orang-orang di sekitar kalian dan kalian takut sama itu, gitu? Terus bagaimana nasib anak-anak yang ikut kamu nanti? Aku sudah pernah tanya ini, kan? Lalu kamu jawab, 'Kan mereka sudah besar, sudah bisa ditinggal.' Besar seperapa? Mereka baru sembilan dan delapan tahun loh. Kalau kamu setiap hari kerja, sibuk pacaran seperti sekarang, terus pulang tengah malam setiap hari seperti biasanya, bagaimana keadaan mereka nanti? Siapa yang mau mengawasi, membimbing, memasak, ngajak ngobrol mereka? Kamu tega seperti itu?" 

Nobelian meneteskan air mata.

"Aku tidak mau anakku diterlantarkan akibat hubungan egois kalian. Tidak. Biar aku yang menjaga mereka. Bagaimana nasib atau rencana-rencana hubungan kalian berdua bukan urusanku, tapi mereka berempat adalah tanggung jawabku. Titik. Dan aku akan berjuang untuk itu."


- bersambung - 





Rabu, 07 Juni 2017

SEPENGGAL PARAGRAF YANG JATUH DARI MATAKU

Image from Google 

Kamu jatuh dari mataku dan mengoek. Membuyarkan lamunanku petang itu. Embusan hujan menggetarkan jendela kamar kita, lalu kamu memintaku menyelimutimu dengan duka-duka. Bunyi sang waktu yang berteriak semakin lamban, dan lamban, dan lamban. Hingga senyap itu menggurui tubuhku, tubuhmu, tubuh kita.

Kalimat-kalimat berhamburan dari jari-jemarimu. Satu kalimat terseok-seok, mencari tanda petiknya yang menggelinding. Satu lagi lesat menembus dinding kamar kita, lalu kembali membawa bayi-bayi, yang mengoek lebih keras ketimbang suaramu. Satu lagi membumbung di langit-langit, mencipta pendar cahaya kebiruan. Bulan itu telah kalah olehnya. Ia bersembunyi malu-malu, sesekali mengintip, memicingkan matanya yang terlukai warna biru. Satu lagi ketakutan di bawah kolong ranjang. Tubuhnya menggigil. Ia berujar, "Selamatkan aku dari siksa neraka! Selamatkan aku dari Tuhan!"

Kamu kini tidak utuh lagi. Sebuah paragraf yang bertubuh cacat. Kamu kehilangan banyak kalimat, tapi bagaimanapun wujudmu, aku tetap mencintaimu dengan laknat. Selaknat-laknatnya seorang ibu yang marah ketika kamu tidak membelikannya popok. Aku akan kencing di kasurku tanpa popok, ujar seorang ibu itu. Tapi kamu bergeming. Tidak berjalan ke minimarket. Dan seorang ibu itu menangis. Banjir datang kala malam yang melindap. Seorang ibu itu hanyut bersama air matanya dan seprai yang berbau ompol orang dewasa.

Bagaimana aku harus mengembalikan bentukmu yang porak-poranda itu, tanyaku. Hatiku bahkan telah kusut masai, terjungkal dalam lubang jebakan tikus mondok. Aku menjelma seekor cacing tanah. Bertubuh kurus dan tinggal di bawah ketela ubi. Tapi kamu segera menggali tanah, memberiku buku dan pensil. Tulis diriku. Di mana? Di buku ini. Tentang apa? Tentang aku. Aku tidak mengenalmu. Aku adalah kamu. Aku tidak setuju. Tapi itu benar. Aku tidak suka rambutmu. Tapi ini rambutmu. Ada kutu di dalam sana.

Kamu jatuh dari mataku dan mengoek. Kamu yang masih belia, yang memiliki mata sehitam malam. Di dalam cermin, kata-kata terjebak. Mereka tidak bisa kembali padaku. []

#NulisRandom2017 #Day8 #NulisBuku #AjengMaharani



BENARKAH ADA TUHAN DI DALAM KOTAK HITAM CEPI SABRE?


‌Judul : Kotak Hitam
Penulis : Cepi Sabre
Penerbit : Mijil Publisher
Kota terbit : Jakarta
Tahun terbit : 2012, terbitan pertama
Jumlah halaman : x + 158 halaman

"... Lalu aku diam-diam membayangkan pikiran sang pengarang. Tidakkah, kataku, di dalam kotak hitamnya, ia menyimpan Tuhan untuk dirinya sendiri." (Hudan Hidayat)

Buku bersampul hitam nan sederhana ini, mula-mula dibuka oleh tulisan Hudan Hidayat, yang menggambarkan seolah ia tengah bercengkrama dengan sang pengarang dan Gieb dalam sebuah dunia imajinasi, yang memperkarakan sebuah obrolan melantur tapi juga tidak melantur. Sebuah pembuka yang sangat unik saya bilang.

Di dalamnya, saya disuguhi cerita-cerita di luar batas realis. Ada 25 cerita yang dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

00.00 - 09.00 : GILA (berisi 10 cerpen)
11.00 - 17.00 : JATUH CINTA (berisi 8 cerpen)
19.00 - 24.00 : NEGARA (berisi 7 cerpen)

Sebagai pembuka, saya bertemu dengan 'Tokoh-tokoh Cerita dari Sebuah Kotak Kayu', yang mengisahkan tentang Frick Fritzgerald, sang penulis cerita, yang gemar menyimpan tokoh-tokoh ceritanya dalam sebuah kotak kayu. Ketika akan mengarang cerita, Frick akan membuka kotak kayu itu, mengambil beberapa tokoh dan mulai menulis. Tapi pada suatu ketika, tokoh-tokoh cerita itu keluar dari kotak kayu dan melarikan diri, membuat Frick kesulitan menulis cerita, hingga kemudian muncul Gabriel, sang malaikat, yang menganggap Frick adalah Tuhan dan meminta lelaki itu untuk juga memasukkannya ke dalam kotak kayu. Tapi Frick tidak bisa melakukannya karena tubuh Gabriel yang sangat besar, lalu terjadilah percakapan antara mereka mengenai makna Tuhan sambil mengejar satu per satu tokoh-tokoh cerita yang melarikan diri itu.

"Maksudku, bagaimana bisa, kau tidak punya kendali atas mereka, Tuan Frick? Bukankah mereka semua itu kau yang ciptakan?"
"Aku bukan Tuhan, Gabriel." (halaman 5)

"Tapi Tuhan tidak pernah mengajakmu bercerita. Kau tidak bisa menceritakan keinginanmu, dan dia tidak pernah menceritakan keinginannya...." (halaman 6)

Cerpen-cerpen Cepi memiliki kekuatan pada keberanian, keunikan, liar, dan meletup-letup. Eksperimen (demikian sang penulis ini seringkali menyebut konsep bukunya ini pada saya) yang indah. Setiap kali saya membaca, saya selalu menemukan ide-ide baru untuk ditulis. Salah satu contohnya adalah pada cerpen 'Anakku, Orang-orang yang Ingin Kugambar, dan Ayahku yang Membawa Pistol', yang menginspirasi saya menulis cerpen 'Lukisan Suara' (Solopos). Juga cerpen 'Pacar dalam Lemari', yang menginspirasi saya menulis cerpen 'Laki-laki Akan Selalu Mengencani Kunang-kunang' dan 'Rahasia Lemari Ibu'. Dan masih banyak lagi.



Ada beberapa cerpen Cepi yang sangat berani daripada cerpen-cerpen lainnya di dalam buku ini. Liar dan begitu birahi (tapi tidak murahan). Itu menurut saya, setelah membaca cerpen 'Gubrak, Nyoh, dan Din- Din- Din-' dan 'Laki-laki yang Mencari Buah Dada' (sebuah cerbung, yang ini dibagi menjadi tiga bagian). Ada pula cerpen yang ditulis dengan teknik surealis yang pure (ini salah satu favorit saya), berjudul 'Hujan Hudan, Hujan'. Narasi cerpen ini melompat-lompat, nampak tidak teratur dan di luar nalar segala macam bentuk aturan, tetapi memang demikianlah keunikannya.

Cepi Sabre bagi saya adalah seorang guru yang hidup di dalam bukunya. Tulisan-tulisannya membuat saya jatuh hati pada surealisme dan mulai mempelajarinya. Dan buku 'Kotak Hitam' ini, selayaknya sebuah kitap suci bagi saya. (padahal itu buku pinjaman, tapi saya begitu tidak rela untuk mengembalikannya bahahahaha)

Lalu, benarkah ada sosok Tuhan di dalam Kotak Hitam seorang Cepi Sabre, seperti apa yang telah diutarakan oleh Hudan Hidayat di bagian pembuka buku tersebut?

Saya jawab, "Bagi saya, IYA!"

Cepi Sabre menciptakan tuhannya sendiri, tuhan bagi tokoh-tokoh yang diciptakannya, tuhan yang bergerak bebas dan liar, yang penuh makna, tuhan dari segala bentuk sudut pandang, yang terkadang luput dari ujung mata pemahaman kita. Tuhan semacam itu, hanya dapat kita temukan di dalam 'Kotak Hitam', karena Cepi telah memasungnya rapat-rapat di dalam sana. []

#NulisRandom2017 #Day7 #NulisBuku #AjengMaharani

Senin, 05 Juni 2017

CERPEN-CERPEN SUREALISME PERTAMA YANG SAYA BACA

Beberapa sahabat yang bahagia membaca cerpen-cerpen saya, apakah itu yang berada dalam buku 'Ia Tengah Menanti Kereta Uap Tuhan yang Akan Membawanya ke Bulan' ataupun yang terposting di blog ini, mengatakan kalau cerpen-cerpen saya itu bernuansa surealisme. Ya, saya memang menggilai salah satu aliran sastra itu. Jika ditanya, sejak kapan saya mulai membuat diri saya tertarik pada surealisme, maka saya saya akan menjawab: sejak saya membaca cerpen-cerpen surealisme.

Lalu kalian mungkin akan bertanya lebih lanjut (karena rasa ingin tahu yang besar) tentang cerpen milik siapa yang telah menggugah hati saya. Maka saya akan menjawab sekali lagi: pada kenyataannya, cerpen surealisme pwrtama yang saya baca bukanlah salah satu cerpen dari Seno Gumira Adjidarma, yang digadang-gadang sebagai bapak surealisme Indonesia itu, yang terkenal dengan cerpennya 'Sepotong Senja untuk Pacarku'.

Jadi, cerpen siapa yang membuat saya takjub akan dunia surealis yang telah dibangunnya dalam sebuah tulisan?

Mula-mula, sebelum saya menunjukkan atau menyebutkan sesuatu, saya akan katakan (perlu digarisbawahi) bahwa bagi sebagian pembaca (termasuk saya) tidak semua buku laris itu adalah buku-buku yang menarik untuk dibaca. Sebelum membaca dua buku yang hendak saya utarakan dalam tulisan kali ini, saya telah membaca dua buku Tere Liye dan tiga buku Asma Nadia, tapi tidak sedikit pun memunculkan gairah untuk menuliskan sesuatu, atau lebih tepatnya terinspirasi untuk menuliskan sesuatu setelah mengkatamkan buku-buku itu. Tentu saja ini perkara selera, bukan? Dan tentu pula kita tidak akan bisa memaksakan selera kita pada orang lain.

Seorang sahabat, yang sangat prihatin dengan keadaan saya yang pada ketika itu belum mempunyai buku-buku bagus untuk dibaca, mengirimkan beberapa buku miliknya kepada saya. Dan di antaranya itu, saya jatuh cinta pada kedua buku ini: Kotak Hitam (Cepi Sabre) dan Suara Sunyi (Rose Widianingsih).



Kedua buku ini tidak diperjuajbelikan di toko-toko buku besar, namun secara online dan mulut ke mulut, sahabat ke sahabat. Kedua buku ini diterbitkan oleh penerbit indie, di mana Mijil Publisher yang menaungi Kotak Hitam, sementara Indie Book Corner menaungi Suara Sunyi.

Hal-hal apa sajakah yang telah saya pelajari dari kedua buku tersebut, dan mengapa buku-buku tersebut menakjubkan dan terus mampu menginspirasi saya berapa kali pun saya membaca berulang-ulang?

Esok, di postingan hari ketujuh dan kedelapan, saya akan mengelupasnya satu pwr satu, mengapa mereka bwgitu istimewa.

Selamat menanti dan belajar cerpen surealisme yang tidak biasa bersama saya. []


#NulisRandom2017 #Day6 #NulisBuku #AjengMaharani

Minggu, 04 Juni 2017

KAKI SEORANG IBU

image from Pinterest

kaki seorang ibu melangkah masuk ke dalam pikiranku. ia berkata lelah, menarik sebuah kursi kayu mahoni dan mendudukkan bokongnya di atas sana. anak lelakiku berulah lagi, ia berujar getir. istri anak lelakiku menangisi mayat kenangan yang mati di dalam rumah mereka. pernikahan itu tercerai-berai. seorang perempuan telah memotong urat nadi kebahagiaannya, dan istri anak lelakiku itu terpaksa menerima demi setetes ketenangan.

kaki seorang ibu terus meracau tentang anak lelakinya yang terbodohi birahi. aku tidak ikut duduk di kursi kayu mahoni itu, diam-diam berdiri dan ikut sedih. anak lelakiku telah mencuri senyum sepasang matahari. aku harus bagaimana, tanya kaki seorang ibu itu dengan melarat-larat. tidak ada matahari adalah sebuah bencana, pekikku. cucianku tidak akan kering, padahal esok pagi aku harus mengejar bus dan mengelap bibir bosku yang suka meludahi dinding kantor itu dengan bibirku.

kaki seorang ibu tertawa terpingkal melihatku gaduh. aku tekun melihat wajahnya yang memerah malu. apa kamu bahagia sekarang, wahai Kaki Seorang Ibu? tidak, jawabnya. kebahagiaan tidak muncul dari sebuah lelucon konyol. seperti lelucon anak lelakiku yang meniduri perempuan lain sementara istrinya merenungi mata malam yang hujan. jadi bagaimana caraku agar kamu bahagia, wahai Kaki Seorang Ibu, tanyaku kembali. kaki seorang ibu itu bergetar gelisah. ia mulai menangis. surga di telapak kakinya meredup sayup. aku membungkam, tidak bertanya lagi. dan kesunyian merajai isi kepalaku.

aku butuh istirahat, tapi tangisan kaki seorang ibu itu tidak reda juga. aku mengulurkan setumpuk tisu. aku jadi ingat kawanku yang dua hari lalu marah-marah karena selembar tisu tersangkut di sela-sela giginya.

kaki seorang ibu itu akhirnya berdiri dan menghentak-hentak tanah kering di dalam kepalaku. ada apalagi sekarang, tanyaku padanya. aku mau ke kamar kecil. tidak ada kamar kecil di dalam kepalaku. pulanglah. ia menekuniku. apa kau tidak punya seorang ibu, tanyanya dingin. tidak. ibuku sudah mati dan aku terlambat ikut memandikannya. kaki seorang ibu terenyuh. ia memelukku. sekarang giliranku yang menangis. sial. padahal esok aku harus bangun pagi, mengejar bus dan mengelap bibir bosku yang suka meludahi dinding kantor itu dengan bibirku. []


Sidoarjo, 2017 

#NulisRandom2017 #Day5 #NulisBuku #AjengMaharani 

Sabtu, 03 Juni 2017

PERKARA CUCU WAK PUAH YANG BERKELAMIN DENGAN SUNDARI


image from Google 

Sebelum berita tentang cucunya yang berkelamin dengan Sundari itu mengguncang desa, Wak Puah sudah mengetahuinya jauh-jauh hari jika hal ini akan terjadi. Maka, ketika Wagimin datang dengan wajah pasi ketakutan dan membisikkan kabar menggemparkan itu dengan tergopoh, Wak Puah hanya menggelengkan kepala saja sambil melebarkan bibirnya.

Pagi ini, sebenarnya Wagimin sedang melunyah tanah di sawah dengan kaki-kakinya yang kokoh saat berita itu mengembus tanpa permisi ke cuping telinganya. Ia segera mentas dari permainan kegemarannya itu dengan susah payah karena pikiran yang kalang-kabut, lalu mencuci kaki-kakinya yang berlumpur dengan menimbah air sumur buatan ala kadarnya di bibir pematang. Ia hanya ingin segera menuju rumah Wak Puah dan mengabarkan perkara tersebut, sebelum nantinya akan ada orang lain yang suka menambah-nambahkan cerita pada lelaki tua itu.

Lesat Wagimin berlari melintasi pematang yang licin dengan sedikit terhuyung. Hujan semalam membuat tanah di tempat itu menjadi adonan bubur setengah matang. Likat. Berkali-kali sandalnya tertangkap oleh tanah hingga terlepas, hingga ia terpaksa mencabutnya dengan tangan dan mendapati tanah liat menempel di alasnya, membuat sandal itu menjadi lebih berat untuk digunakan berlari. Dan saat ia berhasil naik ke jalanan, ia merasa dirinya seperti terbebas dari kepungan puluhan orang dengan golok di tangan mereka.

Wagimin tidak peduli dengan sandalnya yang menjadi bengkak dan berat. Ia melanjutkan larinya, terseok di atas bebatuan yang terselar sepanjang jalan. Desanya memang belum mencicipi rasa manis dari pembangunan. Sudah berkali-kali warga berbondong-bondong menuju kantor pemerintahan pusat dan meneriakkan harapan-harapan. Tapi seperti kisah pembesar kota lainnya yang lihai menebar janji layaknya menyemai bibit padi di sawah, selalu saja hanya janji yang warga terima. Dan seharusnya, tahun ini jalanan yang mulai dikuasai liang-liang itu sudah berubah menjadi gundukan aspal hitam keabu-abuan yang mulus tanpa batu-batu.

Sebenarnya, sejak Wak Puah mengetahui cucunya sangat mencintai Sundari, anak bungsu Juragan Codet yang cantiknya tidak main-main, dada lelaki tua itu sudah sering dibuat kembang-kempis karena rasa khawatir yang besar terhadap cucunya. Ia takut masa depan cucunya menjadi kopong, tanpa isi, karena tidak mungkin cinta cucunya akan menjadi kenyataan. Ada jarak perbedaan besar antara mereka yang tidak disadari oleh cucunya itu. Tapi berapa kali pun ia berusaha menyadarkan cucunya tentang perbedaan-perbedaan yang mengambang dengan begitu jelas di antara mereka, tetap saja orang tua seperti dirinya tidak bisa berbuat apapun pada seorang pemuda yang tengah membara karena cinta.

Sebelum Wagimin akhirnya sampai ke rumah Wak Puah, pria bertubuh pendek dengan kulit terpanggang matahari itu bertemu dengan beberapa warga yang bergerombol di sebuah warung kopi. Mereka melambai pada Wagimin, mengajaknya untuk ikut menikmati secangkir kopi dengan ditemani senyum manja dari penjualnya, janda muda yang baru saja ditinggal mati suaminya.

Nama janda itu adalah Ijah, bokongnya besar aduhai, pun demikian dengan buah dadanya yang memantul pelan setiap kali ia bergerak. Warung kopinya adalah yang paling laris di desa itu. Tidak ada satu pun laki-laki di desa yang tidak pernah menikmati kopi racikan Ijah. Tangan-tangan bulat Ijah yang putih menggemaskan sering menjadi pelampiasan mereka, dielus-elus. Juga bokongnya yang terkadang ditepuk pelan atau diremas gemas. Ijah hanya akan menjerit keenakan lalu memukul-mukul bahu penggodanya dengan manja, dan melengos genit dengan tatapan mata yang berkerling nakal. Laki-laki akan senang setiap kali mendengar Ijah menjerit. Ada yang bergetar di tubuh mereka. Pelan dan menggairahkan.

Saat mereka melambaikan tangan pada Wagimin, lelaki itu hanya menggeleng saja. Ia memang benar menghentikan kakinya sejenak, tapi tidak sedikit pun melangkah mendekat. Salah satu dari mereka, yang duduk di kedai kopi Ijah, mengangkat tubuhnya dan berjalan ke arah Wagimin yang tersengal-sengal lelah. Menanyakan akan ke mana gerangan lelaki itu berlari, mengapa begitu tergopoh padahal hari masih begitu pagi dan dingin—waktu yang pantas untuk digunakan bersantai dan minum kopi sambil menepuk bokong Ijah. Wagimin menjawab dengan kata yang patah-patah, bahwa ia akan ke rumah Wak Puah dan mengabarkan berita tentang cucunya. Mendengar jawaban itu lawan bicaranya terbahak-bahak, mengatakan bahwa betapa hebatnya cucu Wak Puah itu bisa meniduri kembang desa. Dan itu membuat Wagimin dongkol. Ia tak lagi mengacuhkan laki-laki di hadapannya itu, lalu kembali berlari.

Berita tentang cucu Wak Puah yang berkelamin dengan Sundari itu dimulai dari seorang lelaki pencari katak yang melihat gerakan-gerakan di sebuah gubuk dekat sungai pada malam lalu. Dengan degup penasaran yang meletup lelaki itu mengendap-endap, mencoba mencari tahu apa dan siapa yang sedang bermadu malam-malam di tempat itu. Ia melihat sosok perempuan molek yang cekikikan, lalu sosok pria yang mengendus-endus, membuat ia mual dan memuntahkan sisa makan malamnya di semak-semak.

Itulah yang didengar Wagimin pagi ini, walau pada kenyataannya ia menyangsikan kebenaran berita itu. Memang pemuda itu sedikit keras layaknya batu gunung saat ia berkehendak. Sejak kecil ia terkenal usil dan pemberani. Wagimin tahu cucu Wak Puah itu tidak akan menjadi rampok, atau perusuh, atau bahkan mengawini anak orang dengan seenaknya. Tapi saat ia memandangi wajah Wak Puah yang gelisah dan semakin sering melenguh panjang itu, Wagimin merasa berita itu mungkin benar adanya.

Suara gaduh sekumpulan orang yang sedang marah terdengar di halaman rumah Wak Puah. Wagimin terperanjat dibuatnya. Ia lesat menghampiri jendela dan terbeliak ketika melihat orang-orang berwajah marah sudah berkerumunun dan meneriakkan nama cucu Wak Puah. Dada Wagimin dipenuhi kegelisahan yang besar. Ia menatap mata tua Wak Puah. Dikiranya lelaki itu akan menggigil ketakutan, tapi kenyataannya tidak.

Wak Puah berjalan menyedapkan langkah menuju pintu depan. Ia menyambut orang-orang itu dengan ramah-tamah yang menurut Wagimin yang berdiri di balik punggungnya adalah sebuah kebodohan. Bagaimana mungkin seorang lelaki tua mampu meredakan amarah belasan harimau yang sedang murka? Wagimin semakin was-was. Ia menelan ludahnya sendiri.

Orang-orang itu bersahut-sahutan, mengatakan akan meringkus cucu Wak Puah dan menggiringnya penuh kemaluan ke seluruh desa, lalu membawanya ke kantor polisi atas tuduhan pemerkosaan. Wak Puah berusaha menenangkan mereka. Mengatakan hal ini butuh diselidiki terlebih dahulu. Jika benar cucunya berkelamin dengan Sundari, ia yakin itu bukan pemerkosaan. Insting tuanya mengatakan, Sundari pun mencintai cucunya.

Bergumulan antara Wak Puah dan orang-orang berwajah marah itu masih saja alot. Mereka bersikeras ingin menyeret cucu Wak Puah. Berteriak dan melempar ludah ke tanah, lalu melunyahnya kuat-kuat. Wak Puah masih sabar dan telaten. Ia menjawab semua pertanyaan dan makian-makian dengan tabah, sementara Wagimin beringsut di punggung tuanya. Ketika itulah datang ketua RW dan dua ajudan lurah dengan langkah gagah, membubarkan kerumunan warga yang sedang marah. Mengatakan ini adalah tugas mereka sebagai pamong. Dan dengan patuh, para warga itu pergi meninggalkan halaman rumah Wak Puah.

Melihat orang-orang itu sudah pergi dengan melipat bara di dada, Wagimin memutuskan untuk pulang. Sudah tidak ada lagi keperluan dengan masalah ini, dan tanah-tanah di sawah sudah terlalu lama menunggu untuk kembali dilunyah. Ia memohon diri pada Wak Puah, juga pada ketua RW dan dua ajudan lurah, lalu meninggalkan mereka yang masih bergeming di depan pintu rumah.

Kali ini Wagimin tidak lagi berlari. Ia terlalu lelah untuk berlari lagi. Dan kehausan. Ia lupa meminta segelas air di rumah Wak Puah tadi. Ia terlalu panik dan gusar. Bagi dirinya, keluarga Wak Puah sudah bagaikan saudara. Ia besar bersama anak lelaki Wak Puah yang meninggal dalam kecelakaan bus, bertahun-tahun lalu.

Ketika Wagimin melintasi warung kopi milik Ijah yang sudah sepi pengunjung, ia memutuskan untuk mampir sejenak, sekadar minum segelas es teh untuk membasahi dahaganya. Di warung kopi itu, ia hanya melihat seorang laki-laki dan Ijah saja, yang sedang saling manja dan menggoda. Itu laki-laki yang sama dengan yang memanggil dirinya tadi pagi, saat berlari menuju rumah Wak Puah. Wagimin sedikit ragu apakah ia akan mampir ke kedai milik Ijah ataukah tidak saat melihat adegan colek dan pegang yang seronok itu. Ia ingin mual, tapi dahaganya terlalu angkuh untuk mau melepaskan keinginan meminum segelas es teh yang segar.

Wagimin tahu, laki-laki yang duduk bersama Ijah itu sudah beristri, tapi tentu saja pria akan selalu sama, melupakan istri saat ia sedang bersama seorang wanita, apalagi yang bahenol dan murah seperti Ijah. Dengan kepasrahan atas rasa hausnya, Wagimin akhirnya melangkahkan kaki mendekati warung. Saat itulah, samar ia mendengarnya, ucapan yang dilontarkan laki-laki yang duduk bersama Ijah. Pernyataan yang membuatnya marah dan menggenggam kepalannya rapat-rapat. Ia pun ingat satu hal tentang laki-laki itu. Ia-lah laki-laki pemburu katak yang menguarkan berita tentang cucu Wak Puah yang berkelamin dengan Sundari pada malam di sebuah gubuk di pinggir sungai.

Seketika, Wagimin ingin sekali menghantamkan kepalannya di wajah laki-laki itu.



Sidoarjo, 2017 


#NulisRandom2017 #Day4 #NulisBuku #AjengMaharani 

Jumat, 02 Juni 2017

DI BALIK CERPEN MALAIKAT KEMATIAN DI DAPUR KITA


“Kau percaya manusia selalu terlahir dari cinta?”
Aku tercengang, ia bisa membaca pikiranku.
“Kau tidak terlahir dari sebuah cinta.”
Ia benar. Ia katakan itu dengan mata keji. Membuatku ingin menangis.
‌~ Malaikat Kematian di Dapur Kita (halaman 111)


Cuplikan dialog di atas saya kutip dari salah satu cerpen di dalam buku saya 'Ia Tengah Menanti Kereta Uap Tuhan yang Akan Membawanya ke Bulan', yang diterbitkan oleh Penerbit Basabasi. Cerpen berjudul 'Malaikat Kematian di Dapur Kita'. Dialog tersebut terjadi antara tokoh 'Aku' dan sang malaikat kematian. Kisah dimulai ketika tokoh 'Aku' pulang dari berbelanja dan terkejut saat menemukan seorang perempuan cantik bergaun hitam pekat di dapurnya. Perempuan itu mengaku sebagai malaikat kematian yang hendak mencabut nyawanya, tapi anehnya, malaikat kematian itu justru memasak makanan kesukaan si tokoh 'Aku' terlebih dahulu.

Ia berkata, “Makanlah sepuasmu, lalu izinkan aku mencabut nyawamu dengan ketenangan yang manis.” (halaman 105)

Saat menulis cerpen tersebut, mula-mula saya terilhami oleh salah satu cerpen Bamby Cahyadi dalam buku 'Perempuan Lolipop' yang saya baca bertahun-tahun lalu, di mana sang tokoh utama juga menemukan seorang perempuan di dalam rumahnya dan mengaku sebagai malaikat kematian. Hanya saja, karakter malaikat kematian di cerpen itu lebih unik, sementara dalam cerpen saya, saya lebih memfokuskan pada masa lalu tokoh 'Aku' yang kompleks beserta cintanya yang tidak biasa, dan tidak banyak mengeksplor karakter perempuan malaikat kematian.

Dalam kesempatan kali ini, saya sedang tidak ingin membahas lebih banyak lagi tentang cerpen tersebut, tetapi lebih ingin menggarisbawahi inti permasalahan yang tersirat dari dialog di atas. Pertanyaan tentang apakah semua manusia terlahir dari sebuah cinta sudah bukanlah hal baru di zaman sekarang. Jelas-jelas banyak janin lahir justru tanpa adanya cinta, bahkan walaupun mereka, janin-janin itu, terlahir dari sebuah pernikahan yang sah sekalipun. Memprihatinkan memang. Perkara cinta adalah suatu obrolan yang pelik. Setiap dari kita, sejak dilahirkan di dunia, sudah barang tentu telah ditanamkan rasa itu mulai dari sentuhan seorang ibu. Lalu ayah. Kemudian keluarga. Menjelma ke ranah hubungan sosial. Hingga mampu merasakan cinta terhadap lawan jenis, menikah, lalu berjuang dalam sebuah pernikahan tersebut. Semua demi satu kata: CINTA.

Pertanyaannya adalah, mengapa saya menyisipkan sebuah permasalahan tentang kebenaran bahwa tidak semua manusia terlahir dari sebuah cinta?

Sebagai seorang perempuan yang memiliki isi kepala selayaknya labirin besar yang berliku dan bersudut-sudut, saya menyimpan sebuah kegelisahan ini di salah satu sudut labirin itu. Berita-berita mengerikan yang terdengar hampir setiap hari; perihal bayi yang dibuang dan janin-janin yang digugurkan, membuat dada saya pedih. Saya ingin bersuara, tapi tentu dengan cara saya sendiri. Saya ingin menunjukkan, hal-hal buruk apa yang bisa terjadi pada mereka yang terlahir tidak dari sebuah cinta, pada pola didik yang salah, atau doktrin-doktrin keliru yang dicekok sejak dini.

Saya bukan tipe penulis yang mengatakan pesan-pesan moral saya secara terang-terangan. Saya senang sekali membentuk sebuah konflik cerita yang mengarah ke sebuah jalan lurus, tapi membelokkan sebuah pesan moral ke arah yang lainnya dengan menyisipkannya. Saya ingin pembaca saya ikut berpikir, memikirkan satu demi satu pesan (karena terkadang dalam satu cerpen saya tidak cukup hanya membuat satu pesan moral saja, bisa dua atau lebih), dan jeli memaknai cerita saya yang terkadang tidak semua orang mampu menerima tema-tema frontal yang saya angkat (seperti misalnya tema tentang homoseksual, transgender, dan pedofil).

Rumit sekali ya saya ini?

Well, tapi memang demikianlah cara-cara labirin di kepala saya ini bekerja. Tapi tetap tentu saja, dengan isi kepala yang demikian, saya bukan tipe pemurung. Saya justru romantis (seperti kata salah satu pembaca buku saya) dan benar sedikit melankolis walau pada akhirnya setelah tiga puluh enam tahun hidup sebagai manusia, saya sekarang tudak secengeng saya yang dulu.

Oh ya, bagi kamu yang penasaran dan berminat ingin membeli buku 'Ia Tengah Menanti Kereta Uap Tuhan yang Akan Membawanya ke Bulan', bisa langsung hubungi saya. Atau bisa dibeli di toko-toko buku Togamas.

Maturnuwun...


#NulisRandom2017 #NulisBuku #AjengMaharani #KeretaUapTuhan #PenerbitBasabasi #SastraPerjuangan

Kamis, 01 Juni 2017

THABITA DAN CAPUNG-CAPUNG YANG BERNYANYI

image from art of america


Sekali lagi Thabita hanya diam terkelu di sudut aula. Hari ini kelas tari, dan Thabita tidak sedang ingin menari. Dia hanya ingin duduk, tertunduk, dan diam, walau sudah berkali-kali Nandini, sang guru tari, mencoba menggiring bocah lima tahun itu untuk ikut menggerakkan kaki dan tanggannya sesuai petunjuk. Thabita bahkan tidak merasa tertarik untuk memerhatikan kawan-kawannya bercanda dan menari. Dia seperti berada di dunianya sendiri. Dunia yang sunyi. Dan muram.

Ketika kelas tari berakhir, Thabita masih saja duduk di tempat yang sama. Nandini melihat itu dengan pandangan yang sayu. Dia membenahi perlengkapan tarinya, lalu cepat menghampiri Thabita.

“Thabita tidak suka menari?”

Thabita menggeleng.

“Lalu, kenapa Thabita tidak mau menari bersama Bunda Dini?”

Thabita tetap bungkam, tertunduk, menekuri jari-jari kakinya sendiri. Melihat itu, Nandini mengembus napas berat.

***

Thabita tidak masuk sekolah hari ini. Nandini kecewa, padahal sebuah kejutan sudah disiapkannya. Dia pun merenung dan gelisah. Berjalan mondar-mandir, sementara anak-anak berkumpul di aula, duduk, tertawa-tawa dan melihat seorang pemuda badut yang sedang bermain sulap.

Seekor kelinci keluar dari sebuah topi, lalu bunga-bunga kertas, lalu merpati dan pita merah yang teramat panjang. Anak-anak bersorak riuh. Suara tepuk tangan saling bersaut. Nandini hanya menatap permainan pemuda badut itu dari pintu masuk aula. Tatapan redup dan kosong. Bayangan Thabita yang selalu berdiri diam di pagar beberapa hari lalu datang dalam pikirannya lagi.

“Apa yang sedang Thabita lakukan di sini? Thabita tidak ingin bermain sama teman-teman?”

Gadis kecil itu menggeleng. Matanya menerawang, lurus ke luar pagar sekolah. Dia sedang menatap kosong sebuah taman yang dipenuhi bunga. Ah, bukan. Thabita sedang memandangi seekor capung kemerahan yang sedang terbang berkeliling di sana.

“Thabita suka capung?”

Thabita mengangguk.

“Kenapa?”

“Bita ingin jadi capung, Bunda. Biar Bita bisa terbang jauh dan pergi dari rumah Mama,” ujar gadis kecil itu lirih. Tatapan matanya masih jauh. Sangat jauh. Dan juga kosong.

Nandini menggigiti bibirnya. Dia sudah tidak sabar. Dia pun beranjak dari tempatnya berdiri dan menghampiri ruang guru, mencari sesuatu di buku biodata siswa.

*** 

Rumah keluarga Thabita ternyata besar. Mereka tinggal di sebuah kompleks perumahan, yang letaknya tidak jauh dari sekolah. Nandini berdiri di depan pagar setelah sepuluh menit tiba, dan tidak ada seorang pun di dalam rumah itu yang menghampirinya. Wanita itu semakin gelisah. Dia yakin hatinya bisa merasakan, Thabita sedang tidak baik-baik saja. Dia yakin sekali itu.

Dihampirinya sebuah toko kelontong yang berselisih lima rumah dari rumah Thabita. Dia mempertanyakan tentang kabar Thabita dan keluarganya. Dan ketika jawaban itu terlontar dari bibir sang pemilik toko, Nandini dibuat sedih.

Nandini tiba-tiba saja merindukan bapaknya yang telah tiada.

*** 

Badut itu duduk di salah satu bangku tunggu sekolah, menanti Nandini datang. Sekolah telah sepi. Dan ketika wanita itu tiba dengan raut muka yang menyedihkan, pemuda itu mengerti, sesuatu yang buruk pasti sedang terjadi pada Thabita.

Nandini memandang pemuda badut yang telah dia siapkan untuk Thabita hari ini. Mereka bersitatap. Lama. Lalu, dengan limbung Nandini mendekati pemuda itu, duduk di sampingnya. Membisu. Tidak tahu dengan kata apa dia bisa mengungkapkan perasaannya saat ini.

Pemuda itu seperti mafhum pada reaksi Nandini. Dia ikut terdiam, menunggu. Menekuri langit yang sebagian warna birunya terhalang oleh dedaunan pohon akasia yang merimbun.

“Anaklah yang akan selalu menjadi korban. Orang dewasa itu egois.” Nandini meracau kekesalannya, lirih. “Orang dewasa selalu bilang, mereka berhak bahagia. Selalu saja begitu. Tapi mereka melupakan anak-anak mereka. Mereka pikir merekalah yang paling berhak menentukan nasib anak-anak. Mengapa begitu? Apa anak-anak juga tidak berhak untuk bahagia?”

Mata Nandini meleleh. Kemarahan yang sedari tadi bergemuruh dalam dadanya itu pun tumpah.

“Bapakku bermimpi menjadi pelukis. Suatu hari, dia rela meninggalkan mimpi itu demi keluarganya. Tapi bagi Ibu itu seolah belum cukup. Entah apa yang diinginkan Ibu. Apa yang ada di pikiran Ibu, sampai dia rela pergi meninggalkan kami? Bapak bilang, Ibu ingin bahagia dan dia tidak bisa bahagia bersama Bapak. Tentu saja itu menyakitkan kami berdua. Dan sudah pasti, itu juga menyakitkan perasaan Thabita saat ini. Orang-orang dewasa itu keterlaluan. Thabita masih lima tahun. Masih lima tahun dan ingin menjadi seekor capung agar bisa terbang ja—”

Bulir-bulir air mata Nandini semakin deras. Dadanya semakin sesak. Sesenggukan. Wanita itu tidak mampu lagi melanjutkan kata-katanya.

“Kau sama denganku. Kau, Aku, juga mungkin Thabita nantinya. Aku juga pernah kehilangan tawa. Kita semua pasti pernah kehilangan tawa. Kita tumbuh dalam dunia yang seperti itu. Tapi sebelum meninggal, kakekku pernah berkata, bagaimana pun ingatlah selalu tentang rasa pahitmu, jangan pernah takut padanya, jangan pernah berusaha untuk melupakannya. Agar kelak kau bisa memahami, apa dan untuk siapa kau dilahirkan. Tidak ada kata terlambat, bukan? Kita masih punya waktu di depan kita, dan itu lebih dari cukup.”

Pemuda itu tersenyum. Tanpa sadar, Nandini pun ikut tersenyum dan mengangguk.

*** 

Sore ini, ketika Thabita membuka mata, dia melihat sekumpulan capung berterbangan di langit-langit kamar. Capung-capung itu beraneka warna. Merah, kuning, hijau, dan oranye. Mereka terbang lesat dan meninggalkan jejak layaknya taburan bintang-bintang kecil di udara. Thabita menyungging senyum. Itu senyum pertamanya setelah berhari-hari bibirnya terbungkam rapat. Sejak dia menangis dan berteriak: Papa! Papa! Hingga suaranya hilang dan mengering.

Malam itu, papa dan mamanya bertengkar hebat. Thabita ketakutan dan meringkuk di bawah ranjang, mendekap erat-erat boneka beruangnya. Rumahnya menjadi hiruk dan ganjil dan sangat menyedihkan.

Teriakan-teriakan terhenti ketika terdengar suara pintu yang dibanting kuat-kuat. Thabita terkejut, lalu rumah mendadak menjadi hening dan mati. Gadis kecil itu merangkak pelan keluar dari kolong ranjang lalu berjalan ke arah pintu kamar. Dia mengintip, tapi tidak ada lagi papa dan mamanya. Dia keluar dan mencari, memanggil-manggil mereka. Suaranya menggigil.

Mamanya keluar dari pintu dapur dengan muka yang masih membara dan mata yang basah. Thabita bertanya: Di mana Papa, Ma? Lalu mamanya menjawab: Papamu pergi, Mama sudah mengusirnya!

Bagi Thabita, Papa adalah segalanya. Papa baik dan tidak pernah marah-marah seperti Mama. Jadi ketika dia diberitahu jika papanya itu sudah pergi untuk selamanya, dia menjadi sedih. Thabita menangis, memanggil-manggil papanya. Thabita marah pada mamanya. Sangat marah. Dia ingin papanya kembali, tetapi mamanya tetap bersikukuh pada pendiriannya.

Karena itulah gadis kecil itu jadi pendiam dan murung. Dia merajuk, tidak ingin makan atau melakukan hal apapun sebelum papanya pulang kembali. Badannya semakin hari semakin lemah. Hingga akhirnya, hari ini dia berada di kamar rawat inap ini bersama sekumpulan capung yang berputar-putar di atasnya.

Di telinga Thabita, capung-capung itu terdengar seperti bernyanyi. Seketika Thabita merasa ingin menari. Dia berusaha bangkit dari ranjangnya. Badannya terasa lemas, tapi Thabita sangat ingin menari bersama capung-capung itu. Menari dan menari. Lantai terasa dingin, namun kaki-kaki telanjang bocah itu tidak memedulikan rasa dingin. Thabita masih terus menari dan menari. Lalu tiba-tiba, nyanyian capung-capung itu terhenti. Thabita menghentikan tariannya, mendongak ke langit-langit kamar. Capung-capung itu terbang beriringan, lesat dan menghilang menembus dinding.

Mata Thabita sedih. Capung-capung sepertinya tidak mau berkawan lagi dengannya. Tidak ada Papa, tidak ada capung-capung. Thabita begitu kesepian. Dia berharap, capung-capung itu mau membawanya pergi untuk bertemu papanya. Dalam keadaan yang masih limbung ia menghampiri sebuah meja yang berada di dekat ranjangnya. Thabita melihat, sekotak crayon yang diberikan mamanya ada di sana.

***

Nandini dan pemuda itu bertemu Mama Thabita tepat di depan pintu kamar. Ketiganya saling bersalaman dan berbasa-basi singkat. Nandini mempertanyakan keadaan Thabita. Dia sudah mau makan, ujar Mama Thabita sambil menunjukkan kantong plastik hitam yang berisi puding cokelat. Nandini mengembus napas lega.

Mama Thabita mempersilakan keduanya masuk. Dia memutar knop pintu kamar itu pelan-pelan, lalu membukanya. Hawa ganjil seketika terasa menyergap ketiganya. Penuh kesedihan, sekaligus kesepian yang terbebaskan.

Kamar itu kosong dan sunyi. Tidak ada Thabita di ranjang. Mamanya gusar dan menghambur ke kamar mandi, tapi tetap saja tidak ada Thabita di sana. Nandini dan pemuda itu saling berpandangan. Rasa cemas menyelimuti dada Nandini.

Mama Thabita tergopoh dengan panik keluar kamar, memanggil-manggil nama anaknya. “Thabita! Thabita!” Nandini dan pemuda itu mengikutinya di belakang. Turut memanggil-manggil. Mereka bertiga meninggalkan kamar tempat Thabita dirawat, dengan pintu yang masih terbuka lebar-lebar. Di kamar itu, pernah ada segerombolan capung terbang berputar-putar di langit-langitnya. Capung-capung berterbangan dengan meninggalkan jejak layaknya serpihan bintang yang kelap-kelip, dan seorang gadis kecil menari-nari di bawahnya. Dan mereka (ketiga orang dewasa itu) tidak bisa menyadari sesuatu samar-samar menjelma sebuah bayangan di dinding kamar itu: Sebuah pintu yang terbuka separuh, dibentuk dari garis-garis hitam yang tidak sempurna. Di balik pintu itu, berdiri seorang laki-laki yang tersenyum dan merentangkan tangan. Segerombolan capung berputar-putar di atas kepalanya dan seorang gadis kecil menghambur ke arahnya.

Lamat, dari dalam dinding, terdengar suara nyanyian yang sangat lirih dan menggetarkan. Itulah nyanyian kesepian dan kerinduan Thabita. Nyanyian para capung.




Sidoarjo, 2017 


#NulisRandom2017 #NulisBuku #AjengMaharani